CERITA LAUT


Aroma rumput basah membekas sore itu. Berteman dengan kicauan burung yang tak lagi bising, sayup mentari menyapa dari balik helaian rambut legam milik pujaan yang setia mencetak memori baru. Pundak memang tidak selamanya tegap, namun lebih dari cukup untuk menjadi sandaran yang tak akan luput dari waktu.

Rangkaian sajak sengaja ditulis untuk membentuk kata aku, kamu, menjadi kita. Harap yang selalu diusahakan hingga suatu saat sampai menjadi selamat.

Hyunjin tau, mustahil berada di antara cerita dirinya dan Jeongin. Tapi Hyunjin juga lebih dari tau, usaha mampu mengubah mustahil menjadi satu.

“Lo ga jadi ketemu Asahi?”

Suara pujaannya menarik Hyunjin dari lamunan. Pria yang indahnya melebihi angkasa malam.

Entah bagaimana Panglima harus mendeskripsikan betapa dirinya sangat mengagumi sang Kapten perang.

“Enggak si Klepon langsung gabung futsal sama yang lain.”

“Lo ga ikut?”

Pertanyaan retoris dari Kapten mengundang tawa kecil Panglima. Tidak ada yang lucu di sana, namun lagi-lagi bahagia selalu datang bersama cinta dari yang dipuja-puja.

“Enggak juga, lebih enak di sini.”

Dia mengangguk setuju, “Iya banyak angin, tumben juga cuacanya bagus gini. Panas kagak, mendung juga kagak.” Kapten berujar seolah dirinya pakar cuaca.

Bukan pakar hati seperti Panglima.

“Maksud gue enak di sini tuh karena ada lo, Pipi bolong.” pergerakan Kapten terhenti selaras pana waktu. “Percuma gue ikut futsal kalo lo nya ga ada di sana, mending di sini, gue bisa ngabisin sore bareng sama lo.”

Karena faktanya, Kapten tidak pernah dibuat benar-benar berharga. Pada bangunan yang selalu sama, utuh sempurna dari luar, namun runtuh di dalam, waktu terbuang sia-sia dalam kesendirian.

Namun, duduk di atas tikar beralas tumpukan kapas hijau tidak pernah se-menyenangkan dalam imajinasi Kapten. Bersama satu set impian yang mulai dirakit pada goresan cat warna-wani, raganya tidak pernah seantusias saat ini.

Atau ini bukan tentang tempat dan mimpi, melainkan si pembuat memori?

“Anjing, jelek lo.” dan kalimat itu selalu dipilih Kapten untuk menutupi gejolak aneh dalam diri.

Tentu dia tau, jelas dirinya salting. Tapi sayang, gengsi tetap nomor satu.

Meski begitu, Panglima dengan cintanya yang luar biasa selalu paham dengan teka-teki Kapten. Alih-alih tersinggung, dia malah tertawa manis, seolah kemarahan dalam dirinya telah diambil alih oleh Kapten.

“Emang lo ga suka ngabisin hari sama gue, Pipi bolong?”

“Dih, ya menurut lo aja anjing.”

“Kalo menurut gue sih...” Hyunjin sengaja menjeda kalimatnya untuk mencubit pipi gembil Jeongin, “Lo lebih dari seneng.”

“Bangun-bangun, kagak usah mimpi lo anak setan.”

“Udah ngaku aja lo lagi berbunga-bunga kan gue ajak ke sini.”

“Najis!”