Because, I am Yours and You are Mine.
“Gue mau ngomong sama lo.”
Kalimat dingin yang diucapkan Kapten setelah tiba-tiba datang dan berdiri tepat di hadapan Panglima dan Karina, sukses membuat banyak pasang mata menarik kembali napas mereka. Kapten dan eksistensi arogannya terlalu mencolok di tengah suasana yang sebelumnya hangat penuh canda dan tawa.
“Lo dari mana aja, Pipi bolong?”
“Lo budeg ya? ga denger tadi gue ngomong apa?”
Memang, setiap kali dua remaja itu bertemu, selalu tidak ada indikasi untuk sama-sama berbicara dengan tenang.
Untungnya Panglima terlampau tau. Kapten bukan sengaja mencari ribut, remaja dengan lesung pipi manis itu hanya tidak tau bagaimana mengekspresikan apa yang dia mau secara terus terang tanpa perlu menarik urat hingga hampir putus lebih dulu.
“Mau ngomong apa, hm?” tanya Panglima lembut tanpa peduli dirinya menjadi tontonan yang lain.
Bukannya mengutarakan rangkaian kalimat yang sudah dirinya susun, Kapten malah membeku di tempat. Matanya memandang sinis Karina lalu berbalik menatap Panglima tidak kalah sama.
Jujur saja, Kapten dengan wajah sinisnya itu sungguh menggemaskan. Bibir bawahnya mengkerut dicampur pipi gembulnya yang mengembang bak roti panas selalu sukses membuat hati Panglima tergelitik gemas. Dia hampir saja hilang kewarasan dengan niat menguyel-uyel pipi musuhnya itu jika Karina tidak membuka suara.
“Ehm, kayaknya kalian butuh space berdua, gue ke sana dulu ya bantuin Lily.”
“Loh katanya pengen nyanyi, Kar?”
Balasan Panglima sontak membuat Kapten melotot kaget. Sudah sampai mana perbincangan mereka?
Sial, jelas-jelas dia yang cemburu saat Kapten dekat dengan Jasmine. Tapi, buktinya sekarang...?
“Nanti aja, simpen buat tanggal satu.”
Kekehan renyah Panglima semakin mengguncangkan emosi Kapten.
“Yaudah, gue tunggu ya.”
Najis, apa-apaan?!
“Lo mau ngomong apa tadi?” tanya Panglima saat Karina sudah meninggalkan mereka.
Kapten merotasikan bola matanya, “Ga jadi, keburu males.”
Dan jawaban ketus Kapten berhasil membuat Panglima terkekeh. Ditambah lagi tangannya yang menyilang di dada dan matanya menyipit ke arahnya. Astaga, semua hal tentang Kapten selalu terlihat lucu di mata Panglima.
“Anjing lu!”
“Marah-marah mulu, sini duduk. Dari tadi gue cariin.”
“Ga mau bekasan.”
Tidak, Kapten tidak bermaksud menyinggung, hanya saja terkadang lidahnya terbiasa berucap tanpa dipikir lebih dulu
Lantas, hal paling sederhana yang biasa Panglima lakukan adalah membiarkan Kapten tenggelam dalam emosinya. Alih-alih ikut terpancing, remaja berstatus anak IPS itu akan setenang air. Dia akan memperhitungkan langkahnya agar api dalam diri Kapten dapat segera padam.
Sudah dikatakan, Panglima punya banyak cara untuk mengalahkan Kapten.
Bahkan saat Kapten melipir ke pinggir halaman yang sepi dan duduk di pagar pembatas, tanpa banyak omong Panglima segera mengekorinya dan menahan punggungnya agar tidak limbung ke belakang.
“Kenapa, hm? ngilang ga tau kemana tau-tau dateng mukanya kecut banget gini.”
Gilanya lagi, Kapten baru sadar dengan pertanyaan konyol begitu saja, jantungnya bisa berdetak tidak karuan.
“Pipi bolong.”
Satu jawilan di pipi belum mampu menggubris Kapten.
“Lo imut banget kalo lagi ngambek kayak gini.”
“Ah anjing! berisik lo anak setan.”
