Because, I am Yours and You are Mine.
“Anak setan anjing, lo mau kemana?”
Iya, benar. Kalian tidak salah baca. Kapten dengan ego yang setinggi langit itu berlari mengejar Panglima.
Tanpa menyelesaikan nyanyiannya. Tanpa peduli dengan pemikiran orang lain nantinya.
Akal sehatnya tidak berjalan seperti biasa. Mungkin jika dia Kapten yang sebelumnya, dia akan diam di tempat tanpa perlu repot mengejar yang telah menjadi topik penting dalam hidupnya. Tapi, malam ini, dia memegang prinsipnya dengan arus yang baru.
Setiap orang yang memaksa masuk ke dalam hidupnya, tidak akan bisa keluar dengan mudah.
“Anak setan, stop!”
Panglima tidak mendengarkan intruksi Kapten. Dia semakin membawa langkah kakinya ke tepian pantai yang jauh dari resort. Hampir menuju ke tempat mereka di malam kemarin.
“Panglima anjing!” Kapten berteriak frustasi.
“Gue udah jujur sama perasaan gue anjing, kenapa sekarang lo malah ngehindarin gue gini?”
Sontak langkah kaki Panglima berhenti. Hening. Keduanya sama-sama diam dan saling berada di tempat masing-masing.
Lantas Kapten menjadi yang lebih dulu bergerak mendekat. Dia menggenggam tangan Panglima yang dingin. Jujur, ini baru pertama kalinya Kapten seperti ini. Dia menyerah pada akal sehat dan bergerak mengikuti kata hati.
“lo ga suka sama cara gue? lo ga beneran cinta sama gue?”
Grep
Secepat ombak yang menghantam daratan, secepat itu lah Panglima berbalik dan segera merengkuh Kapten dalam pelukannya. Kepala yang lebih tinggi dijatuhkan pada pundak si pemilik lesung pipi. Menenggelamkan sang pujaan hati dalam tubuhnya.
“Enggak... jangan mikir gitu, gue sayang banget— gue cinta banget sama lo, Kapten.”
Ada getaran dalam suaranya yang berat. Deru nafasnya bahkan tidak beraturan. Dalam jarak yang telah habis ini, Kapten dapat merasakan debaran jantung Panglima yang persis seperti miliknya.
Berdebar sekaligus menggelitik dalam perut.
“Terus kenapa lo ninggalin gue?”
Panglima memberi jarak sedikit untuk menatap wajah Kapten-nya, ah, sudah boleh kah dia menyebut dengan lantang bahwa pria di hadapannya ini adalah miliknya sekarang?
“Jangan kasih effort segitu besarnya buat gue, Kapten.”
Ditangkupnya rahang Kapten dengan hati-hati, lalu setelahnya dia pertemukan kening mereka.
“Biar gue aja yang effort buat lo. Martabat lo, harga diri lo, semua bisa hancur kalo temen-temen lo tau. Biarin semua orang tau nya gue yang cinta sama lo.”
Dan Kapten tidak tau, haruskah dia senang atau marah sekarang.
Bahkan setelah Kapten meruntuhkan seluruh topeng yang selama ini dipasang demi Panglima, orang itu malah memikirkan status Kapten ketimbang perasaan dia sendiri.
“Bangsat lo.”
Kapten memukul keras dada Panglima sampai pelukan mereka terlepas dan tercipta jarak.
“Lo ngerti ga sih apa yang berusaha gue ungkapin ke lo babi?”
Sebelah tangannya mencengkram kerah baju Panglima dan yang lainnya siap melayangkan pukulan ke wajah pria itu. Emosinya bercampur aduk, sial, Kapten benar-benar tidak handal dengan perasaan seperti ini.
Lain dengannya, Panglima hanya diam. Menatap intens mata Kapten sampai akhirnya kepalan tangan itu dijatuhkan olehnya.
“Anak setan lo..” Kapten berujar lemas.
