Terbanglah aku, yang tercekat dan terikat
Mungkin dipukul adalah bentuk kasih sayang, sebab itulah satu-satunya bahasa yang pernah sampai padanya. Tangan datang lebih dulu daripada kata, amarah lebih dulu daripada pelukan. Ia tumbuh menafsir nyeri sebagai perhatian. Lantas saat lukanya dikecup dengan kelembutan, ia menjadi gagap untuk mengartikan.
Kepalanya terus berputar, seolah menunggu nyeri yang tak kunjung datang. Riuh dan heningnya ditutup dengan tawa, sorakan memuja karena berhasil menyelesaikan soal sederhana terasa berlebihan. Maka ia tersesat dalam penerimaan; tubuhnya mengaktifkan alarm, pertahanannya menajam, mungkin ruang tanpa benturan ini hanyalah jebakan?
Sedang yang lain berjalan pada bentuk yang paling sederhana. Mata yang tidak perlu menangkap makna kehidupan sesungguhnya. Tidak ada alasan besar, tidak ada tujuan yang perlu diagungkan. Hanya cukup ada—cukup bersama, cukup menertawakan gilanya dunia.
Obrolan melompat dari hal sepele ke yang tak penting. Tidak ada solusi yang berarti, hanya hadir untuk menemani. Membalut diri dengan bentuk kasih yang murni, yang tidak perlu ada yang ditutupi. Sebab yang terjadi di detik ini, mungkin tidak untuk esok hari.
Lantas mereka akan bersuka cita atas luka. Bersulang atas hari-hari yang gagal, atas diri yang belum jadi apa-apa. Selayaknya remaja, sebebasnya masa muda. Tidak ada yang perlu ditakuti, sebab jika mati, ya sudah, mau bagaimana lagi?
“Kita cegat aja ga sih, Kap? sok iye banget dah si warior itu, najis.”
“Hajar. Biar si bangsat anak baru itu gue kasih paham.”
Hidup mereka jalani setengah serius, sepenuhnya nekat. Tawuran bukan perihal menang, tapi tentang berdiri di barisan yang sama. Jika ada yang menganggap mereka pembawa masalah, maka anggaplah itu nyata. Sebab kotornya mereka, tidak akan menjadi benar pada yang percaya; air tidak lebih kental dari darah.
Bekas luka itu mereka sembunyikan di balik seragam yang tak pernah lengkap, sebait cerita yang tidak akan pernah sampai di papan. Mereka akrab di buku catatan pelanggaran, asing di daftar teladan. Buronan OSIS hingga langganan BK. Tapi saat olimpiade datang, mereka juga maju paling depan. Menjawab soal seperti kesetanan, juara diseret pulang dengan tawa kencang.
Ini mereka, yang belajar menang dari kekacauan.
Guru berceloteh tentang masa depan—tentang menjadi anak yang berguna. Tapi adakah tempat untuk mereka? dan pertanyaan itu tak pernah benar-benar dijawab.
Seorang dari mereka bahkan tak lagi bermimpi; semuanya sudah terkubur, dilindas sebelum berharap. Kaki panjangnya kerap melangkah tanpa tujuan, sedang yang lain mengikuti di belakang—bukan karena percaya arah itu benar, tapi karena meninggalkannya terasa lebih salah.
“Udahlah, ikut Kapten aja.”
Kalimat itu jatuh seperti kutukan, mengerucut pada satu titik bahwa tempatnya ada di garis terdepan. Padahal hatinya sengaja ditutup agar tidak lagi terlibat dengan siapa pun, bukan untuk menolak, melainkan untuk bertahan. Tapi mereka tetap melekat; menempel tanpa malu, mengekor tanpa banyak tanya. Setiap keributan, setiap pelarian, sorakan lantang akan berakhir padanya.
Pada Kapten.
“Lo kalo ga bisa ngelawan, bilang ke kita anjing. Biar kita yang abisin.” ucapan gila itu meluncur tanpa pikir panjang setiap kali dirinya datang dengan tubuh babak belur.
“Tolol. Mau masuk penjara lo, nyon?”
“Daripada lo mati duluan di tangan bokap lo.” Jaehyuk berucap tanpa ragu, “Mending nongkrong sekalian di lapas.”