Yep, berhasil. Memang harus dibikin salting dulu agar si pemilik lesung pipi itu dapat luluh. Ya, walaupun isi mulutnya akan sangat kotor seperti yang sudah-sudah.
“Tai males banget gue sama lo anjing.”
“Lah, emang gue ngapain?”
“Najis pake nanya.”
“Duh ilah, gue serius kagak tau sumpah, tadi gue nyariin lo tapi ga ketemu terus diajakin Karina ngobrol bent— OH!” ada senyum yang terpampang di bibir Panglima sebelum dia melanjutkan kata-katanya.
“—Lo cemburu, Pipi bolong?”
Merasa tertangkap basah, mata Kapten bergerak gelisah. Mencari objek lain agar matanya bertatapan dengan manik coklat milik Panglima.
“Idih pede gila lo.”
Panglima terkekeh manis, dengan sengaja mengikis jarak mereka, “Ngaku aja.”
“Ngaku paan? ga usah halu deh lo bangsat, minggir ga gue colok ya mata lo babi.”
Bukannya takut, Panglima malah semakin menantang. Sebelah tangannya memeluk pinggang Kapten dan berdiri di sela-sela kakinya. Sedangkan tangannya yang lain merapikan rambut Kapten yang berantakan karena angin.
“Jangan...”
“Hm?”
“Jangan bilang cakep ke orang lain.” cicit Kapten.
Bola mata mereka bertemu, saling mengunci seolah dunia tepat dalam genggaman mereka. Tanpa peduli jika mereka akan jadi tontonan, karena meski di pinggir halaman, semua orang dapat melihat kegiatan mereka tanpa terkecuali.
Kapten lebih dulu memutus kontak mata mereka, “Ke gue aja. Jangan muji ke orang lain juga, gue ga suka.”
Dirinya menunduk sembari memainkan jari jemarinya. Tanda jika dia sedang gugup.
“Banyak orang bilang gue cakep, tapi kenapa lo bilang cakepnya ke orang lain?” masih dengan wajah cemberutnya, Kapten melirik sejenak Panglima dan kembali menunduk, “Emang gue kurang cakep ya?”
Entah kesambet apa kapten malam ini. Yang pasti dia persis seperti kucing yang ngambek karena tuannya main dengan kucing lain.
“Hei, you are the most beautiful person in this world, Pipi bolong. Lo orang paling cakep, paling cantik, paling ganteng, ga ada yang bisa nandingin lo.”
Panglima menyelipkan rambut Kapten ke belakang telinga lalu setelahnya menarik remaja itu untuk menatapnya.
“Terus kenapa lo muji orang lain?”
“Siapa?”
“Karina.”
“Karina? kapan?”
“Nanya mulu anjing, itu yang di snapgram lo babi.”
“Hah? yang mana? bentar, hp gue mana?”
“Mana gue tau anjing, di Karina kali.”
Panglima kembali terkekeh, menghadiahi kapten cubitan kecil di pipi tanda dia sangat gemas padanya, “Jutek banget.”
Pantas saja tiba-tiba singa ini berubah jadi kucing, ada yang tidak beres ternyata. Pandangan Panglima mengedar sejenak, lalu terjatuh pada Lino yang berdiri di samping Jisung tersenyum tanpa dosa sembari mengancungkan Hp miliknya.
Sialan orang itu.
“Jangan ditunggu, suara gue lebih bagus.”
“Iya Pipi, semua yang ada di lo lebih bagus dari yang lain.”
“Gue serius anjing.”
“Gue juga serius.”
Tangan Panglima hinggap untuk mengusap pucuk kepala Kapten dengan lembut.
“Mau gue buktiin?”
“Ga takut diliat sama temen-temen lo?”
Kapten tersenyum tipis, dari awal dia melangkah turun dari balkon ke titik dimana mereka di pinggir halaman, tekatnya sudah bulat.
Jika akan rusak, maka rusaklah.
Porak-porandakan hingga habis, toh kata Nanon kita hanya hidup sekali.
“Kepalang basah, kenapa ga nyebur aja sekalian.”
j
no