LENGKARA : SELESAI
Mungkin di lain hari, kita akan benar-benar abadi.
Semesta tidak pernah benar-benar peduli. Langkah yang tergesa, tawa tetap pecah di udara—orang-orang berlalu lalang—semua berjalan sebagaimana mestinya. Benar, dunia ini masih berputar, waktu terus bergerak tanpa menoleh ke belakang. Matahari yang berdiri congkak, dan laut yang membiru kaku.
Namun sialnya, dunia Jeongin justru runtuh.
Jalanan yang ramai baginya hanyalah layar kosong—panggung di mana semua orang memainkan perannya, sementara dia duduk di kursi penonton, tak mampu ikut serta.
Dia terlampau patah, ringkas luka menggerogoti tubuhnya bak lintah. Senja tetap indah bagi manusia lainnya, tapi dia sudah buta warna. Sorak sorai tetap terdengar di jalan, tapi dia menuli dalam mati yang sesungguhnya.
Tempat ini melahirkan sebuah cerita. Kala kembang api menggila; lalu cinta hadir tanpa tanda, tanpa syarat, tanpa diduga. Bagaimana kalimat “Aku juga punya lesung pipi.” menggema lebih lama daripada sorak kemenangan.
Tempat ini adalah ruang di mana waktu berhenti. Jemari kecil yang melahirkan janji. Dan saksi untuknya yang akan terkubur mati.
Jeongin terkoyak habis, telapak kakinya seakan memijak duri. Udara di sana seakan menipis, cincin di jarinya mencekik. Kenangan yang dulu membahagiakan kini menariknya untuk tidak lagi bertemu pagi.
Dan ketika akhirnya mata itu kembali bertemu, Jeongin yakin, bukan hanya dia yang mati berkali-kali.
Di sana, dalam tatapan itu, Jeongin merasakan sebuah kehancuran yang lebih sunyi. Ada cinta yang masih tersisa, ada luka yang terlalu dalam, ada kerinduan yang tak bisa lagi pulang. Mereka kembali, berdiri berhadapan, tapi dengan jarak yang lebih luas dari langit yang membentang. Tak ada lagi genggaman tangan. Tak ada lagi pelukan.
Tak ada lagi kita.
Separuh dari dirinya ingin berbalik, melangkah pergi sebelum semuanya runtuh lagi. Tapi Jeongin juga tahu: mereka sudah selesai. Sesuatu yang harus diucapkan agar mereka bisa tenggelam bebas.
Lantas sunyi merayap di antara mereka, lantai yang dulu mereka pijak saat bertemu dan bertunangan kini seperti retak, seolah hendak menelan mereka bulat-bulat. Tangan yang lebih besar mengepal di sisi tubuh, seolah menahan hasrat untuk meraih dan menggenggam Jeongin sekali lagi.
Sedangkan yang lebih kecil tampak tenang, tubuhnya tak lagi bergetar, matanya yang sayu menangkap penuh sosok yang masih memenuhi jantungnya dengan utuh. Dan saat Jeongin melihat bayangannya yang penuh dalam milik Hyunjin, senyum kecil itu tergambar lebih menyakitkan daripada semua kemarahan di dunia.
Benar, Hyunjin masih kekasihnya.
“Gimana kabar kakak?”
Dari semua sumpah serapah yang sudah siap Hyunjin dengar, tiga kata yang terucap begitu lembut malah terlontar dari bibir kekasihnya. Pertanyaan sederhana itu menghantam dada Hyunjin lebih keras daripada semua tuduhan di dunia.
Bagaimana mungkin kekasihnya yang telah ia hancurkan, masih menanyakan kabarnya dengan tulus? Bagaimana mungkin kekasihnya—yang jelas-jelas lebih berantakan, lebih hancur, lebih kehilangan dirinya sendiri—masih sempat memikirkan dia? Bagaimana mungkin kekasihnya yang dia dipatahkan, masih memikirkan apakah ia baik-baik saja? Tanpa penyesalan, tanpa penghakiman.
Hyunjin mengatupkan rahangnya. Matanya mulai memanas, dan dengan sangat hati-hati tangannya menangkup wajah Jeongin yang masih tersenyum.
“Kenapa kamu jadi sekurus ini, sayang?”
Jeongin terkekeh kecil, dia biarkan wajahnya diselimuti telapak tangan kekasihnya yang dingin. Mata yang dulu penuh cahaya kini semakin meredup, semakin lelah, semakin hampa. Bibirnya bergetar pelan, “Aku sakit, kakak.”