Kalimat itu terdengar konyol—terlalu berani untuk dianggap bijak, terlalu polos untuk disebut perhitungan. Mereka paham akan bahaya, siapalah mereka yang hanya bocah-bocah untuk mereka yang siap menghadiahkan pemakaman bak sepotong roti seribuan? Tapi di kepala mereka, kehilangan satu orang terasa lebih menakutkan daripada segala akibat yang akan datang.
Maka, ia belajar diam sebagai pilihan paling aman. Melipat perasaannya dengan rapi, menyimpannya di tempat yang bahkan dirinya pun enggan untuk mengunjungi.
Tapi, hadirnya mereka seakan membawa bahasa yang salah; bahasa yang tidak dia mengerti, bahasa yang membingungkan. Sebab di tangan mereka, kasih sayang tidak perlu datang dengan tamparan, melainkan pengakuan sederhana bahwa seorang anak layak aman.
“Kan gue udah pernah bilang.” mata Nanon bersitatap dengan miliknya, “Jangan mati, Kapten.”
Dan saat itu, dia tidak lagi menatap dunia dengan cara yang sunyi. Prinsipnya untuk tidak menggantungkan diri pada siapa pun, dipatahkan pada mereka yang tidak memiliki apa pun untuk ditawarkan selain tempat pulang.
Mereka melihat, mereka mendengar—mereka siap menanggung sebagian beratnya.
“Kalo udah lulus nanti, lo mau ke mana?” terkadang pembahasan seperti ini juga sering muncul di bibir mereka. Pukul tiga pagi membuat segalanya terdengar nyata, namun juga terasa samar.
“Paling kerja.” rokok di tangan Seungmin sudah hampir habis, “Kakak gue kan masuk penjara lagi.”
“Anjing! makek apa ngedar?” Jisung yang tadinya hampir terlelap di paha Kapten langsung terduduk melihat temannya yang malah tertawa kecil, “Sial, dua-duanya banget min?!”
Satu kotak rokok utuh ia lemparkan ke temannya sebagai bentuk penghiburan. Obrolan itu terjeda sejenak, tidak ada yang ingin bertanya lebih lanjut, dan tidak pula ingin bercerita lebih panjang. Batasan itu mereka genggam, pun cukup pintar untuk paham.
“Lagian sekolah juga ga cocok buat kita ga sih?” itu pemikiran paling realistis dari mereka yang hobinya bikin kegaduhan.
“Oh siap kalo yang selalu juara umum aja bilang ga cocok apalagi kita yang tiap ulangan ngandelin otaknya dia.” Jaehyuk tidak berusaha melucu, tapi tawa mereka pecah begitu saja.
“Kalo ga ada Kapten udah mati kali ya kita? udah kerjaannya tawuran, balapan, kalo sampe nilai anjlok juga mampus sampe rumah tinggal nama.”
Kalimat itu meluncur ringan nyaris seperti gurauan. Rokok di sela bibirnya menjadi saksi seberapa tipis senyumannya saat itu. Padahal di rumah, seberapa besar prestasi yang dia dapat, tidak akan pernah cukup membuatnya selamat. Selalu ada yang kurang, selalu ada yang bisa dipatahkan.
Tapi di tangan mereka, langkahnya yang serampang bisa menjadi benar. Hadirnya entah bagaimana, menyelamatkan mereka dari hal-hal yang tak sanggup mereka sebutkan.
Kapten tidak pernah berniat menjadi pahlawan—bahkan menyelamatkan diri sendiri pun dia tidak paham—tapi bagi mereka, keberadaannya adalah alasan kecil yang akan menjadi besar.
“Ya makanya mau sekarang atau pas udah lulus nanti, gue tetep ngikut Kapten.”
“Brengsek, lo sesuka itu ya sama gue, nyon?”
Wajahnya yang malas membuat Nanon semakin terbahak. Pria berlengsu pipi itu mengangguk semangat, “Iya lah anjing, ya walaupun lo malah demennya sama si anak setan.”
Dan, saat itu tawanya benar-benar lepas. Untuk sesaat, pukul tiga pagi tidak lagi menjadi tempat untuknya bersembunyi. Ia ada, ia utuh bagi sebagian orang.
Jeongin menemukan alasan untuk pulang, untuk bertahan—untuk hidup.
Jika menjadi anak adalah kesialan yang belum sempat memilih, maka menjadi Kapten untuk mereka adalah satu-satunya mimpi yang masih mungkin.
