“Inget, emosinya dikontrol.” Hyunjin memberi wejangan sembari merapikan rambut berantakan Jeongin akibat helm batok kelapa kesayangannya. “Gue duduknya misah aja biar kalian ada privacy buat ngobrol.”

“Bawel lo.”

Satu jitakan main-main diberikan Hyunjin tepat di kening Kapten, “Kalo dikasih tau ada aja jawabannya bikin gue emosi.”

“Bacot ah, buruan gue udah laper, anjing.”

“Untung rame di sini, kalo sepi udah gue tonjok beneran lo.”

Jeongin tidak menanggapi. Restoran bergaya Italia itu tempat favorit keluarganya dulu makan malam bersama. Saat hanya ada mereka bertiga, tanpa anggota keluarga baru, atau pun perasaan yang mati dan singgah di tempat yang lebih hidup.

Aroma yang khas mencuri ingatannya untuk memutar memori sejenak. Tidak peduli pada banyak mata yang memandang aneh pada dua anak remaja lengkap dengan seragam sekolah ditutupi jaket berada di tempat makan mewah.

Hyunjin maju untuk menggenggam tangan Kapten tanpa tanda-tanda penolakan dari sang musuh. Dia berjalan lebih dulu, membiarkan tatapan-tatapan itu tertuju padanya dibandingkan Kapten yang berada dibalik punggungnya.

“Jeongin.”

Dan panggilan dari pria yang berada di meja paling sudut sembari melambaikan tangan dengan senyuman cerah di wajahnya menarik atensi mereka.

“Maaf ya ganggu waktunya, Jeongin baru pulang?”

“Udah dari tadi, om.” tidak, itu Hyunjin yang menjawab. Jeongin dengan malas duduk di hadapan Om Win, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi yang bersahabat.

“Gue duduk di sana, take your time.