ADA CERITA APA HARI INI?
Sudah terhitung 15 menit Jeongin berdiri di depan rumah putih dua tingkat milik Panglima. Dia masih duduk di jok motor, berharap angin malam dapat membawa tubuhnya mendayung jauh.
Tawa remeh keluar kala tidak sengaja ingatannya kembali ke beberapa jam yang lalu. Bayangan dirinya yang akan membuat onar putus dalam satu kejadian yang masih terekam jelas.
Basah.
Jika mengingat semua itu rasanya Jeongin ingin kembali menghisap nikotin alih-alih berjalan masuk ke dalam setelah mengambil kunci cadangan yang pernah Hyunjin beri tau. Benar, rumah putih ini sudah seperti miliknya sendiri.
“Gue masih sayang lo, Jeongin.”
Kepalanya rasa berputar. Bumantara seolah tidak berpijak. Dia bukan orang lemah, jelas. Semua orang tau siapa Kapten Orion. Pemimpin tawuran sampai tidak ada yang berani padanya, kecuali Panglima dan Kapten Elang. Maka dengan rasa sesak yang luar biasa, dia tarik pundaknya untuk tetap tegap seperti semula.
“Status kita ga bakal jadi penghalang, Je. Gue bakal ngelupain kecelakaan hari itu, gue janji.”
Setelah satu tarikan nafas panjang dan usapan kasar pada wajah, Kapten memberanikan diri membuka pintu kayu dengan pelan. Lantas saat bau ruangan yang selalu tidak pernah gagal membuatnya nyaman, Kapten dibuat luluh lantah.
Seonggok tubuh berbaring dengan mata terpejam di atas kasur yang cukup untuk keduanya berbarik. Kapten berjalan mendekat, tanpa peduli akan mengganggu sang tuan pemilik lantas ia merangkak untuk berbaring di ranjang samping Panglima yang masih kosong.
“Gue ga bisa liat lo sama orang lain, Jeongin.”
“Mulai senin kakak bisa tinggal di rumah kamu, biar dia bisa ngawasin adeknya ga terus-terusan kelayapan.”
Perlahan mata tajam yang selalu menatapnya hangat sekaligus menerima terbuka. Idrak itu mengikat, keduanya seakan mengarungi semesta hanya dari pasang mata yang bersitatap.
“Hi?”
Itu Panglima yang membuka suara. Menyambut Kapten dengan senyum manis di bibirnya. Yang di sapa masih terdiam, kelu rasanya untuk berbicara.
Detik jarum jam mengisi keheningan di antara mereka. Jeongin dengan perasaan berantakannya yang luar biasa, dan Hyunjin yang berusaha memahami segalanya dari mata terkasihnya.
Dingin dari tubuhnya luar biasa mati. Panglima bergerak mendekat, menarik Kapten untuk bersandar pada dadanya dan berbantal lengan yang halusnya tidak seberapa.
“Tadi gue keluar nongkrong sebentar sama anak Warior, perasaan gue aman karena sebelum lo pergi udah janji bakal ga terjadi apa-apa, tapi lagi-lagi gini.”
“Gapapa, gue di sini.”
Dan miliknya semakin merengkuh tubuh dingin Kapten. Mengusapnya lembut kala kaos hitam yang digunakan Panglima terasa basah yang diiringi getaran kecil dan isakan tertahan.
Kapten berantakan. Dari awal.
Dari awal dia berdiri dalam kemunafikan.
“Tadi makan ga?”
Anggukan kecil menjadi jawaban.
“Masih mau makan lagi?”
Kali ini Kapten menggeleng. Entah kenapa membuat Panglima terkekeh geli karena lucu. Hah— memang semua yang dilakukan Kapten terasa lucu di mata Panglima.
Dia melingkarkan tangannya pada pinggang Panglima. Mengusel-ngusel dada yang lebih dominan mencari tempat yang lebih nyaman untuk bersandar. Jika sudah begini, Hyunjin tau kenapa. Ritual menggemaskan Kapten sebelum tidur.
“Bokap lo main tangan lagi ga?”
”..ga..”
“Terus Pipi bolong gue kenapa, hm?”
Butuh beberapa saat untuk kepala sang Kapten menyembul keluar dari dekapan. Jejak air mata bisa diliat Panglima yang segera menghapusnya hati-hati. Kapten menatapnya kosong, bak anak anjing yang ditinggal induknya di pinggir lorong sepi.
Semua perlakuannya untuk Kapten sudah terlampau lembut dan hangat, lalu siapa yang berani menyakiti sang pemilik hati lagi?”