Mungkin?
“Masih punya muka lo ke sini?”
Kalimat itu menghantam lebih dulu sebelum langkahnya sempat masuk. Pasang mata yang biasa menyambutnya dengan antusias bergetar dalam kekecewaan. Penjelasan yang sudah ia siapkan di kepalanya—pembelaan yang bahkan tak ia yakini itu—mendadak tercekat di tenggorokan. Semuanya membeku, jatuh sebelum sempat diutarakan.
Dibalut angin musim hujan yang menusuknya bukan main, suaranya mengalun pelan, nyaris tak terdengar, “Maaf.”
Sebab dirinya yang kecil ini tidak pernah berniat untuk membela diri. Hidupnya dia habiskan untuk menerima segala sesuatu sebagaimana datangnya. Perutnya sudah kenyang menelan begitu banyak bantahan yang belum sempat menjadi suara. Sampai akhirnya si kecil ini membiarkan mereka percaya apa saja.
Benar, apa saja. Termasuk dirinya yang kalah.
Dan karena itu, karena kesalahpahaman dia biarkan tinggal, kecewa tumbuh lebih dalam pada mereka.
Di mana Kapten dengan egonya yang setinggi langit?
“Ngapain lo minta maaf?!” suara yang selalu menjadi penyelamatnya kini meninggi. “Mending lo ludahin kita aja daripada minta maaf, anjing!”
“Kita temenan udah berapa tahun sih, Je?” getir di ujung suara Nanon lebih menggelegar dari petir yang diam-diam menyambar. “Bukan setahun dua tahun, anjing! Kita makan bareng, berantem bareng, tapi kenapa lo malah bikin kita kayak orang tolol, bangsat?!”
Bunyi bedebum saat dadanya dipukul Nanon ternyata sukses menghentikan jantungnya seperkian detik. Dia menggeleng pelan, berusaha mencari kata-kata yang pantas untuk dikeluarkan. Tapi semuanya berantakan, seakan tidak ada satu pun yang pantas keluar.
“Kita ga pernah nanya macem-macem soal hidup lo. Kita ga pernah ngusik ego lo, kita hargain semua rahasia yang coba lo tutupin ke kita.” suara Jisung terdengar sangat dingin. “Bahkan saat lo jadian sama Panglima pun kita terima Kapten. Kita ga nolak lo, bangsat!“
Fakta yang diberikan Jisung itu semakin merujamnya. Ruangan yang dulu terasa aman kini kian menyempit. Dinding lembab itu seolah mencekik lehernya sampai sesak perlahan naik.
“Dan lo milih nutupin hal itu dari kita? brengsek! mana yang katanya keluarga?!”
“Justru karena kalian keluarga gue!” dia sungguh berharap angin malam mampu menusuk jantungnya saat ini juga. “Karena kalian keluarga makanya gue ga mau kalian kebawa masalah pribadi gue, nyon.”
Mimpi buruknya sudah menjadi nyata. Tidur panjangnya sudah mengetuk untuk segera menyelimutinya dengan tenang. Maka dengan sisa ego yang ada, dia biarkan kata-kata itu lepas begitu saja.
“Kayak yang kalian liat dan denger kemarin, Heeseung emang kakak angkat gue.” ia pandangi wajah mereka satu per satu. Wajah-wajah yang selama ini ia jaga; yang ia lindungi dari bagian dirinya yang paling kotor. Sampai tatapannya jatuh pada Jaehyuk, “Iya, dia kakak angkat gue, Jae. Orang yang bikin Junghwan masuk rumah sakit itu kakak angkat Kapten lo, apa lo masih bisa terima gue?!”
Ini bukan kemarahannya, dia hanya terlalu cacat untuk mengungkapkan isi kepala.
“Terus mau sampe kapan lo nyembunyiin ini semua dari kita?” frustasi di suara Jaehyuk menjalar ke tengkuknya yang sekarang terasa panas. “Sampe lo beneran mati di tangan bokap lo?”
“Mungkin.”
BUG!
