Lengkara : IV
Ekspektasi sedang menari di ujung sepatu ketika dia menapaki lobby. Bibir merah itu dihiasi senyuman, lupa atas segala resah dan kecewa; lantas harap pada bahagia yang disemogakan merekah.
Tubuh kecil itu terasa ringan, bagaikan kupu-kupu yang baru saja menapaki dunia setelah bersembunyi begitu lama dalam kepompong. Perlahan dia bisa merasakan senyuman lebar yang akan dia terima, pelukan hangat yang sangat cukup menenggelamkan tubuhnya, serta aroma citrus yang akan membayar kerinduan.
Ah, memikirkannya saja Jeongin sudah tidak sabar.
Tiga minggu sudah cukup untuk menepi dan ini saatnya untuk mereka kembali.
Perihal kesalahan itu sudah dia kubur jauh. Toh, juga dia sering berbuat salah dan Hyunjin selalu memaafkan, lalu kenapa dia tidak? Pikiran itu dia tarik kebelakang hingga sampai pada saat dia dicintai dan diagungkan sedalam samudra lepas.
Benar, mereka saling mencintai, bukan?
“Kak Jeongin! udah lama ga ke kantor, mau ketemu bapak?”
Itu sebuah pertanyaan basa-basi yang dia suka. Eksistensi bahwa dia mempunyai tempat di bangunan tinggi dengan puluhan karyawan ini selalu dibayar kontan dan kepuasan.
“Hai, iya nih, tunangan aku ada?” senyumnya semakin melebar, paperbag di sebelah tangannya bergoyang mengikuti kebahagiaan sang tuan.
“Ada kak, tapi kayaknya lagi keluar.”
“Loh, kemana? tadi aku udah chat sekretarisnya.”
“Kalo ga salah ke caffe depan kak, beli kopi sama sekretaris baru bapak.”
Dahinya mengernyit bingung. Segelintir orang tidak akan mengerti atas kegelisahan yang mulai menghigapi kepalanya. Baru saja kepingan imajinasi akan sambutan hangat memenuhi kepalanya yang kecil, sekarang malah hancur berantakan.
Apalagi setelah kicauan, “Itu bapak, kak.” dan pandangan matanya menangkap sosok kekasih tengah bercengkrama hangat dengan seorang wanita di sebelahnya.
Haruskah dia mundur dan pulang saja?
Tidak.
Haruskah bertanya dari mana dan berakhir dengan adu mulut seperti yang sudah-sudah?
Tidak juga.
Ah, kepalanya menjadi berisik kembali.
“Sayang?”
Bagaikan petasan di malam tahun baru, panggilan itu yang dia tunggu-tunggu. Gemerlap yang terang, degup jantung yang tidak karuan; Jeongin dibuat melayang dalam kebingungan.
Ini cinta atau kepalsuan yang dia paksakan?
“Kak, saya permisi duluan.” Gyuvin, remaja tanggung itu memilih pamit setelah Hyunjin mempercepat langkahnya, enggan untuk ikut campur atau ingin memberi mereka banyak ruang temu.
“Kamu ngapain?”
Dan sepenggal kalimat itu menghadirkan sepotong kecewa yang hadir bersama senyuman pahit Jeongin.
“Mau ketemu kakak.”
“Tumben.”
Jeongin terkekeh kecil, bingung untuk bereaksi seperti apa lagi. Satu-persatu pertanyaan mulai hadir di kepalanya, bagaikan kardus-kardus berkas yang bergumpalan. Sesak ruang di buatnya, habis terbakar jika api dilempar ke dalam sana.
“Oh ya, kamu belum ketemu Kelly kan? ini Kelly, sekretaris baru aku.”
Tepat di sebelah Hyunjin, gadis itu tersenyum lebar hingga membentuk bulatan pipi yang manis. Jeongin menyambut uluran tangannya dengan mata masih mengekori perawakan sekretaris tunangannya itu. Benar kata Bang Changbin, sosoknya cantik. Pikirannya mulai berbisik untuk kembali fokus pada tujuan awal kenapa sekarang dia berdiri di sini, tapi dia tidak ingin melewatkan sejengkal darinya, meski selanjutnya menjadi sumber penyesalan.
“Dia tadi kedinginan, jadi aku pinjemin jas aku.” Hyunjin membela seakan dia tau segalanya.
Tapi, Jeongin tidak ingin tau. Dia sudah menghabiskan banyak malam untuk mengenal tunangannya, yang tidak suka jika miliknya dipakai orang lain kecuali dia, oh atau sekarang keadaan mulai berubah? sebab jas pemberiannya kala anniversary mereka tahun lalu tidak lagi memiliki banyak arti untuk dipuja?
“Aku ke sini mau kasih ini.” Jeongin kembali bersuara, “Tadi mama kasih resep brownies kesukaan kamu dan aku coba buat, rasanya memang beda ... tapi kayaknya cocok di lidah kamu.”
“Sayang ... pantesan aku nyium sesuatu aku yang aku suka.” dan tunangannya tersenyum manis, ah sial, pria gila ini tau sekali membuat perasannya dijatuh bangunkan seperti cangkang kosong yang terpisah.
Jika ego tidak mengutuk mereka sudah dipastikan Jeongin akan menghambur kepelukan kekasihnya. Apalagi pada celetukan yang membuatnya kembali berdarah, “Bukannya bapak lagi ngurangin gula ya pak?”
Pergerakannya tersimpan jelas di memori Jeongin saat uluran tangan antusias ditarik spontan.
“Sayang maaf..”
Apapun. Tolong katakan apapun selain itu.
“Kolega bapak kayaknya udah di jalan pak, ruang rapatnya mau disiapin sekarang?”
“Boleh, saya juga mau nyiapin presentasi.”
Lantas dibuatnya dia seperti figuran. Yang dibungkam meski mengais perhatian, yang terlihat utuh namun retak tidak karuan.
“Kamu pulang duluan aja gapapa ya? aku masih ada meeting, kayaknya bakal pulang malem.”
Bahkan di episode yang dia ingat, Hyunjin pernah membatalkan tender besar hanya karena sepotong croissant. Lantas, pulang kemana yang tuan maksud? Seatap pun mereka tidak.
Ah benar kata mereka, segelintir orang pulang dengan perasaan yang dikebumikan.
Jeongin tidak lagi menemukan manis pada matanya yang teduh. Hyunjin yang pergi tanpa mengecupnya seperti yang lalu-lalu dan dia yang membeku. Dia mulai menarik hipotesis, jika jarum jam ini berhenti maka mereka mati. Menjejal hingga presisi baik tidak lagi mempunyai arti.
Jeongin tidak lagi menemukan jalan panjang. Dia berhenti di perempatan. Dan kekasihnya seakan terus melaju kencang. Hingga perlahan dia menghilang, diterkam sunyi, dan ditendang keputus asaan.
Iya.
Jeongin mulai kehilangan.