HANSAPLAS
Hal pertama yang Jeongin rasakan ketika duduk berdua bersama Bright sebagai papa dan anak adalah mati rasa. Dia kira akan bahagia, ternyata hati pun tidak berdegup kencang, alih-alih bahagia yang datang pertanyaan malah bermunculan dalam otaknya.
Untuk apa?
Ada apa?
Kenapa?
Aneh memang. Asing yang singgap tidak dapat berbohong. Sosok papa bagi Jeongin hanyalah figur yang hilang. Mendeskripsikannya saja tidak bisa, lantas berbahagia untuk apa?
Pun dia yang terlalu takut untuk merasa bahagia dan memilih bersama duka
Perbuatan siapa? haruskah dijawab?
“Hows school?“
“Biasa.” pertanyaan tiba-tiba itu hanya dibalas seadanya. Bingung ingin menjawab seperti apa.
“Win bilang dia kasih kamu uang?”
“Iya.”
“Kalo lagi diajak ngomong itu tatap orangnya, Jeongin.” nada suara yang tadinya dibuat-buat lembut langsung berubah dingin seperti yang sudah-sudah.
Jika saja mereka tidak di tempat umum, jelas Jeongin akan semakin menantang. Biar luka sebagai balasan, tetap lebih baik dari pada tunduk pada orang yang menghancurkan segalanya.
“Papa mau apa?”
Tepat sasaran.
“Ya dinner buat ngerayain kamu juara umum, Jeongin.”
“Aku cuma juara umum di sekolah bukan seluruh sekolah di Indonesia.”
Bright langsung berhenti mengunyah kala mendengar ucapan Jeongin. Sedangkan si anak menatap bola mata papanya dengan banyak emosi yang tidak dapat dijelaskan.
Dingin pun tidak, datar apa lagi.
Hanya kekosongan.
“Papa selalu dateng buat ngamuk dan mukulin aku kalo apa yang papa mau ga aku turutin, kali ini papa dateng dengan omongan sok baik.” sudut bibirnya terangkat untuk tertawa meremehkan diri, “Kenapa? disuruh selingkuhan papa?”
“Jeongin.” Bright mendesis tajam, selalu tidak suka jika pacarnya direndahkan.
Rasa mual diperutnya memaksa memakan Aglio Olio pesanan Bright yang katanya makanan favorit Jeongin itu sudah tergantikan dengan raut wajah papanya saat ini.
Seperti yang pernah Jeongin katakan, mereka hanya berhubungan darah, tapi tidak untuk saling mengenal.
Ada hembusan nafas sebelum Bright membuka suara tidak ramah.
“Heeseung keterima beasiswa kedokteran UI.”
Anjing
Jeongin mengulum bibirnya sebelum terkekeh hambar, anak pungut itu. Mau sampai kapan Heeseung berlagak menjadi satu-satunya korban disaat Jeongin pun sama?
Setelah keluarganya, sekarang dia mau mengambil satu-satunya tujuan hidup yang Jeongin punya? Anjing.
“Bukannya dia harusnya nerusin perusahaan papa?”
Bright menggeleng membuat Jeongin semakin mati rasa, “Dia berubah pikiran.”
“Bangsat!”
“Jeongin, jaga ucapan kamu! ada banyak orang di sini!”
“Jadi intinya dinner kali ini papa mau aku ngalah lagi kan?” pun Jeongin yang tidak dapat lagi suaranya yang bergetar.
“Kamu anak papa satu-satunya Je.”
“Kemarin papa bilang papa nyesel punya anak kayak aku? kenapa sekarang semuanya dilimpahin ke aku?”
Alih-alih meminta maaf, Bright dengan kelakuannya malah seakan mengoyak habis perasaan anaknya.
“Karena itu kewajiban kamu.”
Kewajiban apa?
Kewajiban mengalah?
Kewajiban tidak memiliki impian?
Anjing, orang gila.
“Aku pindah dari IPS ke IPA nurutin mama sama papa yang mau aku jadi dokter. Aku ngebenci IPS karena aku ga bisa belajar apa yang aku mau. Tapi sekarang disaat aku udah terbiasa dengan impian kalian, aku juga yang harus bekorban?”
“Jeongin, please.”
“Lucu banget hidup gue, anjing hahaha..”
“Kamu baru mau masuk kelas 12, masih banyak waktu buat kamu belajar, tapi Heeseung udah selesai. Dia ga punya pilihan lain.”
“Dia punya pilihan buat ga nerima beasiswanya papa.”
“Jeongin! kamu ga bisa bantah keputusan papa!”
Anjing!
Ingin sekali rasanya Jeongin berteriak sekarang. Bahkan rasanya oksigen perlahan mulai menghilang.
Memang seharusnya dia tidak perlu berharap banyak hal. Mati berkali-kali di tangan keluarga harusnya mampu membuat terbiasa. Tapi sesak di dada ternyata terus saja hinggap datang.
Lantas alih-alih berdebat, Jeongin ingin cepat-cepat pulang. Makanan dengan rasa bawang yang menyengat itu dia habiskan demi prinsip yang dia pegang. Harus menghargai makanan.
