Sepi —Ace Mafia


Lembayung bulan semakin bergerak turun. Puncak tak lagi indah, kabut seakan mengudara bebas. Pun dingin yang meremukkan setiap sendi tanpa kasih. Sepi. Rasanya sangat sepi hingga detik jarum jam menjadi melodi pagi subuh dini hari ini.

Satu.

Dua.

— Lima Belas.

Enam Belas— dan terus berlanjut hingga hitungan itu berhenti tepat didua angka indah.

“Tiga puluh Delapan.” bunga mawar putih yang ia sematkan disela-sela tempat peristirahatan kekasihnya menjadi afeksi penenang hatinya, “Bunga kesukaan kamu sekarang menuhin tempat tidur kamu, sampe-sampe foto kita berdua aja harus aku geser biar keliatan, dasar.”

Satu tarikan nafas ia ambil sebelum senyumannya tak lagi mengembang. Mata yang biasanya menampilkan manik binar semangat sekarang sudah tumbang. Jatuh hingga pada sanubari yang rasanya pun masih sama.

Sakit.

“Hari ini dan besok aku dapet libur karena Hyunjin yang bakalan ngawasin orang itu sendirian, makanya aku hari ini bisa kesini nyamperin kamu haha.. iri ga? harus iri pokoknya! Dulu mana ada libur ginian, kalo pun ada juga dipake buat tidur atau sekedar nyari angin doang kan, atau mentok-mentok cari makan berdua sambil nyuri-nyuri waktu berduaan”

“Dulu waktu kita sempit ya, kak. Pacaran aja jarang. Bahkan sampe lupa kalo kita ini pacaran saking ga ada waktunya kita istirahat.” usapan pada bingkai kekasihnya memelan, berganti untuk mengusap jantungnya yang tiba-tiba terasa nyeri.

“Tapi di waktu yang sempit itu, aku bahagia kak.”

Tak lama ia mengucapkan kalimat itu, dirinya terkekeh pelan. “Cringe ya? haha.” bayangan kekasihnya yang akan mengejek dirinya ketika mengatakan hal-hal indah itu kembalu berputar.

“Aku sekarang baik-baik aja kok, kak.” menjatuhkan keningnya sejenak, ia memejamkan matanya. “Jisung mu ini bakalan terus berusaha untuk baik-baik aja.”


Sesak di dada seharusnya sudah lenyap.