Berburu Waktu
Senyuman Kapten merekah kala matanya menangkap sosok pria yang sudah mengisi hatinya tanpa ragu. Bola mata rubahnya melengkung selaras dengan kedua bolongan pipinya yang semakin terpampang jelas.
Lucu. Biasanya, setiap kali kedua remaja itu bertemu, tegang dan saling ingin mendominasi selalu hadir bak plang pintu. Tapi sekarang, tanpa perlu dijelaskan, orang lain dapat melihat perbedaan yang terjadi di antara keduanya.
Sang kutub mulai mencair, dan lautan semakin merengkuh.
“Masih ada lagi ga barang-barang lo?”
Pertanyaan dari Panglima menarik kewarasan Kapten agar tidak semakin melalang jauh.
“Udah semua.”
“Oke, lo tunggu depan pintu aja biar gue yang masukin ke bagasi, panas di sini.”
Jika boleh jujur, hubungan Panglima dan Kapten itu lucu. Mereka tidak ingin orang lain tau, tapi tingkahnya tidak seperti seorang musuh.
Tidak ada lagi argumen yang tidak bermutu, tidak ada lagi layangan pukulan, tidak ada taruhan dan jual mahal seperti yang sudah-sudsh, tidak ada lagi arogansi atas siapa yang paling hebat.
Semuanya berjalan damai, setenang lautan lepas.
“Awas lepas tu biji mata.”
Kecuali, godaan yang semakin bertambah.
Kapten menyempatkan memutar bola matanya malas, baru setelahnya menganjingi Nanon yang datang bersama Jihoon dan Changbin. Entah bagaimana ketiga orang itu bisa berjalan tanpa adu mulut, yang pasti sekarang mereka tampak sedikit akrab. Baru selang berapa detik, Jaehyuk dan Asahi datang menyusul.
“Lo langsung ke rumah apa ke bengkel kak Chan dulu, Nyon?”
“Bengkel dulu ngambil oli motor.”
“Yang lain?”
“Sama paling, cuma Jisung sama Jaehyuk yang kagak. Emang udah kagak setia kawan lagi mereka, keluarin aja dari Orion.”
“Monyet! baru juga sekali gue off ngumpul ye anjing.” balas Jaehyuk tidak terima.
“Kalo gitu sekalian titip—”
“Kapteeennn!”
Belum sempat kalimatnya selesai, ucapan Kapten terpotong bersamaan eksistensi dari adik kelas barunya itu.
Dan secara tiba-tiba, tangannya yang kosong, dirangkul oleh Jasmine. Bak lem dan perangko, jarak sejengkal pun sudah hilang. Menghadirkan rasa tidak nyaman dari si pemilik dan —si pemilik baru.
“Aelah bin, kuyang lo noh lepas.” Jihoon berucap sarkas
“Tau dah, masukin botol lain kali biar kagak kelayapan.” timpal Nanon.
“Kapten kok ga bales chat aku?” rajuknya.
Yang ditanya tersenyum kikuk, matanya terlalu sibuk menghindari kontak mata Panglima yang terlihat sangat tidak suka dirinya dirangkul Jasmine.
“Kap, udah hampir jam 11, berangkat aja ayok yang lain udah semua.” ucapan tiba-tiba dari Felix seolah menjadi penyelamat Kapten.
“Oke, bantu absen dulu aja anak-anak yang lain lix.”
“Udah tadi sama Seungmin, supir juga udah diposisi.”
“Yaudah masuk aja kalian, kita berangkat. Keburu macet.”
“Kak Je, duduk sama aku kan?” suara Jasmine merengek, seakan-akan jika tidak dengan Kapten dia tidak memiliki teman yang lain.
“Ga bisa.”
Bukan. Itu bukan Kapten yang menjawab. Melainkan Klepon dengan suara datarnya yang langsung menimpali.
“Kenapa?”
“Gua masih ada urusan di sini, ntar gue nyusul. Lo duluan aja ya, cil.”
“Terus kak Je gimana?”
“Dia sama gue.” kali ini Panglima yang bersuara. Suasana seketika hening, padahal intonasi suaranya biasa saja, tidak dingin apalagi meninggi.
Kapten tau betul, pria itu sedang menahan emosi. Maka dengan segera dia melepaskan tangan Jasmine yang merangkul lengannya dan mengambil jarak untuk tidak terlalu dekat.
“Terus aku pulangnya gimana?” tanyanya lagi dengan wajah sedih.
“Gampang, ada Changbin.”
Mendengar namanya disebut Klepon, sontak Changbin melotot kaget. Matanya seolah mengatakan gue lagi? lengkap dengan umpatan yang dia tahan setengah mati.
“Ya kan, bin?”
skakmat!
Selagi Klepon berucap, kekuatan dari mana dia menolak? sehingga dengan terpaksa Changbin mengangguk, “Iya tenang aja, gue anter sampe rumah.”
“Oke udah clear kan? yok buru, makin siang makin malem kita sampe.” Felix kembali mengintrupsi.
Bak anak ayam yang mengikuti induknya, satu persatu dari mereka pun naik ke bis. Jasmine masih terlihat tidak terima, wajahnya menekuk sedih.
“Hati-hati Cil, kalo mereka jahilin lo lapor ke gue.”
Dan Jasmine hanya mengangguk pasrah. Dari luar bis Kapten dapat melihat teman-temannya yang mulai sibuk mencari tempat duduk. Baru saja Kapten akan berjalan mendekati Panglima, dirinya baru tersadar sama kalimat yang ingin dia sampaikan sama Nanon sebelum dipotong Jasmine tadi.
