SATU MATI, SEMUA MATI


Ribuan kosa kata tidak akan pernah cukup menceritakan betapa luar biasa sosoknya. Meski tidak lekat pada hangat, bahkan ramah jauh dalam penggambarannya, namun bijaksananya sangat mengagumkan.

Tentang insan yang sangat setia pada hubungan, yang rela ditikam di depan mata sendiri hingga mati berkali-kali. Sosok itu tau caranya menarik hati tanpa simpati. Bak bintang-bintang yang menghiasi kaki langit, perannya hadir menjadi petrikor di ruang sempit.

Dia memang tidak seindah senja, tidak pula sehangat bagaskara, atau sampai secantik efemeral. Dirinya erat dalam misteri, potongan enigma yang dirakit pada benang merah hingga akhirnya tercipta sketsa hitam-putih. Sampai tanda tanya besar selalu hadir

kenapa? ada apa? butuh bantuan seperti apa?

Ungkapan dia tidak butuh dunia, tetapi dunia butuh dia amat tepat dalam narasi pribadinya. Dia; Yang Jeongin —Kapten Orion yang selalu diagung-agungkan. Baris-baris kata yang sedingin lautan berakar tepat dalam dirinya. Sungguh, tidak ada yang benar-benar mengenal pasti siapa dirinya.

Misalnya seperti saat ini.

“Rokok, kap.”

Jika dia benar Kapten Orion yang Seungmin kenal, seharusnya tidak butuh tawaran untuk nikotin itu terapit di bibirnya. Sebab semua orang tau, Kapten dan rokok sudah seperti hujan dan jalanan. Mereka menyatu dan semua orang akan tau.

Tetapi hari ini, tidak satu pun dari Orion yang dapat mengerti Kapten mereka sendiri.

“Udah berenti nyebat lo?” Jaehyuk bertanya penasaran.

“Masih, lagi jarang aja.”

“Widih mau jadi anak baek lo?”

“Anjing!” sempat-sempatnya dia melemparkan popcorn ke arah Seungmin. “Mandang orang baek jangan diliat dari dia ngerokok apa kagak tolol.”

“Dikasih banyak halaman biar bisa dibaca malah liat cover nya doang kan goblok.”

“Gila kap bahasa lo.” Nanon sengaja menggoda, dia bertepuk tepat di wajah Kapten sampai satu geplakan dihadiahi Kapten kepadanya.

“Emang kagak asem mulut lo kap? secara lo biasa setengah bungkus abis sehari.”

“Gue ngestock permen.” berapa bungkus mentos dan yupi Kapten keluarkan dari kantong jaketnya. “Mau lo?”

Seungmin terkekeh setelah berhasil mencomot yupi lebih dulu dibanding Jisung yang kini mengumpatinya. “Kalo permennya gue mau, kalo ngurangin rokok mah kagak dulu.”

“Sakit baru tau rasa.”

“Anjing, gue sakit lo juga sakit nyon, lo kira yg di mulut lo itu astor?”

“Berisik dah lo dua babi.” Jisung yang sedang main PS berdua sama Felix menyaut tanpa diajak. Muka anak Pak RT itu sudah sangat masam, beda sama Felix yang tertawa di belakangnya.

“Kalah dikit ngambek.”

“Ya gimana engga, udah dikit lagi gue menang tetiba ditelpon bokap nanya kode token apa kagak semawen gue, asu.”

“Hormat lu, dicoret dari warganya berabe lu.”

Jisung mengibas tangannya santai setelah mengapit rokok di bibirnya, “Santai boy, rumah Kapten luas.”

“Dih.” Kapten yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya menoleh sinis, “Nyaut aje lo knalpot racing.”

“Lucu Kap mantap.” kali ini Felix yang menggoda ketuanya itu dibarengi dengan Jaehyuk yang tertawa palsu.

“Babi.”

Pada malam yang tidak sehangat malam sebelumnya, namun tidak juga sedingin musim hujan di tengah kemarau, Enam remaja dengan sampul yang berbeda dari isinya duduk memenuhi meja taman rumah Nanon. Bangunan-bangunan megah menjadi gambaran betapa sepinya penghuni di sana, tapi malam ini, pembicaraan yang entah akan dibawa kemana oleh remaja-remaja seakan ingin memenuhi setiap sudut Cluster sampai pagi menjemput.

Tidak ada pikiran tentang esok, hanya cerita konyol yang sesekali diselingi umpatan dan tawa khas remaja. Sejenak bernapas dari dunia yang memaksa untuk menjadi dewasa. Dari masa kecil yang dirampas oleh keinginan menjadi remaja, hingga masa remaja yang kembali ditarik paksa untuk mengerti kemauan dunia.

“Udah mau jam 1 ini lo pada ga mau pulang apa gimana anjing?” Nanon bertanya selepas 4 rokok telah dia habiskan.

“Ga usah pulang sampe disuruh balik.”

“Ya kalo gitu gue ga balik-balik anjing min.”

Kapten menyaut bercanda. Pria pemilik pipi bolong itu sedang mati-matian tidak tergoda dari penghilang resa. Sudah tidak terhitung berapa banyak permen dia habiskan saat ini.

“Di sini yang masih dicari kalo kagak pulang cuma Jaehyuk, Anyon, Jisung, selebihnya mah balik ga balik sama aja.” Seungmin berujar sembari menyandarkan tubuhnya di bahu Jaehyuk.

