<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>bhluewry</title>
    <link>https://bhluewry.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Sat, 04 Apr 2026 18:30:41 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Terbanglah aku, yang tercekat dan terikat</title>
      <link>https://bhluewry.writeas.com/darimu-kita-hancur?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;Mungkin dipukul adalah bentuk kasih sayang, sebab itulah satu-satunya bahasa yang pernah sampai padanya. Tangan datang lebih dulu daripada kata, amarah lebih dulu daripada pelukan. Ia tumbuh menafsir nyeri sebagai perhatian. Lantas saat lukanya dikecup dengan kelembutan, ia menjadi gagap untuk mengartikan.&#xA;&#xA;Kepalanya terus berputar, seolah menunggu nyeri yang tak kunjung datang. Riuh dan heningnya ditutup dengan tawa, sorakan memuja karena berhasil menyelesaikan soal sederhana terasa berlebihan. Maka ia tersesat dalam penerimaan; tubuhnya mengaktifkan alarm, pertahanannya menajam, mungkin ruang tanpa benturan ini hanyalah jebakan?&#xA;&#xA;Sedang yang lain berjalan pada bentuk yang paling sederhana. Mata yang tidak perlu menangkap makna kehidupan sesungguhnya. Tidak ada alasan besar, tidak ada tujuan yang perlu diagungkan. Hanya cukup ada—cukup bersama, cukup menertawakan gilanya dunia.&#xA;&#xA;Obrolan melompat dari hal sepele ke yang tak penting. Tidak ada solusi yang berarti, hanya hadir untuk menemani. Membalut diri dengan bentuk kasih yang murni, yang tidak perlu ada yang ditutupi. Sebab yang terjadi di detik ini, mungkin tidak untuk esok hari.&#xA;&#xA;Lantas mereka akan bersuka cita atas luka. Bersulang atas hari-hari yang gagal, atas diri yang belum jadi apa-apa. Selayaknya remaja, sebebasnya masa muda.  Tidak ada yang perlu ditakuti, sebab jika mati, ya sudah, mau bagaimana lagi?&#xA;&#xA;&#34;Kita cegat aja ga sih, Kap? sok iye banget dah si warior itu, najis.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hajar. Biar si bangsat anak baru itu gue kasih paham.&#34;&#xA;&#xA;Hidup mereka jalani setengah serius, sepenuhnya nekat. Tawuran bukan perihal menang, tapi tentang berdiri di barisan yang sama. Jika ada yang menganggap mereka pembawa masalah, maka anggaplah itu nyata. Sebab kotornya mereka, tidak akan menjadi benar pada yang percaya; air tidak lebih kental dari darah.&#xA;&#xA;Bekas luka itu mereka sembunyikan di balik seragam yang tak pernah lengkap, sebait cerita yang tidak akan pernah sampai di papan. Mereka akrab di buku catatan pelanggaran, asing di daftar teladan. Buronan OSIS hingga langganan BK. Tapi saat olimpiade datang, mereka juga maju paling depan. Menjawab soal seperti kesetanan, juara diseret pulang dengan tawa kencang.&#xA;&#xA;Ini mereka, yang belajar menang dari kekacauan.&#xA;&#xA;Guru berceloteh tentang masa depan—tentang menjadi anak yang berguna. Tapi adakah tempat untuk mereka? dan pertanyaan itu tak pernah benar-benar dijawab. &#xA;&#xA;Seorang dari mereka bahkan tak lagi bermimpi; semuanya sudah terkubur, dilindas sebelum berharap. Kaki panjangnya kerap melangkah tanpa tujuan, sedang yang lain mengikuti di belakang—bukan karena percaya arah itu benar, tapi karena meninggalkannya terasa lebih salah.&#xA;&#xA;&#34;Udahlah, ikut Kapten aja.&#34;&#xA;&#xA;Kalimat itu jatuh seperti kutukan, mengerucut pada satu titik bahwa tempatnya ada di garis terdepan. Padahal hatinya sengaja ditutup agar tidak lagi terlibat dengan siapa pun, bukan untuk menolak, melainkan untuk bertahan. Tapi mereka tetap melekat; menempel tanpa malu, mengekor tanpa banyak tanya. Setiap keributan, setiap pelarian, sorakan lantang akan berakhir padanya.&#xA;&#xA;Pada Kapten.&#xA;&#xA;&#34;Lo kalo ga bisa ngelawan, bilang ke kita anjing. Biar kita yang abisin.&#34; ucapan gila itu meluncur tanpa pikir panjang setiap kali dirinya datang dengan tubuh babak belur.&#xA;&#xA;&#34;Tolol. Mau masuk penjara lo, nyon?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Daripada lo mati duluan di tangan bokap lo.&#34; Jaehyuk berucap tanpa ragu, &#34;Mending nongkrong sekalian di lapas.&#34;&#xA;&#xA;Kalimat itu terdengar konyol—terlalu berani untuk dianggap bijak, terlalu polos untuk disebut perhitungan. Mereka paham akan bahaya, siapalah mereka yang hanya bocah-bocah untuk mereka yang siap menghadiahkan pemakaman bak sepotong roti seribuan? Tapi di kepala mereka, kehilangan satu orang terasa lebih menakutkan daripada segala akibat yang akan datang.&#xA;&#xA;Maka, ia belajar diam sebagai pilihan paling aman. Melipat perasaannya dengan rapi, menyimpannya di tempat yang bahkan dirinya pun enggan untuk mengunjungi. &#xA;&#xA;Tapi, hadirnya mereka seakan membawa bahasa yang salah; bahasa yang tidak dia mengerti, bahasa yang membingungkan.  Sebab di tangan mereka, kasih sayang tidak perlu datang dengan tamparan, melainkan pengakuan sederhana bahwa seorang anak layak aman.&#xA;&#xA;&#34;Kan gue udah pernah bilang.&#34; mata Nanon bersitatap dengan miliknya, &#34;Jangan mati, Kapten.&#34;&#xA;&#xA;Dan saat itu, dia tidak lagi menatap dunia dengan cara yang sunyi. Prinsipnya untuk tidak menggantungkan diri pada siapa pun, dipatahkan pada mereka yang tidak memiliki apa pun untuk ditawarkan selain tempat pulang. &#xA;&#xA;Mereka melihat, mereka mendengar—mereka siap menanggung sebagian beratnya.&#xA;&#xA;&#34;Kalo udah lulus nanti, lo mau ke mana?&#34; terkadang pembahasan seperti ini juga sering muncul di bibir mereka. Pukul tiga pagi membuat segalanya terdengar nyata, namun juga terasa samar.&#xA;&#xA;&#34;Paling kerja.&#34; rokok di tangan Seungmin sudah hampir habis, &#34;Kakak gue kan masuk penjara lagi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Anjing! makek apa ngedar?&#34; Jisung yang tadinya hampir terlelap di paha Kapten langsung terduduk melihat temannya yang malah tertawa kecil, &#34;Sial, dua-duanya banget min?!&#34;&#xA;&#xA;Satu kotak rokok utuh ia lemparkan ke temannya sebagai bentuk penghiburan. Obrolan itu terjeda sejenak, tidak ada yang ingin bertanya lebih lanjut, dan tidak pula ingin bercerita lebih panjang. Batasan itu mereka genggam, pun cukup pintar untuk paham.&#xA;&#xA;&#34;Lagian sekolah juga ga cocok buat kita ga sih?&#34; itu pemikiran paling realistis dari mereka yang hobinya bikin kegaduhan.&#xA;&#xA;&#34;Oh siap kalo yang selalu juara umum aja bilang ga cocok apalagi kita yang tiap ulangan ngandelin otaknya dia.&#34; Jaehyuk tidak berusaha melucu, tapi tawa mereka pecah begitu saja.&#xA;&#xA;&#34;Kalo ga ada Kapten udah mati kali ya kita? udah kerjaannya tawuran, balapan, kalo sampe nilai anjlok juga mampus sampe rumah tinggal nama.&#34;&#xA;&#xA;Kalimat itu meluncur ringan nyaris seperti gurauan. Rokok di sela bibirnya menjadi saksi seberapa tipis senyumannya saat itu. Padahal di rumah, seberapa besar prestasi yang dia dapat, tidak akan pernah cukup membuatnya selamat. Selalu ada yang kurang, selalu ada yang bisa dipatahkan.&#xA;&#xA;Tapi di tangan mereka, langkahnya yang serampang bisa menjadi benar. Hadirnya entah bagaimana, menyelamatkan mereka dari hal-hal yang tak sanggup mereka sebutkan. &#xA;&#xA;Kapten tidak pernah berniat menjadi pahlawan—bahkan menyelamatkan diri sendiri pun dia tidak paham—tapi bagi mereka, keberadaannya adalah alasan kecil yang akan menjadi besar.&#xA;&#xA;&#34;Ya makanya mau sekarang atau pas udah lulus nanti, gue tetep ngikut Kapten.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Brengsek, lo sesuka itu ya sama gue, nyon?&#34;&#xA;&#xA;Wajahnya yang malas membuat Nanon semakin terbahak. Pria berlengsu pipi itu mengangguk semangat, &#34;Iya lah anjing, ya walaupun lo malah demennya sama si anak setan.&#34;&#xA;&#xA;Dan, saat itu tawanya benar-benar lepas. Untuk sesaat, pukul tiga pagi tidak lagi menjadi tempat untuknya bersembunyi. Ia ada, ia utuh bagi sebagian orang.&#xA;&#xA;Jeongin menemukan alasan untuk pulang, untuk bertahan—untuk hidup.&#xA;&#xA;Jika menjadi anak adalah kesialan yang belum sempat memilih, maka menjadi Kapten untuk mereka adalah satu-satunya mimpi yang masih mungkin.&#xA;&#xA;Mungkin?&#xA;&#xA;&#34;Masih punya muka lo ke sini?&#34;&#xA;&#xA;Kalimat itu menghantam lebih dulu sebelum langkahnya sempat masuk. Pasang mata yang biasa menyambutnya dengan antusias bergetar dalam kekecewaan. Penjelasan yang sudah ia siapkan di kepalanya—pembelaan yang bahkan tak ia yakini itu—mendadak tercekat di tenggorokan. Semuanya membeku, jatuh sebelum sempat diutarakan. &#xA;&#xA;Dibalut angin musim hujan yang menusuknya bukan main, suaranya mengalun pelan, nyaris tak terdengar, &#34;Maaf.&#34;&#xA;&#xA;Sebab dirinya yang kecil ini tidak pernah berniat untuk membela diri. Hidupnya dia habiskan untuk menerima segala sesuatu sebagaimana datangnya. Perutnya sudah kenyang menelan begitu banyak bantahan yang belum sempat menjadi suara. Sampai akhirnya si kecil ini membiarkan mereka percaya apa saja.&#xA;&#xA;Benar, apa saja. Termasuk dirinya yang kalah.&#xA;&#xA;Dan karena itu, karena kesalahpahaman dia biarkan tinggal,  kecewa tumbuh lebih dalam pada mereka.&#xA;&#xA;Di mana Kapten dengan egonya yang setinggi langit?&#xA;&#xA;&#34;Ngapain lo minta maaf?!&#34; suara yang selalu menjadi penyelamatnya kini meninggi. &#34;Mending lo ludahin kita aja daripada minta maaf, anjing!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kita temenan udah berapa tahun sih, Je?&#34; getir di ujung suara Nanon lebih menggelegar dari petir yang diam-diam menyambar. &#34;Bukan setahun dua tahun, anjing! Kita makan bareng, berantem bareng, tapi kenapa lo malah bikin kita kayak orang tolol, bangsat?!&#34;&#xA;&#xA;Bunyi bedebum saat dadanya dipukul Nanon ternyata sukses menghentikan jantungnya seperkian detik. Dia menggeleng pelan, berusaha mencari kata-kata yang pantas untuk dikeluarkan. Tapi semuanya berantakan, seakan tidak ada satu pun yang pantas keluar.&#xA;&#xA;&#34;Kita ga pernah nanya macem-macem soal hidup lo. Kita ga pernah ngusik ego lo, kita hargain semua rahasia yang coba lo tutupin ke kita.&#34; suara Jisung terdengar sangat dingin. &#34;Bahkan saat lo jadian sama Panglima pun kita terima Kapten. Kita ga nolak lo, bangsat!&#34;&#xA;&#xA;Fakta yang diberikan Jisung itu semakin merujamnya. Ruangan yang dulu terasa aman kini kian menyempit. Dinding lembab itu seolah mencekik lehernya sampai sesak perlahan naik.&#xA;&#xA;&#34;Dan lo milih nutupin hal itu dari kita? brengsek! mana yang katanya keluarga?!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Justru karena kalian keluarga gue!&#34; dia sungguh berharap angin malam mampu menusuk jantungnya saat ini juga. &#34;Karena kalian keluarga makanya gue ga mau kalian kebawa masalah pribadi gue, nyon.&#34; &#xA;&#xA;Mimpi buruknya sudah menjadi nyata. Tidur panjangnya sudah mengetuk untuk segera menyelimutinya dengan tenang. Maka dengan sisa ego yang ada, dia biarkan kata-kata itu lepas begitu saja. &#xA;&#xA;&#34;Kayak yang kalian liat dan denger kemarin, Heeseung emang kakak angkat gue.&#34; ia pandangi wajah mereka satu per satu. Wajah-wajah yang selama ini ia jaga; yang ia lindungi dari bagian dirinya yang paling kotor. Sampai tatapannya jatuh pada Jaehyuk, &#34;Iya, dia kakak angkat gue, Jae. Orang yang bikin Junghwan masuk rumah sakit itu kakak angkat Kapten lo, apa lo masih bisa terima gue?!&#34;&#xA;&#xA;Ini bukan kemarahannya, dia hanya terlalu cacat untuk mengungkapkan isi kepala.&#xA;&#xA;&#34;Terus mau sampe kapan lo nyembunyiin ini semua dari kita?&#34; frustasi di suara Jaehyuk menjalar ke tengkuknya yang sekarang terasa panas. &#34;Sampe lo beneran mati di tangan bokap lo?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mungkin.&#34;&#xA;&#xA;BUG!&#xA;&#xA;Pukulan itu jatuh bukan karena benci, melainkan dari putus asa yang tak tahu harus ke mana. Perih di ujung bibirnya ternyata jauh lebih sakit ketimbang kakinya yang dipatahkan papa tempo hari. Dia hampir menjadi cacat kalau mereka tidak datang malam itu, malam sial yang membongkar semuanya. Sungguh, dia tidak menyesal karena menyulut amarah papa karena membuat Heeseung masuk rumah sakit, dia hanya menyesal semua itu harus terbongkar dikondisinya yang berantakan.&#xA;&#xA;&#34;Nyon, lo jangan gila, anjing!&#34; &#xA;&#xA;Felix yang sedari tadi diam langsung menarik Nanon menjauh. Mereka tampak berdebat, namun telinganya seperti berdenging dan matanya sulit untuk kembali fokus. Baru saat Jisung berdiri membelakanginya dan memasang tubuhnya sebagi perisai, sayup-sayup perdebatan itu dapat dia tangkap kembali.&#xA;&#xA;&#34;...kalo gini sama aja lo mau bunuh diri di tangan kita, Jeongin!&#34;&#xA;&#xA;Tidak. Dia tidak pernah bermaksud demikian. Dia dan keluarganya sudah terlanjur berantakan. Bahkan dalam satu kalimat yang sederhana, dia tetap tidak bisa menjelaskan apapun. Dia akan mengubur semua kesempatan untuk menyangkal bersama tubuhnya.&#xA;&#xA;Benar, semuanya.&#xA;&#xA;Dari papa yang berselingkuh. Dari mama yang sakit hati cintanya dibalas pengkhianatan hingga gelap mata dan memutus rem mobil papa dengan sengaja, yang sialnya malah dipakai keluarga Heeseung untuk mengantar Opa ke rumah sakit malam itu. Dari kotornya dia yang hidup dengan darah mereka.&#xA;&#xA;&#34;Kalo dari awal kita tau dia kakak lo, kita ga akan bales dendam sama Heeseung, Kap. Kita bakal tutup mata, kita bakal jagain lo, tolol!&#34;&#xA;&#xA;Ia biarkan semua kemarahan itu jatuh padanya. Sosok yang selalu berlari paling kencang untuk menyelamatkannya, kini berdiri dengan rahang mengeras dan napas yang berantakan. Tangannya mengepal di sisi tubuh, menahan gemetar yang tak ingin diperlihatkan.&#xA;&#xA;&#34;Lo hampir ga bisa bawa motor seumur hidup perkara si bajingan itu lecet sedikit, Kap. Coba kalo kita kelepasan gebukin Heeseung lebih parah malem itu, bisa aja lo—&#34; ucapan Seungmin tergantung begitu saja.&#xA;&#xA;Pria itu berbalik, menendang kursi kosong yang tidak jauh dirinya. Menciptakan bunyi berisik yang juga tidak melegakan hatinya.&#xA;&#xA;Tenggelam dalam pikirannya, semua orang yang ada di sana tampak diam. Mereka tahu. Mereka semua tahu apa yang hampir Seungmin katakan. Bayangan Kapten diterjang tanpa ampun itu terus menghantui mereka. Gambaran seorang kepala keluarga yang membabi buta berhasil mengguncang emosi mereka telak. Itu pertama kalinya mereka melihat alasan setiap luka di tubuh Kapten tidak pernah menghilang. &#xA;&#xA;&#34;Itu bukan salah kalian.&#34;&#xA;&#xA;Mata Nanon sedikit bergetar saat menangkap miliknya yang berusaha meyakinkan. Pria itu seakan dihantam hujan deras, jaket kulit berlambang ORION itu dia lepas dengan tergesa dan dilemparkan ke arahnya yang hanya memakai kaos hitam tipis.&#xA;&#xA;&#34;Kalo emang lo sepengen itu mati, silahkan, gue ga akan peduli lagi.&#34;&#xA;&#xA;Dan dalam satu kalimat singkat, sesuatu dalam diri Jeongin benar-benar mati. &#xA;&#xA;Seluruh tubuhnya meremang, berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar. Tetapi kalimat itu jatuh tanpa ragu, begitu dingin untuk datang dari seseorang yang pernah begitu hangat. Nanon sukses mengebumikan dirinya yang masih bernyawa.&#xA;&#xA;Sejenak ia ingin percaya itu hanya emosi sesaat, kalimat konyol yang tidak ada arti. Namun punggung tegap itu berjalan menjauh sebelum dia berhasil menyelamatkan sisa-sisa yang ada, seakan semua yang pernah mereka sebut bersama tak lagi layak dibawa.&#xA;&#xA;Pikirannya yang kusut semakin berkelana kacau. Dadanya sesak bukan main. Satu per satu dari mereka mulai melangkah dengan sunyi. Ruang bengkel yang tadinya penuh mendadak kosong, meninggalkan sisa oksigen yang bahkan tidak cukup untuk dirinya sendiri.&#xA;&#xA;Apa benar ini akhir yang dia persiapkan?&#xA;&#xA;&#34;Di antara kita yang paling kenal Anyon lo kan, Kap?&#34; pertanyaan tiba-tiba dari Felix menarik atensinya lagi. Dia pikir semua temannya sudah pergi, tapi pria itu duduk sembari menatap langit-langit bengkel yang sebentar lagi akan terbengkalai. Sial, semuanya kacau.&#xA;&#xA;&#34;Nih.&#34; &#xA;&#xA;Gumpalan yang terbungkus plastik itu berhasil dia tangkap. Bibirnya terangkat sedikit saat menyadari apa yang diberikan Felix padanya. Sebungkus milkita melon tidak pernah terpikirkan akan menjadi barang yang sangat mahal, &#34;Jadi, jangan diambil hati, dia cuma butuh waktu buat ngerti.&#34;&#xA;&#xA;Itu menjadi kalimat terakhir yang tertinggal di bangunan yang tak lagi bernyawa ini. Kalimat biasa yang kerap dia jawab dengan anggukan malas. Sesuatu yang dia yakini dapat didengar lagi nanti.&#xA;&#xA;Namun ternyata tidak ada nanti.&#xA;&#xA;Kini kalimat itu tinggal di kepalanya. Bersahutan dengan milik Nanon yang berulang tanpa henti. Berputar-putar tanpa tempat untuk kembali. &#xA;&#xA;&#34;Kalau situasinya tiba-tiba berubah, dan gue bukan orang yang persis di ekspektasi lo, apa lo juga bakal pergi, Nyon?&#34;&#xA;&#xA;Salahnya yang terlalu percaya pada semesta. Bahkan di sudut bumi yang paling gelap pun tidak akan ada tempat untuknya. Jalan pulang itu tidak akan pernah sampai, sebab melangkah pun tidak pernah berhasil dia lakukan. &#xA;&#xA;  Maka kuburlah saja dia, di sela-sela sorai yang tidak pernah reda.&#xA;  Ikat dia, lalu selimuti dirinya dengan ilusi bahwa lahirnya hanyalah gumpalan daging tanpa nyawa.&#xA;  Lantas kenanglah dia, yang mati meski tidak pernah berpisah dengan raga.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Benar, Kapten sempat percaya itu; sesaat, singkat, hampir utuh.&#xA;&#xA;Mungkin masih ada sedikit belas kasih dunia untuknya,&#xA;Mungkin masih ada sisa harap yang belum sempat menjadi nyata,&#xA;Mungkin masih ada jejak tawa yang akan singgah, &#xA;&#xA;Mungkin—maka mungkin dia yang terlena.&#xA;&#xA;Sebab dunia tidak pernah benar-benar berjalan untuknya.&#xA;&#xA;Batu di kepalanya sudah menjalar hingga ke hati. Napasnya yang memburu, matanya terbakar padam, ini bukan lagi tentang si pembuat kerusuhan. Sore itu dia bergerak kesetanan, amarahnya tak punya arah. Seolah akal sehatnya telah sampai di pemakaman.&#xA;&#xA;Ia membanting sunyi, menarik pelatuknya untuk membuat mereka paham, kalau dia sudah dikhianati. Sekali lagi, dia dikhianati—dia dibohongi oleh orang yang paling ia percayai.&#xA;&#xA;Cintanya tidak runtuh dalam ledakan. Dia sudah hadir di setiap aliran darah miliknya, dan karena itu, Kapten semakin kehilangan untuk percaya.&#xA;&#xA;Sebab dalam cinta itu, dia hampir kehilangan sahabatnya. Lantas, apakah jatuh cinta juga kesalahan?&#xA;&#xA;&#34;Bangsat! lo sembunyiin dimana temen lo, anjing?!&#34;&#xA;&#xA;Dia berteriak, memukul kekasihnya membabi buta. Menerjangnya tanpa ampun sampai pria yang tergeletak di bawahnya itu kewalahan untuk mencerna keadaan. &#xA;&#xA;Panglima tidak membalas, dia biarkan tubuhnya menjadi samsak amarah Kapten. Sampai markas warior yang begitu tenang itu menegang seketika, Kapten ditarik paksa oleh anggota warior lainnya. Meski statusnya kekasih, datang sendiri ke markas musuh sama saja bunuh diri.&#xA;&#xA;&#34;Lo anjing Hyunjin! lo sama temen-temen lo itu, semuanya anj—&#34;&#xA;&#xA;Kalimatnya terputus. Changbin menghadiahinya pukulan di pipi kiri. Luka bekas tamparan beberapa hari kemarin itu kembali menganga dan Kapten tertawa karenanya. &#xA;&#xA;&#34;Mundur!&#34; kekasihnya berlagak seperti pahlawan. &#34;Mundur, ini urusan gue sama Kapten.&#34;&#xA;&#xA;Dan dia semakin tertawa sampai membuat tenggorokannya panas. &#34;Kenapa mundur? lo pikir gue takut ngadepin kalian sendiri? maju anjing! gue abisin lo semua, bangsat!&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p><strong>Mungkin dipukul adalah bentuk kasih sayang,</strong> sebab itulah satu-satunya bahasa yang pernah sampai padanya. Tangan datang lebih dulu daripada kata, amarah lebih dulu daripada pelukan. <em>Ia tumbuh menafsir nyeri sebagai perhatian.</em> Lantas saat lukanya dikecup dengan kelembutan, ia menjadi gagap untuk mengartikan.</p>