“Nyon, titip motor gue ya! kuncinya di kak Chan. Tarok di tempat lo aja Nyon, jaga-jaga kalo tetiba bonyok balik.”
“Iya aman!” balas Nanon dari dalam bis.
Baru setelah itu Kapten berjalan mendekati Panglima yang sudah duduk di atas motornya. Keduanya tampak seperti orang tua yang mengantar anak-anaknya pergi wisata.
“Musuh, titip temen gue!”
Jaehyuk berucap dari balik kaca samping pengemudi yang sukses membuat Kapten terkekeh kecil. Pun sama dengan Panglima yang juga mengancungkan jempolnya tanda siap. Lantas bersamaan dengan kalimat tersebut, bis yang membawa teman-temannya mulai pergi meninggalkan resort.
Habis tak bersisa. Hingga hanya ada mereka berdua dengan kesunyian yang melanda.
Dan semuanya berakhir dengan Panglima yang berucap lebih dulu, “Emang masih ada urusan lain, Pipi bolong sayang?” tanyanya bingung.
Kapten menggeleng, lalu beranjak untuk semakin mengikis jaraknya dengan sang kekasih. Melihat itu, Panglima pun meraih pinggang Kapten untuk berdiri di sela-sela kakinya.
“Ga ada.” jawab Kapten singkat. “Gue cuma mau ngabisin banyak waktu sama pacar gue aja.”
Untuk sesaat Panglima terdiam seolah sedang memproses kata-kata Kapten barusan. Lalu setelahnya, secara tiba-tiba pipinya bersemu merah dengan sudut bibir yang meninggi tanpa dapat dicegah.
“Ah sayaaang!” dasar, hanya dibilang seperti itu, moodnya langsung berubah.
“Gemes banget pacar siapa ini?”
Pacar Panglima.”
Keduanya pun tertawa bersama. Di bawah matahari yang mulai beranjak naik dan hamparan laut yang menjadi saksi, pasangan yang baru saja mengubah status musuh menjadi pacar itu menghabiskan waktu sedikit lebih lama berdua.
“Yok berangkat.”
Lagi-lagi Kapten mengangguk.
Dirinya mengambil helm di kursi penumpang. Sedangkan Panglima melepas jaket denim yang dia kenakan, memperlihatkan kaos putih polos berlengan pendek yang dia padukan dengan celana jeans hitam.
“Kok dilepas?”
“Biar dipake sama pacar gue.”
Benar saja, jaket itu disampirkan Panglima agar dikenakan Kapten yang hanya memakai kaos biru dongker polos.
“Udah lo pake aja, gue pake baju lengan panjang.”
“Perjalanan kita jauh sayang, udah nurut aja.”
Kapten pun langsung diam. Seketika menjadi kucing penurut yang sedang dipakaikan pakaian oleh babunya. Jaket itu jelas-jelas kebesaran di badan Kapten, menenggelamkan tangannya sampai-sampai haru digulung berapa kali. Setelahnya dia mengecek sekali lagi helm yang dikenakan Kapten memastikan kekasihnya aman baru dia mengenakan helmnya.
“Pegangan sayang.”
“Iya.”
“Pegangan yang bener.”
Sialan, jantung Kapten lagi-lagi berdetak tidak karuan. Yang tadinya dia hanya menggenggam baju Panglima, ditarik oleh pria itu untuk memeluk pinggangnya dengan erat. Tanpa protes, Kapten mencari kenyamanan dengan meletakkan dagunya di bahu Panglima.
Baru setengah jalan, Kapten tiba-tiba menegakkan tubuhnya yang seketika membuat Panglima bertanya.
“Kenapa?”
“Gapapa, badan gue berat.”
“Mana ada berat, udah gapapa, senderan lagi aja sayang.” protes Panglima. Tangan kirinya menarik tangan Kapten untuk memeluknya erat hingga tubuh mereka menempel kembali.
Lantas bersamaan dengan angin yang membelai mereka, motor scoopy hitam itu mulai melaju meninggalkan pantai dengan membawa cerita baru.
Ombak telah banyak menjadi saksi, atas kepedihan dan air mata yang dulunya Kapten leburkan padanya. Menyimpan sisa-sisa abu kenangan yang sengaja dia hanyutkan. Mencetak jelas kala perlahan air birunya bercampur dengan merah karat bekas luka yang dia bawa.
Tapi kali ini, ombak menjadi saksi kala hidupnya tak lagi seorang diri. Air mata yang mengering diganti dengan senyuman manis bak indurasmi. Hadirnya seperti pelangi, menakjubkan sekaligus manis.
Dari kaca spion, Panglima dapat melihat Kapten yang masih terbuai dengan keindahan alam. Matanya menipis bersamaan dengan bibir yang melengkung naik.
Pertama kali dia membonceng Kapten kala pria itu hampir mati. Penuh luka dan jarak yang dihalangi tembok tinggi. Tapi kali ini, mereka bukan lagi asing.
“Pipi bolong.”
“Paan?”
“Lo musuh gue yang paling gue sayang, i love you my own heart.”
Dan sudut bibir Kapten semakin tinggi. Tanpa dirinya tau, Panglima pun ikut tersenyum melihat betapa manisnya Kapten dengan kebahagiaan yang selalu ingin dia beri tanpa sembunyi-sembunyi.
“Gue juga sayang lo, Panglima.”
Sayang, sampe gue ga takut gimana kita besok. Gue ga takut, karena gue tau, gue ada lo.
Karena yang dibutuhkan Kapten hanya Panglima,
dan yang diinginkan Panglima hanya kebahagiaan Kapten.