Lengkara : IX

Lantas aku ambil langkah ini, yang terlampau kaku; terlampau sakit; terlampau pedih.

sebab, Hyunjin, akan jadi apa ya kita esok hari?


Aroma besi dingin bercampur dengan sapuan lembut angin malam membawa Jeongin untuk hidup sekali lagi. Sorot matanya yang sayu dia lontarkan pada langit, ah benar kata Heeseung, malam ini bintangnya sangat ramai, sampai-sampai matanya yang kecil tidak dapat menampung semuanya —yang begitu indah; begitu memukau; begitu pekat.

aku juga ingin bersinar lagi.

Kemudian dia terpejam, ingatannya mulai berhamburan selaras senyuman kecil yang dia paksakan. Seolah menyambut hangat kehadirannya, berbisik dalam hati, kita sudah terlalu lama mengurung diri, bukan? yang memendam demi menjaga hubungan, lalu terkoyak karena masanya sudah selesai.

Diam-diam Jeongin merajut kembali ingatannya yang berantakan, pada titik pertemuan yang pernah membuat rahangnya pegal karna senyuman. Benang merah itu hadir tanpa sengaja, kala pasang mata bertemu dan Jeongin yang terpaku. Itu malam tahun baru, Jeongin datang bersama ayahnya di pesta kolega perusahaan, dan di sudut ruangan yang membosankan, mata kecilnya bertabrakan pada seseorang yang tersenyum manis bak suar di tengah lautan.

Kejadiannya sungguh cepat, saat akhirnya dua insan itu memilih mengasingkan diri di bagian gedung yang lebih sunyi. Si pemilik suar itu bersuara lebih dulu, basa-basi yang membuat degup jantung Jeongin bergerak tak masuk akal.

“Aku juga punya lesung pipi, liat!” dia menunjuk bolongan di kedua pipinya, “—tapi ga semanis punya kamu..”

Sialnya, kalimat itu terus terngiang di kepala Jeongin hingga bulan tertutup kembang api yang berpendar-pendar. Tatapan matanya yang teduh mengingatkan Jeongin pada mentari di minggu pagi. Juga teduh wajahnya sungguh berhasil mengobrak-abrik hatinya yang sempit.

Perayaan malam tahun baru seakan masuk ke dalam langkah kakinya yang bergerak ringan.