BELENGGU KIRANA


Lagi-lagi bentala memangku memori. Entah sudah hitungan ke berapa malam menjadi saksi waktu keduanya habis di bawah kaki-kaki indurasmi. Jalanan sepi penanda hari seolah membuat mereka menjadi pemilik bumi.

Mulanya dari mana saja keduanya tidak tau. Seakan tiba-tiba status musuh yang diagung-agungkan itu terkikis jauh. Yang awalnya terkoyak habis, berhasil melangkahi serumpunan daksa mati yang telah lama pergi.

Paras tajamnya selalu diartikan jika ia susah untuk disentuh. Bengis bak hewan buas karena sebutannya sebagai penguasa jalanan tercantum dalam tubuh. Nyatanya mereka yang tidak tau, pria itu hanya sosok kalbu yang perasaannya dikubur hidup-hidup sedari dulu.

Maka saat malam dirinya datang dengan perasaan kalah pada semesta; bahwa dia memang sudah jatuh padak sosok itu, Hyunjin dengan kesederhanaannya meminta pada dunia bawa kembali senyuman manis yang dia cinta. Sama seperti saat prianya berjalan dengan langkah tegap dihiasi senyuman hingga bola matanya tertelan bulan sabit.

“Itu es krimnya jangan lo makan semua Pipi bolong, sisain buat besok.”

“Pelit.” cibirnya tidak terima.

“Bukan pelit cuma ini lo udah habis 3 anjing, sakit yang ada tengah malam makan dingin-dingin.”

“Udah pagi anjing.”

“Yaudah sama aja. Sisanya sini gue bawakin, kita pulang dulu udah hampir jam 4 ini bisa mati gue ditebas Nanon.”

Yang tadinya dersik hadir seorang diri, kali ini ditemani dengan harmoni manis dari tawa lepas sang pemilik lesung pipi. Matanya yang hilang dan bibirnya yang terangkat apik membuat Hyunjin tanpa sadar ikut terbawa bahagia olehnya.

“Lo takut sama Nanon?”

Hyunjin mendengus dengan senyuman yang tidak luntur di bibirnya, “Gue ga takut.” dia menjawab sangat tegas.

Tangannya sibuk memakaikan helm kepada Jeongin yang seluruh atensinya berada di es krim coklat yang Hyunjin beli.

“Gue cuma nepatin janji gue ke Nanon.” mendengar itu, Jeongin seakan membatu. Nyawanya seakan melayang kala Hyunjin melanjutkan ucapannya sembari merapikan poninya yang berantakan karna helm.

“Janji buat jagain lo dan ga biarin lo kena dinginnya malem, Pipi bolong gue yang cantik.”

Jalanan kosong dengan angin yang hadir hanya sesekali, semakin membuat nyaring dentuman jantung keduanya yang ramai.

“Anjing.”

Sautan dari Jeongin membuat Hyunjin memasang wajah malas, jarinya bahkan reflek menoyor kepala cintanya main-main.

“Anak setan!” semakin dipancing, semakin pula mulutnya tidak bisa ditahan.

“Ini kita pulang ke rumah Nanon?”

“Ya kalo lo mau pulang ke rumah gue, ayok-ayok aja.”

“Jauh bangsat, rumah lo dimana ini dimana.”

“Makanya, ini mau gue anter ke Cluster.”

“Terus lo nya?” Jeongin bertanya dengan wajah polos, kepalanya miring dengan bola mata khas anak kecil sembari memegang cone es krim di tangan Kanan.

Ah rasanya Hyunjin akan melebur kegemasan sekarang!

“Ya pulang, Pipi bolong. Ga mungkin juga kan lo nawarin gue nginep.”

Jeongin kembali manyun tanpa dia sadari. Kelopak rubahnya seperti sedang berpikir, malam singkat akan segera usai dan dia masih ingin berada di luar. Bak senja pergi dengan tangan kosong, Jeongin tidak ingin fajar datang bersama kelabu yang mulai tergambar di cakrawala.

Terbuai dalam nyaman, mati dalam keinginan.

“Lo keberatan ga misal lo ketemu bokap gue dan dia tiba-tiba ngamuk ga jelas?”

Melebihi kilat kala mengamuk pada bumi, Hyunjin tersenyum sembari menggenggam tangan Jeongin penuh kasih. Menarik cintanya untuk semakin merapat padanya yang sudah duduk di atas motor lebih dulu.

“Kenapa gue harus keberatan? malah kalo bokap lo ketemu gue dan dia ngamuk ke lo kayak tempo hari, harusnya yang lo khawatirin bokap lo Pipi bolong. Bisa aja bokap lo bangun-bangun udah di rumah sakit.”

“Si anjing!”

Lantas keduanya saling berbagi tawa. Rona merah terpancar bak pelangi sehabis hujan di pipi Jeongin. Diam-diam Hyunjin menyimpan memori betapa cantiknya Jeongin dengan senyuman manis. Seakan Aphrodite lahir padanya, yang mudah memikat melampaui garis radar bumantara.

Hyunjin kalah telak. Semesta membuatnya menyamai perasaan seluas lautan.

“Kalo gitu kita ke rumah gue aja.”

“Rumah lo?”

“Iya, rumah gue, bukan yang di Cluster.”