<p>Kepalanya terus berputar, seolah menunggu nyeri yang tak kunjung datang. Riuh dan heningnya ditutup dengan tawa, sorakan memuja karena berhasil menyelesaikan soal sederhana terasa berlebihan. Maka ia tersesat dalam penerimaan; tubuhnya mengaktifkan alarm, pertahanannya menajam, mungkin ruang tanpa benturan ini hanyalah jebakan?</p>

<p><strong>Sedang yang lain berjalan pada bentuk yang paling sederhana.</strong> Mata yang tidak perlu menangkap makna kehidupan sesungguhnya. Tidak ada alasan besar, tidak ada tujuan yang perlu diagungkan. Hanya cukup ada—cukup bersama, cukup menertawakan gilanya dunia.</p>

<p>Obrolan melompat dari hal sepele ke yang tak penting. Tidak ada solusi yang berarti, hanya hadir untuk menemani. Membalut diri dengan bentuk kasih yang murni, yang tidak perlu ada yang ditutupi. <em>Sebab yang terjadi di detik ini, mungkin tidak untuk esok hari</em>.</p>

<p><strong>Lantas mereka akan bersuka cita atas luka.</strong> Bersulang atas hari-hari yang gagal, atas diri yang belum jadi apa-apa. <em>Selayaknya remaja, sebebasnya masa muda.</em>  Tidak ada yang perlu ditakuti, sebab jika mati, ya sudah, mau bagaimana lagi?</p>

<p><em>“Kita cegat aja ga sih, Kap? sok iye banget dah si warior itu, najis.”</em></p>

<p><em>“Hajar. Biar si bangsat anak baru itu gue kasih paham.”</em></p>

<p>Hidup mereka jalani setengah serius, sepenuhnya nekat. Tawuran bukan perihal menang, tapi tentang berdiri di barisan yang sama. <em>Jika ada yang menganggap mereka pembawa masalah, maka anggaplah itu nyata.</em> Sebab kotornya mereka, tidak akan menjadi benar pada yang percaya; <strong>air tidak lebih kental dari darah.</strong></p>

<p>Bekas luka itu mereka sembunyikan di balik seragam yang tak pernah lengkap, sebait cerita yang tidak akan pernah sampai di papan. Mereka akrab di buku catatan pelanggaran, asing di daftar teladan. Buronan OSIS hingga langganan BK. Tapi saat olimpiade datang, mereka juga maju paling depan. Menjawab soal seperti kesetanan, juara diseret pulang dengan tawa kencang.</p>

<p><strong>Ini mereka, yang belajar menang dari kekacauan.</strong></p>

<p>Guru berceloteh tentang masa depan—tentang menjadi anak yang berguna. Tapi adakah tempat untuk mereka? dan pertanyaan itu tak pernah benar-benar dijawab.</p>

<p>Seorang dari mereka bahkan tak lagi bermimpi; semuanya sudah terkubur, dilindas sebelum berharap. Kaki panjangnya kerap melangkah tanpa tujuan, sedang yang lain mengikuti di belakang—bukan karena percaya arah itu benar, <em>tapi karena meninggalkannya terasa lebih salah.</em></p>

<p><em>“Udahlah, ikut Kapten aja.”</em></p>

<p>Kalimat itu jatuh seperti kutukan, mengerucut pada satu titik bahwa <em>tempatnya ada</em> di garis terdepan. Padahal hatinya sengaja ditutup agar tidak lagi terlibat dengan siapa pun, bukan untuk menolak, melainkan <em>untuk bertahan</em>. Tapi <strong>mereka</strong> tetap melekat; menempel tanpa malu, mengekor tanpa banyak tanya. Setiap keributan, setiap pelarian, <em>sorakan lantang akan berakhir padanya.</em></p>

<p><strong>Pada Kapten.</strong></p>

<p><em>“Lo kalo ga bisa ngelawan, bilang ke kita anjing. Biar kita yang abisin.”</em> ucapan gila itu meluncur tanpa pikir panjang setiap kali dirinya datang dengan tubuh babak belur.</p>

<p><em>“Tolol. Mau masuk penjara lo, nyon?”</em></p>

<p><em>“Daripada lo mati duluan di tangan bokap lo.” Jaehyuk berucap tanpa ragu, “Mending nongkrong sekalian di lapas.”</em></p>

<p>Kalimat itu terdengar konyol—terlalu berani untuk dianggap bijak, terlalu polos untuk disebut perhitungan. Mereka paham akan bahaya, siapalah mereka yang hanya bocah-bocah untuk <em>mereka yang siap menghadiahkan pemakaman bak sepotong roti seribuan</em>? Tapi di kepala mereka, kehilangan satu orang terasa lebih menakutkan daripada segala akibat yang akan datang.</p>

<p><strong>Maka, ia belajar diam sebagai pilihan paling aman.</strong> Melipat perasaannya dengan rapi, menyimpannya di tempat yang bahkan dirinya pun enggan untuk mengunjungi.</p>

<p>Tapi, hadirnya mereka seakan membawa bahasa yang salah; bahasa yang tidak dia mengerti, bahasa yang membingungkan.  Sebab <em>di tangan mereka</em>, kasih sayang tidak perlu datang dengan tamparan, melainkan pengakuan sederhana bahwa seorang anak layak aman.</p>

<p><em>“Kan gue udah pernah bilang.” mata Nanon bersitatap dengan miliknya,</em> <strong>“Jangan mati, Kapten.”</strong></p>

<p>Dan saat itu, dia tidak lagi menatap dunia dengan cara yang sunyi. Prinsipnya untuk tidak menggantungkan diri pada siapa pun, dipatahkan pada mereka yang <em>tidak memiliki apa pun</em> untuk ditawarkan selain <strong>tempat pulang.</strong></p>

<p><strong>Mereka melihat, mereka mendengar—mereka siap menanggung sebagian beratnya.</strong></p>

<p><em>“Kalo udah lulus nanti, lo mau ke mana?” terkadang pembahasan seperti ini juga sering muncul di bibir mereka. Pukul tiga pagi membuat segalanya terdengar nyata, namun juga terasa samar.</em></p>

<p><em>“Paling kerja.” rokok di tangan Seungmin sudah hampir habis, “Kakak gue kan masuk penjara lagi.”</em></p>

<p><em>“Anjing! makek apa ngedar?” Jisung yang tadinya hampir terlelap di paha Kapten langsung terduduk melihat temannya yang malah tertawa kecil, “Sial, dua-duanya banget min?!”</em></p>

<p><em>Satu kotak rokok utuh ia lemparkan ke temannya sebagai bentuk penghiburan. Obrolan itu terjeda sejenak, tidak ada yang ingin bertanya lebih lanjut, dan tidak pula ingin bercerita lebih panjang. Batasan itu mereka genggam, pun cukup pintar untuk paham.</em></p>

<p><em>“Lagian sekolah juga ga cocok buat kita ga sih?” itu pemikiran paling realistis dari mereka yang hobinya bikin kegaduhan.</em></p>

<p><em>“Oh siap kalo yang selalu juara umum aja bilang ga cocok apalagi kita yang tiap ulangan ngandelin otaknya dia.” Jaehyuk tidak berusaha melucu, tapi tawa mereka pecah begitu saja.</em></p>

<p><em>“Kalo ga ada Kapten udah mati kali ya kita? udah kerjaannya tawuran, balapan, kalo sampe nilai anjlok juga mampus sampe rumah tinggal nama.”</em></p>

<p>Kalimat itu meluncur ringan nyaris seperti gurauan. Rokok di sela bibirnya menjadi saksi seberapa tipis senyumannya saat itu. <strong>Padahal di rumah, seberapa besar prestasi yang dia dapat, tidak akan pernah cukup membuatnya selamat</strong>. Selalu ada yang kurang, selalu ada yang bisa dipatahkan.</p>

<p>Tapi di tangan mereka, langkahnya yang serampang bisa menjadi benar. Hadirnya entah bagaimana, <em>menyelamatkan mereka dari hal-hal yang tak sanggup mereka sebutkan.</em></p>

<p>Kapten tidak pernah berniat menjadi pahlawan—bahkan menyelamatkan diri sendiri pun dia tidak paham—tapi bagi mereka, keberadaannya adalah alasan kecil yang akan menjadi besar.</p>

<p><em>“Ya makanya mau sekarang atau pas udah lulus nanti, gue tetep ngikut Kapten.”</em></p>

<p><em>“Brengsek, lo sesuka itu ya sama gue, nyon?”</em></p>

<p><em>Wajahnya yang malas membuat Nanon semakin terbahak. Pria berlengsu pipi itu mengangguk semangat, “Iya lah anjing, ya walaupun lo malah demennya sama si anak setan.”</em></p>

<p>Dan, saat itu tawanya benar-benar lepas. Untuk sesaat, pukul tiga pagi tidak lagi menjadi tempat untuknya bersembunyi. Ia ada, ia utuh bagi sebagian orang.</p>

<p><strong>Jeongin menemukan alasan untuk pulang, untuk bertahan—untuk hidup.</strong></p>

<p>Jika menjadi anak adalah kesialan yang belum sempat memilih, maka menjadi <em>Kapten</em> untuk mereka adalah satu-satunya mimpi yang masih mungkin.</p>

<p><strong>Mungkin?</strong></p>

<p>“Masih punya muka lo ke sini?”</p>

<p>Kalimat itu menghantam lebih dulu sebelum langkahnya sempat masuk. Pasang mata yang biasa menyambutnya dengan antusias bergetar dalam kekecewaan. Penjelasan yang sudah ia siapkan di kepalanya—pembelaan yang bahkan tak ia yakini itu—mendadak tercekat di tenggorokan. Semuanya membeku, jatuh sebelum sempat diutarakan.</p>

<p>Dibalut angin musim hujan yang menusuknya bukan main, suaranya mengalun pelan, nyaris tak terdengar, <em>“Maaf.”</em></p>

<p>Sebab dirinya yang kecil ini tidak pernah berniat untuk membela diri. Hidupnya dia habiskan untuk menerima segala sesuatu sebagaimana datangnya. Perutnya sudah kenyang menelan begitu banyak bantahan yang belum sempat menjadi suara. Sampai akhirnya si kecil ini membiarkan <em>mereka</em> percaya apa saja.</p>

<p>Benar, apa saja. <em>Termasuk dirinya yang kalah.</em></p>

<p>Dan karena itu, karena kesalahpahaman dia biarkan tinggal,  <em>kecewa tumbuh lebih dalam pada mereka.</em></p>

<p><strong>Di mana Kapten dengan egonya yang setinggi langit?</strong></p>

<p>“Ngapain lo minta maaf?!” suara yang selalu menjadi penyelamatnya kini meninggi. “Mending lo ludahin kita aja daripada minta maaf, anjing!”</p>

<p>“Kita temenan udah berapa tahun sih, Je?” getir di ujung suara Nanon lebih menggelegar dari petir yang diam-diam menyambar. “Bukan setahun dua tahun, anjing! Kita makan bareng, berantem bareng, tapi kenapa lo malah bikin kita kayak orang tolol, bangsat?!”</p>

<p>Bunyi bedebum saat dadanya dipukul Nanon ternyata sukses menghentikan jantungnya seperkian detik. Dia menggeleng pelan, berusaha mencari kata-kata yang pantas untuk dikeluarkan. Tapi semuanya berantakan, seakan tidak ada satu pun yang pantas keluar.</p>

<p>“Kita ga pernah nanya macem-macem soal hidup lo. Kita ga pernah ngusik ego lo, kita hargain semua <em>rahasia</em> yang coba lo tutupin ke kita.” suara Jisung terdengar sangat dingin. “Bahkan saat lo jadian sama Panglima pun kita terima Kapten. <strong>Kita ga nolak lo, bangsat!</strong>“</p>

<p>Fakta yang diberikan Jisung itu semakin merujamnya. Ruangan yang dulu terasa aman kini kian menyempit. Dinding lembab itu seolah mencekik lehernya sampai sesak perlahan naik.</p>

<p>“Dan lo milih nutupin hal itu dari kita? brengsek! mana yang katanya keluarga?!”</p>

<p><strong>“Justru karena kalian keluarga gue!”</strong> dia sungguh berharap angin malam mampu menusuk jantungnya saat ini juga. “Karena kalian keluarga makanya gue ga mau kalian kebawa masalah pribadi gue, nyon.”</p>

<p><strong>Mimpi buruknya sudah menjadi nyata</strong>. Tidur panjangnya sudah mengetuk untuk segera menyelimutinya dengan tenang. Maka dengan sisa ego yang ada, dia biarkan kata-kata itu lepas begitu saja.</p>

<p>“Kayak yang kalian liat dan denger kemarin, Heeseung emang kakak angkat gue.” ia pandangi wajah mereka satu per satu. Wajah-wajah yang selama ini ia jaga; <em>yang ia lindungi dari bagian dirinya yang paling kotor</em>. Sampai tatapannya jatuh pada Jaehyuk, “Iya, dia kakak angkat gue, Jae. Orang yang bikin Junghwan masuk rumah sakit itu <em>kakak angkat Kapten lo</em>, apa lo masih bisa terima gue?!”</p>

<p>Ini bukan kemarahannya, dia hanya terlalu cacat untuk mengungkapkan isi kepala.</p>

<p>“Terus mau sampe kapan lo nyembunyiin ini semua dari kita?” frustasi di suara Jaehyuk menjalar ke tengkuknya yang sekarang terasa panas. “Sampe lo beneran mati di tangan bokap lo?”</p>

<p>“<strong>Mungkin</strong>.”</p>

<p><em>BUG!</em></p>

<p>Pukulan itu jatuh bukan karena benci, melainkan dari putus asa yang tak tahu harus ke mana. Perih di ujung bibirnya ternyata jauh lebih sakit ketimbang kakinya yang dipatahkan papa tempo hari. Dia hampir menjadi cacat kalau mereka tidak datang malam itu, malam sial yang membongkar semuanya. Sungguh, dia tidak menyesal karena menyulut amarah papa karena membuat Heeseung masuk rumah sakit, <em>dia hanya menyesal semua itu harus terbongkar dikondisinya yang berantakan.</em></p>

<p>“Nyon, lo jangan gila, anjing!”</p>

<p>Felix yang sedari tadi diam langsung menarik Nanon menjauh. Mereka tampak berdebat, namun telinganya seperti berdenging dan matanya sulit untuk kembali fokus. Baru saat Jisung berdiri membelakanginya dan memasang tubuhnya sebagi perisai, sayup-sayup perdebatan itu dapat dia tangkap kembali.</p>

<p>“<strong>...kalo gini sama aja lo mau bunuh diri di tangan kita, Jeongin!</strong>“</p>

<p>Tidak. Dia tidak pernah bermaksud demikian. Dia dan keluarganya sudah terlanjur berantakan. Bahkan dalam satu kalimat yang sederhana, dia tetap tidak bisa menjelaskan apapun. Dia akan mengubur semua kesempatan untuk menyangkal bersama tubuhnya.</p>

<p>Benar, <strong>semuanya.</strong></p>

<p>Dari papa yang berselingkuh. Dari mama yang sakit hati cintanya dibalas pengkhianatan hingga gelap mata dan memutus rem mobil papa dengan sengaja, yang sialnya malah dipakai keluarga Heeseung untuk mengantar Opa ke rumah sakit malam itu. <em>Dari kotornya dia yang hidup dengan darah mereka.</em></p>

<p>“Kalo dari awal kita tau dia kakak lo, kita ga akan bales dendam sama Heeseung, Kap. Kita bakal tutup mata, kita bakal jagain lo, tolol!”</p>

<p>Ia biarkan semua kemarahan itu jatuh padanya. Sosok yang selalu berlari paling kencang untuk menyelamatkannya, kini berdiri dengan rahang mengeras dan napas yang berantakan. Tangannya mengepal di sisi tubuh, menahan gemetar yang tak ingin diperlihatkan.</p>

<p>“Lo hampir ga bisa bawa motor seumur hidup perkara si bajingan itu lecet sedikit, Kap. Coba kalo kita kelepasan gebukin Heeseung lebih parah malem itu, bisa aja lo—” ucapan Seungmin tergantung begitu saja.</p>

<p>Pria itu berbalik, menendang kursi kosong yang tidak jauh dirinya. Menciptakan bunyi berisik yang juga tidak melegakan hatinya.</p>

<p>Tenggelam dalam pikirannya, semua orang yang ada di sana tampak diam. Mereka tahu. Mereka semua <em>tahu</em> apa yang hampir Seungmin katakan. Bayangan Kapten diterjang tanpa ampun itu terus menghantui mereka. Gambaran seorang kepala keluarga yang membabi buta berhasil mengguncang emosi mereka telak. Itu pertama kalinya <em>mereka melihat alasan setiap luka di tubuh Kapten tidak pernah menghilang</em>.</p>

<p>“Itu bukan salah kalian.”</p>

<p>Mata Nanon sedikit bergetar saat menangkap miliknya yang berusaha meyakinkan. Pria itu seakan dihantam hujan deras, jaket kulit berlambang ORION itu dia lepas dengan tergesa dan dilemparkan ke arahnya yang hanya memakai kaos hitam tipis.</p>

<p><strong>“Kalo emang lo sepengen itu mati, silahkan, gue ga akan peduli lagi.”</strong></p>

<p>Dan dalam satu kalimat singkat, <em>sesuatu dalam diri Jeongin benar-benar mati.</em></p>

<p>Seluruh tubuhnya meremang, berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar. Tetapi kalimat itu jatuh tanpa ragu, begitu dingin untuk datang dari seseorang yang pernah begitu hangat. <em>Nanon sukses mengebumikan dirinya yang masih bernyawa.</em></p>

<p>Sejenak ia ingin percaya itu hanya emosi sesaat, kalimat konyol yang tidak ada arti. Namun punggung tegap itu berjalan menjauh sebelum dia berhasil menyelamatkan sisa-sisa yang ada, seakan semua yang pernah mereka sebut bersama tak lagi layak dibawa.</p>

<p>Pikirannya yang kusut semakin berkelana kacau. Dadanya sesak bukan main. Satu per satu dari mereka mulai melangkah dengan sunyi. Ruang bengkel yang tadinya penuh mendadak kosong, meninggalkan sisa oksigen yang bahkan tidak cukup untuk dirinya sendiri.</p>

<p><strong>Apa benar ini akhir yang dia persiapkan?</strong></p>

<p>“Di antara kita yang paling kenal Anyon lo kan, Kap?” pertanyaan tiba-tiba dari Felix menarik atensinya lagi. Dia pikir semua temannya sudah pergi, tapi pria itu duduk sembari menatap langit-langit bengkel yang sebentar lagi akan terbengkalai. Sial, semuanya kacau.</p>

<p>“Nih.”</p>

<p>Gumpalan yang terbungkus plastik itu berhasil dia tangkap. Bibirnya terangkat sedikit saat menyadari apa yang diberikan Felix padanya. Sebungkus milkita melon tidak pernah terpikirkan akan menjadi barang yang sangat mahal, <em>“Jadi, jangan diambil hati, dia cuma butuh waktu buat ngerti.”</em></p>

<p>Itu menjadi kalimat terakhir yang tertinggal di bangunan yang tak lagi bernyawa ini. Kalimat biasa yang kerap dia jawab dengan anggukan malas. Sesuatu yang dia yakini dapat didengar lagi nanti.</p>

<p>Namun ternyata <strong>tidak ada nanti.</strong></p>

<p>Kini kalimat itu tinggal di kepalanya. Bersahutan dengan milik Nanon yang berulang tanpa henti. Berputar-putar tanpa tempat untuk kembali.</p>

<p><em>“Kalau situasinya tiba-tiba berubah, dan gue bukan orang yang persis di ekspektasi lo, apa lo juga bakal pergi, Nyon?”</em></p>

<p>Salahnya yang terlalu percaya pada semesta. Bahkan di sudut bumi yang paling gelap pun tidak akan ada tempat untuknya. Jalan pulang itu tidak akan pernah sampai, sebab <em>melangkah</em> pun tidak pernah berhasil dia lakukan.</p>

<blockquote><p><em>Maka kuburlah saja dia, di sela-sela sorai yang tidak pernah reda.</em>
<em>Ikat dia, lalu selimuti dirinya dengan ilusi bahwa lahirnya hanyalah gumpalan daging tanpa nyawa.</em>
<em>Lantas kenanglah dia, yang mati meski tidak pernah berpisah dengan raga.</em></p></blockquote>

<hr/>

<hr/>

<hr/>

<p><strong>Benar, Kapten sempat percaya itu; sesaat, singkat, hampir utuh.</strong></p>

<p>Mungkin masih ada sedikit belas kasih dunia untuknya,
Mungkin masih ada sisa harap yang belum sempat menjadi nyata,
Mungkin masih ada jejak tawa yang akan singgah,</p>

<p>Mungkin—<strong>maka mungkin dia yang terlena.</strong></p>

<p>Sebab dunia tidak pernah benar-benar berjalan untuknya.</p>

<p>Batu di kepalanya sudah menjalar hingga ke hati. Napasnya yang memburu, matanya terbakar padam, ini bukan lagi tentang si pembuat kerusuhan. Sore itu dia bergerak kesetanan, amarahnya tak punya arah. Seolah akal sehatnya telah sampai di pemakaman.</p>

<p>Ia membanting sunyi, menarik pelatuknya untuk membuat mereka paham, kalau dia sudah dikhianati. Sekali lagi, dia dikhianati—dia dibohongi oleh orang yang paling ia percayai.</p>

