I'm coming home! narasi 02.


Rangkaian kata itu dulunya menjadi hal pertama ia dahulukan, nyatanya sekarang sudah menjadi asing. Bak keluh untuk sekedar mengetik satu atau dua kata, tapi nyatanya, ia memilih enggan. Hyunjin malah membiarkan deretan pesan dari Jeongin menumpuk lalu esoknya lupa untuk menjawab.

Pikirannya berkecamuk risau. Kesal lantaran sikap Suaminya yang menjadi egois. Harusnya Jeongin bisa mengerti dengan sikapnya, bukan? mengerti bahwa yang terjadi hari ini hanya untuknya. Tapi, lagi-lagi, Jeongin malah memintanya pulang.

Pada rumah yang semakin lama terasa redup.

Dan Hyunjin menjadi tidak dapat berbohong bahwa ia menjadi jenuh.

Hyunjin bahkan tidak ingat awal mulanya bagaimana. Tidak pula ingin mengerti kenapa ia malah menjauh semakin hari. Pun dengan alasan yang memudar untuk ia kembali pada Jeongin.

Tidak. Bukan berarti dia ingin menduakan Jeongin. Pria manis itu selalu terukir apik di hatinya.

Tapi, semua itu terlalu rumit untuk dijelaskan.

Hyunjin mencintai Jeongin. Sangat.

Namun, gairah dalam hubungan rumah tangga mereka sudah menghilang.

Jika sudah menghilang, lantas kenapa kau tidak mencoba mencarinya kembali bersama Suamimu, Hyunjin?

Ah Benar —semua itu sulit untuk dijelaskan, bukan?

Sangat sulit, seperti menyingkirkan lengan seorang wanita yang saat ini melingkari tubuhnya. Dan ia pun menjadi sangat sulit untuk tidak membalas melingkari tubuh wanita tersebut.

Lilyannè Jasyln.

Wanita cantik keturunan Inggris dengan bola mata hijau yang indah. Seorang yang ia kenal beberapa bulan yang lalu, hadir bak matahari kala mereka tengah berbincang mengenai masa depan. Tawanya sangat khas, orang-orang mengatakan, jantung mereka berdebar saat mendengar wanita itu tertawa.

Dan anehnya.

—Hyunjin pun merasakannya.

Pada perdebatan batin untuk mengkhiraukan semuanya, lalu mengingat sang Kekasih berada di rumah. Nyatanya, semua itu sangat sulit dijelaskan.

“Kamu ga bisa dapet ahli waris dong nanti?”

Kalimat itu dengan pernyataan yang akan menghujam Jeongin membuat Hyunjin terbuai.

Terbuai dalam —kebahagiaan yang akan ia dan Jeongin rasakan?

Hanya dengan melalui Lily.

“Kamu ga tidur, Hyun?”

Suara wanita yang lebih tua tiga tahun darinya mengambil atensi Hyunjin. Bola matanya sedikit tertutup kantuk dan helaian rambut menatap Hyunjin sayu.

Mengelus hangat tubuh wanita yang tengah terbalut kain satin itu kala semakin rapat pada tubuhnya, lalu menjawab. “Belum ngantuk.”

“Kamu inget sama suami kamu, ya?”

Dan pertanyaan yang ini hanya dapat dijawab dengan senyuman.

“Semuanya gara-gara aku?”

Suara Lily melemah, bersandar pada dada bidang Hyunjin dan sudah siap akan menangis. Lantas Hyunjin hanya memeluknya, melontarkan kata-kata penenang bahwa semua itu bukan salah dia.

Lalu, salah siapa?

“Hyunjin.”

“Hm?”

“Can i kiss you?”

Hyunjin terkesiap. Tidak mungkin. Ia bahkan tidak pernah berciuman dengan orang lain selain Jeongin. Dan dia pun tidak mungkin membiarkan Lily men—

“Aku rasa, ini keinginan anak kamu.”

Ya, semua orang tau jawabannya.

Hyunjin bahkan tidak menolak kala Lily merambat naik pada tubuhnya. Berbagi kehangatan dan kebahagiaan di malam yang penuh hujan. Hanyut seakan aliran air yang jatuh pada bumi yang lusuh.

Hilang.

Semuanya hilang.

Hyunjin sudah menghilangkan semuanya.


Jeongin bahkan tidak mengerti, kenapa ia malah membiarkan tubuhnya basah akan air hujan. Ia termenung, mengingat kenangan hangat bertahun-tahun ia habiskan dengan Kekasihnya, namun sekarang tersisa kepingan dingin yang selalu menggores tanpa kasih.

Tangannya terangkat seakan ingin menggenggam air. Lantas tersenyum saat air itu malah jatuh merembas keluar tanpa bisa dicegah.

“Kamu sama seperti air ini, bae.”

Bunyi petir seperti bunyi genderang akhir dunia. Menemani Jeongin yang masih setia di bawahnya. Bibir semanis cherry itu sudah membiru. Namun ntah kenapa —Jeongin masih tidak ingin beranjak dari tempatnya.

Sontak sorai yang membelah hujan tidak dapat Jeongin tangkap. Ia tersenyum.

“Bae?

Bruk!

“Jeongin!”

Tergeletak begitu saja pada tanah yang menjadi alas dan air hujan menjadi selimut malam.

Jeongin menutup matanya.

Dalam pelukan Heeseung.