ARCADE
Langit malam mulai bergerak turun, mencetak warna jingga dengan mentari yang siap menyapa kembali bumantara. Duduknya di pagi hari ini berteman pada udara dingin selepas sisa pesta semalam. Dia termangu, membiarkan pikirannya melalang buana bebas hingga sunyi datang merundung.
Selalu saja seperti ini.
Kala rasa sepi berkunjung tanpa tapi.
Kendaraan mulai pergi dan datang, beberapa pejalan kaki pun menyapanya yang berada di ujung halaman villa, teman-temannya pun ada, tapi tetap saja perasaan sendiri menyergap tanpa belas kasih.
Kosong. Rasanya sangat kosong.
“Gue kira lo masih tidur, taunya ngadem di sini.” asumsi peduli seolah hadir bersamanya. “Lo ga tidur ya? mata panda lo keliatan banget Pipi bolong.”
Hyunjin merapikan sedikit rambut Jeongin yang acak-acakan karena angin pagi. Setelahnya menoel-noel pipi musuhnya agar kehadirannya disadari. Usil memang.
Untung Jeongin sudah biasa.
“Gue rasanya ga mau pulang.”
“Betah ya di sini?” yang ditanga mengangguk, masih setia menatap mentari yang semakin bergerak naik. “Apalagi di sininya sama gue.”
“Anak setan!”
Hyunjin hanya terkekeh kecil, “Pipi bolong.” ada banyak rasa yang disalurkan saat telapak tangannya bertaut pada milik Jeongin yang sedingin awal musim semi. Jeongin tidak menolak, dia biarkan saja dingin tangannya beradu dengan hangatnya tangan Hyunjin.
“Kita ga bisa terus-terusan kabur dari masalah.”
“Gue tau.”
“Kita lewatin bareng-bareng ya.”
Sesaat Jeongin terdiam, aksanya memandang jenuh, terlampau bosan pada kalimat yang sulit dia percaya.
“Gue aja.” jelas dia menolak. “Biar gue ngadepin masalah gue sendiri, lo juga pasti punya masalah kan?”
“Punya