<p>Cintanya tidak runtuh dalam ledakan. Dia sudah hadir di setiap aliran darah miliknya, dan karena itu, Kapten semakin kehilangan untuk percaya.</p>

<p>Sebab dalam cinta itu, dia hampir kehilangan sahabatnya. Lantas, apakah jatuh cinta juga kesalahan?</p>

<p>“Bangsat! lo sembunyiin dimana temen lo, anjing?!”</p>

<p>Dia berteriak, memukul kekasihnya membabi buta. Menerjangnya tanpa ampun sampai pria yang tergeletak di bawahnya itu kewalahan untuk mencerna keadaan.</p>

<p>Panglima tidak membalas, dia biarkan tubuhnya menjadi samsak amarah Kapten. Sampai markas warior yang begitu tenang itu menegang seketika, Kapten ditarik paksa oleh anggota warior lainnya. Meski statusnya kekasih, datang sendiri ke markas musuh sama saja bunuh diri.</p>

<p>“Lo anjing Hyunjin! lo sama temen-temen lo itu, semuanya anj—”</p>

<p>Kalimatnya terputus. Changbin menghadiahinya pukulan di pipi kiri. Luka bekas tamparan beberapa hari kemarin itu kembali menganga dan Kapten tertawa karenanya.</p>

<p>“Mundur!” kekasihnya berlagak seperti pahlawan. “Mundur, ini urusan gue sama Kapten.”</p>

<p>Dan dia semakin tertawa sampai membuat tenggorokannya panas. “Kenapa mundur? lo pikir gue takut ngadepin kalian sendiri? maju anjing! gue abisin lo semua, bangsat!”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bhluewry.writeas.com/darimu-kita-hancur</guid>
      <pubDate>Wed, 21 Jan 2026 17:05:25 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Terbanglah aku, yang tercekat dan terikat.</title>
      <link>https://bhluewry.writeas.com/terbanglah-aku-yang-tercekat-dan-terikat?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[iframe width=&#34;100%&#34; height=&#34;300&#34; scrolling=&#34;no&#34; frameborder=&#34;no&#34; allow=&#34;autoplay&#34; src=&#34;https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/soundcloud%253Atracks%253A221122180&amp;color=%23ff5500&amp;autoplay=true&amp;hiderelated=false&amp;showcomments=true&amp;showuser=true&amp;showreposts=false&amp;showteaser=true&amp;visual=true&#34;/iframediv style=&#34;font-size: 10px; color: #cccccc;line-break: anywhere;word-break: normal;overflow: hidden;white-space: nowrap;text-overflow: ellipsis; font-family: Interstate,Lucida Grande,Lucida Sans Unicode,Lucida Sans,Garuda,Verdana,Tahoma,sans-serif;font-weight: 100;&#34;a href=&#34;https://soundcloud.com/sleepingatlast&#34; title=&#34;Sleeping At Last&#34; target=&#34;blank&#34; style=&#34;color: #cccccc; text-decoration: none;&#34;Sleeping At Last/a · a href=&#34;https://soundcloud.com/sleepingatlast/saturn&#34; title=&#34;Saturn&#34; target=&#34;blank&#34; style=&#34;color: #cccccc; text-decoration: none;&#34;Saturn/a/div&#xA;&#xA;  Teruntuk angan yang pernah menjadi jeda, dan janji yang menyapa. Kali ini, sambutlah aku dalam perayaan tanpa lentera; tanpa cahaya, tanpa makna. &#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Langit begitu hening akhir-akhir ini—rembulan seakan dikhianati bumi sampai enggan menampakkan diri. Intensintas darinya memudar, digantikan gerimis yang semakin memukul jalanan sepi. Tapi di bawah lampu kota yang redupnya bukan main, Kapten tidak lagi merasa sempit atau pun tercekik.&#xA;&#xA;Nikotin mengudara benar-benar menentang semesta. Rasa sesal memeluk bekas tamparan di pipi kanan. Alih-alih sakit, pribadi ini menjelma seperti bangunan yang terlahap habis. Benar, kutuk saja, toh jiwa ini sudah lama terombang-ambing.&#xA;&#xA;Pulang atau tidak, siapa yang akan peduli?&#xA;&#xA;Dirinya hampir saja mati membeku kalau dering ponsel tidak memotong hal-hal gila menyebrangi kepala. Pikiran tentang berbaring di tengah jalan mungkin lebih baik ketimbang di rumah yang berantakan menerobos masuk sampai terbenam bak mentari yang pamit usai. Hilang akal sudah, redam suaranya tanpa bernyawa—semesta sukses memenuhi kepalanya dengan makian papa.&#xA;&#xA;Dia keluarkan rokoknya yang terakhir, tanda-tanda ingin beranjak masih belum hadir, masih nyaman untuk membiarkan bibirnya membiru kaku. Pandangannya kian mengabur, baru teringat perutnya belum terisi apa pun. Ah, memang begini dunia berjalan untuknya. Jika tidak kelaparan, maka mati rasa atas pukulan dan pengkhianatan.&#xA;&#xA;Apa yang diharapkan?&#xA;&#xA;&#34;Gue cariin lo kemana, tau nya di sini. Gelandangan lo?&#34;&#xA;&#xA;Kepalanya terangkat untuk memandang prianya tanpa nyawa. Dia kira sosok itu salah satu dari imajinasi sampai tempat tanpa dinding ini terasa lebih fana—hingga jemarinya bergetar saat sadar, dia tidak benar-benar ingin menghilang.&#xA;&#xA;&#34;Di sebanyaknya tempat, kenapa milih di sini sih? udah gelap, dingin, banyak nyamuk lagi. Emang lo ga digigitin nyamuk? pake baju pendek lagi ampun dah masuk angin nanti pipi lo makin ngembang gue mampusin bener dah liat aja.&#34;&#xA;&#xA;Dia tidak ingin dilupakan.&#xA;&#xA;Pria itu mendekat, bukan untuk memaki—apalagi menginterogasi. Jaket hitam besar dengan lambang WARIOR itu dilepaskannya tanpa ragu, lalu menyelimutkannya pada si kecil dengan hati-hati, seakan takut salah, seakan jika ia terlalu cepat kehangatan itu bisa segera pecah.&#xA;&#xA;Dia tidak ingin lenyap.&#xA;&#xA;&#34;Lo ga ngantuk? ini udah jam 3 pagi.&#34; serak di ujung katanya lebih mirip dengan kekhawatiran yang kehabisan cara. &#xA;&#xA;Dan gelengan itu menjadi jawaban penuh dengan kemunafikan.&#xA;&#xA;&#34;Gapapa.&#34; kata itu sederhana. Begitu pendek, begitu keras, seperti kebohongan kecil yang terlalu sering dia ucapkan sampai terdengar nyata.&#xA;&#xA;&#34;Gue gapapa, Panglima.&#34; katanya lagi, seakan semua itu tidak berarti. Seakan jika dia ucapkan berjuta-juta kali, luka dan berisiknya kepala akan mengecil sendiri.&#xA;&#xA;Lantas pria itu tidak menyangkal. Tidak berusaha meluruskan kebohongan kekasihnya. Ia biarkan ego itu tetap bernyawa. Dan ia akan tinggal—menjadi diam yang aman, menjadi jeda untuk si pemilik pipi bolong itu duduk tanpa harus menjelaskan apa pun.&#xA;&#xA;&#34;Iya, gapapa.&#34; ujarnya setuju.&#xA;&#xA;Jemarinya mengusap rambut Kapten penuh sayang. Besar tangannya selalu melingkupi si kecil dengan kehangatan. &#34;Gue di sini, Pipi bolong.&#34; tubuh penuh luka itu ia peluk dengan cinta—bukan untuk menahan, melainkan untuk meyakinkan: dia tidak sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Ga perlu buru-buru, lo bisa istirahat selama yang lo mau.&#34;&#xA;&#xA;Kalimat itu nyaris mengoyak Kapten. Bukan seperti pukulan telak, melainkan seperti tangan yang terbuka. Lantas kepalanya penuh tanda tanya. Ia mengingat dirinya yang gagal: yang mengecewakan banyak orang ketika dirinya pun sudah habis hancur, yang membuat pilihan dari ribuan salah untuk menjadi benar, yang memilih berbohong untuk bertahan.&#xA;&#xA;Ia hanya seorang anak yang mencoba hidup dengan cara yang ia bisa saat itu.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa?&#34; pertanyaan itu keluar pelan, ragu di ujung lidahnya seolah siap untuk menerima patah sekali lagi. Toh, kehilangan juga bukan perihal asing untuknya. &#34;Kenapa cari gue? Lo ga kecewa sama gue?&#34;&#xA;&#xA;Ia menelan napas. &#34;Gue ini rusak, Panglima.&#34;&#xA;&#xA;Itu kesimpulan yang paling sederhana—jalan pintas agar rasa sakitnya juga punya nama.&#xA;&#xA;Kapten memilih satu kata untuk merangkum semuanya. Seakan yang terjadi tidak perlu dibuka ulang; perihal bagaimana ia dipatahkan dengan jelas dan terang-terangan, tentang bagaimana bertahan justru membuatnya terlihat sangat salah.&#xA;&#xA;&#34;Di bagian mana si penguasa sekolah yang begitu hebat bisa dicap rusak?&#34; pertanyaan itu datang dengan tenang, tidak meninggi, tidak membela dengan berlebihan.&#xA;&#xA;&#34;Lo yang paling depan ngebela orion, yang selalu naruh diri lo di nomor sekian, yang ga pernah takut ambil risiko demi orang disekitar lo aman.&#34;&#xA;&#xA;Kali ini tubuh tinggi itu dia tempatkan di bawahnya. Ia berjongkok agar Kapten tidak perlu mendongak untuk menatapnya, membiarkan lututnya yang seharian ini berlari ke sana-kemari semakin mati rasa. &#xA;&#xA;&#34;Lo nelen semuanya sendirian biar lo keliatan kuat, lo yang paling takut buat ngerepotin orang lain, lo yang selalu berusaha buat sakit sendirian biar orang lain bisa tetap bersandar ke lo.&#34;&#xA;&#xA;Genggaman tangan mereka terlepas, telapak tangan itu menangkup pipi Kapten dengan lembut. Satu kecupan kecil menjadi hadiah sebelum kening mereka saling menempel sebagai bentuk pengakuan yang paling jujur: dia tidak akan pergi.&#xA;&#xA;&#34;Dan nilai yang cuma sekedar angka atau karena kakak angkat yang asal-usulnya nggak pernah lo minta, lo dicap rusak?&#34;&#xA;&#xA;Panglima menggeleng keras. Matanya menatap milik Kapten dengan lamat, memastikan setiap kata-katanya sampai.&#xA;&#xA;&#34;Itu cuma kesimpulan paling gampang yang orang lain ambil biar mereka ga keliatan salah.&#34;&#xA;&#xA;Jika Kapten hanya memiliki segelintir bahasa untuk membuat segalanya menjadi mudah, maka Panglima punya berjuta-juta bahasa untuk membuat kekasihnya paham; bahwa ia sebaik-baiknya manusia yang tetap memilih baik meski hidup tak pernah benar-benar adil padanya.&#xA;&#xA;&#34;Orang rusak nggak bakal sejauh ini buat jaga semua orang tetap aman. Pengkhianat nggak mungkin setia sampai rela kehilangan banyak hal.&#34;&#xA;&#xA;Pucuk bulan semakin meninggi. Lampu jalan bahkan mulai menggigil. Dan di antara sebanyak kalimat yang menekan dada itu, Kapten menatap kekasihnya yang tersenyum lembut. Teduh matanya selalu menyelamatkan dirinya—tatapan yang berkata jangan khawatir, kita rayakan saja luka itu.&#xA;&#xA;&#34;Gue ga peduli lo nempatin diri gue di bawah orion atau siapa si bajingan Heeseung itu di hidup lo, Pipi bolong.&#34; sudut bibirnya terangkat menyakinkan. &#34;Yang gue peduli lo itu pipi bolongnya gue, kesayangannya gue, kekasih hatinya gue.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dan gue—gue ini bukan Panglimanya Warior.&#34;&#xA;&#xA;Kecupan itu mendarat sekali lagi di keningnya. &#34;Gue ini Panglimanya Kapten.&#34;&#xA;&#xA;Lalu ke sudut bibirnya yang membiru.&#xA;&#xA;&#34;Jadi, gue harus pulang ke Kapten.&#34;&#xA;&#xA;Dengannya Kapten dicintai tanpa syarat. Tidak perlu memilih bagian mana yang harus ditunjukkan, sebab baik-buruknya dicintai Panglima dengan sangat layak.&#xA;&#xA;Cintanya tidak pernah sederhana. Tidak pula menuntut untuk menjadi lebih pantas. Seolah tidak ada yang perlu darinya disembunyikan. &#xA;&#xA;Di tengah dingin yang masih menggigit, hangat itu bertahan—&#xA;cukup lama, cukup nyata.&#xA;&#xA;Cukup untuk membuat Kapten berpikir, barangkali hidup sekali lagi tidak seseram yang ia bayangkan.&#xA;&#xA;---&#xA;---&#xA;---&#xA;  Hadirnya selalu menjadi bentuk penyelamatan di saat tidak ada dalam dirinya yang benar-benar ingin selamat. &#xA;Dia tinggal, &#xA;dia hadir; &#xA;dia cukup membuat si kerdil ini bernapas satu hari lagi.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><iframe height="300" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/soundcloud%253Atracks%253A221122180&amp;color=%23ff5500&amp;auto_play=true&amp;hide_related=false&amp;show_comments=true&amp;show_user=true&amp;show_reposts=false&amp;show_teaser=true&amp;visual=true"></iframe><div style="font-size: 10px; color: #cccccc;line-break: anywhere;word-break: normal;overflow: hidden;white-space: nowrap;text-overflow: ellipsis; font-family: Interstate,Lucida Grande,Lucida Sans Unicode,Lucida Sans,Garuda,Verdana,Tahoma,sans-serif;font-weight: 100;"><a href="https://soundcloud.com/sleepingatlast" title="Sleeping At Last" target="_blank" style="color: #cccccc; text-decoration: none;" rel="nofollow noopener">Sleeping At Last</a> · <a href="https://soundcloud.com/sleepingatlast/saturn" title="Saturn" target="_blank" style="color: #cccccc; text-decoration: none;" rel="nofollow noopener">Saturn</a></div></p>

<blockquote><p>Teruntuk angan yang pernah menjadi jeda, dan janji yang menyapa. Kali ini, sambutlah aku dalam perayaan tanpa lentera; tanpa cahaya, tanpa makna.</p></blockquote>

<hr/>

<p>Langit begitu hening akhir-akhir ini—rembulan seakan dikhianati bumi sampai enggan menampakkan diri. Intensintas darinya memudar, digantikan gerimis yang semakin memukul jalanan sepi. Tapi di bawah lampu kota yang redupnya bukan main, <strong>Kapten tidak lagi merasa sempit atau pun tercekik.</strong></p>

<p>Nikotin mengudara benar-benar menentang semesta. Rasa sesal memeluk bekas tamparan di pipi kanan. Alih-alih sakit, pribadi ini menjelma seperti bangunan yang terlahap habis. Benar, kutuk saja, toh jiwa ini sudah lama terombang-ambing.</p>

<p><em>Pulang atau tidak, siapa yang akan peduli?</em></p>

<p>Dirinya hampir saja mati membeku kalau dering ponsel tidak memotong hal-hal gila menyebrangi kepala. Pikiran tentang <em>berbaring di tengah jalan mungkin lebih baik ketimbang di rumah yang berantakan</em> menerobos masuk sampai terbenam bak mentari yang pamit usai. Hilang akal sudah, redam suaranya tanpa bernyawa—<strong>semesta sukses memenuhi kepalanya dengan makian papa.</strong></p>

<p>Dia keluarkan rokoknya yang terakhir, tanda-tanda ingin beranjak masih belum hadir, masih nyaman untuk membiarkan bibirnya membiru kaku. Pandangannya kian mengabur, baru teringat perutnya belum terisi apa pun. <em>Ah, memang begini dunia berjalan untuknya</em>. <strong>Jika tidak kelaparan, maka mati rasa atas pukulan dan pengkhianatan</strong>.</p>

<p><em>Apa yang diharapkan?</em></p>

<p>“Gue cariin lo kemana, tau nya di sini. Gelandangan lo?”</p>

<p>Kepalanya terangkat untuk memandang <em>prianya</em> tanpa nyawa. Dia kira sosok itu salah satu dari <em>imajinasi</em> sampai tempat tanpa dinding ini terasa lebih fana—hingga jemarinya bergetar saat sadar, <em>dia tidak benar-benar ingin menghilang</em>.</p>

<p>“Di sebanyaknya tempat, kenapa milih di sini sih? udah gelap, dingin, banyak nyamuk lagi. Emang lo ga digigitin nyamuk? pake baju pendek lagi ampun dah masuk angin nanti pipi lo makin ngembang gue mampusin bener dah liat aja.”</p>

<p><em>Dia tidak ingin dilupakan.</em></p>

<p>Pria itu mendekat, bukan untuk memaki—apalagi menginterogasi. Jaket hitam besar dengan lambang <strong>WARIOR</strong> itu dilepaskannya tanpa ragu, lalu menyelimutkannya pada si kecil dengan hati-hati, seakan takut salah, seakan jika ia terlalu cepat kehangatan itu bisa segera pecah.</p>

<p><em>Dia tidak ingin lenyap.</em></p>

<p>“Lo ga ngantuk? ini udah jam 3 pagi.” serak di ujung katanya lebih mirip dengan kekhawatiran yang kehabisan cara.</p>

<p>Dan gelengan itu menjadi jawaban penuh dengan kemunafikan.</p>

<p>“Gapapa.” kata itu sederhana. Begitu pendek, begitu keras, seperti kebohongan kecil yang terlalu sering dia ucapkan sampai terdengar nyata.</p>

<p><strong>“Gue gapapa, Panglima.”</strong> katanya lagi, seakan semua itu tidak berarti. Seakan jika dia ucapkan berjuta-juta kali, luka dan berisiknya kepala akan mengecil sendiri.</p>

<p>Lantas pria itu tidak menyangkal. Tidak berusaha meluruskan kebohongan kekasihnya. Ia biarkan ego itu tetap bernyawa. <em>Dan ia akan tinggal—menjadi diam yang aman, menjadi jeda untuk si pemilik pipi bolong itu duduk tanpa harus menjelaskan apa pun.</em></p>

<p>“Iya, gapapa.” ujarnya setuju.</p>

<p>Jemarinya mengusap rambut Kapten penuh sayang. Besar tangannya selalu melingkupi si kecil dengan kehangatan. <strong>“Gue di sini, Pipi bolong.”</strong> tubuh penuh luka itu ia peluk dengan cinta—bukan untuk menahan, melainkan untuk meyakinkan: <em>dia tidak sendiri.</em></p>

<p><em>“Ga perlu buru-buru, lo bisa istirahat selama yang lo mau.”</em></p>

<p>Kalimat itu nyaris mengoyak Kapten. Bukan seperti pukulan telak, melainkan seperti tangan yang terbuka. Lantas kepalanya penuh tanda tanya. Ia mengingat dirinya yang gagal: yang mengecewakan banyak orang ketika dirinya pun sudah habis hancur, yang membuat pilihan dari ribuan salah untuk menjadi benar, yang memilih berbohong untuk bertahan.</p>

<p><em>Ia hanya seorang anak yang mencoba hidup dengan cara yang ia bisa saat itu.</em></p>

<p>“Kenapa?” pertanyaan itu keluar pelan, ragu di ujung lidahnya seolah siap untuk menerima <em>patah</em> sekali lagi. Toh, kehilangan juga bukan perihal asing untuknya. “Kenapa cari gue? Lo ga kecewa sama gue?”</p>

<p>Ia menelan napas. <strong>“Gue ini rusak, Panglima.”</strong></p>

<p>Itu kesimpulan yang paling sederhana—jalan pintas agar rasa sakitnya juga punya nama.</p>

<p>Kapten memilih satu kata untuk merangkum semuanya. Seakan yang terjadi tidak perlu dibuka ulang; perihal bagaimana ia dipatahkan dengan jelas dan terang-terangan, tentang bagaimana bertahan justru membuatnya terlihat sangat salah.</p>

<p>“Di bagian mana si penguasa sekolah yang begitu hebat bisa dicap rusak?” pertanyaan itu datang dengan tenang, tidak meninggi, tidak membela dengan berlebihan.</p>

<p>“Lo yang paling depan ngebela orion, yang selalu naruh diri lo di nomor sekian, yang ga pernah takut ambil risiko demi orang disekitar lo aman.”</p>

<p>Kali ini tubuh tinggi itu dia tempatkan di bawahnya. Ia berjongkok agar Kapten tidak perlu mendongak untuk menatapnya, membiarkan lututnya yang seharian ini berlari ke sana-kemari semakin mati rasa.</p>

<p>“Lo nelen semuanya sendirian biar lo keliatan kuat, lo yang paling takut buat ngerepotin orang lain, lo yang selalu berusaha buat sakit sendirian biar orang lain bisa tetap bersandar ke lo.”</p>

<p>Genggaman tangan mereka terlepas, telapak tangan itu menangkup pipi Kapten dengan lembut. Satu kecupan kecil menjadi hadiah sebelum kening mereka saling menempel sebagai bentuk pengakuan yang paling jujur: <em>dia tidak akan pergi.</em></p>

<p><strong>“Dan nilai yang cuma sekedar angka atau karena kakak angkat yang asal-usulnya nggak pernah lo minta, lo dicap rusak?”</strong></p>

<p>Panglima menggeleng keras. Matanya menatap milik Kapten dengan lamat, memastikan setiap kata-katanya sampai.</p>

<p><strong>“Itu cuma kesimpulan paling gampang yang orang lain ambil biar mereka ga keliatan salah.”</strong></p>

<p>Jika Kapten hanya memiliki segelintir bahasa untuk membuat segalanya menjadi mudah, maka Panglima punya berjuta-juta bahasa untuk membuat kekasihnya paham; bahwa <em>ia sebaik-baiknya manusia yang tetap memilih baik meski hidup tak pernah benar-benar adil padanya</em>.</p>

<p><strong>“Orang rusak nggak bakal sejauh ini buat jaga semua orang tetap aman. Pengkhianat nggak mungkin setia sampai rela kehilangan banyak hal.”</strong></p>

<p>Pucuk bulan semakin meninggi. Lampu jalan bahkan mulai menggigil. Dan di antara sebanyak kalimat yang menekan dada itu, Kapten menatap kekasihnya yang tersenyum lembut. Teduh matanya selalu menyelamatkan dirinya—tatapan yang berkata <em>jangan khawatir, kita rayakan saja luka itu.</em></p>

