I'm coming home! narasi 01.
“Iya, aku yang salah.”
Kalimat singkat itu terlontar begitu saja bersamaan dengan satu tarikan nafas panjang setelahnya. Mengisi rongga dada yang terasa hampa, lalu bersandar pada sandaran jok kemudi dengan pikiran yang melalang buana jauh.
Apa benar aku yang egois?
Jalanan sore yang terasa longgar semakin menjelaskan betapa sepi-nya hari ini. Mentari bahkan tidak bersinar, sepanjang hari langit kelabu membentang luas. Seakan berduka pada hatinya yang sedang remuk.
Mata cantiknya terpejam sesaat. Dan ntah sejak kapan, mutiara indahnya lolos mengalir melewati pipinya yang memerah panas.
Sakit
Sakit sekali
Mengingat kekasihnya yang berjalan tanpa menggenggam tangannya membuat Jeongin tidak dapat menghalau rasa sakit di hatinya. Remuk, hampir hancur, namun teringat dengan janji yang terbuat.
“Nanti aku pulang.”
Lantas, Jeongin tersenyum lirih. Menekan dadanya sesaat untuk tidak berdegup terlalu kencang, lalu mengecup singkat pada lingkaran yang mengikat jemari manisnya. Indah.
“Cepat pulang ya, bae. Honey-mu menunggu kehadiran dan pelukan kasihmu selalu.”
“Jadi, lo udah berubah pikiran?”
Jeongin hanya tersenyum mendengar pertanyaan sahabatnya, Heeseung. Ia menyeruput green-tea nya dengan pelan, lalu menggeleng halus.
“Terus yang diberita itu? Suami lo lagi yang mutusin? pake nama lo seolah-olah ini keputusan kalian berdua?”
Pertanyaan beruntun yang dilayangkan untuknya membuat Jeongin hanya termenung menatap rintikan hujan di luar. Bingung untuk menjawab apa. Martabat suaminya tidak mungkin ia coreng dihadapan sahabatnya sendiri.
“Je.”
“Gue cuma butuh waktu, seung.” ia menjeda kalimatnya sesaat, kembali menarik nafas dalam-dalam lalu menatap Heeseung dengan wajah pucatnya.
“Waktu untuk menerima keputusan yang kak Hyunjin buat, kalo itu memang yang terbaik. Waktu untuk yakinin gue kalau nantinya tetap sama. Dan banyak waktu lainnya— “
“Waktu untuk ngobatin luka, lo?”
Tetesan air itu semakin ramai membasahi bumi. Menghantarkan rasa dingin yang lagi-lagi tak dapat dijelaskan. Jeongin hanya terduduk, tidak berniat menjawab pertanyaan Heeseung. Atau, mungkin belum.
“Je, hubungan kalian lagi ga sehat. Kalo lo biarin Hyunjin terlalu lama pergi, yang ada lo juga bakalan jenuh narik dia untuk terus-terus berjalan sama lo lagi. Je, lo itu terikat dihubungan pernikahan.”
Matanya terjatuh menatap sepatu yang dibelikan Hyunjin beberapa bulan yang lalu.
Grep!
“Ini hubungan, Je. Pernikahan. Bukan ajang untuk ngerasa belas-kasihan. Bertahan memang pilihan yang baik, tapi kalo sampai bikin lo menyakiti diri lalu berujung mengalah, mengalah, dan mengalah —lebih baik pergi.“
Genggaman tangan Heeseung terasa hangat. Namun, tidak bisa mengalahkan rasa hangat yang selalu diberikan Kekasihnya itu. Lantaran hanya menyelimuti rasa perhatian yang mendalam, tapi Jeongin tau segalanya.
Ia mengenal kekasihnya lebih dari orang lain mengenal dirinya
“Kalo gue pergi, kekasih gue harus pulang ke mana?” Jeongin tersenyum lembut.
“Sedangkan, rumahnya di sini.”