SORAK SORAI


“Noh ambil titipan lo, sini pop es gue.”

Bukannya tersinggung kantong hijau bekas belanjaannya di JM beberapa waktu lalu di lempar Kapten kala kakinya berpijak di hadapan pria pemilik lesung pipi manis itu, Panglima malah terkekeh seperti biasa.

“Aduh aduh, Pipi bolong gue ngambek, harus disogok gimana nih biar ga nyapnyap lagi?”

“Anak setan!”

Hyunjin mendekat ke arah Kapten yang berdiri di depan pintu kelas IPA 2 tanpa peduli jika di dalam akan ada antek-antek orion. Untungnya siang itu kelas kosong, mungkin berada di lapangan menonton pertandingan futsal yang masih berjalan.

“Gara-gara lo ga ada gue lancang di rumah lo anjing. Ditelpon ga bisa, bikin panik tau ga lo babi?”

Lagi-lagi sang dominan tertawa kecil, meraih tangan pujaan hati sekaligus musuhnya untuk ia gandeng. “Wah ini mah kemajuannya udah menembus angkasa purnama lepas, bisa-bisanya Panglima dikhawitirin Kapten Orion, keren abis.”

“Bangsat! Pointnya ga ke sana anjing.”

“Haha.. iya iyaaa maaf Pipi bolong. Gue ga bohong kok serius, bener-bener bangun terus ke sini.” dia bawa Kapten untuk duduk di salah satu bangku yang ada di koridor lantai 3 milik kawasan Orion. “Sekali lagi maaf Panglima bikin Kapten panik.”

Bagaimana bisa Hyunjin? Bagaimana bisa suara itu terdengar halus dan lembut hingga mampu menghangatkan hati dingin pujaanmu itu?

“Lo tau, semenjak bonyok gue punya kehidupan yang baru, gue kebiasa sendiri.”

Mata mereka bertemu, seluruh pusat bumi seakan Panglima berikan pada Kapten yang kini menatapnya biasa.

Tidak ada tatapan tajam. Tidak ada tatapan meremehkan. Hanya ada tatapan biasa, selayaknya manusia.

selayaknya —teman.

“Tapi semenjak ada lo, gue ga pernah ngerasa sendiri lagi anak setan.” akal sehatnya menghilang entah kemana. “Gue mulai kebiasa dengan eksistensi lo di hidup gue.”

Hyunjin tersenyum seraya menarik Jeongin untuk masuk dalam dekapannya. “Karena lo manusia Pipi bolong. Di dunia ini kita ga bisa hidup sendiri, walaupun dunia maksa kita buat mandiri, diri kita ga bisa bohong kalau kita butuh seenggaknya satu orang untuk jadi sandaran kita. Untuk kita berbagi cerita tentang hari kita. Untuk kita bisa berbagi semua kebahagiaan, kesedihan, atau apapun itu.”

Mendengar tidak ada jawaban, Hyunjin semakin tersenyum lebar, artinya tidak ada penolakan dari Kapten yang gengsinya setinggi langit.

“Dan jatah hoki gue sebagai manusia seumur hidup udah berkurang satu.”

“Masa?”

Panglima mengangguk mantap sembari menangkup kedua pipi gembil sang pujaan. “Ga ada yang lebih hoki dari eksistensi gue jadi salah satu hal yang lo anggap ada Kapten.”

“Lo ga ngerasa keberatan kalo kedepannya nanti gue repotin?”

“Kenapa harus keberatan? yang namanya cinta ga bakal ngerasa direpotin sama cintanya Pipi bolong. Cinta itu harus tulus. Tulus berjuang. Tulus buat selalu ada. Tulus buat setia.”

“Tulus mah penyanyi.”

“Mulai.” dari menangkup tangan itu berubah mencubit pipi gembil Kapten gemas. “Resenya mulai.”

