Lengkara : VII mereka runtuh.


Pagi ini, ada begitu banyak semoga yang Jeongin langitkan. Hujan yang hendak datang, dia harapkan untuk menghilang. Daun-daun layu membuat bumi kian menakutkan, bising jalanan menjadi kekalahan yang tidak pernah terpikirkan. Jika mungkin, Jeongin ingin berlutut sekarang, memohon belas kasih agar jiwanya tidak ditikam berulang.

Dia hampir lenyap, terombang-ambing dalam sesaknya keyakinan.

Pada setiap langkah yang menapaki jalanan, bayangan musim lalu seakan menari-nari. Aroma kue jahe, sorakan tepuk tangan, dan tawa di masing-masing bibir; mereka yang terikat, saling menggenggam erat. Lekat dalam ingatannya tentang suka cita yang memenuhi semesta mereka. Bunga yang bermekaran, mentari hangat mengecup dambaan, dan dua insan yang dipenuhi kekaguman.

Ternyata jatuh cinta pernah semenyenangkan ini ya.

Hingga, siapa yang akan menyangka jika akhirnya dia tidak lagi asing dalam sepi? pada waktu yang bergulir tidak lagi memahami arti hari, atau sisa kewarasan yang berbisik untuk mengoyak hati? Dia seakan kehilangan payung teduh pada yang pernah membuat luluh. Barang kali hilang terbawa ombak lalu terjatuh.

Maka untuk sekali lagi dia menghentikan laju tujuannya. Pintu kayu yang dia kenali sudah di depan mata. Namun sejenak dia berpikir untuk tenggelam dan berpulang saja. Meyakinkan diri bahwa jarak mereka tidak pernah terbentang luruh. Luas lautan pun tak dapat memangku dua insan yang berhenti karena jalan buntu. Mereka sudah terlalu jauh.

Dan, Jeongin menolak untuk tau.

Telinganya seakan tertutup, bercumbu pada omong kosong hidup kamu adalah satu-satunya sisa alasan aku hidup, sayang. Maka dia terperangkap di sana. Di bawah ufuk malam berhias taburan gemintang dan seiris suar yang berpendar-pendar. Mengubur rasa sakit yang pernah diberikan, atau bahkan tentang tercabiknya perasaan karena keegoisan.

Sebab, Jeongin hanya ingin pulang. Pada sosok yang jiwanya terbentang bak garis radar, suatu atma yang selalu dia incar hingga garis kehidupan selesai.

Lantas, matilah dia saat kenop pintu itu diputar. Kekosongan menyerbak luas pada bangunan yang dia kenal. Telapak tangannya mendingin selaras pandangan yang mengedar ke setiap sudut ruangan. Botol-botol alkohol menyambut kehadirannya. Seolah pesta pernah terjadi di sana.

Akal sehat Jeongin menghilang, terlalu takut untuk melangkah sendirian. Dia bergerak gelisah, jantungnya seakan ingin berhenti dan itu juga yang dia harapkan terjadi. Namun otaknya membawa kakinya untuk lebih masuk, menjadi remuk, sampai dunianya ambruk. Sayup-sayup dia mendengar suara di balik pintu kamar miliknya; milik Hyunjin, milik mereka.

“Kak Hyunjin? Jeje pul—” Secara tiba-tiba, suaranya menggantung di udara. Dia terdiam di tengah ruangan, seolah tidak ingin melanjutkan perjalanan.

Tidak; ini hanya lelucon jenaka.

Seonggok kemeja Hyunjin tergeletak begitu saja dengan heels merah.

Manik hitamnya berkunang-kunang, nafasnya yang tersendat membuat dia bergetar. Rentetan hipotesis hadir seakan ingin menghancurkan kepalanya dengan mudah. Memori yang seharusnya hilang datang tanpa diundang.

Tidak.

Tidak mungkin seperti ini, kan?

Mereka tidak akan berakhir seperti ini, bukan?

Pandangannya terjatuh pada daun pintu yang tidak tertutup rapat. Kakinya yang memberat dia paksakan bergerak. Sampai akhirnya dia menyesal. Tubuh lunglai kini bermandi pada kecewa yang bukan main rasanya.

Kakak janji kamu ga akan kenal yang namanya sedih, kamu cuma akan kenal yang namanya bahagia dan cinta.

Sajak manis yang pernah disaksikan langit kini menjadi basi. Jika dunia akan luluh-lantah hari ini, kutuk mereka untuk mati. Sebab jarum jam milik Jeongin sudah berhenti, bumi kehilangan arah barang untuk menepi.

Jeongin sudah patah. Sayapnya terkoyak bak itu lah takdirnya. Rasa sakit melolong bersamaan dengan dua insan yang tertangkap basah.

Lekat dalam pandangannya Hyunjin yang tengah berbaring dengan sekretaris di ranjang mereka, tanpa busana, tanpa takut pada bumantara.

Ponsel di genggamannya tergelincir begitu saja. Mengundang dunianya untuk berbalik dan terkejut setengah mati.

“Jeongin?”

