Kepada bintang yang tidak pernah menaruh dendam pada bulan, kepada langit yang setia terbentang untuk samudra, kepada matahari yang tidak lelah untuk bersinar terang kala malam menyapa —ku ingin menitipkan sebuah kisah sejenak.

Kisah tentangku yang terkapar dalam cinta yang tak kunjung datang.

Dalam debar yang ingin kudengar saat tubuh saling bersandar; mata beradu pandang dengan senyuman. Nyatanya hanya indurasmi yang kupangku sepi.

Ini kisahku.

Perihal atma renjana yang tidak kunjung berhenti bergetar untuk kekasihnya.

Meski bukan bekas ciuman yang terpampang melainkan lebam yang diberikan, tetap kepadanyalah hati ini ingin berdetak tak karuan.

Bahkan ketika datang hanya untuk mencumbu, alih-alih melepas rindu, atmanya tetap sama.

Ingin tau kenapa? nyatanya sederhana; kala hati sudah menentukan rumah untuk berpulang, sendu akan mengalah pada bayangan harsa.

Nebastala sudah tau, apalagi bianglala yang berkunjung tidak tentu.

Mereka semua tau, bahwa cintamu tidak pernah luntur untuk menunggu kehadiran bayangannya berlari padamu.

-

Pun tau; bahwa kalbumu tidak pernah melihat ke arahku yang setia mencinta dalam gapah.

Tenang, jangan khawatir, lara-ku tidak sebanding dengan dera pada hatimu.

Jeongin, pria manis yang kukenal selalu bersama kelopak bulan sabit di matanya.

Jeongin, pria manis yang penuh dengan pesona dalam balutannya.

Jeongin.. dimana Jeongin yang kukenal dulu?

Yang bersuara merdu kala bernyanyi “drivers license” milik Olivia Rodrigo dengan akara aksa penuh arti.

Jeongin, aku tau dirimu tidak mengenalku. Tapi bolehkah ku berkata bahwa aku sangat mengenal dirimu?

Ku ingin bersamamu, sungguh, tapi kutau, tempatmu bukan bersamaku.

Jadi pergilah, terbang dan mendaratlah pada bandara yang dirimu inginkan.

Biar aku di sini, menitip kisah pada semesta, berharap malam-mu penuh dengan gemetang indah, serta luka yang segera padam dengan bahagia sebagai gantinya.

-

-

Andam Karam: LMH. Januari, 2020.