Kali ini Jeongin yang tertawa setelah menyingkirkan tangan Panglima dan menghadiahinya satu jitakan karena sudah berani mencubit pipinya.

“Cara lo main sama musuh gini ya anak setan.”

“Kok main sih? gue beneran cinta sama lo pipi bolong.”

“Ga percaya gue.”

“Gue harus buktiin gimana lagi anjiiing?” nada suaranya terlihat sangat frustasi, ditambah dengan raut wajah Kapten yang memancing kekesalan semakin membuat Panglima kesal. “Tau dah ah.”

“Yah ngambek.”

Panglima tidak menjawab, sengaja ceritanya.

“Anak setan.”

Masih hening.

“Anak setaaannn.” sang pemilik Orion mulai merengek tanpa sadar, tangannya mengayun-ngayun lengan Panglima agar atensinya kembali.

“Ah elu anjing!”

“Yah, malah lo yang ngambek.”

“Habisnya lo anjing, gue cuma bercanda babi.” dumel Kapten dengan bibirnya yang maju. Ciri khas yang dirinya sendiri tidak ketahui.

“Haha.. yaudah impas yaaa.”

“Anjing.”

Telunjuk Panglima sengaja menjawil mulut Kapten. “Coba ngomong kotornya dikurang-kurangin.”

“Dih ngatur.”

Tingkahnya memang menyebalkan, tapi siapa Hyunjin yang bisa marah kala Kapten kembali masuk ke dalam dekapannya?

Sial, gemes banget.

“Oh ya! gue hampir lupa!”

“Kenapa?”

“Bentar, lo tunggu di sini.”

“Ada apa pipi? lo jangan bikin gue panik dah.”

“Alah bacot, udah mantep-mantep aja, jangan berisik nanti di denger orang anjing.”

Lantas Hyunjin kembali duduk dengan mata yang mengikuti arah Kapten yang masuk ke dalam kelas. Entah apa yang pria itu lupakan lagi.

Tidak berselang lama, si pemilik pipi bolong sudah keluar dengan menenteng kotak bekal tupperware.

“Nih.” belum sempat bibir Hyunjin terbuka, jeongin kembali berujar. “Ga usah banyak tanya, intinya itu buat lo. Maap minjem dapur ga bilang-bilang.”

Mata Panglima membola kaget. Menatap Kapten dengan wajah berbinar dan senyuman lebar yang manis. Seakan kosa kata diingatannya hilang sampai dia butuh waktu untuk berucap pada sang pujaan hati.

“Lo masak? buat gue? Pipi bolong?”

“Dibilang jangan banyak tanya anjing.”

“Ah.. Pipi bolong..” lengannya dengan sigap menarik Jeongin untuk dia peluk. Sungguh, rasanya Hyunjin seperti sedang terbang di langit bebas. Mungkin jika ini bukan di sekolah, dia sudah berteriak sampai seluruh orang menatapnya menyebalkan.

“Liat dulu anjing.”

“Wah.. nasi goreng! Pipi bolong, makasih banyak..”

“Apa sih? lebay, cuma nasi goreng.”

“Apanya yang cuma? bikin nasi goreng juga butuh effort Pipi bolong, makasih ya udah luangin waktu dan tenaga lo buat bikinin gue makan siang.”

Ini.

Ini yang bikin hati Jeongin selalu hangat jika berada di dekat Panglima.

Pria itu seakan memiliki semua cara untuk membuat Kapten berbunga-bunga. Sesederhana ucapan terimakasih atas jerih payah yang tidak seberapa itu. Ucapan yang tidak mungkin dia dapat dari keluarganya secara cuma-cuma dia dapat dari musuhnya sendiri.

“Mungkin rasanya ga seenak yang dijual abang-abang.”

“Ehm?!” Hyunjin protes melalui matanya. Mulutnya penuh dengan nasi goreng yang kalau bisa dia akan pajang di museum agar semua orang tau Kapten mulai luluh.

“Ini lebih enak dari nasgor yang sering gue beli di tempat pak Amin!”

