

Sejak pertama kali langkah kaki ringannya memasuki kamar putih dengan aroma lembut menguar disela-sela udara, Jeongin sudah dapat berasumsi betapa banyak perbedaan yang dimiliki diantara mereka.
Ruangan yang penuh dengan lampu warna-warni, pajangan gambar terisi di beberapa sudut dinding menjadi penghias yang apik. Rasanya pria itu salah tempat, persis seperti lawakan.
Namun tak dapat menyangkal, untuk sesaat dirinya kagum —tidak, bukan hanya sesaat, tetapi pria yang kerap dipanggil Ace Je itu sudah sangat mudah ditebak.
Denial.
Begitulah sang pemilik kamar menilai. Selalu berdekatan dengan Ace Je, Hyunjin perlahan mengikis dinding tampang palsu milik pria itu. Ada jutaan rahasia dibaliknya, seolah menggenggam dunia dibalik tangan ringkih. Satu yang Hyunjin tau.
Gelap adalah persamaan kata untuk Yang Jeongin.
“Gue malas pulang ke kamar, lo bisa nampung gue sampe lusa?”
“Hah?''
Surai legam yang terjatuh menutupi mata rubah bak serpihan bola es. Dingin, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Hyunjin bisa saja menolak, tidak bertaruh atas nyawa yang berada di ujung tombak.
“Ya, sure.” bola matanya melengkung, tersenyum manis bak pangeran.
Tidak ada yang baik, bahkan saat ia berada di ujung daun pintu dengan hati yang tercabik-cabik, ia masih sama. Tidak ingin hanya mendobrak dindingnya saja, ia ingin semuanya lenyap. Mengingat rasa pedih yang teramat. Lantas hancur, berantakan, dan rusak.
Hwang Samanthius Hyunjin.
Benarkah kau ini manusia?
.
.
.
“Bilang kalau sakit.”
Bukannya menjawab, pria kecil yang tengah duduk di hadapannya malah mendengus, “Lo bakalan terus-terusan begitu?”
“Begitu bagaimana?”
“Ck, niupin luka gue.”
Tawanya mengembang manis, kasa baru ditangannya menyentuh lembut kulit yang penuh dengan bercak secara hati-hati.
“Ini bukan luka kecil.”
“Gue tau.”
Menutup bekas cambukan yang masih belum sepenuhnya pulih, “Gue ga mau lo kesakitan, Ace Je.”
Bahkan ucapan itu hanya terlontar keluar.
Selain pria yang dingin, Jeongin itu pembohong yang handal. Rona merah saja rasanya sungkan untuk menunjukkan ekspresinya saat ini.
“Badan lo panas, lo sakit?”
“Hm, mungkin.”
Membalikkan tubuh Jeongin untuk menghadapnya, telapak tangan besar itu langsung melingkupi dahi Jeongin. Rambut yang berjatuhan saja sudah lepek karena keringat.
“Lo demam? bentar, gue ambilin o—”
“Ga usah.”
Hyunjin mendengus tanpa sengaja. Mengambil kotak obat yang terpajang di sebelah patung Tuhan.
“Gigit.”
“Lo tuli?”
Termometer kaca tergantung dengan pasang mata yang saling memandang. Hyunjin kembali mengambil tempat sesaat Jeongin memutus kontak mereka.
“Apa-apaan—” tubuh yang seperti kapas maju untuk mengikis jarak, “Jangan ngundang gue untuk ngeluarin bola mata lo sekarang.”
Bukannya takut, Hyunjin melukiskan senyumannya. Kepalanya maju hingga memukul rautan kaget pada wajah yang memerah hangat.
Bersikap provokatif memang andalan Detective Hwang.
“Coba aja kalau memang nantinya luka dan sakit lo bisa sembuh tanpa perlu gue obatin lagi.”
Ia mendengus. Gemerisik dari angin yang menghembus ke dalam ruangan akibat jendela yang belum tertutup membuat Jeongin mengeratkan rahangnya saat tak dapat menghalau rasa dingin. Tubuhnya terasa seperti disusuk, nyeri, dan lemas yang bercampur. Namun tetap saja, Jeongin tidak bergeming. Tidak ada kata atau ringisan, hanya mata yang memejam dan kuku jari menancap tajam dalam telapak tangan.
Puk!
“Kasian penemu aspirin sekarang lagi ngerasa sia-sia karena selalu ga pernah dipake sama lo.” ia menutup kotak obat yang sepertinya sudah selesai digunakan. Sepertinya? ya, karena pria yang perlu diobati itu malah memasang mode siap untuk menebas seluruh kepala orang, termasuk dirinya.
