Lembaran Baru
“Kamu yakin Prince, papi bakal setuju kamu tinggal sama Hyunjin?”
Bagi Jeongin, pertanyaan kak Changbin barusan seperti peluru yang menghantam telak pada sasaran. Bersarang di kepala hingga menggerogoti akal sehat untuk cepat-cepat terlelap, namun juga tak ingin berakhir di tengah jalan diselimuti darah dan aroma aspal basah. “Maksudnya, bukan bearti hubungan Prince ga bakal bisa ke tahap selanjutnya. Tapi, Prince tau kan seberapa protectivenya papi ke kamu?”
Sekarang Jeongin mana bisa berpikir lurus lagi. Dia tau pasti bagaimana watak papinya, tapi sebatas rasa kasih sayang pun Jeongin bisa mendapatkannya lebih dari Hyunjin. Lantas apa bedanya? Jeongin rasanya ingin menjerit histeris. Perdebatan batin antara kemauannya dan logika Changbin yang lebih masuk akal membuat kepalanya mentok. Hampir genap dua minggu Jeongin meyakinkan diri kalau hubungan dia dan Hyunjin bisa menjadi utuh, dan malam ini, kak Changbin malah memporak-porandakan isi kepalanya bak angin topan.
“Emang apa alasannya buat papi nolak kak Hyunjin?” ini bukan pertanyaan restoris. Jeongin sepenuhnya butuh alasan yang lebih logis untuk membuat alasan baru kalau pelukis yang berhubungan dengannya adalah yang paling tepat. “Lagian sejauh 2 tahun hubungan aku sama kak Hyunjin, dia ga pernah coba bikin ingatan aku hilang.”
Ryujin yang sedari tadi menyimak sambil bikin segelas kopi susu, dibuat hampir menumpahkan minumannya sesaat baru jadi. “