Lembaran Baru


“Kamu yakin Prince, papi bakal setuju kamu tinggal sama Hyunjin?”

Bagi Jeongin, pertanyaan kak Changbin barusan seperti peluru yang menghantam telak pada sasaran. Bersarang di kepala hingga menggerogoti akal sehat untuk cepat-cepat terlelap, namun juga tak ingin berakhir diselimuti darah dan aroma aspal basah. “Maksudnya, bukan bearti hubungan Prince ga bakal bisa ke 'tahap selanjutnya'. Tapi, Prince tau kan seberapa protective papi ke kamu?”

Sekarang Jeongin mana bisa berpikir lurus lagi. Dia tau pasti bagaimana watak papinya, tapi sebatas rasa kasih sayang pun Jeongin bisa mendapatkan itu dari Hyunjin. Lantas apa bedanya? Jeongin rasanya ingin menjerit histeris.

Perdebatan batin antara kemauannya dan logika Changbin yang lebih masuk akal membuat kepalanya nabrak jalan buntu. Hampir genap dua minggu Jeongin meyakinkan diri kalau hubungan dia dan Hyunjin bisa menjadi utuh, dan malam ini, kak Changbin malah memporak-porandakan isi kepalanya bak angin topan di tengah gurun.

“Emang apa alasannya buat papi nolak kak Hyunjin?” ini bukan pertanyaan retoris. Jeongin sepenuhnya butuh alasan yang lebih logis untuk membuat alasan baru jika pelukis yang berhubungan dengannya adalah yang paling tepat di antara pilihan-pilihan lain.

“Lagian sejauh 2 tahun hubungan aku sama kak Hyunjin, dia ga pernah coba bikin ingatan aku hilang.”

Ryujin yang sedari tadi menyimak sambil bikin segelas kopi susu, dibuat hampir menumpahkan minumannya sesaat baru jadi. “Emang siapa yang berani buat hal segila itu ke Prince kak Ryu?” nah, kalau ini baru pertanyaan retoris.

“Kenapa masih nanya? bukannya udah tau?” kali ini Jeongin bertanya kelewat santai. Lekuk jarinya yang lentik menari di atas kanvas, terlihat tenang namun begitu banyak yang terkelupas di dalam.

Jeongin sudah dalam perjalanan ke dua puluh tiga tahun, dia bukan sosok boneka sawah lagi. Jeongin sudah mengenal banyak hal, dia tau rumah sehangat ini telah menyimpan begitu banyak bau anyir dan nyawa yang berhamburan. Jeongin sudah merasa cukup atas peraturan yang tidak mendasar, dia tau letak posisinya. Goresan takdir itu diikat bukan sebatas julukan yang orang-orang kenal—namun tentunya untuk mencetak duplikat baru.

Tapi Jeongin juga ingin merasakan segala hal yang menyenangkan. Jeongin ingin melukis di bawah langit biru sembari mendengar ricuhnya orang-orang berlalu lalang. Jeongin ingin setir motornya melintasi ibu kota dan berhenti dimana pun dia mau. Jeongin ingin penuhi usia remajanya dengan perasaan bahagia selepas pulang dari pameran. Jeongin ingin semua itu, hidup selayaknya manusia yang terbang seperti burung.

Jeongin ingin bebas.

“Pada ngomongin apa sih?”

Mata Jeongin membulat. Kaget saat ada suara baru yang tidak asing di sekitar telinganya. “Kakaaak. Ngagetin ih.”

Mendengar Jeongin merengek dengan bibir manyun begitu, Hyunjin jadi tertawa. Jika boleh jujur, seharian suntuk ini wajahnya ditekuk. Ada begitu banyak hal yang memusingkan di studio, dimulai dari dia yang salah mencampurkan warna di lukisan, cat yang kadaluarsa sampai membuat lukisan dia sulit mengering, dan Jisung yang lagi-lagi ceroboh menumpahkan teh di topi pemberian pumpkin tahun lalu. Tapi dengan melihat wajah menggemaskan Jeongin yang manisnya seperti labu, semua perasaan lelah itu hilang seketika. Benar-benar lenyap tak bersisa.

“Hayo, ngomongin kakak ya?”

“Sok tauuu.”

Lagi-lagi Hyunjin tertawa kecil. Telunjuknya yang mengeriput karena udara dingin di luar, dibawa untuk menoel cat kuning ke pipi bulat pacarnya.

“Kakak ih! ga boleh iseng.”

“Hari ini adonan pipinya kebanyakan ragi ya? jadi makin ngembang gini.”

“Kakaaak.” tawa Hyunjin makin pecah ketika Jeongin melempar botol cat kosong ke arahnya yang beruntung dia segera menghindar. “Jangan iseng ih, lukisan jeje belum selesai.”

Kalimat itu sejujurnya hanya dalih agar Hyunjin tidak tau bahwa sekarang jantung Jeongin rasanya ingin melompat turun ke mati kaki. Rasa aneh yang sebenarnya sangat Jeongin sukai; seperti saat bibirnya dipaksa naik dengan bola mata curi-curi pandang ke pemilik hati.

