Lengkara : VIII
menetaplah sekali lagi; atau aku akan mati di atas sepi.
Jika ada yang lebih berisik selain derasnya hujan di pukul tiga pagi hari, maka itu adalah kepala Hyunjin dengan segala kemungkinan yang dia rakit di atas jembatan patah. Rumpangnya terlalu menganga, dipukul atas fakta yang dia usahakan untuk terlupa, lalu dia akan menjambak rambutnya sekuat yang dia bisa —sebab dia adalah sumber masalahnya.
letak kehancuran dan kegagalan; hidup kekasihnya dia mandikan dengan kekecewaan.
Lantas dia tertawa hingga bola matanya memerah dan hujan berganti ke wajahnya yang berantakan. Pucat tanpa warna kehidupan. Bahkan lingkaran hitam di bawah mata sungkan untuk menghilang.
Sekali lagi dia terisak hebat; berusaha menangkap bayangan Jeongin yang melangkah keluar di hari terakhir dia jumpa.
dan terlambat— sebab bumi telah mengutuknya.
Langit bersorai atas terkoyaknya dia dengan petir yang menyambar kemana-mana. Seakan ingin membuatnya ingat atas apa yang dia perbuat. Ini bukan mimpi buruk, semua ini terjadi karena dia bentuk, maka sontak dia meraung ampun.
“Kak, aku sakit.”
“Maaf... sayang maaf... kakak minta maaf..”
“Apa kakak masih anggep aku tunangan kakak?”
“Kamu cintanya kakak, kamu dunianya kakak, sayang... kamu hidup kakak...”
Hyunjin meraung di atas puing-puing takdirnya yang bengis. Asa ini terlampau sulit, dia sungguh yakin bisa merakit kembali jembatan patah itu. Penyesalannya perlu ditebus, namun berakhir dengan Jeongin adalah mimpi buruk.
“Mungkin lo harus benerin diri lo dulu Hyunjin, lo yang berantakan ini bakal bikin semuanya jauh lebih rumit.”
Hyunjin terkekeh kecil, memukul dadanya lebih kencang seakan tengah berlomba dengan suara petir di luar sana. Kenapa semua orang berbicara seolah perpisahan adalah akhir yang tepat untuknya?
“Dengan lo kayak gini, lo bakal bikin jeongin jauh lebih sakit.”
Chan mengambil tempat di sebelah temannya, jujur saja, dia sungguh tidak ingin terlibat dengan karmanya Hyunjin. Dia punya seribu alasan yang bisa dilontarkan, ketimbang dibikin pusing dengan kebodohan temannya. Sesederhana kalimat, “Kenapa lo nyesel? kemana orang yang bilang kalo lo bosen sama jeongin dan jatuh cinta sama Kelly?”
Tapi Bangchan jauh lebih realistis, menarik Hyunjin untuk tidak mati di tengah jalan lebih baik ketimbang menghadiri pemakaman pemuda patah hati atas ketololannya sendiri.
“Gue cinta jeongin Chan... gimana gue hidup kalo ga ada Jeongin?”
Bangchan menghela napas, sebatang rokok dia selipkan di bibirnya, dia tidak punya tempat untuk memberikan jawaban.
Suatu yang runtuh, butuh waktu yang panjang untuk dibangun ulang. Pondasinya bisa saja retak kembali di tengah jalan, atau malah hangus karna hilangnya kepercayaan.
“Gue telat sadar Chan... gue ga butuh apapun, gue cuma butuh Jeongin... Chan gue cinta Jeongin... kakak cinta kamu sayang..”
Dan dari kata terlambat, hanya menyisakan penyesalan tak berujung.
Chan tidak ingin mengutuk Hyunjin, barangkali seisi dunia sudah melakukannya lebih dulu. Hyunjin hanya terperangkap, namun apapun alasan itu, kesalahannya tidak bisa dibenarkan. Suatu hubungan sudah dia sia-siakan, dan berharap semua akan berjalan baik-baik saja adalah kemunafikan.
“Mau kemana?” Chan bertanya ketika Hyunjin tiba-tiba beranjak dari duduknya.
“Tempat Changbin.”
“Lagi? lo ga akan dapet jawaban dimana Jeongin, yang ada lo malah mati digebukin, jin.”
“Kalo dia mau bunuh gue harusnya udah dari kemarin.”
Sudah Hyunjin bilang, dia sudah siap dihancurkan oleh dunia. Selagi di sana ada tunangannya, mati pun dia jalani dengan suka hati.
Dari sekian banyaknya waktu yang dia jalani, berdua dengan Jeongin adalah bentuk abadi yang dia ukir dalam imajinasi, tidak apa, jika harus mati lebih dulu, —toh, bumi hanya menyenangkan jika di dalamnya ada Jeongin.