Dia jatuhkan kepalanya di dada Panglima, “Gue cinta sama lo, bangsat.”
“Ngerti ga? gue cinta sama lo anjing. Stop mainin perasaan gue bisa ga sih, babi?”
Samar-samar suara isakan kecil dapat Panglima dengar.
“Pipi bolong, hei sayang.” kembali dia tangkup wajah Kapten agar menatapnya. Dan benar saja, si pemilik lesung pipi itu tengah menangis.
Bukan hal yang mudah untuk mengutarakan perasaan, dia bahkan hampir tersesat jika tidak ditemukan jalan keluar oleh Nanon. Ekspektasinya tinggi jauh dari keadaan seperti ini.
“Hei, sini, liat mata gue.”
Kapten menggeleng dia masih memejamkan matanya tidak berani berhadapan langsung dengan mata Panglima. Takut air matanya akan keluar semakin deras.
“Gue cinta sama lo Kapten, cinta banget. Gue bahkan ga ragu buat ngasih tau satu dunia kalo gue cinta sama lo.”
“Terus kenapa...?”
“Lo.” satu kecupan Panglima berikan di kening Kapten.
“Imbasnya di lo.”
Mendengar itu, Kapten memberanikan diri untuk membuka matanya. Manik Panglima yang melengkung seperti bulan sabit menjadi hal yang pertama kali dia lihat.
“Kalo gue ga pergi, temen-temen lo bakal tau lagu itu buat gue. Mungkin sebagian dari temen lo bakal nerima kita, tapi sebagian yang lain jelas ga. Mereka bakal ngecap lo lemah dan hubungan kalian bakal berantakan.”
“Babi, kenapa masih mikirin itu si? gue aja udah ga peduli.”
Panglima terkekeh kecil, dia hadiahi kecupan manis di kedua mata Kapten, “Gue bisa ngelawan dunia demi lo, Kapten. Tapi kalo dengan gue ngelawan dunia bikin lo sengsara nantinya, gue bisa nahan semua bebannya diem-diem demi lo.”
Dua kecupan lagi dia berikan di kedua pipinya
“Gue gapapa orang lain tau gue cinta sama lo, tapi gue ga bisa biarin orang lain tau cinta gue ini dibales kalo orang yang gue sayang bakal kena masalah nantinya.”
Sebesar itu.
Sebesar itu pengorbanan yang selalu Panglima berikan. Tidak pernah main-main, nyata, dan selalu mengutamakan kepentingannya lebih dulu.
“Without pause and without a doubt, in a heartbeat, i’ll keep choosing you, my Kapten.”
Dan satu kecupan dengan sejuta perasaan yang Panglima coba salurkan.
“I love you, my own heart.”
Pada akhirnya, Panglima tidak akan pernah membuat Kapten terlihat kalah. Akan Panglima pastikan dunia berada di kaki Kapten. Sebab, remaja itu selalu punya cara agar pujaan hatinya terlihat lebih hebat darinya.
“Dingin ga?” tanya Panglima memastikan Kapten yang duduk di hadapannya sekarang tidak dihantam angin malam.
Rambut Kapten bergerak menggelitik leher sang dominan. Menyamankan posisinya yang kini duduk di sela-sela kaki Panglima, menjadikan dada musuh sekaligus yang dia cintai itu sandaran tubuhnya.
“Gue ambil selimut dulu ya.”
Kapten menggeleng keras, dia mencegah Panglima untuk tidak jauh-jauh darinya.
Lucu, padahal dulu, dari jarak 5 meter saja kehadiran Panglima sudah berhasil membuat Kapten mengamuk tidak karuan. Tapi lihat sekarang, mereka seakan telah dipasangi lem setan.
“Lo ga keberatan kita backstreet?”
“Enggak, Pipi bolong.”
Kapten mendongak untuk menatap Panglima, “Tapi gue mau ngasih tau ke cupapi monyenyo.”
“Iya gapapa, selagi mereka bisa nerima lo dengan baik, gue ga masalah.”
