Sepi —Ace Mafia


Lembayung bulan semakin bergerak turun. Puncak tak lagi indah, kabut seakan mengudara bebas. Pun dingin yang meremukkan setiap sendi tanpa kasih. Sepi. Rasanya sangat sepi hingga detik jarum jam menjadi melodi pagi subuh dini hari ini.

Satu.

Dua.

— Lima Belas.

Enam Belas— dan terus berlanjut hingga hitungan berhenti tepat di dua angka indah.

“Tiga puluh Delapan.” bunga mawar putih yang ia sematkan disela-sela tempat peristirahatan kekasihnya menjadi afeksi penenang hatinya, “