LAKUNA DAN PURNAMA


Pening menyergap kala kepalanya terbentur ujung meja. Diamnya bukan tanpa alasan, teriakan dan makian menjadi alasan yang sebenarnya. Jemarinya secara refleks menutupi muka, berharap pecahan kaca tidak dapat melukai wajahnya.

Kejadian seperti ini sudah biasa. Seberapa keras dia kabur dan pulang, semuanya akan tetap sama. Harap saja nyawa masih mendera, atau belas kasih hingga membiarkannya tidak berakhir koma seperti yang pernah-pernah.

“Tawuran, ngerokok, bolos, mau jadi apa kamu, Jeongin?! Bikin malu papa?!”

Kertas hasil ulangan itu dilemparkan padanya yang terduduk di lantai. Kali ini tanpa ragu sang ayah membuka lemari pajangan piala di ujung ruangan, Jeongin bangkit karena tau apa yang akan terjadi. Belum sampai dia berjalan, penghargaan yang dia dapatkan itu hancur berkeping-keping. Rusak, sama seperti dirinya.

Jeongin terdiam, sakit kembali datang hingga sesak. Dia terbatuk seakan pasokan udara menipis. Pandangannya memburam; dan secepat itu pula ingatan seberapa keras dia mendapati penghargaan-penghargaan itu menghujani ubun-ubunnya. Seakan tidak cukup, tamparan keras menjadi bunyi nyaring di tengah lakuna. Mati rasa.

“Buat apa kamu dapetin semua itu kalo kamu ga bisa jadi nomor satu?! Liat Heeseung, walaupun sakit ulangannya selalu 100.”

Itu lagi.

Jeongin muak.

“Kamu kan yang bikin Heeseung masuk rumah sakit?”

Lagaknya yang berantakan tertutup pada tawa remeh. Sengaja mengundang amarah. Biar saja, mungkin mati lebih baik. Jeongin tidak tau tempat mana yang dapat menerimanya dengan hangat, rumah yang hancur pun tidak mampu dibandingkan dirinya saat ini.

“Oh masih hidup? kirain udah mati.”

“Kurang ajar!”

Sang Kepala Keluarga beranggapan dia paling berkuasa. Semua harus tunduk padanya, menjadi boneka yang patuh. Pun jika mati menjadi pilihan terakhir, namanya harus mampu dibuat tercium wangi demi mengangkat pundak kebanggaan.

“Harusnya dari awal ga papa biarin kamu lahir.”

Nebastala pun masih memiliki kasih. Lembayung senja menemani bumi dibalik indurasmi. Lantas apa? haruskah pergi mengejar mentari pagi tanpa kembali?

“Yaudah bunuh aja.”

Jeongin menantang, kelewat luluh lantah dibuatnya. Dia berdiri tepat dihadapan seseorang yang sulit untuk diakui kedudukannya di rumah.

“Udah pernah juga kan? kayak yang papa lakuin ke—”

“Jeongin!”

Raganya seperti diterjang ombak lautan lepas. Ditarik untuk diselimuti deru samudra. Tenggelam dikala kaki masih berpijak pada bentala.

Tidak takut. Jeongin sudah tidak takut. Saat satu tamparan membuat darah mengalir bebas dari pipi dan sudut bibirnya, Jeongin tetap tidak takut.

Nuraga hancur berantakan. Harapan jatuh, mungkin angin malam bisa menyelimuti dirinya yang mulai menggigil nyeri. Jeongin terseok, kepalanya pening dan dia hanya ingin berbaring. Dirinya belum makan malam, baru saja tertawa karena berbincang aneh dengan Panglima.

Ah benar, pria itu.

“Papa nyesel punya anak kayak kamu!”

Sayup dari matanya masih dapat menangkap bayangan kursi kayu meja makan diangkat untuk dilayangkan ke arahnya. Bentala kau tidak keberatan bukan jika satu orang lagi tenggelam dalam tanahmu? sebab rasanya aku tak mampu, pulang saja, bawa aku pergi jauh.

