LAKUNA DAN PURNAMA

___

Pening menyergap kala kepalanya terbentur ujung meja. Diamnya bukan tanpa alasan, teriakan dan makian menjadi alasan yang sebenarnya. Jemarinya secara refleks menutupi muka, berharap pecahan kaca tidak dapat melukai wajahnya.

Kejadian seperti ini sudah biasa. Seberapa keras dia kabur dan pulang, semuanya akan tetap sama. Harap saja nyawa masih mendera, atau belas kasih hingga membiarkannya tidak berakhir koma seperti yang pernah-pernah.

“Tawuran, ngerokok, bolos, mau jadi apa kamu, Jeongin?! Bikin malu papa!”