Air mata lolos begitu saja dari manik Jeongin, lalu dunia sekali lagi terasa berhenti—bukan karena kembang api, tapi karena keyakinan bahwa cinta mereka akan abadi.
“Aku sakit.”
Itu bukan kebohongan yang ingin Jeongin sembunyikan. Dia ingin menumpahkan segalanya, hingga jika nanti akhirnya dia harus terjatuh dalam jurang, Jeongin tidak perlu merasakan penyesalan apapun lagi.
“Setiap langkah aku ke sini, aku kayak jalan di atas duri.” Jeongin terkekeh kecil atas kalimatnya, “Rasanya kayak aku mati waktu ngeliat kamu lagi, kak.”
“Maaf...” pertahanan Hyunjin runtuh, dia terisak hebat saat memori bodohnya berputar di kepala.
Dia tidak pernah bermaksud untuk menyakiti Jeongin, dia sungguh mencintai pria di hadapannya ini. Hyunjin masih cinta. Dia masih menyebut Jeongin sayang dengan seluruh hatinya. Tapi bagaimana cinta bisa dipercaya, bila tangannya sendiri yang merobek hati yang paling dia cintai? yang dengan bodohnya, dia membiarkan orang yang paling tulus di sisinya justru menjadi yang paling hancur.
“Jeongin, sayang, tolong... kasih kakak satu kesempatan lagi.”
Suaranya pecah, dadanya terlampau penuh dengan penyesalan.
Jeongin menatapnya, mata itu masih teduh, masih mata yang sama yang dulu memandang Hyunjin dengan segala cinta yang bisa dimiliki seorang manusia. Tapi kali ini tidak ada harap lagi di sana.
“Aku udah kasih kamu kesempatan berkali-kali, kak.” suaranya mengalun lembut.
“Aku selalu nunggu kamu untuk jemput aku pulang, aku selalu di tempat yang sama walaupun lagi dan lagi kamu ninggalin aku sendirian.”
Jeongin merasakan napasnya menjadi lambat, seperti ingin menahan dunia agar tak lagi bergerak. Matanya mengitari wajah Hyunjin sampai setiap garis menjadi peta luka yang akrab. Tangannya bergerak untuk menyentuh pipi itu sekali lagi, meraba kenyataan, memastikan ini semua bukan mimpi.
“Kenapa harus di rumah kita, kak?” suaranya serupa kain tipis yang tersapu angin. “Di kamar kita.”
Hyunjin terdiam, tangannya menggenggam erat si kecil takut kalau tiba-tiba kekasihnya menjauh. Penjelasan yang sudah dia siapkan tercekat di kerongkongan. Dia ingin berteriak jika semua itu hanya salah paham, namun lidahnya terasa kelu akan kenyataan.
“Kakak cinta kamu... kakak cuma cinta kamu, Jeongin tolong... kakak minta maaf.” Hyunjin menggenggam tangan Jeongin lebih erat daripada yang seharusnya.
Jeongin menyeka air mata Hyunjin. Manik hitam itu menatap yang lebih besar tanpa amarah—tatapan itu… sudah kosong.
“Aku udah maafin kamu kak, berkali-kali, tapi kamu tetap ngelakuin hal yang bikin aku sakit.”
Angin malam mulai menyelimuti mereka. Dedaunan bergoyang seakan berbisik menyumpahi masa. “Kalau aku ga pulang hari itu, apa kamu bakal sadar kalau kamu udah pergi terlalu jauh?”
Air mata Jeongin kembali jatuh, “Aku bisa nerima omongan jahat kamu kak, aku bisa tahan sama sifat kamu yang selalu nyepelein janji-janji kamu, tapi aku ga bisa hidup dengan bayang-bayang hari itu.“
Dingin menggesek kulit mereka seperti pisau tumpul. Hyunjin gemetar, bukan karena cuaca, tapi karena rasa bersalah yang akhirnya tak bisa lagi ia bungkus dengan alasan.
Dia yang salah. Dia yang menghancurkan. Dia dimaafkan, tapi tetap mengulang kesalahan yang sama.
“Aku cinta kamu kak, bahkan sampe detik ini pun kamu masih jadi pemiliknya.” Jeongin menarik napasnya, dia kecup pelan bibir Hyunjin yang memucat. “Tapi aku juga sayang dengan diri aku kak.”
