Lengkara : VI
Bunyi kaca yang beradu dengan lantai membawa langkah kaki Hanbin lebih cepat dari biasanya. Semuanya masih tampak baik saat dia meninggalkan Jeongin untuk ke dapur sebentar. Namun hal gila datang tanpa diundang, karena tepat dihadapannya semangkuk soto pemberian Heeseung sudah berhamburan tidak karuan.
Dia telan mentah-mentah semua perasaan terkejutnya dan melangkah untuk mendekat, “Je...?”
Hanbin ikut mensejajarkan tubuhnya pada milik Jeongin yang kini memunguti serpihan kaca. Bahu kecilnya yang turun itu sedikit bergetar, mengundang begitu pertanyaan di kepala Hanbin sekarang.
“Udah lo duduk aja, biar gue yang beresin nanti lo makin pusing kalo kelamaan jongkok.”
Perkataan itu seperti angin lalu. Jeongin masih sibuk memunguti kaca itu, tidak menjawab atau pun tidak pula sekedar tertawa melihat kecerobohannya lagi dan lagi.
“Jeon—”
Perkataan Hanbin tertahan saat kali ini sisa pecahan yang lebih besar dia lempar ke dinding. Mati lah sudah; mereka rusak, hancur, dan terberai sia-sia. Lantas setelahnya baru lah Jeongin terisak hebat, terduduk di sebelah kesukaannya yang sudah padam tanpa tersisa.
“Harusnya gue ga cari tau Hanbin... harusnya gue pura-pura ga tau aja... harusnya—” perkataannya yang terbata semakin membuat pria berambut legam itu bingung.
“Apa? lo tau apa je?”
Jeongin menggeleng, menarik rambutnya dengan hebat sebab pening datang menyergap lebih cepat. Nafasnya yang panas mulai tersenggal, demi tuhan, dia tidak pernah membayangkan akan berada pada titik sebuntu sekarang.
“Gue benci dia Hanbin... demi tuhan gue benci dia...”
Dalam rotasi yang Hanbin ingat, letak bahagia dan kesakitan Jeongin hanya berporos pada Hyunjin dan Hyunjin. Maka saat matanya menangkap layar ponsel yang terbuka dan menampilkan foto tunangannya yang begitu mesra dengan orang lain, Hanbin tidak lagi banyak menarik pembahasan untuk membuatnya paham.
“Je udah.. jangan dipukul.”
Jeongin seolah menutup telinga, tangannya yang terkepal terus menghantam dadanya hingga bunyi bedebum begitu keras.
“Je dengerin gue.” Hanbin berusaha mencekal tangan Jeongin, untuk pertama kalinya dia melihat temannya hancur sehancurnya. “Mungkin itu bukan Hyunjin, fotonya ga ngeliatin muka, Je.” maka dalam pikirannya yang tersisa, Hanbin hanya berusaha menenangkan Jeongin yang mulai hilang akal.
“Mungkin itu bukan tunangan lo, Je.”
Kata-kata itu terngiang di kepalanya yang berisik. Mungkin bukan; tapi juga mungkin iya. Penyangkalannya begitu besar hingga Jeongin ingin memutar waktu untuk harusnya dia tidak pernah untuk menelusuri postingan Kelly.
“Hanbin... sakit... gimana kalo itu bener kak Hyunjin?”
Dan pada detik itu Hanbin tidak lagi bisa menjawab. Dia hanya menarik Jeongin untuk semakin masuk ke dalam pelukannya. Membiarkan pria yang wajahnya semakin pucat itu menangis lebih puas.
“Besok kita temui mereka ya, tapi lo harus percaya sama apa yang ada di otak lo ketimbang di hati lo Je, biar lo lega, biar lo ga terus-terusan kebingungan kayak sekarang.”
Sebab, biar pun Jeongin atau pun Hanbin menyangkal; keduanya sudah tau dengan sangat jelas.
Maka Jeongin dengan segala kerapuhannya dalam semesta yang agung hanya berharap, jika dia hancur sekarang, maka celakalah mereka lebih dalam.