Pukulan itu jatuh bukan karena benci, melainkan dari putus asa yang tak tahu harus ke mana. Perih di ujung bibirnya ternyata jauh lebih sakit ketimbang kakinya yang dipatahkan papa tempo hari. Dia hampir menjadi cacat kalau mereka tidak datang malam itu, malam sial yang membongkar semuanya. Sungguh, dia tidak menyesal karena menyulut amarah papa karena membuat Heeseung masuk rumah sakit, dia hanya menyesal semua itu harus terbongkar dikondisinya yang berantakan.
“Nyon, lo jangan gila, anjing!”
Felix yang sedari tadi diam langsung menarik Nanon menjauh. Mereka tampak berdebat, namun telinganya seperti berdenging dan matanya sulit untuk kembali fokus. Baru saat Jisung berdiri membelakanginya dan memasang tubuhnya sebagi perisai, sayup-sayup perdebatan itu dapat dia tangkap kembali.
“...kalo gini sama aja lo mau bunuh diri di tangan kita, Jeongin!“
Tidak. Dia tidak pernah bermaksud demikian. Dia dan keluarganya sudah terlanjur berantakan. Bahkan dalam satu kalimat yang sederhana, dia tetap tidak bisa menjelaskan apapun. Dia akan mengubur semua kesempatan untuk menyangkal bersama tubuhnya.
Benar, semuanya.
Dari papa yang berselingkuh. Dari mama yang sakit hati cintanya dibalas pengkhianatan hingga gelap mata dan memutus rem mobil papa dengan sengaja, yang sialnya malah dipakai keluarga Heeseung untuk mengantar Opa ke rumah sakit malam itu. Dari kotornya dia yang hidup dengan darah mereka.
“Kalo dari awal kita tau dia kakak lo, kita ga akan bales dendam sama Heeseung, Kap. Kita bakal tutup mata, kita bakal jagain lo, tolol!”
Ia biarkan semua kemarahan itu jatuh padanya. Sosok yang selalu berlari paling kencang untuk menyelamatkannya, kini berdiri dengan rahang mengeras dan napas yang berantakan. Tangannya mengepal di sisi tubuh, menahan gemetar yang tak ingin diperlihatkan.
“Lo hampir ga bisa bawa motor seumur hidup perkara si bajingan itu lecet sedikit, Kap. Coba kalo kita kelepasan gebukin Heeseung lebih parah malem itu, bisa aja lo—” ucapan Seungmin tergantung begitu saja.
Pria itu berbalik, menendang kursi kosong yang tidak jauh dirinya. Menciptakan bunyi berisik yang juga tidak melegakan hatinya.
Tenggelam dalam pikirannya, semua orang yang ada di sana tampak diam. Mereka tahu. Mereka semua tahu apa yang hampir Seungmin katakan. Bayangan Kapten diterjang tanpa ampun itu terus menghantui mereka. Gambaran seorang kepala keluarga yang membabi buta berhasil mengguncang emosi mereka telak. Itu pertama kalinya mereka melihat alasan setiap luka di tubuh Kapten tidak pernah menghilang.
“Itu bukan salah kalian.”
Mata Nanon sedikit bergetar saat menangkap miliknya yang berusaha meyakinkan. Pria itu seakan dihantam hujan deras, jaket kulit berlambang ORION itu dia lepas dengan tergesa dan dilemparkan ke arahnya yang hanya memakai kaos hitam tipis.
“Kalo emang lo sepengen itu mati, silahkan, gue ga akan peduli lagi.”
Dan dalam satu kalimat singkat, sesuatu dalam diri Jeongin benar-benar mati.
Seluruh tubuhnya meremang, berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar. Tetapi kalimat itu jatuh tanpa ragu, begitu dingin untuk datang dari seseorang yang pernah begitu hangat. Nanon sukses mengebumikan dirinya yang masih bernyawa.
Sejenak ia ingin percaya itu hanya emosi sesaat, kalimat konyol yang tidak ada arti. Namun punggung tegap itu berjalan menjauh sebelum dia berhasil menyelamatkan sisa-sisa yang ada, seakan semua yang pernah mereka sebut bersama tak lagi layak dibawa.
Pikirannya yang kusut semakin berkelana kacau. Dadanya sesak bukan main. Satu per satu dari mereka mulai melangkah dengan sunyi. Ruang bengkel yang tadinya penuh mendadak kosong, meninggalkan sisa oksigen yang bahkan tidak cukup untuk dirinya sendiri.
Apa benar ini akhir yang dia persiapkan?
