MATA ANGIN


Tujuannya belum sampai, tapi laju motornya sengaja dihentikan ketika sosok remaja yang dia kenali jongkok di pinggir jalanan yang sepi sembari mengisap rokoknya dengan santai.

“Kapten.”

“Bentar, gue abisin rokok dulu.”

Mendengar itu, Asahi mematikan mesin motornya. Dia menelisik ke arah orang yang sangat penting dalam hidup Panglima dengan teliti.

“Siapa yang gebukin lo?”

Kapten tersenyum tipis, menghembuskan kepulan asap ke udara menantang angin. “Ga ada, gue jatoh dari motor tadi. Anjing dah, pecah body motor gue.”

Asahi sedikit tidak habis pikir. Bisa-bisanya yang dikhawatirkan pria itu malah motornya ketimbang luka panjang di lengannya. Bahkan kaki kanan Kapten sudah biru dan sedikit bengkak.

“Gue ga bisa pastiin di dalem rame apa kagak, jadi lo tunggu di luar aja biar gue yang ke dalem.”

Kembali Kapten tersenyum setelah melihat Asahi mengangguk setuju. Tidak salah keputusannya mengajak jelmaan klepon itu.

“Rencana lo apa?”

“Ga ada.” Kapten menjawab santai, “Lo bawa temen gue pulang, selebihnya biar gue yang urus.”

Semua orang memang tidak mengenal Jeongin dengan baik. Tapi sungguh, semua orang sangat kenal dengan sosok Kapten. Kala raut wajahnya seketika berubah sangat tajam dan dingin, maka bisa dipastikan malam akan berlalu panjang. “Yok, jalan.”

“Udah lama gue ga ngabisin orang.”

Rules pertama: jangan pernah mengusik orang-orang terdekat Kapten kalau tidak mau berhadapan dengan iblis nyata.


Langkah ringan Kapten dia bawa ke dalam gedung yang sudah terbengkalai. Aroma lembab dan debu yang menyengat sungguh mengganggu indra penciumannya yang tidak suka bau. Ditambah lagi dengan pria itu.

Pria yang dengan gilanya mengusik malam dimana seharusnya sekarang dia sedang makan malam dengan Panglima.

“Hi sunshine.”

“Mana temen gue?”

“Santai, buru-buru amat.” Heeseung terkekeh kecil. Entah memang lucu atau niat hati memancing emosi Kapten. “Sini duduk.” dia menepuk paha kanannya mempersilahkan Kapten duduk di sana tanpa tau malu.

“Gue ga suka ngulang omongan.”

“Gue ga suka lo pacaran sama Hyunjin.”

Sial. Heeseung benar-benar tidak mengerti jika kewarasan Kapten sekarang sudah hilang.

Dan tawa Heeseung lepas begitu Kapten menyergap dirinya sembari mencengkram kerah bajunya erat.

Gila. Keduanya sama-sama gila.

“Lo punya gue Jeongin.”

BUGH!

Tanpa babibu satu pukulan keras menghantam rahang bawah Heeseung sampai remaja itu terhuyung ke belakang. Belum sempat rasa kaget dan sakit itu sampai ke otak, lagi-lagi Kapten melayangkan pukulannya ke pelipis Heeseung hingga dia terjatuh dari kursi.

Tidak sampai situ saja, dengan brutalnya Kapten menendangi perut pria yang saat ini berstatus kakak angkatnya.

3... 4... 5... pukulan dan tendangan terus menghujani Heeseung tanpa ampun. Pria itu bisa saja menghindar, tapi dirinya memilih untuk diam di tempat. Meringis pun tidak, dia hanya tertawa. Entah menertawakan apa, hidupnya yang bercanda atau hidup Kapten yang tak kalah sama.

“Bales anjing!”

Heeseung masih terkekeh, dirinya berusaha untuk duduk lantas tersenyum ke arah Jeongin.

Tidak, bukan senyuman mengejek atau meremehkan. Itu senyuman —keputus asaan dan hampa yang dalam.

“Gue sayang lo, Je.”

“Tai, omong kosong!”

Sayang apanya? Jeongin bahkan tau rasa sayang dan disayangi hanya ketika dia bersama Panglima dan teman-temannya. Lantas bisa-bisanya dia dengan lancang mengatakan jika dia sayang kepadanya, sial, lelucon yang bagus.

“Ga usah ngelucu, mana temen gue anjing. Urusan lo sama gue, jangan bawa-bawa temen gue.”

“Mati.”

“Anjing!” Kapten semakin naik pitam. Kursi yang tadi diduduki Heeseung hampir dia layangkan kalau tidak dicegah oleh Asahi yang tiba-tiba masuk.

“Jangan Kap.” Asahi mencoba melepaskan cengkraman Kapten. “Jangan ngelakuin sesuatu yang bikin lo nyesel nantinya.”

Sungguh, emosi remaja itu sangat tidak karuan. Deru nafasnya memburu sampai wajahnya memerah dengan mata tajam bak serigala buas. Seolah seluruh emosi yang dia pendam telah sampai di ubun-ubun dan hanya menunggu untuk meledak.

“Gue tanya sekali lagi, mana temen gue?!”

“Lo janji buat cinta seumur hidup ke gue, tapi apa? mana janji lo, anak pembunuh orang tua gue?!”

“Anjing!”

“Kapten!”

Asahi tidak lagi mampu menghalau Kapten untuk menyerang Heeseung lagi. Bedanya, kali ini pria itu membalas. Dia menghalau lebih dulu tangan Kapten dan mendorongnya hingga punggung Kapten menghantam lantai keras.

“Lo ga inget lo dulu say—”

“Bacot kontol!”