<p>“Gue ga peduli lo nempatin diri gue di bawah orion atau siapa si bajingan Heeseung itu di hidup lo, Pipi bolong.” sudut bibirnya terangkat menyakinkan. <em>“Yang gue peduli lo itu pipi bolongnya gue, kesayangannya gue, kekasih hatinya gue.”</em></p>

<p>“Dan gue—gue ini bukan Panglimanya Warior.”</p>

<p>Kecupan itu mendarat sekali lagi di keningnya. <strong>“Gue ini Panglimanya Kapten.”</strong></p>

<p>Lalu ke sudut bibirnya yang membiru.</p>

<p><strong>“Jadi, gue harus pulang ke Kapten.”</strong></p>

<p>Dengannya Kapten dicintai tanpa syarat. Tidak perlu memilih bagian mana yang harus ditunjukkan, sebab baik-buruknya dicintai Panglima dengan sangat layak.</p>

<p>Cintanya tidak pernah sederhana. Tidak pula menuntut untuk menjadi lebih pantas. Seolah tidak ada yang perlu darinya disembunyikan.</p>

<p>Di tengah dingin yang masih menggigit, hangat itu bertahan—
cukup lama, cukup nyata.</p>

<p>Cukup untuk membuat Kapten berpikir, <strong>barangkali hidup sekali lagi tidak seseram yang ia bayangkan.</strong></p>

<hr/>

<hr/>

<hr/>

<blockquote><p>Hadirnya selalu menjadi bentuk penyelamatan di saat tidak ada dalam dirinya yang benar-benar ingin selamat.
<strong>Dia tinggal,</strong>
<strong>dia hadir;</strong>
<strong>dia cukup membuat si kerdil ini bernapas satu hari lagi.</strong></p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bhluewry.writeas.com/terbanglah-aku-yang-tercekat-dan-terikat</guid>
      <pubDate>Fri, 16 Jan 2026 12:38:57 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Yang Jeongin dan kepalanya adalah ruang kecil yang tak pernah sunyi.</title>
      <link>https://bhluewry.writeas.com/yang-jeongin-dan-kepalanya-adalah-ruang-kecil-yang-tak-pernah-sunyi?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Yang Jeongin dan kepalanya adalah ruang kecil yang tak pernah sunyi.&#xA;&#xA;Di sana bersemayam ribuan gelisah yang menunggu untuk berlari; UKT kian mencekik, beasiswa jatuh di tangan tak pasti, dan birokrasi yang menutup diri. Sementara di tempat lain karpet merah digelar sebagai simbol pemilik dinasti, rubah rakus berjoget seakan derita mahasiswa adalah musik pengiring jamuan pagi.&#xA;&#xA;Mereka yang berteriak mendengar, sejatinya hanya menunggu rintihan itu reda sendiri. Mereka berjanji akan memperbaiki, padahal sibuk cuci tangan hingga bersih.&#xA;&#xA;Dan karena mereka, medan perang hadir di lingkaran yang sudah tidak bulat lagi. &#xA;&#xA;Yang Jeongin, pemuda itu adalah tsunami. Arusnya begitu tenang hingga amukannya tumbuh bersama dengan kasih; ia menggulung dengan caci-maki, bergerak untuk membasmi, dan berdiri bukan untuk kepentingan sendiri.&#xA;&#xA;Kepalanya adalah badai yang akan pecah—antara idealisme yang beradu dengan kenyataan; antara suara kecil yang diabaikan sistem besar. Ia adalah harapan bagi mereka yang datang dengan mata letih; berat tangannya membawa surat permohonan, membawa keresahan.&#xA;&#xA;Yang Jeongin dan kepalanya adalah riuh dari ribuan mulut yang dipaksa tunduk pada aturan. Wajahnya bukan lagi miliknya, melainkan untuk mereka yang akan mati jika berbunyi. Suaranya bukan lagi miliknya, melainkan gema dari mereka yang bungkam di kelas-kelas sempit.&#xA;&#xA;Yang Jeongin, ia telah menjelma sebagai langkah awal. Sebuah keyakinan akan perubahan tidak mungkin datang dengan tenang. Ia lahir dari benturan, dari riuh yang tak tertata, dari lelah yang dipaksa terus menyala.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Malam itu ruang rapat sudah menyerupai gedung sehabis gempa bumi. Kertas kajian berserakan di sana-sini, cangkir kopi kosong menjadi saksi untuk tujuh kepala yang tak lagi duduk rapi—ada yang sudah kehabisan energi, ada yang masih mondar-mandir, ada yang berusaha mencari jawaban disela-sela pecahan keramik. &#xA;&#xA;&#34;Jadi intinya kita sekarang; mundur kena, maju babak belur, kan?&#34; Ryujin berujar sambil menggoyangkan kursinya ke kanan dan ke kiri.&#xA;&#xA;&#34;Kalo kata gue daripada di cap ga ada pendirian mending jalanin aja.&#34; kali ini Hanbin membuka suara setelah mencoret begitu banyak poin di catatan kecilnya.&#xA;&#xA;&#34;Bunuh diri dong kita?&#34; Jisung menimpali yang dibalas tawa kecil oleh Seungmin. Empat kata tidak lucu itu justru menggelitik bagi mereka.&#xA;&#xA;&#34;Yes! makan ayam mati!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tolol dah jin.&#34; Beomgyu melempar tisu bekasnya ke arah Ryujin yang sudah seperti mayat hidup.&#xA;&#xA;&#34;Lagian anjing banget, mahasiswa udah pusing buat makan, bayar kos, bayar print, ini malah UKT mau dinaikin.&#34; Ryujin mengacak rambutnya frustasi.&#xA;&#xA;&#34;Pasti ujung-ujungnya dibilang buat biaya operasional shuttle bus, kocak abis dah! itu bis kagak ada 50 biji, keliling juga dalem kampus eh UKT setiap orang mau dinaikin sejuta dua juta, taiiiii...&#34; sambungnya.&#xA;&#xA;Rapat itu berisik, penuh carut-marut dan tumpang tindih. Dari 7 kepala dan 7 mulut, sebuah aksi kecil akan lahir; mereka harus bergerak. Bukan untuk diri, bukan untuk mencari muka, melainkan untuk mereka yang tak hadir di ruangan pengap itu.&#xA;&#xA;&#34;Masa tenggat UKT barengan sama porseni?&#34; Hanbin berujar selepas mengecek kalender program mereka.&#xA;&#xA;Kali ini tidak ada lagi yang membalas selain helaan nafas panjang. Ucapan Ryujin tidak lagi sebatas masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Tapi sudah mulai tertanam di otak mereka masing-masing; mundur kena, maju babak belur.&#xA;&#xA;&#34;Untuk porseni udah mulai nyebar proposal sponsor kan, min?&#34; Kabem bertanya seolah pembahasan UKT tidak ingin dia lanjuti.&#xA;&#xA;&#34;Udah, gue juga udah mulai ngitung anggaran, buat fakultas juga udah gue kabarin buat mulai garap konsep.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oke dilanjut aja, Hanbin lo bisa mulai buat cari volunteer buat staf kepengurusan ini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bentar Kabem, ini masalah UKT gimana? ini urgensi—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ini baru desas-desus aja, Ryujin.&#34; Kabem langsung memotong ucapan sekretarisnya itu.&#xA;&#xA;&#34;Walaupun ini baru desas-desus, baiknya kita siapin buat buka forum sekalian, jadi kalo memang isu ini beneran jadi resmi, kita ada bekingan dari mahasiswa.&#34; Kamden yang ditarik untuk menjadi &#34;otaknya&#34; Jisung akhirnya bersuara.&#xA;&#xA;&#34;BENER!&#34; nyawa Jisung seolah kembali, dia menunjuk ke arah Kabem. &#34;Gue tau ya pikiran lo anjing.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Biar besok gue hubungi biro keuangan.&#34; Beomgyu mengusulkan setelah menimbang begitu banyak kemungkinan.&#xA;&#xA;&#34;Jangan gyu, kita masih belum punya data. Ke sana dengan pegangan katanya sama aja nyerahin diri buat dibunuh sama mereka.&#34;&#xA;&#xA;Sebab di negara miniatur ini, tempat paling tinggi bisa jadi tempat paling kotor untuk dihuni. Anggukan dan tangan terbuka yang selalu diagungkan itu sebatas bualan dan pencitraan.&#xA;&#xA;&#34;Terus? lo mau diem aja dijadiin kambing hitam orang-orang rektorat?! jangan lupa kebijakan ini keluar atas usulan lo, Kabem.&#34;&#xA;&#xA;Status itu bukan sekedar penunjuk kuasa, melainkan tempat amarah dan putus asa. Di luar sana—orang berjalan sebagaimana mestinya. Sedang mereka, sekelompok anak muda yang memilih untuk bersuara; mungkin saja status mahasiswa itu dicabik tanpa perlu melihat kebenaran. &#xA;&#xA;Mereka mempertaruhkan segalanya.&#xA;&#xA;dan karena segalanya itu, Kabem tidak ingin perjuangan teman-temannya menjadi sia-sia. Sebab di antara mereka, hanya dia yang tidak bisa dirantai.&#xA;&#xA;Dia tidak terikat,&#xA;tidak perlu takut beasiswanya dicabut,&#xA;tidak ada yang merasa kecewa jika pulang dengan kegagalan.&#xA;&#xA;Ketika jarum jam menyentuh pukul sepuluh, rapat tak benar-benar selesai, mereka berhenti karena api sudah mulai ingin melahap habis. Malam menelan langkah mereka, namun tidak memadamkan isi kepala. Mereka terlampau tahu: meski besok mereka dihilangkan, mereka sudah menjadi sudah menjadi sesuatu yang lebih besar.&#xA;&#xA;Bergerak dan bersuara.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Yang Jeongin dan kepalanya adalah ruang kecil yang tak pernah sunyi.</p>

<p>Di sana bersemayam ribuan gelisah yang menunggu untuk berlari; UKT kian mencekik, beasiswa jatuh di tangan tak pasti, dan birokrasi yang menutup diri. Sementara di tempat lain karpet merah digelar sebagai simbol pemilik dinasti, rubah rakus berjoget seakan derita mahasiswa adalah musik pengiring jamuan pagi.</p>

<p>Mereka yang berteriak mendengar, sejatinya hanya menunggu rintihan itu reda sendiri. Mereka berjanji akan memperbaiki, padahal sibuk <em>cuci tangan</em> hingga bersih.</p>

<p>Dan karena <strong>mereka</strong>, medan perang hadir di lingkaran yang sudah tidak bulat lagi.</p>

<p>Yang Jeongin, pemuda itu adalah <strong>tsunami</strong>. Arusnya begitu tenang hingga amukannya tumbuh bersama dengan kasih; ia menggulung dengan caci-maki, bergerak untuk membasmi, dan berdiri bukan untuk kepentingan sendiri.</p>

<p>Kepalanya adalah badai yang akan pecah—antara idealisme yang beradu dengan kenyataan; antara suara kecil yang diabaikan sistem besar. Ia adalah harapan bagi mereka yang datang dengan mata letih; berat tangannya membawa surat permohonan, membawa keresahan.</p>

<p>Yang Jeongin dan kepalanya adalah riuh dari ribuan mulut yang dipaksa tunduk pada aturan. Wajahnya bukan lagi miliknya, melainkan untuk mereka yang akan mati jika berbunyi. Suaranya bukan lagi miliknya, melainkan gema dari mereka yang bungkam di kelas-kelas sempit.</p>

<p>Yang Jeongin, ia telah menjelma sebagai langkah awal. Sebuah keyakinan akan perubahan tidak mungkin datang dengan tenang. <em>Ia lahir dari benturan, dari riuh yang tak tertata, dari lelah yang dipaksa terus menyala.</em></p>

<hr/>

<p>Malam itu ruang rapat sudah menyerupai gedung sehabis gempa bumi. Kertas kajian berserakan di sana-sini, cangkir kopi kosong menjadi saksi untuk tujuh kepala yang tak lagi duduk rapi—ada yang sudah kehabisan energi, ada yang masih mondar-mandir, ada yang berusaha mencari jawaban disela-sela pecahan keramik.</p>

<p>“Jadi intinya kita sekarang; mundur kena, maju babak belur, kan?” Ryujin berujar sambil menggoyangkan kursinya ke kanan dan ke kiri.</p>

<p>“Kalo kata gue daripada di cap ga ada pendirian mending jalanin aja.” kali ini Hanbin membuka suara setelah mencoret begitu banyak poin di catatan kecilnya.</p>

<p>“Bunuh diri dong kita?” Jisung menimpali yang dibalas tawa kecil oleh Seungmin. Empat kata tidak lucu itu justru menggelitik bagi mereka.</p>

<p>“Yes! makan ayam mati!”</p>

<p>“Tolol dah jin.” Beomgyu melempar tisu bekasnya ke arah Ryujin yang sudah seperti mayat hidup.</p>

<p>“Lagian anjing banget, mahasiswa udah pusing buat makan, bayar kos, bayar print, ini malah UKT mau dinaikin.” Ryujin mengacak rambutnya frustasi.</p>

<p>“Pasti ujung-ujungnya dibilang buat biaya operasional <em>shuttle bus</em>, kocak abis dah! itu bis kagak ada 50 biji, keliling juga dalem kampus eh UKT setiap orang mau dinaikin sejuta dua juta, taiiiii...” sambungnya.</p>

<p>Rapat itu berisik, penuh carut-marut dan tumpang tindih. Dari 7 kepala dan 7 mulut, sebuah aksi kecil akan lahir; <em>mereka harus bergerak</em>. Bukan untuk diri, bukan untuk mencari muka, melainkan untuk mereka yang tak hadir di ruangan pengap itu.</p>

<p>“Masa tenggat UKT barengan sama porseni?” Hanbin berujar selepas mengecek kalender program mereka.</p>

<p>Kali ini tidak ada lagi yang membalas selain helaan nafas panjang. Ucapan Ryujin tidak lagi sebatas masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Tapi sudah mulai tertanam di otak mereka masing-masing; <em>mundur kena, maju babak belur.</em></p>

<p>“Untuk porseni udah mulai nyebar proposal sponsor kan, min?” Kabem bertanya seolah pembahasan UKT tidak ingin dia lanjuti.</p>

<p>“Udah, gue juga udah mulai ngitung anggaran, buat fakultas juga udah gue kabarin buat mulai garap konsep.”</p>

<p>“Oke dilanjut aja, Hanbin lo bisa mulai buat cari volunteer buat staf kepengurusan ini.”</p>

<p>“Bentar Kabem, ini masalah UKT gimana? ini urgensi—”</p>

<p>“Ini baru desas-desus aja, Ryujin.” Kabem langsung memotong ucapan sekretarisnya itu.</p>

<p>“Walaupun ini baru desas-desus, baiknya kita siapin buat buka forum sekalian, jadi kalo memang isu ini beneran jadi resmi, kita ada bekingan dari mahasiswa.” Kamden yang ditarik untuk menjadi “otaknya” Jisung akhirnya bersuara.</p>

<p>“BENER!” nyawa Jisung seolah kembali, dia menunjuk ke arah Kabem. “Gue tau ya pikiran lo anjing.”</p>

<p>“Biar besok gue hubungi biro keuangan.” Beomgyu mengusulkan setelah menimbang begitu banyak kemungkinan.</p>

<p>“Jangan gyu, kita masih belum punya data. Ke sana dengan pegangan <em>katanya</em> sama aja nyerahin diri buat dibunuh sama mereka.”</p>

<p>Sebab di negara miniatur ini, tempat paling tinggi bisa jadi tempat paling kotor untuk dihuni. Anggukan dan tangan terbuka yang selalu diagungkan itu sebatas bualan dan pencitraan.</p>

<p>“Terus? lo mau diem aja dijadiin kambing hitam orang-orang rektorat?! jangan lupa kebijakan ini keluar atas usulan lo, Kabem.”</p>

<p>Status itu bukan sekedar penunjuk kuasa, melainkan tempat amarah dan putus asa. Di luar sana—orang berjalan sebagaimana mestinya. Sedang mereka, sekelompok anak muda yang memilih untuk bersuara; mungkin saja status <em>mahasiswa</em> itu dicabik tanpa perlu melihat kebenaran.</p>

<p><em>Mereka mempertaruhkan segalanya.</em></p>

<p>dan karena segalanya itu, Kabem tidak ingin perjuangan teman-temannya menjadi sia-sia. Sebab di antara mereka, <em>hanya dia yang tidak bisa dirantai.</em></p>

<p><em>Dia tidak terikat,</em>
<em>tidak perlu takut beasiswanya dicabut,</em>
<em>tidak ada yang merasa kecewa jika pulang dengan kegagalan.</em></p>

<p>Ketika jarum jam menyentuh pukul sepuluh, rapat tak benar-benar selesai, mereka berhenti karena api sudah mulai ingin melahap habis. Malam menelan langkah mereka, namun tidak memadamkan isi kepala. Mereka terlampau tahu: meski besok mereka dihilangkan, mereka sudah menjadi sudah menjadi sesuatu yang lebih besar.</p>