Jeongin terlalu manis untuk pahitnya bumantara.
“Aku pamit pulang.”
Jeongin bahkan tidak tau kenapa rasa mualnya semakin terasa berkali-kali lipat.
“Kamu bisa kuliah di jurusan yang kamu mau.”
Apa lagi sekarang?
Pergerakannya seketika berhenti mendengar kalimat itu. Jelas otaknya tidak menaruh harapan di sana, lalu kenapa hatinya tertarik untuk mendengarkan lebih lanjut?
“Asalkan setelah lulus, kamu kerja di perusahaan papa.”
Semuanya tetap tidak menarik. Berat sebelah pun pasti.
“Kamu bisa masuk DKV kalo kamu mau.”
“Papa serius?”
Makhluk Tuhan yang menjadi ayah ini terlalu tau cara mengontrol Jeongin atau Jeongin yang terlalu polos dalam hidup?
Anggukan kepala Bright membuat Jeongin tanpa sadar tersenyum. Menjadi dokter bukan keinginannya, tetapi jatuh cinta dengan kimia mengubah segalanya.
Namun DKV, itu impiannya dari lama.
“Papa bakal ngomong sama mama.” pun Bright yang ikut tersenyum melihat anaknya.
Benar-benar seperti foto-copyan. Keras kepala Jeongin menurun dari siapa jika tidak dari Bright, pun sifat denial keduanya menjelaskan semua. Alih-alih berbincang dari hati ke hati, keduanya memilih untuk memancing emosi satu sama lain.
Bright mengeluarkan uang sebelum beranjak, “Ayok pulang.”
Dan kini keduanya berjalan beriringan keluar restoran setelah 5 tahun tidak pernah datang bersama. Mati rasa seolah hilang digantikan dengan harapan yang —bolehkah dia menaruh harap?
“Kamu ga bawa motor?” Bright mencari motor ducati hitam milik anaknya. “Mau papa anter?”
“Gak usah, nanti aku dijemput.” siapa juga yang mau kembali di antara ruang sempit penuh awkward seperti di dalam.
“Sama siapa?”
“Ada tem—”
“PIPI BOLOOOONGGGGGG!”
Lantas suara teriakan yang sangat Jeongin kenali, tidak hanya menarik atensi yang dipanggil. Hyunjin berdiri di depan pos satpam melambai-lambaikan tangannya seperti adegan di film-film, seolah menyambut kekasihnya yang sudah 10 tahun tidak bertemu.
“Papa aku dulu— apa?” Jeongin langsung mengubah ucapannya saat Bright memberikan senyuman menggoda.
“Dia bukan pacarku!”
Bright semakin tersenyum jahil, “Papa ga bilang dia pacar kamu. Ey!”
Sial, Jeongin!
Ayah—anak itu benar-benar. Beberapa saat lalu perang dingin di dalam, tapi tiba-tiba berubah di luar. Yang satu menggoda anaknya, yang satu mencibir ayahnya.
Sudah lupa kah adegan memukul dan sengaja memancing emosi yang lalu lalu?
Memang tidak habis pikir.
“PIPI BOLONGGGG!”
“SABAR! GA USAH TERIAK!”
“ITU LO JUGA TERIAKKK!”
“Anak setan!”
“GUE TAU LO NGATAIN GUE ANAK SETAN, PIPI BOLONG.”
Jeongin pun tertawa. Suatu pemandangan indah yang ditangkap Bright. Sangat berbeda dengan Jeongin yang seperti mati di dalam tadi. Kini anaknya seolah hidup, matanya bahkan tidak kosong, seakan penuh dengan warna-warna.
“Papa, aku duluan.”
Seketika lamunannya berhamburan. Bright mengangguk, senyuman di wajahnya menghilang selaras Jeongin berjalan ke arah pria yang Bright tidak sengaja lihat sudah ada dari awal dinner mereka.
Baru saja Ayah satu anak itu akan beranjak dari tempat, anaknya tiba-tiba berbalik untuk berucap.
“Papa makasih buat hadiah gundamnya, om Win bilang itu dari papa tapi nyuruh om Win bilang itu dari dia. Makasih juga buat akan malemnya, hati-hati di jalan.”
Lantas bibirnya kembali mengulas senyuman meski tidak dapat dilihat anaknya yang sudah kembali berjalan pergi. Bright seakan terpaku, dia tau pasta yang dia pesan untuk Jeongin salah, tapi anak manisnya sama sekali tidak protes dan tetap makan hingga habis. Dewasa memang bukan tentang perihal umur.
“Ah! hangatnya.”
Pun malam berangin kali ini mampu menyelimuti Bright dalam kesendirian menunggu bayangan anaknya hilang dari pandangan.
Bright mau pun Jeongin bukan orang yang mampu mengucapkan perasaan secara tepat. Keduanya punya cara untuk mengungkapkan perasaan kasih sayang—
“Makasih juga udah jadi anak papa.”
—dalam diam.