“Gue mau disuruh balik gimana babi? suruh bangun dari tanah dulu coba bonyok gue.”

“Orang tidur jangan diganggu Lix.”

Sebagian orang mungkin akan bertanya, dimana letak lucunya sampai mereka kembali tertawa selepas itu? nyatanya, tidak semua candaan perlu dimengerti semua orang.

Orion tidak pernah berdiri di posisi yang sama, porsi mereka berbeda-beda. Dimulai dari yang cemara, biasa, runtuh, sampai berteman pada ilusi.

“Abang gue ada di rumah.” Seungmin kembali berucap. Matanya memandang ke arah langit-langit yang penuh bintang.

“Udah nginep aja lo pada.” Nanon memotong sebelum ucapan Seungmin menjadi panjang.

“Kalo ga ditawarin nginep juga gue bodo amat nyon kagak bakal balik gue.”

Botol bekas coca-cola dilempar Nanon mengenai tepat di kepala Seungmin yang membuat dua remaja kucing dan anjing itu beradu umpatan.

“Magadir anjing.”

“Nginep aja lah semua, balik pas tahun baru.”

“Nah ini udah magadir mokondo pula ngentot lo Han Jisung!”

“Ga boleh pelit-pelit lo sama bespren Nyon.”

“Kagak ye Ji, ini kan lo ada pacar yak tapi perasaan tiap malem lo ngerusuhin kita emang lo kagak ngapel apa sama Ryujin?”

“Oh iya juga ya, gue baru inget gue punya pacar.”

“Yailah ngentot!” Kapten yang sedari tadi memperhatikan anak-anaknya tidak dapat menahan emosinya mendengar jawaban Jisung.

“Ini nih kalo pacaran modal menang main Truth or Dare gini.”

“Ya mending gue ada pacar, lah elu udah musuhan lagak udah kayak beranak lima sama Panglima, Kap.”

“Bajingan mulut lo anjing, sini lo gue hantam pake ni gelas mampus lo ngentot.”

“Mulai nyapnyap nya keluar.”

“Lo orang dari tadi bacot mulu apa kagak laper?” Felix memotong adu mulut teman-temannya dengan konteks yang —ya cukup mereka saja yang mengerti.

“Bakmi enak juga.”

“Elu kalo ngomongin makanan cepet ye Kap.” Nanon terkekeh melihat sautan Kapten yang tiba-tiba melunak bak kucing jalanan. Anak sulung dari pemilik rumah mengusap kepala Kaptennya tidak kalah hangat seperti Pangmila. Bahkan Kapten tidak mengelak dan terkesan menerima saja apa yang Nanon lakukan padanya.

“Bakmi deket gang Seungmin enak tuh.”

“Beli Jae, gue kasih duitnya.”

“Go-food aja lah, mager Kap udah malem.”

“Ya ga ada juga yang ngomong ini subuh.”

Jika mengesampingkan sifat keras kepalanya, Kapten itu lebih dari royal dan loyal. Remaja 17 tahun yang bisa dikatakan solidnya melebihi bintang yang setia pada langit. Seorang yang akan berlari paling kencang jika teman-temannya butuh sesuatu.

Seperti sekarang, Felix baru berucap lapar dan dia sudah melakukan apa pun untuk memenuhi kemauan temannya.

Kecewa banyak mengajarkan Kapten menjadi sosok yang baiknya melebihi bunga kepada kupu-kupu.

Duit 2 lembar 100 ribuan itu dikasih Kapten tanpa pikir panjang. “Temenin Jaehyuk sana Ji.”

“Lah jadi gua.”

“Bacot, mau kagak?”

“Mau.. minjem vario Felix aja Jae jangan pake ninja lo males.”

“Iye bawel.”

Belum sempat Jaehyuk dan Jisung berdiri, Kapten sudah lebih dulu beranjak dari duduknya. “Yang gue simpenin dulu aja, gue mau keluar bentar.”

“Yaudah sekalian di lo aja Kap.”

“Gue tonjok juga ni muka lo Jae.” dasar sumbu pendek.

“Mau pergi sama Jasmine?”

“Ngapa jadi Jasmine sama Panglima anjing.”

Umpan berhasil di makan.

“CAILAHHH MAU NGAPEL LU SAMA MUSUH PIUPIUPIU.”

“Anjing babi emang biadab gue liat-liat lo babi nyon!”

“Mau ngambil motor kan lo?” Kapten mengangguk menjawab pertanyaa Jaehyuk. “Yaudah sini boti.”

Masih dengan raut sungutnya karena suitan Nanon dan Felix yang menggoda dirinya, Kapten mendekat ke arah Jaehyuk Jisung. Baru saja dirinya akan naik ke motor, bunyi notifikasi sontak menghentikan Kapten begitu saja.

Dirinya terpaku di samping motor dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

“Eh itu bakmi biar gue aja yang beli, lo pada tunggu di sini aja, gue duluan!”

Dan dirinya lenyap sebelum teman-temannya berhasil membuka suara.

“KAPTEN DUITNYA! dih ga jelas banget Kapten lo pada anjing.”

Benar. Tidak ada yang mengenal Kapten dan pikirannya yang serumit labirin.

Bahkan Nanon saja tidak tau, apa yang membuat Kapten berlari sekencang itu di penghujung malam kali ini.