Kapten berhasil menendang Heeseung sampai pria itu oleng. Tidak menyia-nyiakan waktu, buru-buru Kapten meloloskan diri.

“Kasih tau gue di mana temen gue dan bakal gue turutin permintaan lo sekarang.”

“Markas Elang.”

“Pon alamatnya gue kirim.”

“Lo yakin mau ditinggal?”

“Aman, lo bawa Junkyu aja.”

Jika boleh jujur, Asahi tidak ingin meninggalkan kekasih Panglimanya itu. Tapi ketika mata mereka bertemu dan Kapten menyiratkan keyakinan bahwa dia akan baik-baik saja, dengan otomatis langkah kakinya melangkah keluar.

“Sejam lo ga ada kabar, bakal gue susul ke sini bareng Panglima.”

Itu kalimat terakhir Asahi sebelum bayangannya hilang memecah malam.

“Putusin Panglima.”

Kapten terkekeh, melirik remeh Heeseung, “Siapa lo yang bisa nyuruh gue putus sama cowok gue?”

“Apa? lo pikir gue mau nurutin semua omongan lo?”

“Bangsat?!”

“Lo licik, gue bisa lebih licik.”

Seakan ada batu yang menghantam tepat di kepalanya, Heeseung menjadi sangat marah dibohongi Kapten. Tanpa pikir panjang, tangannya mencekik Kapten sampai yang lebih mudah sulit mendapatkan oksigen.

“Lo punya gue, Jeongin!”

“Or..ang g..gila!”

“Udah gue bilang, lo yang bikin gue gila! lo keluarga lo, kalian yang bikin gue gila anjing.”

Kapten berusaha keras untuk lepas dari jeratan Heeseung. Tapi apa daya, tenaga pria itu lebih kuat darinya. Ditambah lagi dirinya yang jatuh dari motor setelah diburu anak Elang tadi.

Sampai akhirnya kesadaran Kapten mulai menipis, baru Heeseung melepaskan cengkramannya. Kapten terbatuk keras, tenggorokannya sakit dan perih sekali. Bisa dipastikan kuku-kuku Heeseung menancap di kulit lehernya.

“Lo, orang tua lo, kalian semua yang maksa gue jadi gini! Bokap lo udah ngambil orang tua gue dan sekarang lo mau pergi juga—”

“Lo yang maksa gue buat pergi anjing!”

Meledak sudah. Kewarasan Kapten lenyap dan gemuruh amarah mengambil alih.

“Bukan cuma lo yang kehilangan anjing! kakek gue juga mati di kecelakaan itu, bangsat!”

“Terus lo bilang apa? gue yang pergi? lo pikir siapa yang tiba-tiba dateng jadi kakak angkat gue bangsat? LO HEESEUNG LO!”

“Lo yang ngubur semua perasaan gue di hari pertama lo masuk ke rumah.”

Pecah. Kapten benar-benar pecah. Semua perasaan yang dia sembunyikan akhirnya terungkap. Betapa kecewanya dirinya kala itu. Di tengah suasana berkabung kehilangan sosok yang berperan seperti orang tuanya, lalu ditambah kenyataan orang yang dia cintai datang sebagai kakak angkatnya.

Kapten hancur luar-dalam.

Jelas, dia juga tau, Heeseung sama hancurnya. Mereka sama-sama hancur, berantakan, pecah, dan rusak.

“Cerita kita udah selesai kak.” suaranya melunak, bergetar karna amarahnya mulai bercampur dengan emosi lainnya.

“Kasih gue kesempatan, Je. Gue ngelakuin ini karna pengen ngelindungin lo.”

Sudut bibir Kapten meninggi, dia menatap Heeseung penuh kekecewaan, “Ngelindungin? disaat lo jadi alasan paling kuat bokap nyokap sering gebukin gue?”

Dan tanpa bisa dia cegah, air mata Heeseung mengalir begitu saja.

“Kak Hee.”

Mata mereka bertemu, mata hitam Jeongin yang seperti kismis itu menggelap sempurna seperti langit malam tanpa hamparan bintang. Manik yang dulunya selalu memandang dirinya dengan tatapan memuja yang lucu itu telah hilang.

Benarkah? benarkah, kita tidak bisa seperti dulu?

“Kita lanjutin hidup kita masing-masing, gue sama jalan gue dan lo dengan jalan lo.”

“Je.” Heeseung mencoba meraih Jeongin, namun yang lebih mudah segera menghindar.

“Kita udah selesai kak, hubungan kita ga lebih dari kakak adek angkat.” Jeongin menegaskan lagi, “Dan lo yang milih itu.”

Sebab, mereka telah sama-sama berantakan. Mau seberapa keras diperbaiki, mereka tidak akan bisa menjadi utuh lagi.

Jeongin terlampau mati. Jiwa dan raganya telah mati di usia 15 tahun. Kala dirinya kehilangan kakeknya dan kehilangan cinta pertamanya dalam satu waktu.

Heeseung yang memilih hubungan mereka yang belum sempat dimulai. Heeseung yang memulai dan tidak ada alasan jika dia mau meminta semuanya seperti semula ketika dengan pontang-panting Jeongin berusaha menyembuhkan luka batin dan fisik yang dia berikan seorang diri.

Jeongin sudah terlampau benci dan muak. Jadi biarkan mereka saling mengobati sakitnya masing-masing tanpa mengubah status musuh yang sudah terjalin.

Memang, mereka pernah seperti mata angin. Saling utuh dan butuh, namun tidak akan pernah menjadi satu.

Kalo gue boleh minta sama Tuhan; gue berharap kita ga pernah ketemu di kehidupan ini, kak Hee.