LENGKARA : X
Kesunyian membentang tanpa batas. Lampu yang padam, benda yang terselimut debu seakan sudah usai, dan rumput menjalar enggan sebatas singgah, seakan tahu; tak ada lagi yang akan datang, tak ada lagi yang akan pulang.
Sekarang —dan seterusnya, semua akan tetap pada tempatnya. Tidak lagi menyimpan memori, hingga perlahan mereka akan kehilangan fungsi lalu mati.
Mungkin ini akhir dari kompas yang tak lagi mampu menunjukkan arah. Atau kita yang terlampau patah hingga nyaris buta? Berulang kali mengerjapkan mata, dan dunia tidak lagi berwarna.
kita yang tersesat, kita yang tenggelam, kita yang terkikis jarak.
—dan, masih adakah kita?
Sebab, kesendirian ini melahap Jeongin hingga tak ada lagi rasa asing. Berkali-kali tempurung kecilnya berbisik bahwa ia sudah kembali, tapi sekali lagi, ruang ini telah mati.
Benar, Jeongin sudah mati.
Di atas bangunan tempat semuanya bermula dan berakhir, tempat jiwa yang menemukan tenangnya, tempat hati menemukan peluknya. Atapnya masih utuh, temboknya tegak —namun lantainya tak lagi menyimpan jejak langkah pulang, bahkan sisa-sisa gema sudah lupa bagaimana bentuknya.
Mungkin rumah ini sedang bertanya-tanya, kenapa tawa yang selalu mengisi sudut ruang perlahan surut dalam hening yang panjang? Yang untaian masa depan pernah mereka rajut dalam binar dan harapan. Yang hadirnya selalu menjadi tempat untuk pulih, tempat dikenali tanpa harus menjelaskan diri.
Jeongin masih ingat dia pernah dicintai sebegitu hebatnya. Semua yang dia semogakan terasa nyata. Dalam dekapnya dunia serasa reda. Senyumnya selalu bermekaran, dan bahagianya menjadi alasan utama. Mereka bertaut dalam cinta yang bukan main rasanya, jauh dari kata sederhana, lantas lekat dengan dalam yang luar biasa. Tanpa banyak syarat—tanpa banyak kata.
Benar, mereka pernah saling jatuh cinta.
“Kakak, ih!” dia berseru kala kecupan manis menyelimuti wajahnya dengan lembut. Suara rintik hujan membingkai tawanya karena geli.
“Sayangnya Hyunjin... cintanya Hyunjin... kekasihnya Hyunjin.” kalimat itu diucapkan bak mantra yang hangatnya mengalahkan mentari pagi. Begitu halus—begitu manis.
“Gimana ya hidup kakak kalo ga ada kamu?”
Tubuhnya semakin merapat pada yang lebih besar. Membiarkan seluruh badannya tenggelam dalam dekapan yang enggan untuk terlepas, dan sesekali kecupan masih menghinggapi pucuk kepalanya.
“Drama banget ih kakak! sana-sana, aku masih ngantuk.”
Hyunjin terkekeh ringan, “Kakak serius tau.”
Kali ini mata mereka bertemu, mata rubahnya memicing main-main, mencari letak bercanda dalam kalimat tunangannya yang dibalas senyuman kecil darinya. Dan saat suaranya yang pelan dan hangat mengetuk indra pendengaran Jeongin sekali lagi, detak jantungnya dibuat semakin tidak karuan.
“Kakak suka setiap bangun lihat kamu ada di samping kakak. Rasanya tenang, kayak dunia lagi berhenti buat ngasih kakak waktu nikmatin rubah cantik ini.” satu kecupan mendarat di sudut bibir Jeongin yang tanpa sadar tengah tersenyum manis.
“Kamu udah jadi bagian yang paling penting dalam hidup kakak. Mau dimana pun nanti kita, selagi kakak bangun dan ngeliat kamu di sini, di samping kakak, itu udah cukup buat kakak ngerasa lagi ada di rumah.”
Bersamaan dengan sorak sorai angin yang mulai menggila, Jeongin meraih tangan Hyunjin untuk dia genggam seakan dia lah pemilik dunia. Sebab bagi Jeongin, Hyunjin adalah denyut dalam setiap detak, napas dalam setiap hela, dan damai kala semesta berteriak.
“Emang menurut kakak, aku bisa hidup tanpa kakak?”
Itu yang Jeongin ucapkan, begitu lantang dan bersungguh-sungguh. Kalimat sederhana yang dibungkus dengan gemuruh yang semakin menggelap. Jeongin masih ingat betapa lebar senyuman dan hangatnya pelukan Hyunjin saat itu.
Begitu yakinnya mereka akan selamanya. Begitu yakinnya Jeongin bahwa tanpanya, Hyunjin akan hilang arah.
Tapi hari ini semesta menertawakan mereka.
Dari dua insan yang pernah bertaut dalam kata kita—akhirnya berjalan ke arah yang berbeda.
Mata tajam yang teduh itu tak lagi menyimpan sosoknya secara utuh. Hangatnya memudar, mungkin juga rasanya. Ia tidak pergi, tapi juga tidak tinggal. Hadirnya selalu menyisahkan kebingungan, hingga sorot mata itu pun kehilangan bahasa.
Lantas, mati rasa.
Jeongin menarik napasnya begitu dalam. Mengisi seluruh paruh-paruhnya dengan ribuan jarum udara yang meremukkan tubuhnya tanpa sisa. Dengan langkah gontai, ia berjalan mengitari seluruh ruangan, menatapnya dengan sangat lamat, seolah mengucapkan selamat tinggal tanpa suara.
Jeongin yakin jika dering ponsel tidak tiba-tiba hadir, dia mungkin akan kembali tenggelam pada kenangan. Sebuah pesan singkat yang menarik dirinya pada kenyataan.
Pacar aku. Kakak udah di sini, kamu di mana?
Dan pintu itu tertutup, Jeongin tidak lagi menoleh ke belakang, tidak pula menggenggam kemungkinan untuk membukanya.
Mereka selesai.
Benar-benar selesai.
Mungkin Hyunjin tidak membencinya. Mungkin.
Mungkin Hyunjin terlalu sibuk berjalan; terlalu cepat, terlalu fokus pada tujuan—hingga lupa memastikan apakah Jeongin masih ada di sana, masih ikut dalam langkah yang sama.
Bukan karena Jeongin yang tersesat, tapi karena Hyunjin yang tak pernah benar-benar menggenggam erat.
Hingga akhirnya, Hyunjin berhasil melihat dunia, namun tanpa Jeongin di dalamnya.