“Woy, di bumi ga cuma ada lo doang kalo lo lupa.” sekarang Ryujin menyambar dengan Changbin mengangguk setuju. “Tumben amat jam segini baru dateng, mau nginep apa cuma mampir?”

“Ngineeep!”

“Eh, kok kamu yang jawab.” Hyunjin terkekeh kecil, “Mana ada pumpkin bisa ngomong.”

“Nginep aja ya?” Jeongin si labu manis yang keras kepala itu menggenggam tangan Hyunjin dan diguncangnya bermaksud merayu. “Ya ya ya?”

“Kalo nginep kakak mau tidur di mana labu manis? kan di kamar tamu masih ada kak Jaehyun.”

“Di kamar jeje bisa.”

“Ga bisa! itu ga bisa, Prince.” nampaknya jawaban itu sudah ada dalam otak kak Changbin jika dilihat dari secepat apa dia menimpali.

“Bisa! kasur jeje luas.” Jeongin mengangkat dagunya.

“Ini udah malem Prince.” Ryujin tidak mau kalah.

“Justru karena udah malem kak ryuuu. Kak Hyunjin juga pasti capek dari studio ke sini kan butuh sejam masa harus bawa motor sejam lagi buat pulang. Kapan istirahatnya?”

Omongan Jeongin ada benarnya, tapi gagasan menginap itu bukan ide yang bagus untuk mereka tetap bernyawa di esok hari. Kepala Changbin dan Ryujin bisa putus kalau Bos Besar tau—tapi...

“Cuma tidur, ga lebih.” Changbin menunjuk Hyunjin tepat di muka. “Sampe gue tau lo ngapa-ngapain Prince, lo tau konsekuensinya.”

...Changbin juga suka waktu Jeongin merengek seperti anak kecil lagi. Persis seperti empat belas tahun si kecil yang dia kenal. Polos dengan mata yang berbinar harap keinginannya dibawa bintang jatuh agar segera terwujud.

“Gue mau bikin kopi, lo di sini temenin Prince. Baju sama air mandi lo nanti gue suruh yang lain siapin. Sekali lagi awas ya sampe gue liat di cctv lo ngapa-ngapain Prince, abis lo.”

“Bin, lo yakin? kalo bos tau—”

“Kak Abin makasiiiihhh! tolong buatin jeje sama kak Hyunjin susu ya, sama cemilan juga. Jeje agak laper hehe...”

Ini kesenjangan yang sangat terasa. Ryujin yang ingin protes jadi tidak lagi minat. Sorot mata manis yang manja itu sungguh yang beberapa bulan ini penghuni rumah rindukan. Begitu banyak perubahan memang sudah biasa, namun jika Prince yang berubah, siapa pun belum sanggup untuk terbiasa.

Prince hanya sosok anak kecil yang ingin mereka lindungi,

sosok remaja yang berusaha mereka jauhi dari moncong pistol dan peluru,

sosok yang biar saja jadi anak kecil tanpa repot-repot untuk tumbuh.

Changbin segera menarik akal sehatnya setelah beberapa detik terdiam. Sejenak lirikan itu terjatuh pada Jeongin dan seluruh atensinya ada pada Hyunjin. Eksistensi pelukis itu selalu hadir dengan sosok Prince yang penuh riang dan bahagia seperti tahun-tahun lalu. Bukan remaja dengan kepala kecil yang penuh akan hal gila seperti harus menempatkan posisi sebagai anak mafia dan penerus papi.

“Labu manisnya kakak ngapain aja seharian ini? ga ngabisin waktu buat melukis aja kan pumpkin?”

Sebenarnya Changbin sudah tak lagi sangsi, tapi mana mungkin terang-terangan memberi lampu hijau pada Hyunjin. Bukan perihal takut mati, tapi karena gengsi. Lagi pula, satu-satunya alasan dia masih memijak pad bumi, hanya karena sumpah akan menjaga Jeongin hingga dia mati. Memastikan remaja itu bernyawa hingga akhirnya merambah untuk memberi kebahagiaan yang sempurna. Changbin tidak pernah dilema meski besok selongsong peluru berada tepat di keningnya selagi bahagia tercantum telak di hidup Jeongin.

“Jeje tadi siang ke caffe ikut kak ryu, beli waffle tapi rasanya kayak kaos kaki. Ga enak wlek—tapi matchalattenya enak, jeje suka. Terus pulang, mandi, makan malem, baru melukis sambil ngobrol sama kak Abin.”

Changbin jelas mendengar panggilan itu lagi sebelum ia melangkah keluar menyusul Ryujin yang lebih dulu. Benar nyatanya; Changbin tak lagi takut berakhir dengan oksigen yang dipaksa tercekat habis. Changbin sudah memikirkan ini ribuan kali dan dia semakin yakin kalau akhirnya harus terbuai di lautan seperti Chan dan Seungmin yang gagal akan sumpahnya pada Yunhyeong dua tahun yang lalu, dia pastikan keraguan tidak akan pernah hadir.

