I'm coming home! narasi 05
Hyunjin berlari dengan sangat kencang menembus dinding putih yang hening. Tampilannya berantakan, ada bekas luka di beberapa tempat yang sudah mengering, dan sekarang ditambah dengan genangan air mata di pelupuk yang sendu.
Tidak, jangan sekarang.
Lututnya lemas, namun untuk berhenti pun tidak mungkin. Lorong itu terasa panjang, mencambik setiap jantung yang berdetak.
Bangchan di sana. Duduk dengan tatapan kosong bersama suaminya, Minho mengelus punggungnya. Lalu di depannya ada Heeseung yang terseduh mengadu dan satu pria yang tidak Hyunjin kenal.
Langkahnya memelan, berbeda dengan air mata yang tidak henti-hentinya terjatuh. Lampu di depan ruangan belum menunjukkan Dokter sudah keluar dari ruangan ICU. Hyunjin mengadu, tidak tau lagi harus berucap apa.
BUG!
“Harus nunggu Jeongin gini dulu baru lo bisa ngerti siapa Jeongin itu?!”
Heeseung menerjangnya tanpa bisa dicegah Sunghoon. Menarik kerah Hyunjin dan melampiaskan amarahnya yang tidak dapat ditampung.
“Harus nunggu Jeongin sekarat dulu baru lo mau pulang?!”
Hyunjin menerima setiap pukulan Heeseung, ia menangis sejadi-jadinya. Memohon ampun pun percuma, semua salahnya.
“Kak, udah kak.”
Sunghoon membawa Heeseung menjauh, membiarkan tubuh Hyunjin merosot terduduk.
Lain dengan Heeseung, Bangchan masih terdiam. Tidak ada ekspresi saat kedatangannya barusan, ia hanya —menatap kosong pada pintu ruangan yang belum terbuka.
Hyunjin memberanikan diri untuk mendekat. Ia menyentuh lutut Chan dan memeluknya.
“Jeongin lagi dioperasi, pembuluh darahnya pecah, tapi darahnya juga membeku. Dokter ga bisa kasih apa-apa selain dioperasi, dan menurut saksi yang lihat Jeongin kepental agak jauh. Dia juga masih sempet sadar sebentar sebelum dia kehilangan kesadarannya.”
Penjelasan Bangchan semakin menghujam jantungnya. Ia menggeleng rapuh, memohon ampun pada Yang Maha Kuasa. Berkelit pada pikiran yang selama ini disematkan bahwa yang dilakukan hanya untuk kekasihnya, Jeongin.
Hingga secara sadar ia menghancurkan hati Jeongin. Meninggalkannya untuk sesaat, melontarkan kata kasar, hingga secara sadar pun ia mencium Lily di depan Jeongin saat itu.
“Jeongin salah apa, Jin?”
Hyunjin menggeleng, semakin memeluk lutut Bangchan.
“Kakak minta maaf kalo adek kakak ada salah.”
Tidak, dia yang salah.
Dia yang menghancurkan semuanya dengan dalih kebahagiaan diakhirnya. Namun apa? Kekasihnya berada diujung tanduk kematian juga karena ulahnya.
Ulah Hyunjin yang ingin melindungi Jeongin.
Ulah Hyunjin yang diam-diam menutup mulut semua orang atas pembicaraan yang akan menusuk hati kekasihnya.
Ulah Hyunjin yang membawa orang asing masuk ke dalam hubungan mereka.
Tapi demi tuhan, sampai detik ini pun ia sangat mencintai kekasihnya. Ia memang berbuat salah, tapi berpikiran untuk melepaskan Jeongin adalah pikiran yang tidak pernah ia bayangkan.
Ting!
Semua yang berada di sana segera menoleh. Bangchan bahkan segera menghambur ke depan pintu menunggu Dokter yang akan keluar sebentar lagi.
Hampir 4 jam dan akhirnya ia bisa melihat adiknya yang terpasang banyak alat tertidur dengan perban melilit ditubuhnya penuh.
Hyunjin segera mendekat, menyentuh hati-hati telapak tangan Jeongin. Ia kecup sebentar kening kekasihnya yang diperban.
“Honey.”
Hyunjin berjalan masuk bersama dengan Bangchan yang sudah menghambur pada satu-satunya keluarga yang ia punya selain Minho.
Diambilnya telapak tangan Jeongin untuk ia bawa pada genggaman hangatnya.
“Aku pulang, Honey.”
Bunyi kardiograf menyapa Hyunjin dengan menyebalkan. Ia ingin mendengar suara manis kekasihnya yang selalu menyambut penuh hangat.
Lagi-lagi lidahnya keluh, tidak dapat mengatakan apapun hingga hanya tatapan hancur yang tergambar jelas pada mata Hyunjin.
“Adek, ini Hyunjin udah di sini. Katanya mau kasih bunga matahari yang kita beli tadi siang, itu bunganya udah hancur karena basah, kita beli lagi untuk kamu kasih ke Hyunjin mau ga? Kalo mau, tolong bertahan ya adeknya kakak.”
Hyunjin yang mendengar itu terisak. Heeseung bahkan harus keluar untuk menenangkan dirinya.
“Pasien mengalami benturan yang cukup keras sehingga mengalami cedera otak yang hebat. Saya tidak bisa menjamin apapun selain ada kersusakan otak pada pasien dan saat ini, pasien mengalami hilangnya kesadaran dengan waktu yang tidak bisa kami tentunkan atau umumnya pasien mengalami koma. Saya sudah berusaha semampu saya, jadi terus berdo'a pada tuhan untuk kesembuhan pasien, sejatihnya hidup dan mati seseorang hanya di tangan Tuhan.”
Jika ini karmanya, lantas kenapa harus Jeongin? Cabut saja nyawanya untuk membuktikan betapa ia tidak sanggup melihat kekasihnya terbaring tanpa nyawa.
Tuhan, beri aku kesempatan sekali lagi.