“Inget, emosinya dikontrol.” Hyunjin memberi wejangan sembari merapikan rambut berantakan Jeongin akibat helm batok kelapa kesayangannya. “Gue duduknya misah aja biar kalian ada privacy buat ngobrol.”

“Bawel lo.”

Satu jitakan main-main diberikan Hyunjin tepat di kening Kapten, “Kalo dikasih tau ada aja jawabannya bikin gue emosi.”

“Bacot ah, buruan gue udah laper, anjing.”

“Untung rame di sini, kalo sepi udah gue tonjok beneran lo.”

Jeongin tidak menanggapi. Restoran bergaya Italia itu tempat favorit keluarganya dulu makan malam bersama. Saat hanya ada mereka bertiga, tanpa anggota keluarga baru, atau pun perasaan yang mati dan singgah di tempat yang lebih hidup.

Aroma yang khas mencuri ingatannya untuk memutar memori sejenak. Tidak peduli pada banyak mata yang memandang aneh pada dua anak remaja lengkap dengan seragam sekolah ditutupi jaket berada di tempat makan mewah.

Hyunjin maju untuk menggenggam tangan Kapten tanpa tanda-tanda penolakan dari sang musuh. Dia berjalan lebih dulu, membiarkan tatapan-tatapan itu tertuju padanya dibandingkan Kapten yang berada dibalik punggungnya.

“Jeongin.”

Dan panggilan dari pria yang berada di meja paling sudut sembari melambaikan tangan dengan senyuman cerah di wajahnya menarik atensi mereka.

“Maaf ya ganggu waktunya, Jeongin baru pulang?”

“Udah dari tadi, om.” tidak, itu Hyunjin yang menjawab. Jeongin dengan malas duduk di hadapan Om Win, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi yang bersahabat.

“Gue duduk di sana, take your time, ya.”

Hyunjin yang berjalan untuk mengambil tempat di meja kosong kelang dua meja dari tempatnya lebih enak diperhatikan dibanding pria dihadapannya saat ini. Ia hanya tidak tau, seberapa besar rasa gugup yang melanda Win Metawin, Dosen muda di salah satu kampus ternama di Indonesia, sekaligus kekasih ayahnya.

Jemari saling bertaut, senyum canggung, dan degup jantung yang seolah akan keluar membuat suasana semakin canggung.

“Lo mau ngomong apa?” segala sopan santunnya sudah hilang ditelan bumi.

“Ah? oh, iya, itu—”

“Ngomong yang jelas, gue ga ada waktu.”

Win mengulum senyumnya kecut, “Itu temenmu?”

“Dia siapa kayaknya lo ga perlu tau, masalah hidup gue, pertemanan gue, dan orang-orang yang berhubungan sama gue itu ga ada sangkut pautnya sama lo.”

Rasa kebasnya terasa. Ucapan panjang lebar yang diucapkan Jeongin dingin seakan membuat meja bundar itu berjarak 10 meter.

“Ah, bener.” suaranya sangat pelan, “Kamu bener.”

“Ini bisa keintinya aja ga? gue capek, mau istirahat.”

“Oh iya, kita sambil makan, boleh? itu om udah pesenin pasta kesukaan Jeongin.”

Jeongin tidak membantah, mau sebenci apapun dirinya pada pria itu, makanan tetap makanan. Keadaan dingin di antara mereka berubah sedikit hangat saat satu suapan masuk ke mulut Jeongin. Tanpa Jeongin tau, Win tersenyum hangat melihatnya.

Dan tanpa keduanya tau, Panglima tidak melepaskan pandangannya barang sedetik pun ke arah sang Kapten.

Setidaknya Jeongin tidak melemparkan makanan itu ke Om Win seperti skenario di otaknya sepanjang jalan tadi.

“Om mau minta maaf buat sikap Bright ke Jeongin.”

“Urusan gue sama papa itu juga urusan gue, lo ga perlu ikut campur.”

“Jeongin.”

“Kayaknya walaupun gue ga ngomong, lo pasti udah tau seberapa bencinya gue sama lo, kan?”

Anggukan itu sama sekali tidak membuat Jeongin iba. Mata yang bekaca-kaca dengan senyuman masih terpasang di wajahnya sungguh membuat Jeongin semakin mati rasa. Harusnya yang merasa tersakiti itu dirinya, bukan Om Win, Heeseung atau siapa pun.

“Om tau keberadaan Om belum bisa Jeongin teri—”

“Ga. Bukan belum, tapi ga bisa gue terima.”

Lagi-lagi kalimat yang ingin Win ucapkan dipaksa berhenti. Bucar semuanya. Dia sudah tau akan seperti ini, tapi dengan keras kepala ingin mencoba untuk bertaut pada anak bungsu Bright, kekasihnya.

Are you okay, Jeongin?

Alis Jeongin berkerut bingung, “Konteks?”

“Om tau kamu berantem sama Kak Heeseung.”