our home!
Alunan gemuruh tepat di pucuk kepala Mingyu tidak dapat menghentikan langkah kakinya yang berlari menuju rumah kekasih. Persetan dengan tubuh yang basah kuyup, pun dengan tubuh yang tidak kuat dengan dinginya hari, atau bahkan mobil yang ia tinggalkan begitu saja dipinggir jalanan, untuk Mingyu tidak ada yang jauh lebih penting dari pria manis yang lebih muda 4 tahun itu.
Harusnya tidak pulang.
Harusnya menetap.
Harusnya membiarkan pria manis itu bersandar lebih lama lagi untuk terlelap.
Harusnya Jeongin menjadi lebih penting dibandingkan kanvas gambar yang baru jadi itu tertinggal di luar rumah.
Harusnya...
“Sebentar lagi.”
Langkah kakinya semakin berpacu dengan detak jantung. Patung wanita dengan ornamen modern menyambut pandangannya lega.
“Kakak sampai, sayang.”
Letaknya di rumah putih yang megah. Kiasannya terlihat sangat jelas, bunga matahari yang menghiasi halaman dengan indah. Jeongin mengingatnya dengan jelas, rumah itu melingkupinya dengan hangat.
Kaki telanjangnya menyentuh ubin dingin. Perasaan gelisah yang sebelumnya merasuki semakin memudar kala indra pendengarannya menangkap suara pria di balik salah satu pintu di lantai dua.
“Honey.”
Suara samarnya membawa Jeongin untuk mendekat. Ada perasaan aneh yang merasuki tubuhnya. Sebuah perasaan yang—
“Honey ku, Jeongin ku..”
“Sayang? Hei, ada apa?”
“Hah?”
Cup!
“Kesayangannya Mingyu mikirin apa, hm?” pria itu bertanya setelah mendaratkan kecupan manis di sudut bibir Jeongin.
Pertanyaan lembut dari kekasih hatinya membuat Jeongin segera mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan.
Ruangan minimalis bercorak biru bercampur abu-abu pastel disetiap dinding itu adalah kamarnya. Beberapa koleksi gundam yang setiap akhir pekan ia rakit bersama Mingyu pun masih sama dari terakhir kali ia letakan.
“It's oke, kamu lagi di kamar kamu sayang.”
Benar! Ini kamarnya.
Bukan rumah putih megah dengan banyak bunga matahari di mana-mana.
Jeongin menghela nafas berat, seluruh tubuhnya mendidih akan seruan yang tertahan. Memilih memejamkan matanya lantas mengubur seorang diri.
“It's oke, kakak di sini.”
Pelukan Mingyu terasa hangat. Mendekapnya erat hingga Jeongin dapat bersandar sepenuhnya pada dada bidang miliknya.
Tangan lebarnya mengusap pugung Jeongin yang basah akan keringat. Melontarkan kata-kata manis seperti, “Mimpi buruk jangan nakal sama kekasihnya Mingyu atau aku akan memarahi kalian di dalam mimpiku.” konyol memang, tapi berhasil menenangkan Jeongin yang gelisah.
“Kita ganti baju dulu, ya.”
Gelengan ribut diberikan Jeongin saat Mingyu ingin melepaskan pelukan mereka. Pria manis itu malah beranjak untuk duduk dipangkuan Mingyu dan kembali bersandar padanya.
“Jangan pergi.”
“Kakak ga pergi sayang, kakak cuma mau ngambil baju tidur kamu.”
Tidak.
Ada kebohongan di matanya. Kecupan singkat tidak pernah ia berikan sebelumnya. Terburu-buru saat mendapatkan notifikasi di ponselnya.
“Honey, aku pergi dulu, ya.”
“Ga! ga mau. Jangan pergi.”
Air matanya jatuh piluh. Hatinya terasa sesak saat kepingan mimpi itu merasuki pikiran Jeongin.
Melihat Jeongin menangis, Mingyu malah terkekeh manis, ia tangkup wajah kekasihnya itu untuk ia kecupi.
“Kalo mau kakak tidur di sini, sayang harus ganti baju.”
Wajah manis Jeongin langsung berubah kesal. Bibirnya mengerucut dengan mata yang memandang Mingyu sebal. Manis sekali. Persis seperti kucing.
“Tapi, janji ya, jangan pergi.”
Cup!
“Memangnya kakak mau kemana kalau rumah kakak di sini, hm?”
Jeongin terdiam.
Kalimat itu terasa tidak asing. Debaran jantung yang tidak pernah ia rasakan menjerembab kenangan yang tidak dapat Jeongin ingat. Pedih.
“Sayang.” panggilan Mingyu menarik atensi Jeongin yang terdiam, “Kamu mimpi apa?”
Dan Jeongin tidak dapat menjawab. Ia pandangi wajah kekasihnya dengan lamat sebelum merengkuh lehernya untuk ia peluk.
Jeongin kembali menggeleng, “Bukan apa-apa.”
Memilih diam dan memendam semuanya adalah yang terbaik bagi Jeongin. Pun bingung untuk menjelaskanya bagaimana. Mimpi buruk yang terasa seperti bukan.
Ia merasa ada debaran kupu-kupu di dalam tidurnya. Namun terbangun dalam kebingungan. Siapa? Kenapa ada dia?
Siapa? Semua orang itu siapa?
Dimana Mingyu kekasihnya?
Benang mimpi yang seperti episode itu tidak menayangkan kekasihnya. Menjatuhkan Jeongin dalam labirin yang tidak ia mengerti. Meninggalkan perasaan pada hatinya yang selalu bertanya-tanya.
Kenapa merasa seperti kehilangan seseorang?
“Bukan apa-apa, kakak. Cuma mimpi buruk biasa.”