Sesak itu kembali datang, degup jantung mulai tak terkendali lagi. Perasaan gemetar yang menghujam membuat pening dan mual datang secara bersamaan.
“Nih —lo gemeteran?”
Suaranya membawaku melihat kedua tangan yang bertaut bergetar hebat. “Hm, mungkin kedinginan.”
Sunyi memenuhi setelahnya. Aku yang berperang dalam akara Hyunjin menuntunku untuk semakin tenggelam pada kegelapan. Bagaimana bisa aku mengatakan bahwa sesak ini rasa takut yang sama seperti beberapa minggu ke belakang? Persis saat ancaman itu menjadi nyata.
“Hyunjin ga pernah main-main.”
Pria yang tengah mengemudi hanya berdeham tanpa peduli. Sesekali bersenandung kecil pada lagu yang berputar diantara mereka. Dan lagi-lagi aku terdiam, apa mungkin keputusannya berjalan bersama pria tadi merupakan kesalahan? Ya, benar, itu kesalahan.
Kesalahan yang kuperbuat lagi.
Kalau saja tadi aku tetap pulang sendiri mungkin Hyunjin tidak akan semarah itu lagi.
“Je.”
Atau, seharusnya memang aku tidak keluar rumah?
“Jeongin?”
Ada banyak orang yang nyawanya terancam karena ku, mungkin benar kalau aku membawa kesialan ke orang la—
“Jeongin? hei?”
“Hah? iya?”
“Lo kenapa? Muka lo pucet banget, lo sakit?” tangan besar itu menyentuh dahiku yang entah sejak kapan sudah basah karena keringat.
“Lo mikirin Hyunjin?” pertanyaan itu membuatku mengangguk singkat. Terlampau takut hingga pikiranku terinjak dengan kalimatnya yang berulang kali terputar di memori.
“Ga usah khawatir, gue sama lo bakalan baik-baik aja.”
Aku terkekeh karenanya, “Terakhir kali kak Minho juga bilang gitu sebelum jam 3 pagi gue ditelfon dia udah ga ada.”