<p><strong>Bergerak dan bersuara.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bhluewry.writeas.com/yang-jeongin-dan-kepalanya-adalah-ruang-kecil-yang-tak-pernah-sunyi</guid>
      <pubDate>Mon, 22 Sep 2025 14:33:45 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>LENGKARA : SELESAI</title>
      <link>https://bhluewry.writeas.com/lengkara-selesai?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Mungkin di lain hari, kita akan benar-benar abadi.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Semesta tidak pernah benar-benar peduli. Langkah yang tergesa, tawa tetap pecah di udara—orang-orang berlalu lalang—semua berjalan sebagaimana mestinya. Benar, dunia ini masih berputar, waktu terus bergerak tanpa menoleh ke belakang. Matahari yang berdiri congkak, dan laut yang membiru kaku.&#xA;&#xA;Namun sialnya, dunia Jeongin justru runtuh.&#xA;&#xA;Jalanan yang ramai baginya hanyalah layar kosong—panggung di mana semua orang memainkan perannya, sementara dia duduk di kursi penonton, tak mampu ikut serta.&#xA;&#xA;Dia terlampau patah, ringkas luka menggerogoti tubuhnya bak lintah. Senja tetap indah bagi manusia lainnya, tapi dia sudah buta warna. Sorak sorai tetap terdengar di jalan, tapi dia menuli dalam mati yang sesungguhnya.&#xA;&#xA;Tempat ini melahirkan sebuah cerita. Kala kembang api menggila; lalu cinta hadir tanpa tanda, tanpa syarat, tanpa diduga. Bagaimana kalimat &#34;Aku juga punya lesung pipi.&#34; menggema lebih lama daripada sorak kemenangan. &#xA;&#xA;Tempat ini adalah ruang di mana waktu berhenti. Jemari kecil yang melahirkan janji. Dan saksi untuknya yang akan terkubur mati.&#xA;&#xA;Jeongin terkoyak habis, telapak kakinya seakan memijak duri. Udara di sana seakan menipis, cincin di jarinya mencekik. Kenangan yang dulu membahagiakan kini menariknya untuk tidak lagi bertemu pagi.&#xA;&#xA;Dan ketika akhirnya mata itu kembali bertemu, Jeongin yakin, bukan hanya dia yang mati berkali-kali.&#xA;&#xA;Di sana, dalam tatapan itu, Jeongin merasakan sebuah kehancuran yang lebih sunyi. Ada cinta yang masih tersisa, ada luka yang terlalu dalam, ada kerinduan yang tak bisa lagi pulang. Mereka kembali, berdiri berhadapan, tapi dengan jarak yang lebih luas dari langit yang membentang. Tak ada lagi genggaman tangan. Tak ada lagi pelukan.&#xA;&#xA;Tak ada lagi kita.&#xA;&#xA;Separuh dari dirinya ingin berbalik, melangkah pergi sebelum semuanya runtuh lagi. Tapi Jeongin juga tahu: mereka sudah selesai. Sesuatu yang harus diucapkan agar mereka bisa tenggelam bebas. &#xA;&#xA;Lantas sunyi merayap di antara mereka, lantai yang dulu mereka pijak saat bertemu dan bertunangan kini seperti retak, seolah hendak menelan mereka bulat-bulat. Tangan yang lebih besar mengepal di sisi tubuh, seolah menahan hasrat untuk meraih dan menggenggam Jeongin sekali lagi. &#xA;&#xA;Sedangkan yang lebih kecil tampak tenang, tubuhnya tak lagi bergetar, matanya yang sayu menangkap penuh sosok yang masih memenuhi jantungnya dengan utuh. Dan saat Jeongin melihat bayangannya yang penuh dalam milik Hyunjin, senyum kecil itu tergambar lebih menyakitkan daripada semua kemarahan di dunia.&#xA;&#xA;Benar, Hyunjin masih kekasihnya.&#xA;&#xA;&#34;Gimana kabar kakak?&#34; &#xA;&#xA;Dari semua sumpah serapah yang sudah siap Hyunjin dengar, tiga kata yang terucap begitu lembut malah terlontar dari bibir kekasihnya. Pertanyaan sederhana itu menghantam dada Hyunjin lebih keras daripada semua tuduhan di dunia.&#xA;&#xA;Bagaimana mungkin kekasihnya yang telah ia hancurkan, masih menanyakan kabarnya dengan tulus?&#xA;Bagaimana mungkin kekasihnya—yang jelas-jelas lebih berantakan, lebih hancur, lebih kehilangan dirinya sendiri—masih sempat memikirkan dia?&#xA;Bagaimana mungkin kekasihnya yang dia dipatahkan, masih memikirkan apakah ia baik-baik saja? Tanpa penyesalan, tanpa penghakiman. &#xA;&#xA;Hyunjin mengatupkan rahangnya. Matanya mulai memanas, dan dengan sangat hati-hati tangannya menangkup wajah Jeongin yang masih tersenyum.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa kamu jadi sekurus ini, sayang?&#34;&#xA;&#xA;Jeongin terkekeh kecil, dia biarkan wajahnya diselimuti telapak tangan kekasihnya yang dingin. Mata yang dulu penuh cahaya kini semakin meredup, semakin lelah, semakin hampa. Bibirnya bergetar pelan, &#34;Aku sakit, kakak.&#34;&#xA;&#xA;Air mata lolos begitu saja dari manik Jeongin, lalu dunia sekali lagi terasa berhenti—bukan karena kembang api, tapi karena keyakinan bahwa cinta mereka akan abadi.&#xA;&#xA;&#34;Aku sakit.&#34;&#xA;&#xA;Itu bukan kebohongan yang ingin Jeongin sembunyikan. Dia ingin menumpahkan segalanya, hingga jika nanti akhirnya dia harus terjatuh dalam jurang, Jeongin tidak perlu merasakan penyesalan apapun lagi.&#xA;&#xA;&#34;Setiap langkah aku ke sini, aku kayak jalan di atas duri.&#34; Jeongin terkekeh kecil atas kalimatnya, &#34;Rasanya kayak aku mati waktu ngeliat kamu lagi, kak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maaf...&#34; pertahanan Hyunjin runtuh, dia terisak hebat saat memori bodohnya berputar di kepala. &#xA;&#xA;Dia tidak pernah bermaksud untuk menyakiti Jeongin, dia sungguh mencintai pria di hadapannya ini. Hyunjin masih cinta. Dia masih menyebut Jeongin sayang dengan seluruh hatinya. Tapi bagaimana cinta bisa dipercaya, bila tangannya sendiri yang merobek hati yang paling dia cintai? yang dengan bodohnya, dia membiarkan orang yang paling tulus di sisinya justru menjadi yang paling hancur.&#xA;&#xA;&#34;Jeongin, sayang, tolong... kasih kakak satu kesempatan lagi.&#34;&#xA;&#xA;Suaranya pecah, dadanya terlampau penuh dengan penyesalan.&#xA;&#xA;Jeongin menatapnya, mata itu masih teduh, masih mata yang sama yang dulu memandang Hyunjin dengan segala cinta yang bisa dimiliki seorang manusia. Tapi kali ini tidak ada harap lagi di sana. &#xA;&#xA;&#34;Aku udah kasih kamu kesempatan berkali-kali, kak.&#34; suaranya mengalun lembut. &#xA;&#xA;&#34;Aku selalu nunggu kamu untuk jemput aku pulang, aku selalu di tempat yang sama walaupun lagi dan lagi kamu ninggalin aku sendirian.&#34;&#xA;&#xA;Jeongin merasakan napasnya menjadi lambat, seperti ingin menahan dunia agar tak lagi bergerak. Matanya mengitari wajah Hyunjin sampai setiap garis menjadi peta luka yang akrab. Tangannya bergerak untuk menyentuh pipi itu sekali lagi, meraba kenyataan, memastikan ini semua bukan mimpi.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa harus di rumah kita, kak?&#34; suaranya serupa kain tipis yang tersapu angin. &#34;Di kamar kita.&#34;&#xA;&#xA;Hyunjin terdiam, tangannya menggenggam erat si kecil takut kalau tiba-tiba kekasihnya menjauh. Penjelasan yang sudah dia siapkan tercekat di kerongkongan. Dia ingin berteriak jika semua itu hanya salah paham, namun lidahnya terasa kelu akan kenyataan. &#xA;&#xA;&#34;Kakak cinta kamu... kakak cuma cinta kamu, Jeongin tolong... kakak minta maaf.&#34; Hyunjin menggenggam tangan Jeongin lebih erat daripada yang seharusnya.&#xA;&#xA;Jeongin menyeka air mata Hyunjin. Manik hitam itu menatap yang lebih besar tanpa amarah—tatapan itu… sudah kosong.&#xA;&#xA;&#34;Aku udah maafin kamu kak, berkali-kali, tapi kamu tetap ngelakuin hal yang bikin aku sakit.&#34; &#xA;&#xA;Angin malam mulai menyelimuti mereka. Dedaunan bergoyang seakan berbisik menyumpahi masa. &#34;Kalau aku ga pulang hari itu, apa kamu bakal sadar kalau kamu udah pergi terlalu jauh?&#34;&#xA;&#xA;Air mata Jeongin kembali jatuh, &#34;Aku bisa nerima omongan jahat kamu kak, aku bisa tahan sama sifat kamu yang selalu nyepelein janji-janji kamu, tapi aku ga bisa hidup dengan bayang-bayang hari itu.&#34;&#xA;&#xA;Dingin menggesek kulit mereka seperti pisau tumpul. Hyunjin gemetar, bukan karena cuaca, tapi karena rasa bersalah yang akhirnya tak bisa lagi ia bungkus dengan alasan. &#xA;&#xA;Dia yang salah. &#xA;Dia yang menghancurkan. &#xA;Dia dimaafkan, tapi tetap mengulang kesalahan yang sama. &#xA;&#xA;&#34;Aku cinta kamu kak, bahkan sampe detik ini pun kamu masih jadi pemiliknya.&#34; Jeongin menarik napasnya, dia kecup pelan bibir Hyunjin yang memucat. &#34;Tapi aku juga sayang dengan diri aku kak.&#34;&#xA;&#xA;Dan di detik itu, Hyunjin sadar—bahwa penyesalan terbesarnya bukan hanya karena kehilangan Jeongin,&#xA;melainkan membiarkan Jeongin kehilangan dirinya sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Aku juga minta maaf, ya... aku banyak kurangnya sampe kakak cari kelebihan itu di orang lain.&#34;&#xA;&#xA;Hyunjin menggeleng ribut, &#34;Kakak yang salah.&#34;&#xA;&#xA;Kekehan si kecil mengalun setuju, dia maju untuk merapikan pakaian kekasihnya yang berantakan itu. &#xA;&#xA;&#34;Aku takut, kak.&#34;&#xA;&#xA;Mereka yang terikat, mereka yang pernah menari di bawah semesta. Mereka yang memimpikan selamanya.&#xA;&#xA;&#34;Semua orang boleh ninggalin aku, asalkan itu bukan kamu. Dunia boleh ngehakimin aku, asalkan ada kamu di samping aku, tapi aku juga takut kalau nantinya aku nyakitin kamu.&#34;&#xA;&#xA;Peta untuk kembali sudah hilang, jembatan itu sudah putus. Ombak datang tanpa dicegah, membalut luka dengan garam.&#xA;&#xA;&#34;Aku ingin hidup dengan kenangan baik kita kak. Bahkan kalau ada kesempatan untuk mengulang semuanya dari awal, meski akhirnya tetap seperti ini.&#34; kembali dia kecup bibir itu ,&#34;Aku tetap pilih kamu.&#34;&#xA;&#xA;Sebab yang patah tidak akan menjadi sama. Meski bersimpuh hingga cacat di hadapan semesta, meski berteriak tidak terima, jika masanya sudah selesai, perpisahan adalah jawaban dari merelakan.&#xA;&#xA;Ini bukan akhir yang Jeongin inginkan. Ia pulang bukan untuk pergi, ia ingin menetap, ingin selamanya di sana. Namun mungkin cerita ini bukan milik mereka lagi.&#xA;&#xA;&#34;Boleh aku peluk kakak?&#34;&#xA;&#xA;Dan Hyunjin segera menarik Jeongin dalam dekapannya yang erat. Ia menangis di sana, menumpahkan seluruh penyesalannya yang sia-sia. Sedangkan Jeongin menghirup sisa-sisa kehangatan itu dalam diam. Karena sehabis ini, jika pelukan ini terlepas dan dia mundur menjauh, mereka akan kembali menjadi dua orang asing.&#xA;&#xA;&#34;Kalau ada kehidupan kedua, dan kamu ketemu aku lagi, tolong usahain aku lagi ya kak. Walaupun di saat itu aku ga percaya cinta, tolong buat aku percaya sama cinta kamu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan...&#34; Hyunjin kembali merapatkan tubuhnya saat Jeongin ingin melepas pelukan mereka. Dia kecup pucuk kepala Jeongin dan terisak habis.&#xA;&#xA;&#34;Jangan pergi...&#34; dia berbisik pelan.&#xA;&#xA;Memang benar semesta menghendaki pertemuan untuk perpisahan. Tapi jika tau akan sesingkat ini, mungkin Jeongin akan memilih untuk tidak pernah memijaki tempat ini. Tempat mereka berawal, bertaut, dan berpisah.&#xA;&#xA;Jeongin melepas pelukan itu perlahan. Kali ini benar-benar dilepas—bukan untuk diuji, bukan untuk ditunggu balik. Tapi untuk disudahi.&#xA;&#xA;Dia melangkah mundur, membiarkan benang merah itu mencekik lehernya hingga seluruh kelopak matanya berkunang-kunang. &#xA;&#xA;&#34;Kakak, jangan sakit lagi.&#34;&#xA;&#xA;Cincin di jemarinya Jeongin lepas, bersamaan itu rintik hujan kembali datang. Simbol nama Hyunjin yang terukir di dalamnya dia kembalikan pada sang tuan.&#xA;&#xA;&#34;Di kesempatan mana pun, aku harap dunia ga pernah bawa kita ketemu lagi, kak.&#34;&#xA;&#xA;Deru mesin yang berlalu. Hidup mereka bergerak maju, menuju malam, menuju masa depan. Tapi tidak bagi dua insan yang pernah menjadi kita. Baginya, malam itu adalah keabadian—ruang hampa di mana kenangan terus berulang, menolak pudar, menolak dilupakan.&#xA;&#xA;&#34;Maaf.&#34;&#xA;&#xA;Jeongin berbalik, melepaskan semua yang dia punya. Perasaannya, dunianya, Hyunjinnya. Maka sebelum gemuruh menjemput dan mereka terberai habis, Jeongin memilih berhenti. Tujuan abadi itu tidak akan pernah dia jemput, sebab perjalanan harus dihentikan di tengah laju.&#xA;&#xA;Jeongin memilih terjatuh tanpa membasuh setiap kusut. Dia memilih tenggelam hingga dinginnya lautan membuatnya mati rasa. Dia tidak berharap diselamatkan, karena dunia Jeongin—sudah berhenti selamanya.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>Mungkin di lain hari</em>, kita akan benar-benar abadi.</p></blockquote>

<hr/>

<p>Semesta tidak pernah benar-benar peduli. Langkah yang tergesa, tawa tetap pecah di udara—orang-orang berlalu lalang—<em>semua berjalan sebagaimana mestinya</em>. Benar, <em>dunia ini masih berputar</em>, waktu terus bergerak tanpa menoleh ke belakang. Matahari yang berdiri congkak, dan laut yang membiru kaku.</p>

<p>Namun sialnya, <em>dunia Jeongin justru runtuh.</em></p>

<p>Jalanan yang ramai baginya hanyalah layar kosong—panggung di mana semua orang memainkan perannya, sementara dia duduk di kursi penonton, tak mampu ikut serta.</p>

<p>Dia terlampau patah, ringkas luka menggerogoti tubuhnya bak lintah. Senja tetap indah bagi manusia lainnya, tapi dia sudah buta warna. Sorak sorai tetap terdengar di jalan, tapi dia menuli dalam mati yang sesungguhnya.</p>

<p>Tempat ini melahirkan sebuah cerita. Kala kembang api menggila; lalu cinta hadir tanpa tanda, tanpa syarat, tanpa diduga. Bagaimana kalimat <em>“Aku juga punya lesung pipi.”</em> menggema lebih lama daripada sorak kemenangan.</p>

<p>Tempat ini adalah ruang di mana waktu berhenti. Jemari kecil yang melahirkan janji. <em>Dan saksi untuknya yang akan terkubur mati.</em></p>

<p>Jeongin terkoyak habis, telapak kakinya seakan memijak duri. Udara di sana seakan menipis, cincin di jarinya mencekik. Kenangan yang dulu membahagiakan kini menariknya untuk tidak lagi bertemu pagi.</p>

<p>Dan ketika akhirnya mata itu kembali bertemu, Jeongin yakin, <em>bukan hanya dia yang mati berkali-kali.</em></p>

<p>Di sana, dalam tatapan itu, Jeongin merasakan sebuah kehancuran yang lebih sunyi. Ada cinta yang masih tersisa, ada luka yang terlalu dalam, ada kerinduan yang tak bisa lagi pulang. Mereka kembali, berdiri berhadapan, tapi dengan jarak yang lebih luas dari langit yang membentang. Tak ada lagi genggaman tangan. Tak ada lagi pelukan.</p>

<p><em>Tak ada lagi kita.</em></p>

<p>Separuh dari dirinya ingin berbalik, melangkah pergi sebelum semuanya runtuh lagi. Tapi Jeongin juga tahu: <em>mereka sudah selesai</em>. Sesuatu yang harus diucapkan agar mereka bisa tenggelam bebas.</p>

<p>Lantas sunyi merayap di antara mereka, lantai yang dulu mereka pijak saat bertemu dan bertunangan kini seperti retak, seolah hendak menelan mereka bulat-bulat. Tangan yang lebih besar mengepal di sisi tubuh, seolah menahan hasrat untuk meraih dan menggenggam Jeongin sekali lagi.</p>

<p>Sedangkan yang lebih kecil tampak tenang, tubuhnya tak lagi bergetar, matanya yang sayu menangkap penuh sosok yang masih memenuhi jantungnya dengan utuh. Dan saat Jeongin melihat bayangannya yang penuh dalam milik Hyunjin, senyum kecil itu tergambar lebih menyakitkan daripada semua kemarahan di dunia.</p>

<p><em>Benar, Hyunjin masih kekasihnya.</em></p>

<p>“Gimana kabar kakak?”</p>

<p>Dari semua sumpah serapah yang sudah siap Hyunjin dengar, tiga kata yang terucap begitu lembut malah terlontar dari bibir kekasihnya. Pertanyaan sederhana itu menghantam dada Hyunjin lebih keras daripada semua tuduhan di dunia.</p>

<p>Bagaimana mungkin kekasihnya yang telah ia hancurkan, masih menanyakan kabarnya dengan tulus?
Bagaimana mungkin kekasihnya—yang jelas-jelas lebih berantakan, lebih hancur, lebih kehilangan dirinya sendiri—masih sempat memikirkan dia?
Bagaimana mungkin kekasihnya yang dia dipatahkan, masih memikirkan apakah ia baik-baik saja? Tanpa penyesalan, tanpa penghakiman.</p>

<p>Hyunjin mengatupkan rahangnya. Matanya mulai memanas, dan dengan sangat hati-hati tangannya menangkup wajah Jeongin yang masih tersenyum.</p>

<p>“Kenapa kamu jadi sekurus ini, sayang?”</p>

<p>Jeongin terkekeh kecil, dia biarkan wajahnya diselimuti telapak tangan <em>kekasihnya</em> yang dingin. Mata yang dulu penuh cahaya kini semakin meredup, semakin lelah, semakin hampa. Bibirnya bergetar pelan, <em>“Aku sakit, kakak.”</em></p>

<p>Air mata lolos begitu saja dari manik Jeongin, lalu dunia sekali lagi terasa berhenti—bukan karena kembang api, tapi karena keyakinan bahwa cinta mereka akan abadi.</p>

<p><strong>“Aku sakit.”</strong></p>

<p>Itu bukan kebohongan yang ingin Jeongin sembunyikan. Dia ingin menumpahkan segalanya, hingga jika nanti akhirnya dia harus terjatuh dalam jurang, Jeongin tidak perlu merasakan penyesalan apapun lagi.</p>

<p>“Setiap langkah aku ke sini, aku kayak jalan di atas duri.” Jeongin terkekeh kecil atas kalimatnya, <em>“Rasanya kayak aku mati waktu ngeliat kamu lagi, kak.”</em></p>

<p>“Maaf...” pertahanan Hyunjin runtuh, dia terisak hebat saat memori bodohnya berputar di kepala.</p>

<p>Dia tidak pernah bermaksud untuk menyakiti Jeongin, dia sungguh mencintai pria di hadapannya ini. Hyunjin masih cinta. Dia masih menyebut <em>Jeongin sayang</em> dengan seluruh hatinya. Tapi bagaimana cinta bisa dipercaya, bila tangannya sendiri yang merobek hati yang paling dia cintai? yang dengan bodohnya, dia membiarkan orang yang paling tulus di sisinya justru menjadi yang paling hancur.</p>

<p>“Jeongin, sayang, tolong... kasih kakak satu kesempatan lagi.”</p>

<p>Suaranya pecah, dadanya terlampau penuh dengan penyesalan.</p>

<p>Jeongin menatapnya, mata itu masih teduh, masih mata yang sama yang dulu memandang Hyunjin dengan segala cinta yang bisa dimiliki seorang manusia. Tapi kali ini tidak ada harap lagi di sana.</p>

<p>“Aku udah kasih kamu kesempatan berkali-kali, kak.” suaranya mengalun lembut.</p>

<p>“Aku selalu nunggu kamu untuk jemput aku pulang, aku selalu di tempat yang sama walaupun lagi dan lagi kamu ninggalin aku sendirian.”</p>

<p>Jeongin merasakan napasnya menjadi lambat, seperti ingin menahan dunia agar tak lagi bergerak. Matanya mengitari wajah Hyunjin sampai setiap garis menjadi peta luka yang akrab. Tangannya bergerak untuk menyentuh pipi itu sekali lagi, meraba kenyataan, memastikan ini semua bukan mimpi.</p>

<p><strong>“Kenapa harus di rumah kita, kak?”</strong> suaranya serupa kain tipis yang tersapu angin. <strong>“Di kamar kita.”</strong></p>

<p>Hyunjin terdiam, tangannya menggenggam erat si kecil takut kalau tiba-tiba kekasihnya menjauh. Penjelasan yang sudah dia siapkan tercekat di kerongkongan. Dia ingin berteriak jika semua itu hanya salah paham, namun lidahnya terasa kelu akan kenyataan.</p>

<p>“Kakak cinta kamu... kakak cuma cinta kamu, Jeongin tolong... kakak minta maaf.” Hyunjin menggenggam tangan Jeongin lebih erat daripada yang seharusnya.</p>

<p>Jeongin menyeka air mata Hyunjin. Manik hitam itu menatap yang lebih besar tanpa amarah—tatapan itu… <em>sudah kosong.</em></p>

<p>“Aku udah maafin kamu kak, berkali-kali, tapi kamu tetap ngelakuin hal yang bikin aku sakit.”</p>

<p>Angin malam mulai menyelimuti mereka. Dedaunan bergoyang seakan berbisik menyumpahi masa. “Kalau aku ga pulang hari itu, apa kamu bakal sadar kalau kamu udah pergi terlalu jauh?”</p>

<p>Air mata Jeongin kembali jatuh, “Aku bisa nerima omongan jahat kamu kak, aku bisa tahan sama sifat kamu yang selalu nyepelein janji-janji kamu, tapi <em>aku ga bisa hidup dengan bayang-bayang hari itu.</em>“</p>

<p>Dingin menggesek kulit mereka seperti pisau tumpul. Hyunjin gemetar, bukan karena cuaca, tapi karena rasa bersalah yang akhirnya tak bisa lagi ia bungkus dengan alasan.</p>

<p>Dia yang salah.
Dia yang menghancurkan.
Dia dimaafkan, tapi tetap mengulang kesalahan yang sama.</p>

<p>“Aku cinta kamu kak, bahkan sampe detik ini pun kamu masih jadi pemiliknya.” Jeongin menarik napasnya, dia kecup pelan bibir Hyunjin yang memucat. <em>“Tapi aku juga sayang dengan diri aku kak.”</em></p>

<p>Dan di detik itu, Hyunjin sadar—bahwa penyesalan terbesarnya bukan hanya karena kehilangan Jeongin,
melainkan membiarkan Jeongin kehilangan dirinya sendiri.</p>

<p><em>“Aku juga minta maaf, ya... aku banyak kurangnya sampe kakak cari kelebihan itu di orang lain.”</em></p>

<p>Hyunjin menggeleng ribut, “Kakak yang salah.”</p>

<p>Kekehan si kecil mengalun setuju, dia maju untuk merapikan pakaian kekasihnya yang berantakan itu.</p>

<p><strong>“Aku takut, kak.”</strong></p>

<p>Mereka yang terikat, mereka yang pernah menari di bawah semesta. Mereka yang memimpikan <em>selamanya</em>.</p>

<p>“Semua orang boleh ninggalin aku, asalkan itu bukan kamu. Dunia boleh ngehakimin aku, asalkan ada kamu di samping aku, tapi aku juga takut kalau nantinya aku nyakitin kamu.”</p>

<p>Peta untuk kembali sudah hilang, jembatan itu sudah putus. Ombak datang tanpa dicegah, membalut luka dengan garam.</p>

<p>“Aku ingin hidup dengan kenangan baik kita kak. Bahkan kalau ada kesempatan untuk mengulang semuanya dari awal, meski akhirnya tetap seperti ini.” kembali dia kecup bibir itu ,”<strong>Aku tetap pilih kamu</strong>.”</p>

<p>Sebab yang patah tidak akan menjadi sama. Meski bersimpuh hingga cacat di hadapan semesta, meski berteriak tidak terima, jika masanya sudah <em>selesai</em>, perpisahan adalah jawaban dari merelakan.</p>

<p>Ini bukan akhir yang Jeongin inginkan. <em>Ia pulang bukan untuk pergi</em>, ia ingin menetap, ingin selamanya di sana. Namun mungkin cerita ini bukan milik mereka lagi.</p>

<p>“Boleh aku peluk kakak?”</p>

<p>Dan Hyunjin segera menarik Jeongin dalam dekapannya yang erat. Ia menangis di sana, menumpahkan seluruh penyesalannya yang sia-sia. Sedangkan Jeongin menghirup sisa-sisa kehangatan itu dalam diam. Karena sehabis ini, jika pelukan ini terlepas dan dia mundur menjauh, <em>mereka akan kembali menjadi dua orang asing.</em></p>

<p><strong>“Kalau ada kehidupan kedua, dan kamu ketemu aku lagi, tolong usahain aku lagi ya kak. Walaupun di saat itu aku ga percaya cinta, tolong buat aku percaya sama cinta kamu.”</strong></p>

<p>“Jangan...” Hyunjin kembali merapatkan tubuhnya saat Jeongin ingin melepas pelukan mereka. Dia kecup pucuk kepala Jeongin dan terisak habis.</p>

<p>“Jangan pergi...” dia berbisik pelan.</p>

<p>Memang benar semesta menghendaki pertemuan untuk perpisahan. Tapi jika tau akan sesingkat ini, mungkin Jeongin akan memilih untuk tidak pernah memijaki tempat ini. <em>Tempat mereka berawal, bertaut, dan berpisah.</em></p>

<p>Jeongin melepas pelukan itu perlahan. Kali ini benar-benar dilepas—bukan untuk diuji, bukan untuk ditunggu balik. Tapi untuk disudahi.</p>

<p>Dia melangkah mundur, membiarkan benang merah itu mencekik lehernya hingga seluruh kelopak matanya berkunang-kunang.</p>

<p>“Kakak, jangan sakit lagi.”</p>

<p>Cincin di jemarinya Jeongin lepas, bersamaan itu rintik hujan kembali datang. Simbol nama Hyunjin yang terukir di dalamnya dia kembalikan pada sang tuan.</p>

<p><em>“Di kesempatan mana pun, aku harap dunia ga pernah bawa kita ketemu lagi, kak.”</em></p>

<p>Deru mesin yang berlalu. Hidup mereka bergerak maju, menuju malam, menuju masa depan. Tapi tidak bagi dua insan yang pernah menjadi kita. Baginya, malam itu adalah keabadian—ruang hampa di mana kenangan terus berulang, menolak pudar, menolak dilupakan.</p>