“Lo gimana?”
“Gue juga paling ngasih tau ke yang deket-deket aja.” kembali dia kecup pucuk kepala Kapten.
“Walaupun gue pengennya satu dunia tau.”
Kapten tertawa geli. Dia kembali menyamankan posisinya, memandangi suasana pantai yang penuh dengan pantulan bintang-bintang. Menikmati suasana yang hanya ada dia dan Panglima.
“Suara lagunya ke denger sampe sini buset.”
Samar-samar, lagu if the world was ending menemani mereka yang sedang kabur dari dunia nyata. Ah, liriknya sangat menggambarkan keadaan sekali.
“Kapten.”
“Ya?”
“Makasih ya udah ngasih gue kesempatan buat hadir di cerita lo ke depannya.”
Kapten membenarkan posisi duduknya dan menatap lekat Panglima. Yang ditatap tersenyum manis, menarik genggaman tangan Kapten untuk dia kecup.
“Gue tau lo punya banyak keraguan dalam hubungan percintaan ini. Gue tau lo punya banyak ketakutan dari yang sudah pernah lo alamin.” Panglima memberhentikan kalimatnya sejenak.
“Kapten, gue pastiin cerita kita bakal jauh lebih bahagia dari dongeng-dongeng yang pernah lo baca.”
Lo secinta ini ya sama gue?
“Gue bakal buat dunia yang berantakan ini layak buat lo tinggali Kapten.”
Hening. Keduanya saling terpaku, tenggelam dalam bola mata yang berhasil membuat jembatan terikat untuk kisah mereka.
Dia genggam lembut tangan Kapten dan sekali lagi dia kecup manis punggung tangannya. Hal kecil yang sukses menerbangkan jutaan kupu-kupu dalam perut sang pujaan.
“Gue jatuh cinta sama lo jauh dari pertama kali gue masuk sekolah. Dan mulai sekarang, gue bakal jatuh cinta sama lo setiap harinya.”
Tanpa Panglima sadari, mutiara matanya jatuh bebas membasahi pipi.
I never planed it. But, you’re the best thing ever that has ever happened in my life
“Gue cinta banget sama lo, Pipi bolong.”
Kapten terkekeh kecil, dihapusnya jejak-jejak air mata Panglima yang malah turun semakin deras.
“Iya, gue juga cinta sama lo, Anak setan.”
Kini keduanya sama-sama terkekeh. Bisa dibayangkan, betapa gemparnya sekolah jika tau hubungan dua musuh bebuyutan kini sudah merubah statusnya menjadi pacar.
“Udah jangan nangis, nanti gue beliin nasi goreng.”
“Kok lo tau gue suka nasi goreng?”
“Emang lo doang yang tau tentang gue?”
“Oh bearti selama ini lo diem-diem nyari tau kesukaan gue.” alis Panglima bergerak naik turun, sengaja menggoda Kapten.
“Lo jangan mulai dah.”
Panglima terkekeh kembali, mengacak-acak gemas rambut Kapten yang dibiarkan saja oleh sang empu.
“Bearti sekarang kita bisa triple date dong?”
“Triple date?”
“Iya, gue sama lo, Jaehyuk Klepon, terus Anyon Pawat.”
Dan kali ini Panglima tertawa hambar, dirinya hanya mengangguk kecil.
“Tapi ngedatenya juga diem-diem ga sih?”
“Ya mau gimana lagi.”
“Ga seru banget, mana ga bisa dicium depan kelas lagi.”
“Oh nantangin.”
“Dih emang berani?”
“Berani, lo kira gue cupu kayak lo?”
“Tai, cupu palak lo! tadi siapa yang confess depan orang banyak, hah?”
“Pacar gue.”
Jawaban singkat Panglima membuat Kapten membeku. Secara tiba-tiba pipi yang lebih kecil itu memanas, rasanya geli namun mendebarkan kala Panglima memvalidasi siapa dirinya.
Belum sempat Kapten membuka