KERUPUK SEBLAK


“Niatnya mau ke ruang osis bayar duit kas, eh pas ngangkat palak abis ngabarin anak-anak osis doi lewat fuck sinis banget buset kayak dosa gue pindah aja ke dia padahal gue cuma jalan biasa anjing, bukan yang anak ipa lewat gue mintain 2 rebu.”

Laju motor yang pelan membuat Panglima dengan jelas mendengar tawa Kapten di belakang. Merdu bak gemerisik dedaunan yang terkena angin di cuaca cerah hari ini.

“Echan mah emang gitu, bukan lo doang semua anak ips juga dia sensi.”

“Lah anjing?”

“Lagak lo kayak lupa aja kita ini musuh.”

Kali ini giliran Panglima yang tertawa. Dia menoleh sedikit ke arah Kapten yang menaruh dagunya di bahu Panglima dengan nyaman. Fokusnya mulai terbagi.

“Oh iya ya, gue beneran lupa lagi.”

“Anak setan.” rona merah di pipi Jeongin terlihat kontras di bawah matahari.

“Lo juga?”

“Apa?”

“Disensiin Echan?”

“Sedikit.” pandangannya mengedar pada bangunan yang sedikit padat oleh pengunjung. “Awalnya dia ga kayak gitu, cuma karna ada masalah pribadi makanya jadi hatinya penuh dengki.”

“Kasian.”

“Kayak lo.”

“Beda dong, hati gue ga pernah penuh dengki.”

“Iya emang.” tangan itu semakin erat memeluk Panglima, sejenak menatap musuhnya dari pantulan spion yang terlihat sangat jelek. “Tapi penuh sama gue kan?”

“Anjing ... hahaha.”

Dan keduanya tertawa bersama. Mengalahkan semua melodi yang indah.

“Flirtting nya jangan sekarang pipi, gue lagi bawa motor ntar kita jatoh masuk paret gimana?”

“Katanya ga mau bikin gue lecet.”

“Lo naik pundak gue aja dah sini biar kalo jatoh gue duluan.”

“Anjing, manis ya mulut lo.”

“Widi yang sering ngerasain.”

“Ga gitu maksudnya babi.” dengan sengaja Jeongin menoyor helm Hyunjin sampai sang pembawa motor itu tertawa puas. “Omongan lo yang sok manis maksud gue.”

Sejenak Jeongin tidak sadar betapa tingginya senyuman dia kala melihat Panglima tertawa sampai matanya berbentuk bulan sabit. Selaras dengan detak jantung asing seperti dulu hinggap menyapa.

“Lo tau ga kalo Jaehyuk sama Asahi pacaran?”

“Hah? maksudnya?”

“KAN! Kaget kan!”

Tepat ketika di lampu merah, Hyunjin memberikan seluruh atensinya pada Jeongin tanpa membiarkan Kapten menarik tubuhnya untuk memberi jarak.

“Kapan mereka jadiannya anjing? klepon gue pendiem gitu buset kirain yang bakal jadian duluan pawat sama nanon.”

“Kagak tau aduh patah hati gue.”

“Eh jangan gitu dong, lo patah hati gue juga patah hati nih.”

Ajaibnya Jeongin malah tertawa. Kapten dengan senyuman paling manis yang pernah Hyunjin lihat berhasil membuat ritme jantungnya berdegup kencang. Dia masih ingin berdiam, memandang Jeongin adalah kebiasaan barunya sekarang. Namun bunyi klakson dari pengemudi mobil di belakangnya yang tidak sabar sukses memaksa Hyunjin melempar umpatan.

“Dari tadi ngomongin orang mulu, mending ngomongin kejelasan hubungan kita aja pipi.”

“Cari caffe aja gue mau belajar di sana.”

Nice try Hyunjin. Lantas Panglima mengangguk setuju. Tanpa melunturkan senyuman atas apreasiasi perjuangannya mendekati kulkas dua belas pintu.

“Besok lo ulangan apa?”

Kalau Kapten punya banyak cara untuk mengalihkan pembicaraan, maka Panglima punya segudang cara agar komunikasi mereka tidak mati. Dia Panglima, bukan kerupuk seblak yang mudah lembek. Jika sekali Kapten menolak, biar hari lain yang mencetak cerita bagi keduanya. Banyak kesempatan, dan Panglima akan mengambil setiap kesempatan itu.

Jatuh cinta sama Kapten itu susah, tapi sayangnya Panglima menikmati setiap perasaan dari jatuh cinta itu.