“Lagian, anak kecil kayak kamu mana boleh mam waffle, bolehnya mam roti regal dilembutin pake susu.”

“Ihhh jeje udah besar yaaaa bukan anak kecil lagiii. “

Suara tawa Hyunjin nyaring di paviliun pribadi si labu manis. “Kamu itu besar, tapi kecil. Dimasukin ke toples nastar juga muat.” wajah Hyunjin mendekat ke milik Jeongin untuk menggoda. Menyatukan kedua hidung mereka dengan gemas sampai wajah Jeongin memerah.

“Kok malah mejem? nunggu apa emangnya, hm?”

Penuturan Hyunjin dengan senyum jahilnya itu membuat Jeongin memutar bola matanya malas. Ia melayangkan aksi anarkis sampai Hyunjin mendesis saat kulit lengannya dicubit bukan main-main. “Males deh suka rese!”

Lagi-lagi tawa Hyunjin mengayun ke seluruh sisi ruangan. Tubuhnya bergerak untuk semakin dekat pada pacarnya yang sekarang malah duduk membelakanginya sambil memainkan kuas dengan acak.

“Pumpkin.”

Tidak ada sahutan.

“Pumpkin sayang, kok kakak dicuekin hm?” pipi tembam seperti labu itu ditoel-toel seperti adonan donat.

“Ah jangan ganggu. Jeje mau ngambek!”

Mendengar intonasi ketus dari Jeongin, Hyunjin semakin melebarkan senyumnya sembari mengusap pucuk kepala Pumpkin bertujuan menenangkan. Dan berhasil. Pipi tembam yang lebih muda dia tangkup hati-hati.

“Kakak!”

Satu kecupan Hyunjin hadiahkan di kening Jeongin, “Kenapa labu manis?” tanyanya manis.

Ini namanya curang. Sentuhan tangan Hyunjin tidak serta merta membuat jantung Jeongin berdegup kencang, tapi juga melemaskan seluruh ototnya. Dari kondisi ini, Jeongin hanya mengerti satu hal; bahwa dia ingin lebih. Jeongin belum merasa cukup, dia ingin bibirnya juga merasakan milik Hyunjin.

Lima detik pertanyaan Hyunjin digantung dan berakhir hilang dengan sontak kejut ketika bibir Jeongin singgah di atas miliknya. Hyunjin dibuat melayang, matanya yang terbuka melihat jelas bagaimana Jeongin berusaha memimpin permainan. Dikecup dengan pelan, disesap dengan lembut, lalu menyisakan gairah saat bibirnya digigit kecil. Manis; Jeongin itu pacarnya yang paling manis sedunia.

Tidak butuh banyak waktu untuk Hyunjin mengambil alih kemudi. Dia dengan mudah mengangkat tubuh Jeongin. Bergerak dalam langkah pasti membawa sentuhan mereka ke sofa; lantas si kecil didudukkan di atas pangkuannya.

Jeongin dibuat gila. Dia hanya ingin merasakan milik Hyunjin yang lembut, namun berakhir dicium dengan sangat dalam olehnya. Kecipak basah menemani lenguhan mereka. Jeongin semakin kehilangan diri begitu lidah Hyunjin membelit miliknya hingga air liur merembas ke luar sampai ke dagu. Ini yang Jeongin mau. Mesra dalam ciuman sampai habis dimakan waktu.

“Kak Hyunjin, ah...”

Hyunjin mengecup pipi Jeongin dengan penuh hati. Menarik si kecil yang sedang sibuk mengisi paru-paru yang kehilangan oksigen ke dadanya.

“Kamu masih laper ya, sampe makan bibir kakak segitu rakusnya Pumpkin?” ini pertanyaan konyol, namun lebih konyol lagi pipi Jeongin yang tersipu karena itu.

“Ya habisnya enak...”

Oh. Betapa indahnya makhluk Tuhan satu ini

“Enak sampe mau lagi.”

Perkataan Jeongin barusan membuat dada Hyunjin berdenyut tak karuan. Sejauh yang dia tau, Jeongin itu ekstensif dalam kepolosan dan seribu modus yang tidak pernah kehabisan. Maka di jeda waktu yang tercipta, Hyunjin berupaya agar tetap di batasan yang sama.

“Nakal banget, siapa yang ngajarin sih?”

Tawa renyah Jeongin menyangkut di memori Hyunjin. Begitu menyenangkan sampai kuas di atas kanvas saja tidak bisa dibandingkan. Parasnya sedemikian menawan; Hyunjin berjuta-juta kali dipikat penawan.

“Minggir dulu yuk, kakak mau ganti baju biar bau keringet kakak ga nempel di badan Pumpkin.”

Jeongin merengek. “Mau lagi.”

“Lagi apa?”

“Cium lagi...”

ibu jari Jeongin memainkan bibir Hyunjin agar niatnya terkabul.