“Jeongin, hidup ini selalu punya alasan, dan gue tau alasan kenapa lo selalu nolak obat atau apapun itu dan lebih milih ngerasain sakitnya.” kalimat yang keluar dari celah bibirnya terkesan lembut. Sebelah tangannya merapikan rambut Jeongin yang tersingkap.
“Tapi hidup juga ga melulu tentang sakit, kan? suatu hal diciptain untuk membantu kehidupan, Je. Ini— ” jemarinya menunjuk setiap luka Jeongin.
“— dan ini.” tepat pada hati batu Ace Je.
Jantung Jeongin tidak pernah berpacu secepat saat ini. Lantunan merdu kalimat Hyunjin membawanya termenung, “Jangan terlalu keras sama diri sendiri, kalau lelah ya istirahat. kalau lapar ya makan. kalau sakit ya berobat.”
“Lo tau..?” ia memotong ucapan Hyunjin sejenak, “Lo lucu ngomong begini dengan orang yang selalu buat orang lain ngerasa sakit“
Jeongin.
“Sebulan bukan waktu yang singkat untuk lo bisa nilai gue sebenarnya kayak apa. Luka gue, sakit gue, dan semua tentang gue juga bisa lo tebak kenapa bisa jadi kayak ini. Karena apa? karena lo sudah lihat sebagiannya.”
Ia jatuhkan tubuhnya di atas kasur dengan telapak tangan menyentuh benda dingin yang terpasang dikeningnya.
“Hyunjin. Lo ngomong gitu karena lo dokter. Tapi apa bisa lo tebak kenapa semua yang lo lihat dipermukaan tubuh gue ini ga pernah hilang?”
Pucat pasi dengan bingkai redup hal baru yang Hyunjin lihat dari sosok itu. Berbicara panjang saja ia selalu enggan, apakah sakit membuatnya berubah menjadi banyak bicara?
Tidak.
“Karena lo selalu pergi untuk—”
“Karena gue pantes untuk semua ini.” dan dengan itu, Hyunjin bersumpah, ia melihat ulasan tipis di bibir Jeongin. Pria muda itu membalikkan tubuhnya hingga memunggungi pria yang melalang buana lepas pada pikiran yang porak-poranda.
“Hyunjin.”
“Ya?”
“Terkadang semuanya dimulai dari biasa hingga menjadi terbiasa.”
Sejak pertama kali langkah kaki ringannya memasuki kamar putih dengan aroma lembut menguar disela-sela udara, Jeongin sudah dapat berasumsi betapa banyak perbedaan yang dimiliki diantara mereka.
Ruangan yang penuh dengan lampu warna-warni, pajangan gambar terisi di beberapa sudut dinding menjadi penghias yang apik. Rasanya pria itu salah tempat, persis seperti lawakan.
Namun tak dapat menyangkal, untuk sesaat dirinya kagum —tidak, bukan hanya sesaat, tetapi pria yang kerap dipanggil Ace Je itu sudah sangat mudah ditebak.
Denial.
Begitulah sang pemilik kamar menilai. Selalu berdekatan dengan Ace Je, Hyunjin perlahan mengikis dinding tampang palsu milik pria itu. Ada jutaan rahasia dibaliknya, seolah menggenggam dunia dibalik tangan ringkih. Satu yang Hyunjin tau.
Gelap adalah persamaan kata untuk Yang Jeongin.
“Gue malas pulang ke kamar, lo bisa nampung gue sampe lusa?”
“Hah?''
Surai legam yang terjatuh menutupi mata rubah bak serpihan bola es. Dingin, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Hyunjin bisa saja menolak, tidak bertaruh atas nyawa yang berada di ujung tombak.
“Ya, sure.” bola matanya melengkung, tersenyum manis bak pangeran.
Tidak ada yang baik, bahkan saat ia berada di ujung daun pintu dengan hati yang tercabik-cabik, ia masih sama. Tidak ingin hanya mendobrak dindingnya saja, ia ingin semuanya lenyap. Mengingat rasa pedih yang teramat. Lantas hancur, berantakan, dan rusak.
Hwang Samanthius Hyunjin.
Benarkah kau ini manusia?
.
.
.
“Bilang kalau sakit.”
Bukannya menjawab, pria kecil yang tengah duduk di hadapannya malah mendengus, “Lo bakalan terus-terusan begitu?”
“Begitu bagaimana?”
“Ck, niupin luka gue.”
Tawanya mengembang manis, kasa baru ditangannya menyentuh lembut kulit yang penuh dengan bercak secara hati-hati.
“Ini bukan luka kecil.”
“Gue tau.”
