Lengkara : V
recommended song : naradira — Luthfi Aulia
Deru mesin bersahutan ditemani mentari yang beranjak turun. Cerah jingga dibuatnya, suka-cita melingkupi kebanyakan orang kala memandang. Seakan langit tengah berduka dalam bentuk yang paling menawan.
Ujung sepatu yang ringan kini menjadi mati rasa. Peluh keringat membuat pasang mata bertanya-tanya; hujan dibagian bumi mana yang membuatnya basah? dan dia menjadi abai.
Oh, mungkin, hanya kepalanya saja yang bertanya demikian.
Maka tepat saat jalanan mulai lenggang dan dunia menjadi sepi kala langit menggelap, dia menghentikan langkahnya yang gontai. Duduk di halte bus yang bahkan dia tidak tau keberadaannya. Jauh dia berjalan, habis sudah masa yang berantakan.
Kini dia sendirian, dengan seluruh jiwa yang jauh dari kata tenang, lantas mati rasa disekujur tubuh yang dapat dirasa.
Dia diambang gelisah; mati sudah jika bunyi klakson tidak menghentikan hal-hal gila yang menghigapi kepalanya.
Beginikah bumi berjalan untuknya?
Tidak. Sebab, mereka pernah bahagia.
Dan dia pun tertawa. Kelopak mata yang tertutup membawa mutiara melintasi pipinya yang semakin tirus. Prasangkanya tidak pernah dekat dari episode yang akan membuatnya pecah, menjadi patah, dan mulai hilang arah.
“Ah... lo nangisin apa sih jeongin?” dia bermonolog sembari menghapus air matanya yang semakin deras.
Sesaknya tidak dapat dibendung, berkali-kali menyangkal mungkin mereka hanya berada dititik jenuh namun berakhir di jalan buntu.
Pikirannya berenang kesana kemari, mencari titik dimana semua kejadian ini terjadi. Kemungkinan-kemungkinan itu terpotong bak kepingan puzzle yang dia susun sendiri.
Mungkin karena dia terlalu memusingkan skripsi sampai lupa kak Hyunjin.
Mungkin karena dia yang terlalu kecil untuk mengerti pikiran kak Hyunjin.
Mungkin karena dia yang penuh emosi untuk memahami perlakuan kak Hyunjin.
Mungkin; mungkin letak masalahnya karena dia.
Lantas sekali lagi dia tertawa. Menarik nafasnya sedalam mungkin untuk mengisi paru-parunya yang semakin berat. Lalu setelahnya dia bawa mata yang dulu pernah dipuja-puja sedemikian indahnya untuk menatap paperbag yang sudah lusuh. Sekotak brownies yang masih utuh menjadi alasan dunianya runtuh.
Ditemani dengan angin sore yang menusuk kulit, satu potong brownies itu dia makan dengan hati yang tercabik. Sepi di sore hari ini menjadi hal yang paling dia benci.
Entah bagaimana esok hari, nyatanya nanti, faktanya mungkin tidak sama lagi.
Selepas malam dan dia terpejam, memori itu mungkin terus berputar. Dia bisa terjebak, terjatuh, hingga tenggelam.
Dia bisa; persis seperti cincin di jari manisnya yang semakin melonggar dan perasaannya dia paksakan tetap berakar.
Meski harus hilang dan patah, atau luka hingga berdarah, tolong buat dua manusia ini tetap bersama. Sebab, Jeongin mencintainya. Seluas dan selama mentari mencintai rembulan.