Dan di detik itu, Hyunjin sadar—bahwa penyesalan terbesarnya bukan hanya karena kehilangan Jeongin, melainkan membiarkan Jeongin kehilangan dirinya sendiri.
“Aku juga minta maaf, ya... aku banyak kurangnya sampe kakak cari kelebihan itu di orang lain.”
Hyunjin menggeleng ribut, “Kakak yang salah.”
Kekehan si kecil mengalun setuju, dia maju untuk merapikan pakaian kekasihnya yang berantakan itu.
“Aku takut, kak.”
Mereka yang terikat, mereka yang pernah menari di bawah semesta. Mereka yang memimpikan selamanya.
“Semua orang boleh ninggalin aku, asalkan itu bukan kamu. Dunia boleh ngehakimin aku, asalkan ada kamu di samping aku, tapi aku juga takut kalau nantinya aku nyakitin kamu.”
Peta untuk kembali sudah hilang, jembatan itu sudah putus. Ombak datang tanpa dicegah, membalut luka dengan garam.
“Aku ingin hidup dengan kenangan baik kita kak. Bahkan kalau ada kesempatan untuk mengulang semuanya dari awal, meski akhirnya tetap seperti ini.” kembali dia kecup bibir itu ,”Aku tetap pilih kamu.”
Sebab yang patah tidak akan menjadi sama. Meski bersimpuh hingga cacat di hadapan semesta, meski berteriak tidak terima, jika masanya sudah selesai, perpisahan adalah jawaban dari merelakan.
Ini bukan akhir yang Jeongin inginkan. Ia pulang bukan untuk pergi, ia ingin menetap, ingin selamanya di sana. Namun mungkin cerita ini bukan milik mereka lagi.
“Boleh aku peluk kakak?”
Dan Hyunjin segera menarik Jeongin dalam dekapannya yang erat. Ia menangis di sana, menumpahkan seluruh penyesalannya yang sia-sia. Sedangkan Jeongin menghirup sisa-sisa kehangatan itu dalam diam. Karena sehabis ini, jika pelukan ini terlepas dan dia mundur menjauh, mereka akan kembali menjadi dua orang asing.
“Kalau ada kehidupan kedua, dan kamu ketemu aku lagi, tolong usahain aku lagi ya kak. Walaupun di saat itu aku ga percaya cinta, tolong buat aku percaya sama cinta kamu.”
“Jangan...” Hyunjin kembali merapatkan tubuhnya saat Jeongin ingin melepas pelukan mereka. Dia kecup pucuk kepala Jeongin dan terisak habis.
“Jangan pergi...” dia berbisik pelan.
Memang benar semesta menghendaki pertemuan untuk perpisahan. Tapi jika tau akan sesingkat ini, mungkin Jeongin akan memilih untuk tidak pernah memijaki tempat ini. Tempat mereka berawal, bertaut, dan berpisah.
Jeongin melepas pelukan itu perlahan. Kali ini benar-benar dilepas—bukan untuk diuji, bukan untuk ditunggu balik. Tapi untuk disudahi.
Dia melangkah mundur, membiarkan benang merah itu mencekik lehernya hingga seluruh kelopak matanya berkunang-kunang.
“Kakak, jangan sakit lagi.”
Cincin di jemarinya Jeongin lepas, bersamaan itu rintik hujan kembali datang. Simbol nama Hyunjin yang terukir di dalamnya dia kembalikan pada sang tuan.
“Di kesempatan mana pun, aku harap dunia ga pernah bawa kita ketemu lagi, kak.”
Deru mesin yang berlalu. Hidup mereka bergerak maju, menuju malam, menuju masa depan. Tapi tidak bagi dua insan yang pernah menjadi kita. Baginya, malam itu adalah keabadian—ruang hampa di mana kenangan terus berulang, menolak pudar, menolak dilupakan.
“Maaf.”
Jeongin berbalik, melepaskan semua yang dia punya. Perasaannya, dunianya, Hyunjinnya. Maka sebelum gemuruh menjemput dan mereka terberai habis, Jeongin memilih berhenti. Tujuan abadi itu tidak akan pernah dia jemput, sebab perjalanan harus dihentikan di tengah laju.
Jeongin memilih terjatuh tanpa membasuh setiap kusut. Dia memilih tenggelam hingga dinginnya lautan membuatnya mati rasa. Dia tidak berharap diselamatkan, karena dunia Jeongin—sudah berhenti selamanya.