“Di antara kita yang paling kenal Anyon lo kan, Kap?” pertanyaan tiba-tiba dari Felix menarik atensinya lagi. Dia pikir semua temannya sudah pergi, tapi pria itu duduk sembari menatap langit-langit bengkel yang sebentar lagi akan terbengkalai. Sial, semuanya kacau.
“Nih.”
Gumpalan yang terbungkus plastik itu berhasil dia tangkap. Bibirnya terangkat sedikit saat menyadari apa yang diberikan Felix padanya. Sebungkus milkita melon tidak pernah terpikirkan akan menjadi barang yang sangat mahal, “Jadi, jangan diambil hati, dia cuma butuh waktu buat ngerti.”
Itu menjadi kalimat terakhir yang tertinggal di bangunan yang tak lagi bernyawa ini. Kalimat biasa yang kerap dia jawab dengan anggukan malas. Sesuatu yang dia yakini dapat didengar lagi nanti.
Namun ternyata tidak ada nanti.
Kini kalimat itu tinggal di kepalanya. Bersahutan dengan milik Nanon yang berulang tanpa henti. Berputar-putar tanpa tempat untuk kembali.
“Kalau situasinya tiba-tiba berubah, dan gue bukan orang yang persis di ekspektasi lo, apa lo juga bakal pergi, Nyon?”
Salahnya yang terlalu percaya pada semesta. Bahkan di sudut bumi yang paling gelap pun tidak akan ada tempat untuknya. Jalan pulang itu tidak akan pernah sampai, sebab melangkah pun tidak pernah berhasil dia lakukan.
Maka kuburlah saja dia, di sela-sela sorai yang tidak pernah reda. Ikat dia, lalu selimuti dirinya dengan ilusi bahwa lahirnya hanyalah gumpalan daging tanpa nyawa. Lantas kenanglah dia, yang mati meski tidak pernah berpisah dengan raga.
Benar, Kapten sempat percaya itu; sesaat, singkat, hampir utuh.
Mungkin masih ada sedikit belas kasih dunia untuknya, Mungkin masih ada sisa harap yang belum sempat menjadi nyata, Mungkin masih ada jejak tawa yang akan singgah,
Mungkin—maka mungkin dia yang terlena.
Sebab dunia tidak pernah benar-benar berjalan untuknya.
Batu di kepalanya sudah menjalar hingga ke hati. Napasnya yang memburu, matanya terbakar padam, ini bukan lagi tentang si pembuat kerusuhan. Sore itu dia bergerak kesetanan, amarahnya tak punya arah. Seolah akal sehatnya telah sampai di pemakaman.
Ia membanting sunyi, menarik pelatuknya untuk membuat mereka paham, kalau dia sudah dikhianati. Sekali lagi, dia dikhianati—dia dibohongi oleh orang yang paling ia percayai.
Cintanya tidak runtuh dalam ledakan. Dia sudah hadir di setiap aliran darah miliknya, dan karena itu, Kapten semakin kehilangan untuk percaya.
Sebab dalam cinta itu, dia hampir kehilangan sahabatnya. Lantas, apakah jatuh cinta juga kesalahan?
“Bangsat! lo sembunyiin dimana temen lo, anjing?!”
Dia berteriak, memukul kekasihnya membabi buta. Menerjangnya tanpa ampun sampai pria yang tergeletak di bawahnya itu kewalahan untuk mencerna keadaan.
Panglima tidak membalas, dia biarkan tubuhnya menjadi samsak amarah Kapten. Sampai markas warior yang begitu tenang itu menegang seketika, Kapten ditarik paksa oleh anggota warior lainnya. Meski statusnya kekasih, datang sendiri ke markas musuh sama saja bunuh diri.
“Lo anjing Hyunjin! lo sama temen-temen lo itu, semuanya anj—”
Kalimatnya terputus. Changbin menghadiahinya pukulan di pipi kiri. Luka bekas tamparan beberapa hari kemarin itu kembali menganga dan Kapten tertawa karenanya.
“Mundur!” kekasihnya berlagak seperti pahlawan. “Mundur, ini urusan gue sama Kapten.”
Dan dia semakin tertawa sampai membuat tenggorokannya panas. “Kenapa mundur? lo pikir gue takut ngadepin kalian sendiri? maju anjing! gue abisin lo semua, bangsat!”