Lengkara : III


Perjalanan kali ini terasa sangat panjang; aroma pekat yang terasa asing, hingga bangku disamping kemudi menjadi sangat dingin.

Alunan lagu dan, selesai milik Nadin Amizah membuat pandangan Jeongin semakin jauh. Dia seperti berputar, terkekang sampai sulit untuk bernapas.

satu... dua... degup jantungnya bahkan tidak lagi sama.

kecewa,

marah,

patah,

Seluruh ototnya melemas tak karuan. Dirinya mulai merindukan kasur kamarnya, ingin segera menenggelamkan diri di sana dan tertidur sampai lupa masa.

Jeongin ingin melupakan hari ini; saat rentetan kata pahit menghujamnya lagi dan lagi.

“Je? Jeongin?”

“Eh? iya?” fokus Jeongin kembali datang, kepalanya yang tadi dihantuk-hantukan di kaca secara tanpa sadar dia tarik untuk menoleh ke arah Heeseung yang menatapnya penuh kekhawatiran.

“Kok ngelamun? mikirin apa?”

“Oh enggak haha..”

“Lagunya mau diganti?”

Jeongin mengusap wajahnya, lalu menggeleng sambil menyandarkan seluruh tubuhnya. Dia benar-benar butuh istirahat yang panjang.

Baru saja Jeongin melemparkan pandangan pada sibuknya jalanan, kini aliran darahnya meningkat kala usapan lembut dapat dia rasakan di pucuk kepalanya yang berat.

“Tidur aja, nanti kalo udah sampe di depan apartemen gue bangunin.”

Jeongin hanya diam, tak lagi menjawab, apalagi mengusir tangan Heeseung yang masih berada di pucuk kepalanya.

Sungguh; Jeongin tidak menikmati usapan itu. Rasanya tidak lebih hangat dari yang akhir-akhir ini dia harap.

“Mau mampir dulu ga?”

Jeongin menoleh untuk menatap Heeseung dengan sayu, mata sembabnya itu dapat ditangkap oleh Heeseung meski dengan sekali lihat. “Kemana?”

“Kemana aja, lo mau kemana?”

Yang di kursi penumpang diam sejenak, “Boleh beli ice cream sebentar?”

Heeseung terkekeh sebentar, “Boleh dong manis.” dan jawabannya yang keluar tanpa sadar membuat dia merutuki dalam hati.

“Maaf maaf... maksudnya boleh kok.” buru-buru dia mengoreksi sebelum Jeongin merasa tidak nyaman.

“Iya gapapa, gue tau kok gue manis.” lantas jawaban yang tidak terduga itu membuat keduanya berbagi tawa.

Heeseung yang semakin tertarik, dan Jeongin yang mulai kehilangan diri.