“Everything was fine, mungkin masalahnya ada di gue yang ga ngerti sama perasaan orang dewasa. Tapi kenapa orang dewasa juga ga ngerti perasaan gue? mereka lebih tua dari gue, harusnya mereka lebih ngerti kan?”
“Panglima gue ga suka. Gue benci diri gue yang ga bisa nerima diri gue sendiri. Setiap gue ngeliat papa, gue benci dia. Setiap gue liat om Win, gue semakin benci sama keadaan. Gue benci.”
“Ga semua hal perlu lo ngertiin, Kapten.”
“Tapi semua orang nuntut gue buat ngerti. Gue ini cuma anak-anak yang kehilangan orang tua, liat, di saat gue punya masalah tadi gue masih mikir buat manggil papa. Lucu kan? disaat dia yang gebukin gue, tapi gue masih berharap sama figur seorang ayah yang ngelindungin anaknya.”
“Pipi bolong.”
“Di sini, sakitnya di sini.”
Sebab Jeongin masih tidak menerima keadaan 3 tahun yang lalu. Memangnya siapa juga yang bisa menerima semua itu? kala setiap malam mamanya menangis histeris mencari sosok papa yang telah menemukan rumah baru.
Sampai akhirnya semua menyerah, mama memilih pergi dan mencari pelabuhan terakhirnya. Lantas saat satu harapan diberikan pada satu sosok, keadaan mengambilnya dari dia. Cinta itu berubah menjadi rasa mati saat kakeknya meninggal dengan orang tua cinta pertamanya dalam kecelakaan hebat malam itu. Menyisakan papa nya dan Heeseung yang selamat dari malam panjang yang meruntuhkan banyak gerhana.
“Gue lebih baik dipukulin pas tawuran daripada gini.”
“Ga boleh gitu, ga ada yang baik.”
“I'm fucking tired of this shit.”
Jeongin bergerak lebih maju sampai kedua bibir mereka bertemu.
He kissed me, Panglima.
Hanya kecupan seperti biasa, dengan air mata yang lolos melewatinya menjadi pembeda.
He tried to rape me.
Cengkramannya, matanya, gerakannya, sentuhannya, tidak bisa dilupakan.
“Jangan nangis lagi, Kapten gue ga suka liat lo nangis. Gue mau bibir ini penuh senyum.”
“Jangan pergi, gue ga punya rumah lagi.”
“Gue ga bakal kemana-mana. Lo ga perlu jelasin apa-apa, mau lo kayak gimana gue tetep sayang sama lo.”
But, i'm scared. I'm just too tired to everything.
“Udah gue bilang lo ga perlu bales perasaan gue, cukup terima dan jangan minta gue pergi.”
“Dah, sekarang jangan nangis, lupain cerita hari ini. Besok kita makan kwetiau bareng, atau lo mau jajan apapun bilang aja biar lo ga sedih lagi.”
Dan Kapten kembali masuk ke dalam pelukan Panglima. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang musuhnya.
”..ga mau apa-apa, mau sama lo aja...”
“Engg ututuuu gemesnya doi Panglima.”
“Anak setan!”
Tentu saja Kapten. Yang dalam keadaan apapun tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengumpati musuhnya itu.
Tawa Hyunjin mengalun membuat Kapten tersenyum tanpa Panglima tau. Satu kecupan hangat Panglima berikan di kening Kapten yang lekat dengan asap rokok tebal. Entah berapa banyak batang yang Kapten habiskan.
“Good night, Panglima.”
“Good night, Kapten, malem ini ga bakal ada mimpi buruk soalnya monsternya udah gue makan.”
Beberapa saat kemudian hening kembali melanda, menyisakan Panglima yang terdiam dalam lamunan yang tajam. Nafas teratur Kapten menjadi pertanda sudah berapa jauh Kapten mengarungi alam mimpi. Maka dengan perlahan dia menggeser tubuhnya, bertumpu pada satu tangan untuk menatap wajah damai sang pemilik hati.
Sedangkan tangan lain menyingkirkan rambut di paras rupawan Kapten agar tidak mengganggu tidurnya.
Kapten, i love you for the sun and the moon.
Kembali dia mencuri satu kecupan di bibir Kapten sebelum akhirnya beranjak mengambil jaket dan keluar.
Malam ini makan panjang. Tentunya.
Sudah Panglima jelaskan, berani menyakiti Kapten, mereka berurusan dengannya.
Maka siapa lebih dulu yang akan menjadi targetnya malam ini?
Atlantis, tenggelam lah, lautan akan memberi tempat paling nyaman untukmu bersandar.