<p><em>“Maaf.”</em></p>

<p>Jeongin berbalik, melepaskan semua yang dia punya. <em>Perasaannya, dunianya, Hyunjinnya.</em> Maka sebelum gemuruh menjemput dan mereka terberai habis, Jeongin memilih berhenti. Tujuan abadi itu tidak akan pernah dia jemput, sebab perjalanan harus dihentikan di tengah laju.</p>

<p>Jeongin memilih terjatuh tanpa membasuh setiap kusut. Dia memilih tenggelam hingga dinginnya lautan membuatnya mati rasa. Dia tidak berharap diselamatkan, karena <strong>dunia Jeongin—sudah berhenti selamanya.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bhluewry.writeas.com/lengkara-selesai</guid>
      <pubDate>Tue, 16 Sep 2025 17:13:18 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>LENGKARA : X</title>
      <link>https://bhluewry.writeas.com/lengkara-x-dms1?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;Kesunyian membentang tanpa batas. Lampu yang padam, benda yang terselimut debu seakan sudah usai, dan rumput menjalar enggan sebatas singgah, seakan tahu; tak ada lagi yang akan datang, tak ada lagi yang akan pulang.&#xA;&#xA;Sekarang —dan seterusnya, semua akan tetap pada tempatnya. Tidak lagi menyimpan memori, hingga perlahan mereka akan kehilangan fungsi lalu mati. &#xA;&#xA;Mungkin ini akhir dari kompas yang tak lagi mampu menunjukkan arah. Atau kita yang terlampau patah hingga nyaris buta? Berulang kali mengerjapkan mata, dan dunia tidak lagi berwarna. &#xA;&#xA;kita yang tersesat,&#xA;kita yang tenggelam,&#xA;kita yang terkikis jarak.&#xA;&#xA;—dan, masih adakah kita?&#xA;&#xA;Sebab, kesendirian ini melahap Jeongin hingga tak ada lagi rasa asing. Berkali-kali tempurung kecilnya berbisik bahwa ia sudah kembali, tapi sekali lagi, ruang ini telah mati.&#xA;&#xA;Benar, Jeongin sudah mati. &#xA;&#xA;Di atas bangunan tempat semuanya bermula dan berakhir, tempat jiwa yang menemukan tenangnya, tempat hati menemukan peluknya. Atapnya masih utuh, temboknya tegak —namun lantainya tak lagi menyimpan jejak langkah pulang, bahkan sisa-sisa gema sudah lupa bagaimana bentuknya.&#xA;&#xA;Mungkin rumah ini sedang bertanya-tanya, kenapa tawa yang selalu mengisi sudut ruang perlahan surut dalam hening yang panjang? Yang untaian masa depan pernah mereka rajut dalam binar dan harapan. Yang hadirnya selalu menjadi tempat untuk pulih, tempat dikenali tanpa harus menjelaskan diri.&#xA;&#xA;Jeongin masih ingat dia pernah dicintai sebegitu hebatnya. Semua yang dia semogakan terasa nyata. Dalam dekapnya dunia serasa reda. Senyumnya selalu bermekaran, dan bahagianya menjadi alasan utama. Mereka bertaut dalam cinta yang bukan main rasanya, jauh dari kata sederhana, lantas lekat dengan dalam yang luar biasa. Tanpa banyak syarat—tanpa banyak kata. &#xA;&#xA;Benar, mereka pernah saling jatuh cinta.&#xA;&#xA;&#34;Kakak, ih!&#34; dia berseru kala kecupan manis menyelimuti wajahnya dengan lembut. Suara rintik hujan membingkai tawanya karena geli.&#xA;&#xA;&#34;Sayangnya Hyunjin... cintanya Hyunjin... kekasihnya Hyunjin.&#34; kalimat itu diucapkan bak mantra yang hangatnya mengalahkan mentari pagi. Begitu halus—begitu manis.&#xA;&#xA;&#34;Gimana ya hidup kakak kalo ga ada kamu?&#34;&#xA;&#xA;Tubuhnya semakin merapat pada yang lebih besar. Membiarkan seluruh badannya tenggelam dalam dekapan yang enggan untuk terlepas, dan sesekali kecupan masih menghinggapi pucuk kepalanya.&#xA;&#xA;&#34;Drama banget ih kakak! sana-sana, aku masih ngantuk.&#34;&#xA;&#xA;Hyunjin terkekeh ringan, &#34;Kakak serius tau.&#34;&#xA;&#xA;Kali ini mata mereka bertemu, mata rubahnya memicing main-main, mencari letak bercanda dalam kalimat tunangannya yang dibalas senyuman kecil darinya. Dan saat suaranya yang pelan dan hangat mengetuk indra pendengaran Jeongin sekali lagi, detak jantungnya dibuat semakin tidak karuan.&#xA;&#xA;&#34;Kakak suka setiap bangun lihat kamu ada di samping kakak. Rasanya tenang, kayak dunia lagi berhenti buat ngasih kakak waktu nikmatin rubah cantik ini.&#34; satu kecupan mendarat di sudut bibir Jeongin yang tanpa sadar tengah tersenyum manis.&#xA;&#xA;&#34;Kamu udah jadi bagian yang paling penting dalam hidup kakak. Mau dimana pun nanti kita, selagi kakak bangun dan ngeliat kamu di sini, di samping kakak, itu udah cukup buat kakak ngerasa lagi ada di rumah.&#34;&#xA;&#xA;Bersamaan dengan sorak sorai angin yang mulai menggila, Jeongin meraih tangan Hyunjin untuk dia genggam seakan dia lah pemilik dunia. Sebab bagi Jeongin, Hyunjin adalah denyut dalam setiap detak, napas dalam setiap hela, dan damai kala semesta berteriak.&#xA;&#xA;&#34;Emang menurut kakak, aku bisa hidup tanpa kakak?&#34;&#xA;&#xA;Itu yang Jeongin ucapkan, begitu lantang dan bersungguh-sungguh. Kalimat sederhana yang dibungkus dengan gemuruh yang semakin menggelap. Jeongin masih ingat betapa lebar senyuman dan hangatnya pelukan Hyunjin saat itu.&#xA;&#xA;Begitu yakinnya mereka akan selamanya.&#xA;Begitu yakinnya Jeongin bahwa tanpanya, Hyunjin akan hilang arah.&#xA;&#xA;Tapi hari ini semesta menertawakan mereka. &#xA;&#xA;Dari dua insan yang pernah bertaut dalam kata kita—akhirnya berjalan ke arah yang berbeda.&#xA;&#xA;Mata tajam yang teduh itu tak lagi menyimpan sosoknya secara utuh. Hangatnya memudar, mungkin juga rasanya. Ia tidak pergi, tapi juga tidak tinggal. Hadirnya selalu menyisahkan kebingungan, hingga sorot mata itu pun kehilangan bahasa.&#xA;&#xA;Lantas, mati rasa.&#xA;&#xA;Jeongin menarik napasnya begitu dalam. Mengisi seluruh paruh-paruhnya dengan ribuan jarum udara yang meremukkan tubuhnya tanpa sisa. Dengan langkah gontai, ia berjalan mengitari seluruh ruangan, menatapnya dengan sangat lamat, seolah mengucapkan selamat tinggal tanpa suara. &#xA;&#xA;Jeongin yakin jika dering ponsel tidak tiba-tiba hadir, dia mungkin akan kembali tenggelam pada kenangan. Sebuah pesan singkat yang menarik dirinya pada kenyataan.&#xA;&#xA;  Pacar aku.&#xA;  Kakak udah di sini, kamu di mana?&#xA;&#xA;Dan pintu itu tertutup, Jeongin tidak lagi menoleh ke belakang, tidak pula menggenggam kemungkinan untuk membukanya. &#xA;&#xA;Mereka selesai.&#xA;&#xA;Benar-benar selesai.&#xA;&#xA;Mungkin Hyunjin tidak membencinya. Mungkin. &#xA;&#xA;Mungkin Hyunjin terlalu sibuk berjalan; terlalu cepat, terlalu fokus pada tujuan—hingga lupa memastikan apakah Jeongin masih ada di sana, masih ikut dalam langkah yang sama.&#xA;&#xA;Bukan karena Jeongin yang tersesat, tapi karena Hyunjin yang tak pernah benar-benar menggenggam erat.&#xA;&#xA;Hingga akhirnya, Hyunjin berhasil melihat dunia, namun tanpa Jeongin di dalamnya.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>Kesunyian membentang tanpa batas. Lampu yang padam, benda yang terselimut debu seakan sudah usai, dan rumput menjalar enggan sebatas singgah, seakan tahu; <strong>tak ada lagi yang akan datang, tak ada lagi yang akan pulang.</strong></p>

<p>Sekarang —dan seterusnya, semua akan tetap pada tempatnya. Tidak lagi menyimpan memori, hingga perlahan mereka akan kehilangan fungsi lalu mati.</p>

<p>Mungkin ini akhir dari kompas yang tak lagi mampu menunjukkan arah. Atau <em>kita</em> yang terlampau patah hingga nyaris buta? Berulang kali mengerjapkan mata, dan dunia tidak lagi berwarna.</p>

<p><em>kita yang tersesat,</em>
<em>kita yang tenggelam,</em>
<em>kita yang terkikis jarak.</em></p>

<p>—dan, masih adakah <strong>kita?</strong></p>

<p>Sebab, <em>kesendirian</em> ini melahap Jeongin hingga tak ada lagi rasa asing. Berkali-kali tempurung kecilnya berbisik bahwa ia sudah kembali, tapi sekali lagi, <em>ruang ini telah mati</em>.</p>

<p>Benar, <em>Jeongin sudah mati</em>.</p>

<p>Di atas bangunan tempat semuanya bermula dan berakhir, tempat jiwa yang menemukan tenangnya, tempat hati menemukan peluknya. Atapnya masih utuh, temboknya tegak —namun lantainya tak lagi menyimpan jejak langkah pulang, bahkan sisa-sisa gema sudah lupa bagaimana bentuknya.</p>

<p>Mungkin <em>rumah</em> ini sedang bertanya-tanya, kenapa tawa yang selalu mengisi sudut ruang perlahan surut dalam hening yang panjang? Yang untaian masa depan pernah mereka rajut dalam binar dan harapan. Yang hadirnya selalu menjadi tempat untuk pulih, tempat dikenali tanpa harus menjelaskan diri.</p>

<p><em>Jeongin masih ingat dia pernah dicintai sebegitu hebatnya.</em> Semua yang dia semogakan terasa nyata. Dalam dekapnya dunia serasa reda. Senyumnya selalu bermekaran, dan bahagianya menjadi alasan utama. Mereka bertaut dalam cinta yang bukan main rasanya, jauh dari kata sederhana, lantas lekat dengan dalam yang luar biasa. Tanpa banyak syarat—tanpa banyak kata.</p>

<p>Benar, <strong>mereka pernah saling jatuh cinta.</strong></p>

<p><em>“Kakak, ih!” dia berseru kala kecupan manis menyelimuti wajahnya dengan lembut. Suara rintik hujan membingkai tawanya karena geli.</em></p>

<p><em>“Sayangnya Hyunjin... cintanya Hyunjin... kekasihnya Hyunjin.” kalimat itu diucapkan bak mantra yang hangatnya mengalahkan mentari pagi. Begitu halus—begitu manis.</em></p>

<p><em>“Gimana ya hidup kakak kalo ga ada kamu?”</em></p>

<p><em>Tubuhnya semakin merapat pada yang lebih besar. Membiarkan seluruh badannya tenggelam dalam dekapan yang enggan untuk terlepas, dan sesekali kecupan masih menghinggapi pucuk kepalanya.</em></p>

<p><em>“Drama banget ih kakak! sana-sana, aku masih ngantuk.”</em></p>

<p><em>Hyunjin terkekeh ringan, “Kakak serius tau.”</em></p>

<p><em>Kali ini mata mereka bertemu, mata rubahnya memicing main-main, mencari letak bercanda dalam kalimat tunangannya yang dibalas senyuman kecil darinya. Dan saat suaranya yang pelan dan hangat mengetuk indra pendengaran Jeongin sekali lagi, detak jantungnya dibuat semakin tidak karuan.</em></p>

<p><em>“Kakak suka setiap bangun lihat kamu ada di samping kakak. Rasanya tenang, kayak dunia lagi berhenti buat ngasih kakak waktu nikmatin rubah cantik ini.” satu kecupan mendarat di sudut bibir Jeongin yang tanpa sadar tengah tersenyum manis.</em></p>

<p><em>“Kamu udah jadi bagian yang paling penting dalam hidup kakak. Mau dimana pun nanti kita, selagi kakak bangun dan ngeliat kamu di sini, di samping kakak, itu udah cukup buat kakak ngerasa lagi ada di rumah.”</em></p>

<p><em>Bersamaan dengan sorak sorai angin yang mulai menggila, Jeongin meraih tangan Hyunjin untuk dia genggam seakan dia lah pemilik dunia. Sebab bagi Jeongin, Hyunjin adalah denyut dalam setiap detak, napas dalam setiap hela, dan damai kala semesta berteriak.</em></p>

<p><em>“Emang menurut kakak, aku bisa hidup tanpa kakak?”</em></p>

<p>Itu yang Jeongin ucapkan, begitu lantang dan bersungguh-sungguh. Kalimat sederhana yang dibungkus dengan gemuruh yang semakin menggelap. Jeongin masih ingat betapa lebar senyuman dan hangatnya pelukan Hyunjin saat itu.</p>

<p><strong>Begitu yakinnya mereka akan selamanya.</strong>
<strong>Begitu yakinnya Jeongin bahwa tanpanya, Hyunjin akan hilang arah.</strong></p>

<p>Tapi hari ini semesta menertawakan mereka.</p>

<p>Dari <em>dua insan</em> yang pernah bertaut dalam kata <strong>kita</strong>—<em>akhirnya berjalan ke arah yang berbeda.</em></p>

<p><em>Mata tajam yang teduh itu tak lagi menyimpan sosoknya secara utuh.</em> Hangatnya memudar, mungkin juga rasanya. <em>Ia tidak pergi, tapi juga tidak tinggal</em>. Hadirnya selalu menyisahkan kebingungan, hingga sorot mata itu pun kehilangan bahasa.</p>

<p><strong>Lantas, mati rasa.</strong></p>

<p>Jeongin menarik napasnya begitu dalam. Mengisi seluruh paruh-paruhnya dengan ribuan jarum udara yang meremukkan tubuhnya tanpa sisa. Dengan langkah gontai, ia berjalan mengitari seluruh ruangan, menatapnya dengan sangat lamat, seolah mengucapkan selamat tinggal tanpa suara.</p>

<p>Jeongin yakin jika dering ponsel tidak tiba-tiba hadir, dia mungkin akan kembali tenggelam pada kenangan. Sebuah pesan singkat yang menarik dirinya pada kenyataan.</p>

<blockquote><p><em>Pacar aku.</em>
<em>Kakak udah di sini, kamu di mana?</em></p></blockquote>

<p>Dan pintu itu tertutup, Jeongin tidak lagi menoleh ke belakang, tidak pula menggenggam kemungkinan untuk membukanya.</p>

<p><strong>Mereka selesai.</strong></p>

<p>Benar-benar selesai.</p>

<p>Mungkin Hyunjin tidak membencinya. Mungkin.</p>

<p><em>Mungkin Hyunjin terlalu sibuk berjalan</em>; terlalu cepat, terlalu fokus pada tujuan—hingga lupa memastikan apakah Jeongin masih ada di sana, masih ikut dalam langkah yang sama.</p>

<p>Bukan karena Jeongin yang tersesat, <em>tapi karena Hyunjin yang tak pernah benar-benar menggenggam erat.</em></p>

<p>Hingga akhirnya, Hyunjin berhasil melihat dunia, <strong>namun tanpa Jeongin di dalamnya.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bhluewry.writeas.com/lengkara-x-dms1</guid>
      <pubDate>Fri, 24 Jan 2025 16:11:08 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Lengkara : IX</title>
      <link>https://bhluewry.writeas.com/lengkara-ix-bwdj?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Lantas aku ambil langkah ini, yang terlampau kaku; terlampau sakit; terlampau pedih. &#xA;&#xA;  sebab, Hyunjin, akan jadi apa ya kita esok hari?&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Aroma besi dingin bercampur dengan sapuan lembut angin malam membawa Jeongin untuk hidup sekali lagi. Sorot matanya yang sayu dia lontarkan pada langit, ah benar kata Heeseung, malam ini bintangnya sangat ramai, sampai-sampai matanya yang kecil tidak dapat menampung semuanya —yang begitu indah; begitu memukau; begitu pekat.&#xA;&#xA;  kita dulu seperti ini kan, Hyunjin?&#xA;&#xA;Kemudian mata kecilnya terpejam, ingatannya mulai berhamburan selaras senyuman kecil yang dia paksakan. Seolah menyambut hangat kehadirannya, berbisik dalam hati, kita sudah terlalu lama mengurung diri, bukan? yang memendam demi menjaga hubungan, lalu terkoyak karena masanya sudah selesai.&#xA;&#xA;Diam-diam Jeongin merajut kembali ingatannya yang berantakan, pada titik pertemuan yang pernah membuat rahangnya pegal karna senyuman. Benang merah itu hadir tanpa sengaja, kala pasang mata bertemu dan Jeongin yang terpaku. Itu malam tahun baru, Jeongin datang bersama ayahnya di pesta kolega perusahaan, dan di sudut ruangan yang membosankan, mata kecilnya terjatuh pada seorang pria yang berdiri di tengah kerumunan.&#xA;&#xA;Dia begitu mencolok, wajahnya terpahat elok dengan senyuman semanis suar di tengah lautan. Rambutnya tertata bebas, berkilau samar tertimpa cahaya lampu gantung. Ada ketenangan saat dia tertawa lebar, seakan malam ini adalah dunianya yang sesungguhnya.&#xA;&#xA;Jeongin tidak tahu sudah berapa menit dia memandangi pria itu sampai-sampai es batu dalam minumannya mulai mencair. Sejenak dia bertanya-tanya, apa yang membuat dia begitu tertarik pada pria itu? mungkin caranya tersenyum kecil saat berbincang dengan temannya, atau mungkin bagaimana mata pria itu juga terjatuh padanya setelah merasa ditatapi sedari tadi—yang begitu berkilau; begitu memukau; begitu tulus. &#xA;&#xA;Meski hanya sedetik—karena Jeongin langsung bangkit untuk mengasingkan diri di salah satu sisi balkon—tapi cukup untuk membuat jantung Jeongin berdebar lebih cepat. Ada perasaan gila yang muncul di dadanya, perasaan aneh yang begitu sulit untuk Jeongin jabarkan dengan kata-kata. Apa ya namanya—tertarik mungkin.&#xA;&#xA;Alunan musik klasik yang memenuhi sudut ruangan berhenti secara tiba-tiba. Kerumunan orang-orang berhamburan untuk keluar. Mereka bersorai atas udara malam yang terasa menusuk ke tulang. Diam-diam matanya sibuk mencari pria tadi, namun nihil, mungkin saja pria itu sudah dilahap huru-hara di bawah sana.&#xA;&#xA;Lampu mulai padam, kembang api mulai dirayakan. Jeongin melirik arlojinya, satu menit lagi untuk mengganti hari. Lantas dia menarik akal sehatnya kembali, lalu tersenyum sembari bersiap menyambut tahun baru seorang diri.&#xA;&#xA;&#34;Aku juga punya lesung pipi,&#34; atau mungkin saja tidak lagi.&#xA;&#xA;Mata Jeongin membulat, dia terpaku dengan gugup saat pria yang dia cari berjalan mendekat ke arahnya.&#xA;&#xA;&#34;Liat.&#34; dia menunjuk bolongan di kedua pipinya, &#34;—tapi ga semanis punya kamu.&#34; dan senyuman manis terpahat di wajahnya terlampau yakin.&#xA;&#xA;Detik itu, dunia seakan melambat. Keramaian di sekitar mereka seolah menghilang. Jeongin terdiam dengan kepalanya yang menjadi kosong.&#xA;&#xA;&#34;Kamu ngapain di sini sendirian?&#34; dia bertanya sembari mengikis jarak di sebelah Jeongin. Dari jarak sedekat ini, Jeongin bisa melihat bahwa pria itu lebih tinggi darinya. Pun lebih tampan dan lebih menarik.&#xA;&#xA;Saat Jeongin sedang tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba satu cubitan main-main dia rasakan di pipi kanannya. Sontak kening Jeongin mengerut dengan ekspresi kaget tanpa ragu.&#xA;&#xA;Pria yang bisa Jeongin simpulkan lebih tua berapa tahun darinya itu terkekeh kecil, &#34;Lucu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Siapa?&#34; kalimat ini keluar begitu saja dari bibir Jeongin. Mengundang pria itu untuk terkekeh lebih lebar.&#xA;&#xA;&#34;Kamu.&#34; dia menjawab dengan seluruh bola matanya penuh dengan siluet Jeongin, bentuk sosok yang paling manis tergambar jelas dengan arti kalau ucapannya ini bukan kebohongan.&#xA;&#xA;Satu kata itu terus terngiang di kepala Jeongin hingga bulan tertutup kembang api yang berpendar-pendar. Tatapan matanya yang lembut mengingatkan Jeongin pada mentari di minggu pagi. Juga teduh wajahnya sungguh berhasil mengobrak-abrik hatinya yang sempit.&#xA;&#xA;Perayaan malam tahun baru seakan masuk ke dalam tubuhnya yang terasa ringan. Pesta membosankan ini sekejap menjadi sangat menarik. Jadi seperti ini orang-orang merayakan bentuk pesta yang sebenarnya. Sebab barangkali memang benar—kalau ini bukan sekedar rasa penasaran dalam diam.&#xA;&#xA;&#34;Hei anak kecil yang punya lesung pipi manis, aku ke sana sebentar ya.&#34; tanpa ragu tangan besarnya mengusap pucuk kepala Jeongin. &#xA;&#xA;&#34;Kamu jangan kemana-mana, aku masih mau kenal kamu lebih banyak, boleh kan?&#34;&#xA;&#xA;Lantas Jeongin bersumpah, pada siapapun yang mendengar suara hati ini, tolong buat dia berakhir dengan pria ini.&#xA;&#xA;Tidak untuk di lain hari. Apalagi di lain bumi.&#xA;&#xA;Jeongin ingin dia dalam cerita ini. Yang bisa dia temui di bagian kecil ingatannya. Di sini. Mereka yang bersama.&#xA;&#xA;Untuk selamanya.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Sapuan lembut pada pipinya yang basah membawa Jeongin terbangun pada episode yang ingin dia ulang. Tidak ada kembang api yang mememuhi cakrawala. Tidak ada kerumunan orang-orang yang berpesta. Tidak ada pria yang juga ingin mengenalnya.&#xA;&#xA;Lalu Jeongin terkekeh kecil, ternyata mimpi buruk ini memang terjadi. Dia tidak lagi tertidur yang nantinya terbangun dengan kekasihnya berada di sebelahnya. Dalam bentuk yang paling sederhana sekali pun, tentangnya tidak lagi bisa Jeongin temukan.&#xA;&#xA;Atau mungkin harapannya 4 tahun lalu terlampau serakah? tapi dalam bait yang Jeongin ingat, itu tidak lagi menjadi harapannya seorang. Perjalanan mereka sudah panjang, sudut-sudut kota sudah mereka rajut bersama.&#xA;&#xA;Lantas kenapa sekarang Jeongin kebingungan mencari arah untuk pulang?&#xA;&#xA;&#34;Mata ini cantik, sayang lagi ketutup sama air-air jelek ini.&#34; Heeseung berucap sembari menghapus jejak-jejak air mata Jeongin. &#xA;&#xA;&#34;Bibir ini juga cantik, apalagi kalau senyum karena tau dirinya itu layak untuk hal-hal yang baik.&#34; dua jari Heeseung menarik sudut bibir Jeongin untuk terangkat membentuk senyuman hingga Jeongin tertawa kecil karena ulahnya.&#xA;&#xA;&#34;Maaf ya.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Buat?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gua bawa lo ke sini buat ngeliat bintang dengan harapan lo bakal suka, eh tau nya gue malah bikin lo nangis.&#34; &#xA;&#xA;Jeongin sontak menggeleng, dia bawa tatapannya ke langit sebelum kembali menatap Heeseung yang juga menatapnya. &#xA;&#xA;&#34;Jangan minta maaf, ini bukan salah lo.&#34; ini ucapan Jeongin yang paling jujur di seminggu belakang, sebab masalahnya adalah dirinya sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Jeongin.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Hm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue mau liat lo menang.&#34; belum sempat Jeongin bertanya, Heeseung sudah lebih dulu melanjutkan ucapannya sembari merapikan rambut-rambut yang berantakan. &#34;Gue mau liat versi lo yang ceria, yang bibir ini senyum sampe lesung pipinya keliatan, yang ngerayain setiap perasaan lo tanpa takut buat kehilangan, yang loncat kegirangan sama hal-hal yang bikin lo bahagia—gue mau liat lo menang dari perang batin lo sekarang ini.&#34;&#xA;&#xA;Heeseung tersenyum lembut. &#34;Jangan peluk lukanya lama-lama ya, anak manis.&#34;&#xA;&#xA;Dan dalam kalimat sederhana itu, dunia Jeongin runtuh, seruntuh-runtuhnya. Tubuhnya bergetar hebat, hatinya seolah tercabik dengan segala pertanyan kenapa? kenapa harus seperti ini? kenapa orang yang dia percaya malah ingin dia lupain?&#xA;&#xA;&#34;Sakit...&#34; sekali lagi Jeongin merintih. Terisak hebat dalam kenyataan perjalanan ini tidak lagi menemukan titik temu. Heeseung di sebelahnya merengkuh Jeongin dengan sangat hati-hati. Membiarkan pria yang lebih kecil itu meraung keras sampai nanti dia tidak merasakan apapun lagi. &#xA;&#xA;&#34;Gue bodoh, Heeseung.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hei, ga boleh ngomong gitu.&#34;&#xA;&#xA;Jeongin mengusap wajahnya yang berantakan, &#34;Gue pikir selama ini kita saling jatuh cinta, tapi ternyata cuma gue yang jatuh cinta.&#34;&#xA;&#xA;Ini asumsi yang paling masuk akal dalam otak Jeongin. Jika memorinya ditarik ke belakang, rasanya seperti penuh dengan pura-pura. Cincin yang menghias di jari manisnya seolah hanya simbol tanpa arti, seonggok barang yang mungkin dia pikir, mau bagaimana pun dia akan tetap selalu diterima sama Jeongin.&#xA;&#xA;Hingga dia lupa, bahwa pria yang dia sebut kekasihnya ini punya hati. Punya perasaan. Punya nyawa.&#xA;&#xA;&#34;Kadang gue bingung, sebenernya gue ini kenapa? apa yang gue tunggu di sini? dokter bilang gue udah ga sakit, tapi kenapa gue selalu ngerasa besok gue bisa aja mati?&#34;&#xA;&#xA;Mata gelap Jeongin menatap Heeseung, &#34;Jangan jatuh cinta sama gue ya, Heeseung, gue udah ga percaya lagi sama cinta dan sejenisnya.&#34; sebab Jeongin sudah padam. &#xA;&#xA;Dia bernyawa, tapi sudah mati.&#xA;&#xA;&#34;Manusia itu ga ada kapasitas untuk tau dimana hati kita bakal jatuh, Je. Lo ga perlu khawatir, biar perasaan gue ini, gue yang urus.&#34;&#xA;&#xA;Tangan besar Heeseung menangkup wajah Jeongin dengan sangat yakin, &#34;Udah gue bilang, gue mau liat lo menang. Gue mau jadi salah satu bagian orang yang bisa gantiin rasa sakit, sedih, dan kecewa lo dengan perasaan tenang, lapang, dan bahagia.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dunia ini terlalu besar untuk kita yang kecil, anak manis.&#34;&#xA;&#xA;Sebab, jika Jeongin penuh dengan kemungkinan yang tak berujung, Heeseung juga sama. &#xA;&#xA;Seandainya saja langkah kakinya lebih cepat untuk menemui Jeongin di sudut balkon empat tahun yang lalu, mungkin saja ceritanya tidak seperti ini kan?&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Lantas aku ambil langkah ini, yang terlampau kaku; terlampau sakit; terlampau pedih.</p>