Menutup bekas cambukan yang masih belum sepenuhnya pulih, “Gue ga mau lo kesakitan, Ace Je.”
Bahkan ucapan itu hanya terlontar keluar.
Selain pria yang dingin, Jeongin itu pembohong yang handal. Rona merah saja rasanya sungkan untuk menunjukkan ekspresinya saat ini.
“Badan lo panas, lo sakit?”
“Hm, mungkin.”
Membalikkan tubuh Jeongin untuk menghadapnya, telapak tangan besar itu langsung melingkupi dahi Jeongin. Rambut yang berjatuhan saja sudah lepek karena keringat.
“Lo demam? bentar, gue ambilin o—”
“Ga usah.”
Hyunjin mendengus tanpa sengaja. Mengambil kotak obat yang terpajang di sebelah patung Tuhan.
“Gigit.”
“Lo tuli?”
Termometer kaca tergantung dengan pasang mata yang saling memandang. Hyunjin kembali mengambil tempat sesaat Jeongin memutus kontak mereka.
“Apa-apaan—” tubuh yang seperti kapas maju untuk mengikis jarak, “Jangan ngundang gue untuk ngeluarin bola mata lo sekarang.”
Bukannya takut, Hyunjin melukiskan senyumannya. Kepalanya maju hingga memukul rautan kaget pada wajah yang memerah hangat.
Bersikap provokatif memang andalan Detective Hwang.
“Coba aja kalau memang nantinya luka dan sakit lo bisa sembuh tanpa perlu gue obatin lagi.”
Ia mendengus. Gemerisik dari angin yang menghembus ke dalam ruangan akibat jendela yang belum tertutup membuat Jeongin mengeratkan rahangnya saat tak dapat menghalau rasa dingin. Tubuhnya terasa seperti disusuk, nyeri, dan lemas yang bercampur. Namun tetap saja, Jeongin tidak bergeming. Tidak ada kata atau ringisan, hanya mata yang memejam dan kuku jari menancap tajam dalam telapak tangan.
Puk!
“Kasian penemu aspirin sekarang lagi ngerasa sia-sia karena selalu ga pernah dipake sama lo.” ia menutup kotak obat yang sepertinya sudah selesai digunakan. Sepertinya? ya, karena pria yang perlu diobati itu malah memasang mode siap untuk menebas seluruh kepala orang, termasuk dirinya.
“Jeongin, hidup ini selalu punya alasan, dan gue tau alasan kenapa lo selalu nolak obat atau apapun itu dan lebih milih ngerasain sakitnya.” kalimat yang keluar dari celah bibirnya terkesan lembut. Sebelah tangannya merapikan rambut Jeongin yang tersingkap.
“Tapi hidup juga ga melulu tentang sakit, kan? suatu hal diciptain untuk membantu kehidupan, Je. Ini— ” jemarinya menunjuk setiap luka Jeongin.
“— dan ini.” tepat pada hati batu Ace Je.
Jantung Jeongin tidak pernah berpacu secepat saat ini. Lantunan merdu kalimat Hyunjin membawanya termenung, “Jangan terlalu keras sama diri sendiri, kalau lelah ya istirahat. kalau lapar ya makan. kalau sakit ya berobat.”
“Lo tau..?” ia memotong ucapan Hyunjin sejenak, “Lo lucu ngomong begini dengan orang yang selalu buat orang lain ngerasa sakit“
Jeongin.
“Sebulan bukan waktu yang singkat untuk lo bisa nilai gue sebenarnya kayak apa. Luka gue, sakit gue, dan semua tentang gue juga bisa lo tebak kenapa bisa jadi kayak ini. Karena apa? karena lo sudah lihat sebagiannya.”
Ia jatuhkan tubuhnya di atas kasur dengan telapak tangan menyentuh benda dingin yang terpasang dikeningnya.
“Hyunjin. Lo ngomong gitu karena lo dokter. Tapi apa bisa lo tebak kenapa semua yang lo lihat dipermukaan tubuh gue ini ga pernah hilang?”
Pucat pasi dengan bingkai redup hal baru yang Hyunjin lihat dari sosok itu. Berbicara panjang saja ia selalu enggan, apakah sakit membuatnya berubah menjadi banyak bicara?
Tidak.
“Karena lo selalu pergi untuk—”
“Karena gue pantes untuk semua ini.” dan dengan itu, Hyunjin bersumpah, ia melihat ulasan tipis di bibirnya. Ia membalikkan tubuhnya hingga memunggungi pria yang melalang buana lepas pada pikiran yang porak-poranda.
“Hyunjin.”
“Ya?”
“Terkadang semuanya dimulai dari biasa hingga menjadi terbiasa.”