No Time To die: Bagian Prolog
- cw: abusive, kidnapping, and violence
Jeongin berlari dengan pontang-panting. Ketakutan begitu tergambarkan dengan jelas di manik gelapnya. Kemeja putih yang dia kenakan sudah tersampir sangat asal-asalan, menampilkan beberapa bercak keunguan di leher dan dadanya kala angin malam berusaha menyelimuti tubuhnya.
Kota malam ini terasa sangat sepi. Tidak ada hingar bingar yang biasa menemani purnama hingga matahari kembali naik.
Atau, Jeongin saja yang tidak tau pastinya dimana dia saat ini?
Suara derap langkah kaki yang semakin jelas membuat tangis Jeongin semakin pecah. Sejatinya dia tidak pernah merasa setakut ini. Dengan sisa tenaga yang hampir habis, ia paksakan kaki telanjangnya untuk semakin melarikan diri.
“T-tolong! tolong gue.”
Jeongin rasanya sudah frustasi. Kepalanya pening dan tenggorokannya pun sakit. Entah sudah berapa banyak dia berteriak kencang.
Dia tau, hidupnya penuh dengan hal yang lucu. Seolah semesta gemar mengusik hidupnya. Dimulai dari keluarga yang berantakan, punya ibu yang gila judi, ayah yang menjadi pengedar narkoba, dan hidup dalam bayang-bayang rentiner untuk selamanya. Jeongin pikir, cukup sampai di sana semesta mencoba membuatnya muak.
Namun sialnya, semesta seolah tidak ingin memberikan belas kasih.
“Tolong..!” pandangannya mengedar ke seluruh jalanan yang sepi. Berharap akan ada seseorang yang dapat membawanya pergi dari kejaran orang-orang yang menculiknya beberapa hari lalu.
Samar-samar indra pendengarannya menangkap deru mesin mobil yang mendekat. Buru-buru dia mengikuti sumber suara. Dan benar saja, ada satu mobil yang berjalan dari arah berlawanan.
Melihat itu, Jeongin merasa mendapatkan keajaiban yang lebih indah dari kado natal. Mahasiswa tingkat akhir itu dapat bernapas lega, kakinya yang mulai melemah seakan mendapatkan energi untuk semakin berlari.
Jeongin ingin pulang.
“Hei! Tolong!” tangannya dia angkat setinggi mungkin. Berusaha menarik atensi dari pengemudi.
Jeongin semakin berteriak histeris kala mobil itu seperti menangkap kehadirannya yang sangat butuh pertolongan. Dirinya tidak dapat menahan sudut bibirnya untuk melambung tinggi. Dia harus bisa melarikan diri.
Baru saja Jeongin dapat bernapas lega, dirinya kembali diserang panik kala matanya dengan jelas mengenali kendaraan tersebut. Sudut bibirnya sontak menurun dan degup jantungnya semakin berpacu saat maniknya menangkap sesosok pria yang membuat hidupnya kacau beberapa hari ini dari kaca mobil.
“Ga.. ga ARGH!”
Tangannya yang dicengkram kuat, membuat pergerakan Jeongin yang akan kabur kembali terhenti.
“Lepas! Gue bilang lepasin gue anjing!”
Jeongin berusaha keras melepaskan cengkraman erat tangan bodyguard pria itu pada pergelangan tangannya yang terluka akibat tali yang mengekangnya 2 hari. Seolah tuli, pria itu malah semakin mengencangkan genggamannya.
“Akh! Tolong! Lepas anjing sakit!”
“Mereka tidak akan menyakiti kamu kalau kamu bisa menjadi anak baik, Jeongin.”
Suara berat dari pria yang baru saja keluar dari mobil itu sukses membuat tubuh Jeongin meremang sebadan-badan. Kepalanya menggeleng keras bersamaan langkah kaki pria tersebut yang mendekat ke arahnya.
“LEPASIN GUE —ARGH!”
Helaian rambutnya dijambak kuat, memaksanya untuk menatap ke pelaku. Jeongin yang sudah muak dengan semua ini, sengaja meludahi pria itu yang langsung dihadiahi tamparan keras dari salah satu bodyguardnya.
Jeongin mengerang sakit, tubuhnya sudah tidak mampu memberikan perlawanan apapun. Air matanya seakan sudah mengering, bibirnya terasa kelu dan dia hanya ingin pulang untuk tidur di kasurnya yang sekeras batu itu.
“Anak nakal kayak kamu memang harus dihukum, Jeongin.” setelah mengatakan itu, cengkeramannya dari rambut Jeongin dilepaskan dengan kasar hingga dia sedikit terhuyung ke belakang.
“Bawa dia ke mobil.”
Mendengar perintah itu, manik madu Jeongin membola kaget. Tubuh lemahnya langsung diseret untuk dipaksa masuk ke dalam mobil.
“Ga! GA MAU HYUNJIN LEPASIN GUE!”
Hyunjin, pria itu, menatap Jeongin yang memohon dengan ketidak-berdayaannya. Sungguh, Hyunjin suka melihat seseorang memohon seperti ini.
“Lepasin kamu?” tangannya membelai wajah Jeongin yang penuh air mata. “Mana mungkin cantik. Kamu itu sudah dijual ibu kamu untuk melunasi hutang-hutangnya, kamu tau?”
Gelengan keras diberikan Jeongin. Raut wajah ketakutan bercampur rasa frustasi itu sungguh membuat hasrat di dalam tubuh Hyunjin bergejolak tidak karuan.
Ingin rasanya dia membuat mahasiswa itu semakin menangis. Memohon ampun padanya yang memegang penuh kendali atas tubuhnya mulai sekarang.
Sial, dia mulai menegang.
“Akh! ga! Hyunjin gue janji gue bakal lunasin hutang-hutang mama.. t-tolong lepasin gue!”
Hyunjin seperti menulikan telinganya. Dia menggeser tubuhnya agar bodyguardnya dapat membawa masuk barangnya.
“Hyunjin gue mohon argh! hiks.. lepas anjing!”
Tangis Jeongin semakin pecah, entah sejak kapan tubuhnya menjadi selemah ini. Kepalanya begitu pening dengan deru napas yang memburu kencang. Dadanya terasa sesak seolah oksigen mulai menjauh darinya.
Dan secara tiba-tiba gelap menguasai penglihatan Jeongin bersamaan rasa sakit dari jarum suntik tepat di lehernya.
“Selamat datang di kehidupan baru kamu, Jeongin.”