<p><em>sebab, Hyunjin, akan jadi apa ya kita esok hari?</em></p></blockquote>

<hr/>

<p>Aroma besi dingin bercampur dengan sapuan lembut angin malam membawa <em>Jeongin untuk hidup sekali lagi</em>. Sorot matanya yang sayu dia lontarkan pada langit, ah benar kata Heeseung, malam ini bintangnya sangat ramai, sampai-sampai matanya yang kecil tidak dapat menampung semuanya —<strong>yang begitu indah; begitu memukau; begitu pekat.</strong></p>

<blockquote><p>kita dulu seperti ini kan, Hyunjin?</p></blockquote>

<p>Kemudian mata kecilnya terpejam, ingatannya mulai berhamburan selaras senyuman kecil yang dia paksakan. Seolah menyambut hangat kehadirannya, berbisik dalam hati, <em>kita sudah terlalu lama mengurung diri, bukan?</em> yang memendam demi menjaga hubungan, lalu terkoyak karena <em>masanya sudah selesai</em>.</p>

<p>Diam-diam Jeongin merajut kembali ingatannya yang berantakan, pada titik pertemuan yang pernah membuat rahangnya pegal karna senyuman. Benang merah itu hadir tanpa sengaja, kala pasang mata bertemu dan Jeongin yang terpaku. <em>Itu malam tahun baru</em>, Jeongin datang bersama ayahnya di pesta kolega perusahaan, dan di sudut ruangan yang membosankan, mata kecilnya terjatuh pada seorang pria yang berdiri di tengah kerumunan.</p>

<p>Dia begitu mencolok, wajahnya terpahat elok dengan senyuman semanis suar di tengah lautan. Rambutnya tertata bebas, berkilau samar tertimpa cahaya lampu gantung. Ada ketenangan saat dia tertawa lebar, seakan malam ini adalah dunianya yang sesungguhnya.</p>

<p>Jeongin tidak tahu sudah berapa menit dia memandangi pria itu sampai-sampai es batu dalam minumannya mulai mencair. Sejenak dia bertanya-tanya, apa yang membuat dia begitu tertarik pada pria itu? mungkin caranya tersenyum kecil saat berbincang dengan temannya, atau mungkin bagaimana mata pria itu juga terjatuh padanya setelah merasa ditatapi sedari tadi—yang begitu berkilau; begitu memukau; begitu tulus.</p>

<p>Meski hanya sedetik—karena Jeongin langsung bangkit untuk mengasingkan diri di salah satu sisi balkon—tapi cukup untuk membuat jantung Jeongin berdebar lebih cepat. Ada perasaan gila yang muncul di dadanya, perasaan aneh yang begitu sulit untuk Jeongin jabarkan dengan kata-kata. Apa ya namanya—<em>tertarik mungkin</em>.</p>

<p>Alunan musik klasik yang memenuhi sudut ruangan berhenti secara tiba-tiba. Kerumunan orang-orang berhamburan untuk keluar. Mereka bersorai atas udara malam yang terasa menusuk ke tulang. Diam-diam matanya sibuk mencari pria tadi, namun nihil, mungkin saja pria itu sudah dilahap huru-hara di bawah sana.</p>

<p>Lampu mulai padam, kembang api mulai dirayakan. Jeongin melirik arlojinya, satu menit lagi untuk mengganti hari. Lantas dia menarik akal sehatnya kembali, lalu tersenyum sembari bersiap menyambut tahun baru seorang diri.</p>

<p><em>“Aku juga punya lesung pipi,”</em> atau mungkin saja tidak lagi.</p>

<p>Mata Jeongin membulat, dia terpaku dengan gugup saat pria yang dia cari berjalan mendekat ke arahnya.</p>

<p><em>“Liat.”</em> dia menunjuk bolongan di kedua pipinya, <em>“—tapi ga semanis punya kamu.”</em> dan senyuman manis terpahat di wajahnya terlampau yakin.</p>

<p>Detik itu, dunia seakan melambat. Keramaian di sekitar mereka seolah menghilang. Jeongin terdiam dengan kepalanya yang menjadi kosong.</p>

<p>“Kamu ngapain di sini sendirian?” dia bertanya sembari mengikis jarak di sebelah Jeongin. Dari jarak sedekat ini, Jeongin bisa melihat bahwa pria itu lebih tinggi darinya. Pun lebih tampan dan lebih menarik.</p>

<p>Saat Jeongin sedang tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba satu cubitan main-main dia rasakan di pipi kanannya. Sontak kening Jeongin mengerut dengan ekspresi kaget tanpa ragu.</p>

<p>Pria yang bisa Jeongin simpulkan lebih tua berapa tahun darinya itu terkekeh kecil, “Lucu.”</p>

<p>“Siapa?” kalimat ini keluar begitu saja dari bibir Jeongin. Mengundang pria itu untuk terkekeh lebih lebar.</p>

<p><strong>“Kamu.”</strong> dia menjawab dengan seluruh bola matanya penuh dengan siluet Jeongin, bentuk sosok yang paling manis tergambar jelas dengan arti kalau ucapannya ini bukan kebohongan.</p>

<p>Satu kata itu terus terngiang di kepala Jeongin hingga bulan tertutup kembang api yang berpendar-pendar. Tatapan matanya yang lembut mengingatkan Jeongin pada mentari di minggu pagi. Juga teduh wajahnya sungguh berhasil mengobrak-abrik hatinya yang sempit.</p>

<p>Perayaan malam tahun baru seakan masuk ke dalam tubuhnya yang terasa ringan. Pesta membosankan ini sekejap menjadi sangat menarik. <em>Jadi seperti ini orang-orang merayakan bentuk pesta yang sebenarnya.</em> Sebab barangkali memang benar—kalau ini bukan sekedar rasa penasaran dalam diam.</p>

<p><em>“Hei anak kecil yang punya lesung pipi manis, aku ke sana sebentar ya.”</em> tanpa ragu tangan besarnya mengusap pucuk kepala Jeongin.</p>

<p><em>“Kamu jangan kemana-mana, aku masih mau kenal kamu lebih banyak, boleh kan?”</em></p>

<p>Lantas Jeongin bersumpah, pada siapapun yang mendengar suara hati ini, <strong>tolong buat dia berakhir dengan pria ini.</strong></p>

<p><em>Tidak untuk di lain hari. Apalagi di lain bumi.</em></p>

<p>Jeongin ingin dia dalam cerita ini. Yang bisa dia temui di bagian kecil ingatannya. <em>Di sini. Mereka yang bersama.</em></p>

<p><strong>Untuk selamanya.</strong></p>

<hr/>

<p>Sapuan lembut pada pipinya yang basah membawa Jeongin terbangun pada episode yang ingin dia ulang. Tidak ada kembang api yang mememuhi cakrawala. Tidak ada kerumunan orang-orang yang berpesta. <em>Tidak ada pria yang juga ingin mengenalnya.</em></p>

<p>Lalu Jeongin terkekeh kecil, ternyata mimpi buruk ini memang terjadi. Dia tidak lagi tertidur yang nantinya terbangun dengan kekasihnya berada di sebelahnya. Dalam bentuk yang paling sederhana sekali pun, <em>tentangnya</em> tidak lagi bisa Jeongin temukan.</p>

<p>Atau mungkin harapannya 4 tahun lalu terlampau serakah? tapi dalam bait yang Jeongin ingat, itu tidak lagi menjadi harapannya seorang. Perjalanan mereka sudah panjang, sudut-sudut kota sudah mereka rajut bersama.</p>

<p><em>Lantas kenapa sekarang Jeongin kebingungan mencari arah untuk pulang?</em></p>

<p>“Mata ini cantik, sayang lagi ketutup sama air-air jelek ini.” Heeseung berucap sembari menghapus jejak-jejak air mata Jeongin.</p>

<p>“Bibir ini juga cantik, apalagi kalau senyum karena tau dirinya itu layak untuk hal-hal yang baik.” dua jari Heeseung menarik sudut bibir Jeongin untuk terangkat membentuk senyuman hingga Jeongin tertawa kecil karena ulahnya.</p>

<p>“Maaf ya.”</p>

<p>“Buat?”</p>

<p>“Gua bawa lo ke sini buat ngeliat bintang dengan harapan lo bakal suka, eh tau nya gue malah bikin lo nangis.”</p>

<p>Jeongin sontak menggeleng, dia bawa tatapannya ke langit sebelum kembali menatap Heeseung yang juga menatapnya.</p>

<p>“Jangan minta maaf, ini bukan salah lo.” ini ucapan Jeongin yang paling jujur di seminggu belakang, <em>sebab masalahnya adalah dirinya sendiri.</em></p>

<p>“Jeongin.”</p>

<p>“Hm?”</p>

<p><em>“Gue mau liat lo menang.”</em> belum sempat Jeongin bertanya, Heeseung sudah lebih dulu melanjutkan ucapannya sembari merapikan rambut-rambut yang berantakan. <em>“Gue mau liat versi lo yang ceria, yang bibir ini senyum sampe lesung pipinya keliatan, yang ngerayain setiap perasaan lo tanpa takut buat kehilangan, yang loncat kegirangan sama hal-hal yang bikin lo bahagia—gue mau liat lo menang dari perang batin lo sekarang ini.”</em></p>

<p>Heeseung tersenyum lembut. <strong>“Jangan peluk lukanya lama-lama ya, anak manis.”</strong></p>

<p>Dan dalam kalimat sederhana itu, dunia Jeongin runtuh, seruntuh-runtuhnya. Tubuhnya bergetar hebat, hatinya seolah tercabik dengan segala pertanyan <em>kenapa? kenapa harus seperti ini? kenapa orang yang dia percaya malah ingin dia lupain?</em></p>

<p>“Sakit...” sekali lagi Jeongin merintih. Terisak hebat dalam kenyataan <em>perjalanan ini tidak lagi menemukan titik temu</em>. Heeseung di sebelahnya merengkuh Jeongin dengan sangat hati-hati. Membiarkan pria yang lebih kecil itu meraung keras sampai nanti dia tidak merasakan apapun lagi.</p>

<p>“Gue bodoh, Heeseung.”</p>

<p>“Hei, ga boleh ngomong gitu.”</p>

<p>Jeongin mengusap wajahnya yang berantakan, “Gue pikir selama ini <em>kita</em> saling jatuh cinta, tapi ternyata <strong>cuma gue yang jatuh cinta</strong>.”</p>

<p>Ini asumsi yang paling masuk akal dalam otak Jeongin. Jika memorinya ditarik ke belakang, rasanya seperti penuh dengan pura-pura. Cincin yang menghias di jari manisnya seolah hanya simbol tanpa arti, seonggok barang yang mungkin dia pikir, <em>mau bagaimana pun dia akan tetap selalu diterima sama Jeongin.</em></p>

<p>Hingga dia lupa, bahwa pria yang dia sebut kekasihnya ini punya hati. Punya perasaan. Punya nyawa.</p>

<p>“Kadang gue bingung, sebenernya gue ini kenapa? apa yang gue tunggu di sini? dokter bilang gue udah ga sakit, <em>tapi kenapa gue selalu ngerasa besok gue bisa aja mati?</em>“</p>

<p>Mata gelap Jeongin menatap Heeseung, <strong>“Jangan jatuh cinta sama gue ya, Heeseung, gue udah ga percaya lagi sama cinta dan sejenisnya.”</strong> sebab Jeongin sudah padam.</p>

<p>Dia bernyawa, <em>tapi sudah mati.</em></p>

<p>“Manusia itu ga ada kapasitas untuk tau dimana hati kita bakal jatuh, Je. Lo ga perlu khawatir, biar perasaan gue ini, gue yang urus.”</p>

<p>Tangan besar Heeseung menangkup wajah Jeongin dengan sangat yakin, “Udah gue bilang, <em>gue mau liat lo menang</em>. Gue mau jadi salah satu bagian orang yang bisa gantiin rasa sakit, sedih, dan kecewa lo dengan perasaan <em>tenang, lapang, dan bahagia</em>.”</p>

<p><strong>“Dunia ini terlalu besar untuk kita yang kecil, anak manis.”</strong></p>

<p>Sebab, jika Jeongin penuh dengan <em>kemungkinan</em> yang tak berujung, Heeseung juga sama.</p>

<p><em>Seandainya saja langkah kakinya lebih cepat untuk menemui Jeongin di sudut balkon empat tahun yang lalu, mungkin saja ceritanya tidak seperti ini kan?</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bhluewry.writeas.com/lengkara-ix-bwdj</guid>
      <pubDate>Sat, 10 Aug 2024 17:33:16 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Lengkara : IX</title>
      <link>https://bhluewry.writeas.com/lengkara-ix-0mng?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Lantas aku ambil langkah ini, yang terlampau kaku; terlampau sakit; terlampau pedih. &#xA;&#xA;  sebab, Hyunjin, akan jadi apa ya kita esok hari?&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Aroma besi dingin bercampur dengan sapuan lembut angin malam membawa Jeongin untuk hidup sekali lagi. Sorot matanya yang sayu dia lontarkan pada langit, ah benar kata Heeseung, malam ini bintangnya sangat ramai, sampai-sampai matanya yang kecil tidak dapat menampung semuanya —yang begitu indah; begitu memukau; begitu pekat.&#xA;&#xA;  aku juga ingin bersinar lagi.&#xA;&#xA;Kemudian dia terpejam, ingatannya mulai berhamburan selaras senyuman kecil yang dia paksakan. Seolah menyambut hangat kehadirannya, berbisik dalam hati, kita sudah terlalu lama mengurung diri, bukan? yang memendam demi menjaga hubungan, lalu terkoyak karena masanya sudah selesai.&#xA;&#xA;Diam-diam Jeongin merajut kembali ingatannya yang berantakan, pada titik pertemuan yang pernah membuat rahangnya pegal karna senyuman. Benang merah itu hadir tanpa sengaja, kala pasang mata bertemu dan Jeongin yang terpaku. Itu malam tahun baru, Jeongin datang bersama ayahnya di pesta kolega perusahaan, dan di sudut ruangan yang membosankan, mata kecilnya bertabrakan pada seseorang yang tersenyum manis bak suar di tengah lautan.&#xA;&#xA;Kejadiannya sungguh cepat, saat akhirnya dua insan itu memilih mengasingkan diri di bagian gedung yang lebih sunyi. Si pemilik suar itu bersuara lebih dulu, basa-basi yang membuat degup jantung Jeongin bergerak tak masuk akal.&#xA;&#xA;&#34;Aku juga punya lesung pipi, liat!&#34; dia menunjuk bolongan di kedua pipinya, &#34;—tapi ga semanis punya kamu.&#34; dan senyuman manis terpahat di wajahnya yang terlampau yakin.&#xA;&#xA;Bak piringan hitam yang rusak, kalimat itu terus terngiang di kepala Jeongin hingga bulan tertutup kembang api yang berpendar-pendar. Tatapan matanya yang lembut mengingatkan Jeongin pada mentari di minggu pagi. Juga teduh wajahnya sungguh berhasil mengobrak-abrik hatinya yang sempit.&#xA;&#xA;Perayaan malam tahun baru seakan masuk ke dalam tubuhnya yang terasa ringan. Bibirnya terangkat lebih tinggi, dan di detik itu Jeongin tidak lagi menarik hipotesis —dia sungguh yakin, kalau dia sangat tertarik.&#xA;&#xA;&#34;Hei anak kecil yang punya lesung pipi manis, aku ke sana sebentar ya.&#34; tanpa ragu tangan besarnya mengusap pucuk kepala Jeongin. &#xA;&#xA;&#34;Kamu jangan kemana-mana, aku masih mau kenal kamu lebih banyak, boleh kan?&#34;&#xA;&#xA;Lantas Jeongin bersumpah, pada siapapun yang mendengar suara hati ini, tolong buat dia berakhir dengan pria ini.&#xA;&#xA;Sebab Jeongin bukan lagi tertarik, melainkan sudah jatuh hati.&#xA;&#xA;Pada si pemilik suar lautan. &#xA;&#xA;Pada, Hyunjin.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Lantas aku ambil langkah ini, yang terlampau kaku; terlampau sakit; terlampau pedih.</p>

<p><em>sebab, Hyunjin, akan jadi apa ya kita esok hari?</em></p></blockquote>

<hr/>

<p>Aroma besi dingin bercampur dengan sapuan lembut angin malam membawa <em>Jeongin untuk hidup sekali lagi</em>. Sorot matanya yang sayu dia lontarkan pada langit, ah benar kata Heeseung, malam ini bintangnya sangat ramai, sampai-sampai matanya yang kecil tidak dapat menampung semuanya —<strong>yang begitu indah; begitu memukau; begitu pekat.</strong></p>

<blockquote><p>aku juga ingin bersinar lagi.</p></blockquote>

<p>Kemudian dia terpejam, ingatannya mulai berhamburan selaras senyuman kecil yang dia paksakan. Seolah menyambut hangat kehadirannya, berbisik dalam hati, <em>kita sudah terlalu lama mengurung diri, bukan?</em> yang memendam demi menjaga hubungan, lalu terkoyak karena <em>masanya sudah selesai</em>.</p>

<p>Diam-diam Jeongin merajut kembali ingatannya yang berantakan, pada titik pertemuan yang pernah membuat rahangnya pegal karna senyuman. Benang merah itu hadir tanpa sengaja, kala pasang mata bertemu dan Jeongin yang terpaku. <em>Itu malam tahun baru</em>, Jeongin datang bersama ayahnya di pesta kolega perusahaan, dan di sudut ruangan yang membosankan, mata kecilnya bertabrakan pada seseorang yang tersenyum manis bak suar di tengah lautan.</p>

