SALAM DAMAI LAGI


“Beli dikit aja dah, kalo kurang suruh mereka beli sendiri.”

Panglima yang sedari tadi mendengar ocehan Kapten hanya diam sembari mendorong stroller belanjaan.

“Kita orang berapa?”

“30an.”

“5 ciki setiap jenis cukup ga?”

“Mungkin.”

“Jawab yang bener anjing gue colok juga mata lo bangsat!”

Kapten dan umpatannya memang susah sekali dipisahkan. Lupa dengan misi berkelakuan baik-baik pada Panglima.

“Beli bintang juga kali ya.”

“Ga.”

“Dih! giliran gini aja cepet lo nyaut.”

Bibirnya cemberut atas penolakan Panglima barusan. Lantas Panglima terkekeh tanpa diketahui Kapten, susah sekali untuk menyembunyikan perasaannya pada remaja dengan lesung pipi itu.

“Beli panther?”

“Sprite aja.”

“Ck! kita ini udah gede masa sprite sih harusnya pas gini tu minumnya vod—”

“Kapten.”

“Yaudah sprite..”

Botol kalengan itu diambil Kapten dengan lesu. Dia bahkan tidak lagi menghitung seberapa banyak yang dia masukan ke dalam keranjang.

“Udah cukup Kapten.”

“Apa sih kapten kapten! kan gue udah bilang gue ga suka lo manggil gue Kapten!” meledak sudah dia.

“Panggil aja Pipi bolong aja kayak biasanya!”

“Lo jangan teriak-teriak ini tempat rame Kap—”

“Kan anjing! gue jambak rambut lo sampe botak ye jancok —hmmp

Buru-buru Panglima membungkam mulut musuhnya itu. Orang-orang bahkan sudah melihat sinis ke arah mereka. Tapi bukan Kapten jika tidak peduli.

“Yaudah iya, Pipi bolong.”

Tapi sepertinya Kapten masih belum merasa puas. Dirinya masih cemberut sembari menatap Panglima sengit.

“Kenapa lagi?”

“Sebel gue sama lo anjing.”

“Gimana?”

“Iya tau gue salah gue minta maaf, tapi ga usah sampe diemin gue gini anak setan, gue ga suka.”

Dan kali ini Panglima terkekeh sarkas. Dia menarik Kapten untuk dibawa ke tempat yang lebih sepi.

“Jadi gue harus ngelakuin semua yang lo suka, sedangkan lo bebas ngelakuin apa aja termasuk hal yang ga gue suka, gitu?”

Mendengar hal itu, Kapten semakin menantang Panglima. Mata mereka yang saling beradu membagikan perasaan yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

“Ga gitu.”

“Lo bilang kita harus profesional kan? jadi yaudah, pura-pura aja ga ada apa-apa. Toh sebelumnya juga kita udah biasa perang dingin gini kan?”

Spontan Kapten menggeleng keras, “Ga ya anjing! lo jangan mainin perasaan gue gini dong, katanya lo sayang sama gue, kenapa sekarang lagak lo kayak orang ga punya perasaan?”

“Disaat gue lagi berusaha ngerti perasaan gue sendiri, lo malah gini?”

Secara tiba-tiba Kapten merengkuh Panglima untuk dia peluk erat.

“Pipi bolong.”

“Bentar.” semakin dia eratkan pelukannya, “Gue mau cari irama detak jantung lo yang buat gue.”

Lantas kali ini Panglima membalas pelukan Kaptennya. Sebab debarnya masih sama, tidak ada yang berubah barang sedikit pun. Semua masih milik Kapten, milik Atlantisnya.

“Maafin gue.”

“Gue ga marah, Pipi bolong.”

“Buktinya lo diemin gue?”

“Gue cuma butuh waktu buat redahin emosi gue.”

“Sekarang udah redah?”

Gelengan kepala Panglima membuat Kapten melepaskan pelukannya. Sejenak tenggelam dalam bulatan hitam yang tergambar di bola mata Panglima.

“Kalo gue bikin lo ga marah lagi sama gue gimana, Panglima?”

cup!

Kecupan singkat Kapten berikan di sudut bibir Panglima.

Kapten itu orang gila; dirinya penuh dengan teka-teki yang tak terusik. Tidak untuk orang lain, dirinya sendiri saja dia tidak ingin mengerti.

Kapten itu orang egois; dia ingin dicintai tapi tidak ingin mencintai. Dirinya terlampau terlilit rumit dalam kotak sempit.

Tapi sayangnya, Kapten tetaplah Kapten. Sang juara satu pemilik hatinya yang meski harus hancur berkeping di tangannya lagi dan lagi.

Entah akan dibawa kemana perasaannya. Ada kemungkinan terkubur jauh dalam dasar lautan. Sialnya, setiap bersama Kapten jatuh dan cinta tidak dapat dipisahkan lagi

Tapi Panglima tidak masalah.

“Ayok pulang, udah hampir malem.”

“Nanti aja.” dia menggenggam tangan Panglima.

“Gue masih mau lama-lama berdua sama lo, anak setan.”


“Kalo gue bikin lo suka sama gue gimana, Kapten?

Haha sialan.. lo berhasil, Panglima.