BRAK

Hening.

Kosong melanda jiwa yang masih berdetak. Tubuhnya terasa hangat dalam pelukan. Perlahan suara bisikan merasuki indra pendengarannya, memaksa Jeongin untuk membuka mata dan bernyawa.

“Gue di sini, Pipi bolong.”

“Panglima?”

“Maaf, gue kelamaan.”

Sirat ketenangan kembali datang, binar pada matanya dilingkupi senyuman. Jeongin dapat melihat kursi itu patah menjadi beberapa bagian.

“Punggung lo?”

“Gapapa, gue gapapa.”

“Lo apa-apaan, bri? Gila lo? Lo mau bunuh anak lo sendiri?”

Itu suara papi Anyon. Jeongin kenal, sosok ayah yang temannya pinjamkan untuk mengisi rasa yang hilang. Dengan hati-hati tubuhnya diangkat, Jeongin menjatuhkan pandangan pada Panglima yang masih mengusap punggungnya menenangkan. Dersik hadir di tengah, menghancurkan teriakan umpatan yang masih dilontarkan. Ringisan saja enggan untuk keluar, mati rasa.

“Gue laper hehe..”

Maka Panglima yang mati-matian berusaha menahan tangisnya dibalik senyuman. Yang lebih tua menelan amarah, kesal pada kenyataan dia terlambat untuk melindungi Jeongin, cintanya. Atma renjana pandai berbohong, tetapi Jeongin lebih ulung. Dan Hyunjin benci itu.

“Hyunjin, bawa jeongin pergi.”

Om Win menyela, jaket tebal miliknya dia berikan untuk Jeongin pakai. Jika saja tenaganya masih ada, Jeongin ingin berdebat saat ini juga. Maka yang dia lakukan hanya tertawa. Menertawakan hidup dan keadaannya yang berantakan dihadapan Panglima.

“Ayok.”

“Gendong.”

Dengan sengaja Panglima mengadu keningnya dan kening Kapten pelan. Memberikan punggungnya yang masih kebas untuk sang terkasih.

Adu mulut masih dapat Jeongin dengar. Ayahnya memang keras kepala. Sifat yang menurun padanya.

“Tapi Jeongin itu anak kamu! dia masih anak-anak bri, dimana otak kamu sampe tega mukulin Jeongin gitu?”

Bahkan ibunya saja tidak datang, lantas untuk apa pria manis itu membelanya? Cari muka?

Ah, memuakkan.

“Kita mau kemana?”

“Jalan-jalan, cari angin.”

Jika lakuna penuh kegelapan, haruskah ucapan terimakasih diberikan pada purnama yang datang berwujud manusia? senyum lebar seakan meyakinkan diri bahwa semua baik-baik saja melarutkan hati dingin.

“Dia itu anak kurang ajar, harus dikasih pelajaran!”

“Jangan dengerin ya.”

Jeongin mengangguk, menutup kaca helmnya. Membiarkan tangannya dibawa untuk melingkari perut Panglima erat. Perlahan tapi pasti, motor itu melaju. Membawa raga dan jiwanya pergi dari hiruk-pikuk drama yang selalu terjadi di rumah. Pada kesendirian yang diisi secara suka rela bersama membelah malam.

You save me, Panglima.

Air matanya baru terjatuh. Meski dia seorang Kapten dan seorang anak yang sudah mengarungi banyak rasa sakit, Jeongin tetaplah seorang manusia yang memiliki hati. Dia hanya pelakon, pembohong ulung, dan pemilik topeng yang banyak.

Jeongin bisa berbohong pada siapa pun, tapi tidak pada Hyunjin. Malam ini, sang Panglima membawa motornya dengan penuh amarah dan kesedihan yang bercampur. Punggung lebarnya yang mulai terasa basah seakan menghujaninya ribuan jarum pada hati.

Gue janji, siapa pun orangnya ga bakal gue biarin hidup tenang karena ngelukain lo pipi bolong. Gue bakal bikin rasa sakitnya berkali-kali lipat dari yang lo rasain.