Sering kali kupandangi cermin dalam kamarku. Mencari titik kekurangan yang ada. Kemudian aku tau, kekuranganku hanyalah tak memiliki hatimu, Hyunjin.

Orang bilang, parasku terlampau elok, manis dan ceria. Sempurna. Lantas, tidak kah kamu pernah berpikir bahwa kita cocok bersanding bersama?

Namun ku tau, bukan diriku yang dapat mengusir rasa hampamu. Bukan aku yang tercantum dalam buku harianmu. Bukan aku yang mengubah duniamu.

Mungkin aku hanya tempat singgah kala rumahmu terasa muak.

Tapi kubiarkan semua itu, bukan karena aku yang terlalu murahan, tapi aku yang kehabisan cara untuk membawamu menetap.

Sudahkah ku bilang bahwa dirimu yang mengubah duniaku? entah suka atau duka. Nyatanya aku menyukai keduanya.

Tau kenapa?

Karena ada dirimu dalam setiap lembaran diksi yang kuciptakan ini.

Ada hadirmu yang membuatku terbiasa atas tawa atau runtuh dalam dunia.

Hyunjin, saat kubilang bahwa aku akan membunuhmu, aku tidak benar-benar mau. Bagaimana bisa? melihatmu terluka saja tidak bisa.

Aku selalu menunggu kehadiranmu. Sosok Hyunjin yang kukenal dulu. Sosok yang membawa begitu banyak bahagia. Namun saat ini kutau, jiwa yang menunggu ini sudah terberai sendu.

Hyunjin, kita tidak bisa seperti ini. Dunia tidak melulu tentang sakit dan menyakiti. Jadi biarkan aku pergi, aku pun ingin terbang sepertimu

Meski harus meninggalkan pelabuhanku dan melalang buana jauh mencari pelabuhan baru, aku ingin merasakannya.

Sebab jika aku terus di sini, aku tidak tau kapan hati ini akan berhenti mencintaimu. Sosok angan yang tak dapat kutangkap.

Kita ini hanya dua insan yang tidak mengerti tentang dunia. Pun bagaimana cara kerja cinta yang sesungguhnya.

Aku hanya insan yang mencintaimu dalam sabar, yang menunggu lembaran skenario tentang kebahagiaan kita dapat berkibar.

Tapi, atma ini sudah terlampau lelah. Tak ada lagi angan tentang cerita romansa di bawah nebastala. Karena, aku tidak ingin mengubahmu menjadi Hyunjin yang tidak ku kenal. Jadi, mari kita berhenti. Terbang dan mendarat pada pelabuhan kita masing-masing.

Biar aku yang menitip pada semesta. Berucap terimakasih telah meminjam dirimu untuk lembaran puisi yang kutulis saat ini; penuh cinta tanpa harus melepas asa.

Hyunjin, aku mencintaimu.