Yang dipanggil bergerak mundur, memilih untuk menjauh bahkan jika bisa sampai terkubur. Lonceng malam masih berdengung kala mereka bertunangan bertahun-tahun lalu.

“Kakak bisa jelasin ini ga kayak yang kamu pikirin.”

Teduh dalam mata sang tuan tidak lagi Jeongin temukan. Tubuhnya terasa ringan dengan kepala yang semakin penuh. Bulir air matanya menapaki bumi tanpa tau malu. Dan di detik itu, Jeongin menjadi tau, semestanya sudah runtuh.

“Sayang? Hei!”

Hyunjin buru-buru menangkap Jeongin yang hampir terjatuh. Suhu mereka yang kontras dengan wajah pucat Jeongin yang begitu berantakan membuat dia ingin memohon ampun. Apalagi ketika Jeongin memilih untuk melepaskan genggamannya dan mengambil langkah mundur.

“Ini ga kayak yang kamu pikirin sayang, kakak cuma—”

“CUMA APA?!”

Ruang di antara mereka memanas. Bara membakar getaran pada manik Jeongin yang memandang milik Hyunjin begitu tajam. Kecewanya sudah mencapai ambang batas, rumahnya tak lagi menjadi tempat yang paling nyaman, dan Jeongin dibuat seakan tidak pantas untuk datang.

“Cuma tidur sama sekretaris kakak?” suara Jeongin memelan, matanya sibuk mencari sisa-sisa cinta yang pernah Hyunjin ungkapkan. Hingga sekali lagi dia sadar, luas lautan bahkan tidak dapat menggambarkan seberapa jauh mereka sekarang.

“Emang harus banget di rumah kita ya kak?”

“Sayang... kakak ga inget apa-apa... dengerin kakak dulu ya, hm?”

Kali ini, Jeongin cukup terhibur dengan ucapan tunangannya berusan. Bibirnya tertarik untuk tertawa sumbang, perutnya tergelitik dengan pusing yang menyergap tanpa aba-aba. Jemarinya menunjuk letak kamar mereka dengan Kelly yang masih berdiam di sana, “Kakak ga inget juga aku pernah tidur di kamar itu? di kamar kita? yang setiap hari kita habisin banyak hal di sana?”

Hyunjin yang bungkam membuat Jeongin semakin menantang, “Kakak nuduh aku selingkuh, kakak selalu nyakitin aku sama pikiran gila kakak, KAKAK BUAT AKU SAKIT—” kalimatnya terjeda, demi tuhan, Jeongin tidak ingin terisak sekarang.

“Jeje kurang apa kak...?”

Dia mendekat, akal sehatnya menghilang sejalan dengan tangannya menangkup wajah Hyunjin dengan lembut, dengan hati-hati, dan dengan cinta yang hampir padam.

“Jeje kurang apa, hm?”

Telan saja mereka, tenggelamkan pada dasar yang paling dalam, biar nanti kalau rasa yang tersisa pun sudah habis terlantar, debu lautan dapat menerima mereka pulang.

“Maaf—”

“Kak, demi tuhan, Jeje percaya sama kakak, setiap janji yang kakak lupa selalu Jeje maafin, setiap kata-kata kakak yang nyakitin selalu Jeje lupain, tapi kenapa kak? kenapa kakak nyakitin Jeje segininya?!”

“Sayang... kakak minta maaf.”

Tubuh Hyunjin jatuh merosot ke lantai. Dia bersimpuh dengan tangannya menggenggam tangan Jeongin, takut jika pria itu bergerak semakin jauh darinya.

“Maaf untuk apa? untuk selingkuh? untuk main di belakang aku? atau untuk cinta kakak yang udah habis buat aku?

“Ga... sayang ga... dengerin kakak dulu.”

Jeongin membisu dengan isakan yang dia tahan. Pandangannya terkunci pada seseorang yang menutupi tubuhnya dengan selimut, lalu terjatuh pada tangan Hyunjin yang masih dilingkari cincin tunangan mereka dulu. Ini bukan akhir yang Jeongin mau, dia tidak datang untuk omong kosong semu.

Dia hanya ingin melepas rindu pada kekasihnya,

Dia hanya ingin merengkuh hangat pujaan hatinya,

Dia hanya ingin berlabuh hingga maut memisahkan mereka.

Namun, dunia mereka sudah terberai, bumi berduka pada cerita mereka yang harus usai.

Di bawah bangunan yang penuh dengan cinta mereka, Jeongin dengan kewarasannya yang tersisa, memilih untuk melepaskan genggaman tunangannya. Sebab, jika harus patah, maka patah lah untuk selamanya. Abadi lah dengan luka.

Jeongin mengambil begitu banyak jarak, “Kalo waktu bisa diputar ulang, aku harap kita ga pernah saling kenal, kak.”

Sebab, memaafkan juga tak segampang lily yang bermekaran di pagi hari. Hingga empatinya habis dan Jeongin memilih pergi. Pada rumah yang suka-citanya pernah tergambar. Pada pemilik hatinya yang jatuh terkapar. Pun pada cintanya yang dia harapkan untuk padam.