KASA KAPAS
“Hadah dah.. pelan-pelan anjing. Niat ngobatin ga— aw! BANGSAT!”
“Gebukin orang santai, giliran diobatin banyak tingkah.”
“Sakit goblog bukan banyak tingkah.”
Pendingin ruangan pun bahkan tidak mampu menyaingi dinginnya Kapten. Remaja 17 tahun dengan kata-kata kotor bak manisan yang menyatu dalam mulut. Tapi tenang; Hyunjin sudah terlampau terbiasa. Sikap Kapten bukan hal yang sulit untuk dikendalikan.
Seperti sekarang contohnya.
“Masih sakit?” dia meniup luka baret di punggung Jeongin.
“Sedikit.” jawab Kapten pelan. Sangat pelan, sampai suara ngegas yang sehari-hari dia dengar di sekolah digantikan alunan lembut bagaikan anak kecil.
“Biru nih di sini, jatoh ya lo?”
“Iya, dilempar dua orang.”
“Gue teken ya.”
“Anak setan!”
Nyatanya lebih baik Jeongin dengan kalimat mutiara dibandingkan Jeongin yang kelewat manis barusan.
“Lo tawuran ngeributin apaan?”
“Anak kecil ga perlu tau.”
“Yaudah nanti gue laporin ke guru.”
“Tuh kan! emang anak setan lo ya, cepu lo anjing.”
Hyunjin terkekeh senang. Bersama Jeongin tidak pernah luput membuatnya tergelitik geli. Sumbu pendek mengalahkan pemantik lilin kala mati lampu.
“Makanya kasih tau.”
“Ya ada lah masalah anak IPA, lo anak IPS kagak perlu tau.”