<p>Kejadiannya sungguh cepat, saat akhirnya dua insan itu memilih mengasingkan diri di bagian gedung yang lebih sunyi. Si pemilik suar itu bersuara lebih dulu, basa-basi yang membuat degup jantung Jeongin bergerak tak masuk akal.</p>

<p><em>“Aku juga punya lesung pipi, liat!”</em> dia menunjuk bolongan di kedua pipinya, <em>“—tapi ga semanis punya kamu.”</em> dan senyuman manis terpahat di wajahnya yang terlampau yakin.</p>

<p>Bak piringan hitam yang rusak, kalimat itu terus terngiang di kepala Jeongin hingga bulan tertutup kembang api yang berpendar-pendar. Tatapan matanya yang lembut mengingatkan Jeongin pada mentari di minggu pagi. Juga teduh wajahnya sungguh berhasil mengobrak-abrik hatinya yang sempit.</p>

<p>Perayaan malam tahun baru seakan masuk ke dalam tubuhnya yang terasa ringan. Bibirnya terangkat lebih tinggi, dan di detik itu Jeongin tidak lagi menarik hipotesis —dia sungguh yakin, <em>kalau dia sangat tertarik</em>.</p>

<p><em>“Hei anak kecil yang punya lesung pipi manis, aku ke sana sebentar ya.”</em> tanpa ragu tangan besarnya mengusap pucuk kepala Jeongin.</p>

<p><em>“Kamu jangan kemana-mana, aku masih mau kenal kamu lebih banyak, boleh kan?”</em></p>

<p>Lantas Jeongin bersumpah, pada siapapun yang mendengar suara hati ini, <strong>tolong buat dia berakhir dengan pria ini.</strong></p>

<p>Sebab Jeongin bukan lagi tertarik, melainkan <em>sudah jatuh hati.</em></p>

<p><em>Pada si pemilik suar lautan.</em></p>

<p><strong>Pada, Hyunjin.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bhluewry.writeas.com/lengkara-ix-0mng</guid>
      <pubDate>Sat, 10 Aug 2024 17:32:55 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Lengkara : IX</title>
      <link>https://bhluewry.writeas.com/lengkara-ix-3m2z?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Lantas aku ambil langkah ini, yang terlampau kaku; terlampau sakit; terlampau pedih. &#xA;&#xA;  sebab, Hyunjin, akan jadi apa ya kita esok hari?&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Aroma besi dingin bercampur dengan sapuan lembut angin malam membawa Jeongin untuk hidup sekali lagi. Sorot matanya yang sayu dia lontarkan pada langit, ah benar kata Heeseung, malam ini bintangnya sangat ramai, sampai-sampai matanya yang kecil tidak dapat menampung semuanya —yang begitu indah; begitu memukau; begitu pekat.&#xA;&#xA;  aku juga ingin bersinar lagi.&#xA;&#xA;Kemudian dia terpejam, ingatannya mulai berhamburan selaras senyuman kecil yang dia paksakan. Seolah menyambut hangat kehadirannya, berbisik dalam hati, kita sudah terlalu lama mengurung diri, bukan? yang memendam demi menjaga hubungan, lalu terkoyak karena masanya sudah selesai.&#xA;&#xA;Diam-diam Jeongin merajut kembali ingatannya yang berantakan, pada titik pertemuan yang pernah membuat rahangnya pegal karna senyuman. Benang merah itu hadir tanpa sengaja, kala pasang mata bertemu dan Jeongin yang terpaku. Itu malam tahun baru, Jeongin datang bersama ayahnya di pesta kolega perusahaan, dan di sudut ruangan yang membosankan, mata kecilnya bertabrakan pada seseorang yang tersenyum manis bak suar di tengah lautan.&#xA;&#xA;Kejadiannya sungguh cepat, saat akhirnya dua insan itu memilih mengasingkan diri di bagian gedung yang lebih sunyi. Si pemilik suar itu bersuara lebih dulu, basa-basi yang membuat degup jantung Jeongin bergerak tak masuk akal.&#xA;&#xA;&#34;Aku juga punya lesung pipi, liat!&#34; dia menunjuk bolongan di kedua pipinya, &#34;—tapi ga semanis punya kamu.&#34; dan senyuman manis terpahat di wajahnya yang terlampau yakin.&#xA;&#xA;Bak piringan hitam yang rusak, kalimat itu terus terngiang di kepala Jeongin hingga bulan tertutup kembang api yang berpendar-pendar. Tatapan matanya yang lembut mengingatkan Jeongin pada mentari di minggu pagi. Juga teduh wajahnya sungguh berhasil mengobrak-abrik hatinya yang sempit.&#xA;&#xA;Perayaan malam tahun baru seakan masuk ke dalam tubuhnya yang terasa ringan. Bibirnya terangkat lebih tinggi, dan di detik itu Jeongin tidak lagi menarik hipotesis —dia sungguh yakin, kalau dia sangat tertarik.&#xA;&#xA;&#34;Hei anak kecil yang punya lesung pipi manis, aku ke sana sebentar ya.&#34; tanpa ragu tangan besarnya mengusap pucuk kepala Jeongin. &#xA;&#xA;&#34;Kamu jangan kemana-mana, aku masih mau kenal kamu lebih banyak, boleh kan?&#34;&#xA;&#xA;Lantas Jeongin bersumpah, pada siapapun yang mendengar suara hati ini, tolong buat dia berakhir dengan pria ini.&#xA;&#xA;Sebab Jeongin bukan lagi tertarik, melainkan sudah jatuh hati.&#xA;&#xA;Pada, Hyunjin. ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Lantas aku ambil langkah ini, yang terlampau kaku; terlampau sakit; terlampau pedih.</p>

<p><em>sebab, Hyunjin, akan jadi apa ya kita esok hari?</em></p></blockquote>

<hr/>

<p>Aroma besi dingin bercampur dengan sapuan lembut angin malam membawa <em>Jeongin untuk hidup sekali lagi</em>. Sorot matanya yang sayu dia lontarkan pada langit, ah benar kata Heeseung, malam ini bintangnya sangat ramai, sampai-sampai matanya yang kecil tidak dapat menampung semuanya —<strong>yang begitu indah; begitu memukau; begitu pekat.</strong></p>

<blockquote><p>aku juga ingin bersinar lagi.</p></blockquote>

<p>Kemudian dia terpejam, ingatannya mulai berhamburan selaras senyuman kecil yang dia paksakan. Seolah menyambut hangat kehadirannya, berbisik dalam hati, <em>kita sudah terlalu lama mengurung diri, bukan?</em> yang memendam demi menjaga hubungan, lalu terkoyak karena <em>masanya sudah selesai</em>.</p>

<p>Diam-diam Jeongin merajut kembali ingatannya yang berantakan, pada titik pertemuan yang pernah membuat rahangnya pegal karna senyuman. Benang merah itu hadir tanpa sengaja, kala pasang mata bertemu dan Jeongin yang terpaku. <em>Itu malam tahun baru</em>, Jeongin datang bersama ayahnya di pesta kolega perusahaan, dan di sudut ruangan yang membosankan, mata kecilnya bertabrakan pada seseorang yang tersenyum manis bak suar di tengah lautan.</p>

<p>Kejadiannya sungguh cepat, saat akhirnya dua insan itu memilih mengasingkan diri di bagian gedung yang lebih sunyi. Si pemilik suar itu bersuara lebih dulu, basa-basi yang membuat degup jantung Jeongin bergerak tak masuk akal.</p>

<p><em>“Aku juga punya lesung pipi, liat!”</em> dia menunjuk bolongan di kedua pipinya, <em>“—tapi ga semanis punya kamu.”</em> dan senyuman manis terpahat di wajahnya yang terlampau yakin.</p>

<p>Bak piringan hitam yang rusak, kalimat itu terus terngiang di kepala Jeongin hingga bulan tertutup kembang api yang berpendar-pendar. Tatapan matanya yang lembut mengingatkan Jeongin pada mentari di minggu pagi. Juga teduh wajahnya sungguh berhasil mengobrak-abrik hatinya yang sempit.</p>

<p>Perayaan malam tahun baru seakan masuk ke dalam tubuhnya yang terasa ringan. Bibirnya terangkat lebih tinggi, dan di detik itu Jeongin tidak lagi menarik hipotesis —dia sungguh yakin, <em>kalau dia sangat tertarik</em>.</p>

<p><em>“Hei anak kecil yang punya lesung pipi manis, aku ke sana sebentar ya.”</em> tanpa ragu tangan besarnya mengusap pucuk kepala Jeongin.</p>

<p><em>“Kamu jangan kemana-mana, aku masih mau kenal kamu lebih banyak, boleh kan?”</em></p>

<p>Lantas Jeongin bersumpah, pada siapapun yang mendengar suara hati ini, <strong>tolong buat dia berakhir dengan pria ini.</strong></p>

<p>Sebab Jeongin bukan lagi tertarik, melainkan <em>sudah jatuh hati.</em></p>

<p><strong>Pada, Hyunjin.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bhluewry.writeas.com/lengkara-ix-3m2z</guid>
      <pubDate>Sat, 10 Aug 2024 16:46:46 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Lengkara : IX</title>
      <link>https://bhluewry.writeas.com/lengkara-ix-ng1r?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Lantas aku ambil langkah ini, yang terlampau kaku; terlampau sakit; terlampau pedih. &#xA;&#xA;  sebab, Hyunjin, akan jadi apa ya kita esok hari?&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Aroma besi dingin bercampur dengan sapuan lembut angin malam membawa Jeongin untuk hidup sekali lagi. Sorot matanya yang sayu dia lontarkan pada langit, ah benar kata Heeseung, malam ini bintangnya sangat ramai, sampai-sampai matanya yang kecil tidak dapat menampung semuanya —yang begitu indah; begitu memukau; begitu pekat.&#xA;&#xA;  aku juga ingin bersinar lagi.&#xA;&#xA;Kemudian dia terpejam, ingatannya mulai berhamburan selaras senyuman kecil yang dia paksakan. Seolah menyambut hangat kehadirannya, berbisik dalam hati, kita sudah terlalu lama mengurung diri, bukan? yang memendam demi menjaga hubungan, lalu terkoyak karena masanya sudah selesai.&#xA;&#xA;Diam-diam Jeongin merajut kembali ingatannya yang berantakan, pada titik pertemuan yang pernah membuat rahangnya pegal karna senyuman. Benang merah itu hadir tanpa sengaja, kala pasang mata bertemu dan Jeongin yang terpaku. Itu malam tahun baru, Jeongin datang bersama ayahnya di pesta kolega perusahaan, dan di sudut ruangan yang membosankan, mata kecilnya bertabrakan pada seseorang yang tersenyum manis bak suar di tengah lautan.&#xA;&#xA;Kejadiannya sungguh cepat, saat akhirnya dua insan itu memilih mengasingkan diri di bagian gedung yang lebih sunyi. Si pemilik suar itu bersuara lebih dulu, basa-basi yang membuat degup jantung Jeongin bergerak tak masuk akal.&#xA;&#xA;&#34;Aku juga punya lesung pipi, liat!&#34; dia menunjuk bolongan di kedua pipinya, &#34;—tapi ga semanis punya kamu.&#34; dan senyuman manis terpahat di wajahnya yang terlampau yakin.&#xA;&#xA;Bak piringan hitam yang rusak, kalimat itu terus terngiang di kepala Jeongin hingga bulan tertutup kembang api yang berpendar-pendar. Tatapan matanya yang lembut mengingatkan Jeongin pada mentari di minggu pagi. Juga teduh wajahnya sungguh berhasil mengobrak-abrik hatinya yang sempit.&#xA;&#xA;Perayaan malam tahun baru seakan masuk ke dalam tubuhnya yang terasa ringan. Bibirnya terangkat lebih tinggi, dan di detik itu Jeongin tidak lagi menarik hipotesis —dia sungguh yakin, dia sangat tertarik pada pria ini.&#xA;&#xA;&#34;Hei anak kecil yang punya lesung pipi manis, aku ke sana sebentar ya.&#34; tanpa ragu tangan besarnya mengusap pucuk kepala Jeongin. &#xA;&#xA;&#34;Kamu jangan kemana-mana, aku masih mau kenal kamu lebih banyak, boleh kan?&#34;&#xA;&#xA;Lantas Jeongin bersumpah, pada siapapun yang mendengar suara hati ini, tolong buat dia berakhir dengan pria ini.&#xA;&#xA;Sebab Jeongin bukan lagi tertarik, melainkan sudah jatuh hati.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Lantas aku ambil langkah ini, yang terlampau kaku; terlampau sakit; terlampau pedih.</p>

<p><em>sebab, Hyunjin, akan jadi apa ya kita esok hari?</em></p></blockquote>

<hr/>

<p>Aroma besi dingin bercampur dengan sapuan lembut angin malam membawa <em>Jeongin untuk hidup sekali lagi</em>. Sorot matanya yang sayu dia lontarkan pada langit, ah benar kata Heeseung, malam ini bintangnya sangat ramai, sampai-sampai matanya yang kecil tidak dapat menampung semuanya —<strong>yang begitu indah; begitu memukau; begitu pekat.</strong></p>

<blockquote><p>aku juga ingin bersinar lagi.</p></blockquote>

<p>Kemudian dia terpejam, ingatannya mulai berhamburan selaras senyuman kecil yang dia paksakan. Seolah menyambut hangat kehadirannya, berbisik dalam hati, <em>kita sudah terlalu lama mengurung diri, bukan?</em> yang memendam demi menjaga hubungan, lalu terkoyak karena <em>masanya sudah selesai</em>.</p>

<p>Diam-diam Jeongin merajut kembali ingatannya yang berantakan, pada titik pertemuan yang pernah membuat rahangnya pegal karna senyuman. Benang merah itu hadir tanpa sengaja, kala pasang mata bertemu dan Jeongin yang terpaku. <em>Itu malam tahun baru</em>, Jeongin datang bersama ayahnya di pesta kolega perusahaan, dan di sudut ruangan yang membosankan, mata kecilnya bertabrakan pada seseorang yang tersenyum manis bak suar di tengah lautan.</p>

<p>Kejadiannya sungguh cepat, saat akhirnya dua insan itu memilih mengasingkan diri di bagian gedung yang lebih sunyi. Si pemilik suar itu bersuara lebih dulu, basa-basi yang membuat degup jantung Jeongin bergerak tak masuk akal.</p>

<p><em>“Aku juga punya lesung pipi, liat!”</em> dia menunjuk bolongan di kedua pipinya, <em>“—tapi ga semanis punya kamu.”</em> dan senyuman manis terpahat di wajahnya yang terlampau yakin.</p>

<p>Bak piringan hitam yang rusak, kalimat itu terus terngiang di kepala Jeongin hingga bulan tertutup kembang api yang berpendar-pendar. Tatapan matanya yang lembut mengingatkan Jeongin pada mentari di minggu pagi. Juga teduh wajahnya sungguh berhasil mengobrak-abrik hatinya yang sempit.</p>

<p>Perayaan malam tahun baru seakan masuk ke dalam tubuhnya yang terasa ringan. Bibirnya terangkat lebih tinggi, dan di detik itu Jeongin tidak lagi menarik hipotesis —dia sungguh yakin, <em>dia sangat tertarik pada pria ini</em>.</p>

<p><em>“Hei anak kecil yang punya lesung pipi manis, aku ke sana sebentar ya.”</em> tanpa ragu tangan besarnya mengusap pucuk kepala Jeongin.</p>

<p><em>“Kamu jangan kemana-mana, aku masih mau kenal kamu lebih banyak, boleh kan?”</em></p>

<p>Lantas Jeongin bersumpah, pada siapapun yang mendengar suara hati ini, <strong>tolong buat dia berakhir dengan pria ini.</strong></p>

<p>Sebab Jeongin bukan lagi tertarik, melainkan <em>sudah jatuh hati.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bhluewry.writeas.com/lengkara-ix-ng1r</guid>
      <pubDate>Sat, 10 Aug 2024 16:44:53 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Lengkara : IX</title>
      <link>https://bhluewry.writeas.com/lengkara-ix-drjs?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Lantas aku ambil langkah ini, yang terlampau kaku; terlampau sakit; terlampau pedih. &#xA;&#xA;  sebab, Hyunjin, akan jadi apa ya kita esok hari?&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Aroma besi dingin bercampur dengan sapuan lembut angin malam membawa Jeongin untuk hidup sekali lagi. Sorot matanya yang sayu dia lontarkan pada langit, ah benar kata Heeseung, malam ini bintangnya sangat ramai, sampai-sampai matanya yang kecil tidak dapat menampung semuanya —yang begitu indah; begitu memukau; begitu pekat.&#xA;&#xA;  aku juga ingin bersinar lagi.&#xA;&#xA;Kemudian dia terpejam, ingatannya mulai berhamburan selaras senyuman kecil yang dia paksakan. Seolah menyambut hangat kehadirannya, berbisik dalam hati, kita sudah terlalu lama mengurung diri, bukan? yang memendam demi menjaga hubungan, lalu terkoyak karena masanya sudah selesai.&#xA;&#xA;Diam-diam Jeongin merajut kembali ingatannya yang berantakan, pada titik pertemuan yang pernah membuat rahangnya pegal karna senyuman. Benang merah itu hadir tanpa sengaja, kala pasang mata bertemu dan Jeongin yang terpaku. Itu malam tahun baru, Jeongin datang bersama ayahnya di pesta kolega perusahaan, dan di sudut ruangan yang membosankan, mata kecilnya bertabrakan pada seseorang yang tersenyum manis bak suar di tengah lautan.&#xA;&#xA;Kejadiannya sungguh cepat, saat akhirnya dua insan itu memilih mengasingkan diri di bagian gedung yang lebih sunyi. Si pemilik suar itu bersuara lebih dulu, basa-basi yang membuat degup jantung Jeongin bergerak tak masuk akal.&#xA;&#xA;&#34;Aku juga punya lesung pipi, liat!&#34; dia menunjuk bolongan di kedua pipinya, &#34;—tapi ga semanis punya kamu.&#34; dan senyuman manis terpahat di wajahnya yang terlampau yakin.&#xA;&#xA;Bak piringan hitam yang rusak, kalimat itu terus terngiang di kepala Jeongin hingga bulan tertutup kembang api yang berpendar-pendar. Tatapan matanya yang lembut mengingatkan Jeongin pada mentari di minggu pagi. Juga teduh wajahnya sungguh berhasil mengobrak-abrik hatinya yang sempit.&#xA;&#xA;Perayaan malam tahun baru seakan masuk ke dalam tubuhnya yang terasa ringan. Bibirnya terangkat lebih tinggi, dan di detik itu Jeongin tidak lagi menarik hipotesis —dia sungguh yakin, dia sangat tertarik pada pria ini.&#xA;&#xA;&#34;Hei anak kecil yang punya lesung pipi manis, aku ke sana sebentar ya.&#34; tanpa ragu tangan besarnya mengusap pucuk kepala Jeongin. &#xA;&#xA;&#34;Kamu jangan kemana-mana, aku masih mau kenal kamu lebih banyak, boleh kan?&#34;&#xA;&#xA;Lantas Jeongin bersumpah, pada siapapun yang mendengar suara hati ini, tolong buat dia berakhir dengan pria ini.&#xA;&#xA;Sebab Jeongin bukan lagi tertarik, melainkan sudah jatuh hati.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Lantas aku ambil langkah ini, yang terlampau kaku; terlampau sakit; terlampau pedih.</p>

<p><em>sebab, Hyunjin, akan jadi apa ya kita esok hari?</em></p></blockquote>

<hr/>

<p>Aroma besi dingin bercampur dengan sapuan lembut angin malam membawa <em>Jeongin untuk hidup sekali lagi</em>. Sorot matanya yang sayu dia lontarkan pada langit, ah benar kata Heeseung, malam ini bintangnya sangat ramai, sampai-sampai matanya yang kecil tidak dapat menampung semuanya —<strong>yang begitu indah; begitu memukau; begitu pekat.</strong></p>

<blockquote><p>aku juga ingin bersinar lagi.</p></blockquote>

<p>Kemudian dia terpejam, ingatannya mulai berhamburan selaras senyuman kecil yang dia paksakan. Seolah menyambut hangat kehadirannya, berbisik dalam hati, <em>kita sudah terlalu lama mengurung diri, bukan?</em> yang memendam demi menjaga hubungan, lalu terkoyak karena <em>masanya sudah selesai</em>.</p>

<p>Diam-diam Jeongin merajut kembali ingatannya yang berantakan, pada titik pertemuan yang pernah membuat rahangnya pegal karna senyuman. Benang merah itu hadir tanpa sengaja, kala pasang mata bertemu dan Jeongin yang terpaku. <em>Itu malam tahun baru</em>, Jeongin datang bersama ayahnya di pesta kolega perusahaan, dan di sudut ruangan yang membosankan, mata kecilnya bertabrakan pada seseorang yang tersenyum manis bak suar di tengah lautan.</p>

<p>Kejadiannya sungguh cepat, saat akhirnya dua insan itu memilih mengasingkan diri di bagian gedung yang lebih sunyi. Si pemilik suar itu bersuara lebih dulu, basa-basi yang membuat degup jantung Jeongin bergerak tak masuk akal.</p>

<p><em>“Aku juga punya lesung pipi, liat!”</em> dia menunjuk bolongan di kedua pipinya, <em>“—tapi ga semanis punya kamu.”</em> dan senyuman manis terpahat di wajahnya yang terlampau yakin.</p>

<p>Bak piringan hitam yang rusak, kalimat itu terus terngiang di kepala Jeongin hingga bulan tertutup kembang api yang berpendar-pendar. Tatapan matanya yang lembut mengingatkan Jeongin pada mentari di minggu pagi. Juga teduh wajahnya sungguh berhasil mengobrak-abrik hatinya yang sempit.</p>

<p>Perayaan malam tahun baru seakan masuk ke dalam tubuhnya yang terasa ringan. Bibirnya terangkat lebih tinggi, dan di detik itu Jeongin tidak lagi menarik hipotesis —dia sungguh yakin, <em>dia sangat tertarik pada pria ini</em>.</p>

<p><em>“Hei anak kecil yang punya lesung pipi manis, aku ke sana sebentar ya.”</em> tanpa ragu tangan besarnya mengusap pucuk kepala Jeongin.</p>

<p><em>“Kamu jangan kemana-mana, aku masih mau kenal kamu lebih banyak, boleh kan?”</em></p>

<p>Lantas Jeongin bersumpah, pada siapapun yang mendengar suara hati ini, <em>tolong buat dia berakhir dengan pria ini.</em></p>

<p>Sebab Jeongin bukan lagi tertarik, melainkan <em>sudah jatuh hati.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bhluewry.writeas.com/lengkara-ix-drjs</guid>
      <pubDate>Sat, 10 Aug 2024 16:44:30 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>