Sinar mentari yang sudah berada di atas bumi memaksa Jeongin untuk terbangun. Sekelilingnya adalah ruangan yang ia kenal, Kamar tidur mereka. Namun, selang yang tertancap di punggung tangan kurusnya, membuat Jeongin bertanya-tanya.
Apa yang terjadi?
Tubuh lemas dengab suhu panas bahkan tidak dapat ia rasa. Terlanjur biasa hingga sakit pun tidak terasa. Jeongin meringis kala melihat penampakan dirinya yang pucat dengan wajah yang sangat tirus.
Cklek
“Loh, kak Je udah bangun, maaf ya tadi aku manasin bubur untuk kak je di bawah.”
Pria manis pemilik rumah di depan rumah Jeongin muncul dengan senyum manis cantiknya. Sunghoon, suami cantik Heeseung itu tengah berjalan dengan roda nampan berisi makanan.
“Maaf ya, jadi ngerepotin.”
“Apanya yang ngerepotin?” Sunghoon mencibir, mengambil tempat di samping Jeongin lalu menggenggam tangan Jeongin dengan lembut. “Jantung aku sama kak Heeseung hampir berhenti waktu lihat kakak pingsan di bawah hujan kemarin malem.”
Jeongin mengulas senyum tipisnya kembali, “Maaf—”
“Maaf mulu, lebaran masih lama kali, kak.”
Tawa halusnya mengembang, “Bener ya kata Heeseung, kamu kalo ngelawak selalu garing.”
Kali ini Sunghoon yang tertawa mengikuti Jeongin. Semua itu tidak berselang lama kala tiba-tiba Jeongin menutup wajahnya dan terisak kecil.
“Aku yang harus minta maaf, kak.” dibawanya tubuh Jeongin kedekapannya, Sunghoon membiarkan Jeongin bersandar untuk sesaat.
“Kak Heeseung udah coba ngehubungin kak Hyunjin, tapi selalu ga dibales. Dia bahkan sampe ngamuk waktu tadi malem yang bales bukan kak—”
“Lily, ya?” Jeongin memotong ucapan Sunghoon dengan sangat pelan. Bahkan terlalu halus. Bak angin sore yang membelai ringkih.
“Aku kayaknya ga bakal bosen buat ngasih tau kakak, kalo bertahan itu bukan pilihan yang tepat.”
“Kamu ga ngerti.”
“Kak. Aku memang ga tau apa-apa, tapi aku sebagai seorang kekasih dari hubungan pernikahan tau apa yang kakak rasain. Jangan genggam kalau dia memang mau pergi, atau kakak nanti yang terbawa kemana akhirnya dia akan berhenti.“
Cahaya mentari yang menyela masuk dari gorden yang tersingkap memantul pada wajah yang memandang kosong pada foto dua insan yang terpajang besar di dinding kamar.
“Aku terbiasa hidup dengan Hyunjin. Dia yang selalu ada, dia yang aku kenal, dia pria ku satu-satunya. Aku selalu mengatakan kalau aku mengenal dirinya, tapi ntah sejak kapan, aku kebingungan dengan dirinya, Hoon. Haha, lucu ya.”
Tubuh itu bersandar pada bantalan yang sudah tersusun. Menatap Sunghoon yang sudah menjatuhi air mata.
Menyedihkan sekali, kah, hidupnya?
“Awalnya aku juga berpikir aku akan meninggalkan suami ku kalau ia sudah tidak sejalan pada prinsip yang sudah dibuat di awal pernikahan. Nyatanya —semua terasa sulit, Hoon. Dua insan bertaut untuk waktu yang lama, berbagi kisah, berbagi cerita, berjalan bersama, lalu hidup bersama. Semua itu tidak mudah dilepaskan.”
Liquid bening lolos begitu saja.
“Aku bisa pergi. Aku yakin aku bisa. Tapi, kalau aku pergi, Hyunjin harus kemana? Siapa yang bakalan bimbing dia? Siapa yang akan tahan sama sifatnya yang berantakan?” dia menarik nafasnya sejenak, memainkan cincin yang terpasang pada jari manis dengan indah.
“Hoon, untuk waktu yang singkat ini, aku ingin menghabiskan waktu ku dengan kekasih ku. Kalau aku pergi dan dia juga pergi, siapa yang akan menarik salah satu dari kita untuk kembali?”
Sunghoon sudah tidak dapat berkata-kata kala mata Jeongin melengkung dengan senyuman saat mengatakan semua itu. Ia bertanya-tanya, seberapa kuat hatinya jika Heeseung melakukan hal seperti Hyunjin yang lakukan?
Lantas ia tau, ia bukan Jeongin.
Ia bukan merpati yang akan selalu abadi bersama kekasihnya.
Bukan pula bunga matahari yang dapat bersahabat diberbagai keadaan bersama kekasih.
Bukan.
Mereka bukan Jeongin.
Suara dua pria yang tengah bercakap di dalam kamar itu terdengar di luar kamar.
*“Maaf.”**