Bagus deh kalo lo suka

“Gue suka kok?”

“Eh?”

Sekali lagi satu cubitan Panglima berikan di pipi Kapten. “Lo ga ngomong di dalem hati, Pipi bolong.”

“Anjing!”

Hyunjin hanya tertawa sembari menikmati nasi goreng ternikmat selain buatan mamanya.

“Lo sering masak?”

“Ini pertama kalinya.”

“Ahh.. gue semakin merasa special Pipi bolooong.”

“Najis, anggep aja utang budi dari gue.”

“Utang budi apanya orang bahan dari rumah gue, gas dari rumah gue, tupperware nyokap gue gini.”

“Halah anak setan!”

“Bercanda Atlantis sayang.” tangannya yang bebas mengusap rambut Kapten, mengapresiasi usahanya. “Gue boleh cium lo ga Pipi bolong?”

“Anjing!”

“Mumpung ga ada orang.”

“Gue tonjokin bibir lo ke dinding liat aja lo bangsat!”

Setelahnya tidak ada percakapan selain tawa Panglima yang memenuhi koridor IPA dan Kapten yang diam-diam mencuri senyuman.

“Makanya punya dompet taro di kantong, masih muda aja udah sering lupa lo.”

Lantas ruang sempit yang sunyi dari hiruk pikuk dunia seakan dihantam petir. Baik Kapten ataupun Panglima saling pandang kala mendengar suara tidak asing yang berjalan mendekat.

“Anjing! itu suara Jaemin!” ujar Kapten berbisik panik. Buru-buru ia menutup bekal Panglima yang masih disantap.

“Gimana dong?”

“Kabur anjing!”

Ya gimana?! mereka dari arah tangga.”

Kapten terlihat gelisah, wajahnya seakan memutar otak keras. Jujur jika tidak dalam situasi segenting ini mungkin pipinya sudah habis dicubiti Panglima gemas.

“Loncat loncat.”

“Lo mau bunuh gue?! ini lantai 3 pipi!”

Ya terus gimana dong?!”

Panglima pun bergerak kesana kemari mencari tempat persembunyian yang dapat menampung tubuhnya. Mereka semakin panik kala suara langkah kaki sudah sangat dekat. Maka tidak ada cara lain...

“Lo yakin?”

“Semoga gue ga mati, kalo sampe gue mati gue gentayangin lo seumur hidup.”

Anak anjing!”

Pergerakannya secepat Kapten menahan napas. Seperkian detik dia masih terpaku di ujung balkon samping.

“Kapten?”

“Hah?! oh, kenapa min?”

“Ngapain? ga turun liat Nanon tanding?”

“Oh enggak abis narok tas haha.. duluan aja nanti gue nyusul.”

Raut bertanya-tanya terpampang jelas di wajah Jaemin dan Renjun. Mungkin gengsi sehingga mereka tida bertanya lebih lanjut dan memilih masuk ke dalam kelasnya.

Lantas setelah memastikan situasi kembali aman, Jeongin dengan cepat memeriksa Hyunjin yang melompat ke atap bangunan yang belum selesai tadi. Namun nihil, musuhnya tidak ada!

Anjing!

“Pstt psttt..”

Jeongin segera bergerak mengikuti suara kecil itu. Panglima dengan senyum bangga sudah mendarat entah bagaimana. Dirinya berdiri di belakang kelas dengan Klepon yang memandang kesal ke arah anak osis itu.

“Keren ga?”

Dasar haus validasi. Anggukan kecil Jeongin menjadi jawaban dengan tawanya yang tercetak jelas.

“Gue cabut ya?”

Dan Jeongin kembali mengangguk. Tanpa sadar mengangkat tangannya untuk melambai pada Panglima yang juga tersenyum lebar. Mengangkat kotak tupperware seraya berucap makasih tanpa suara sebelum akhirnya hilang dari pandangan Jeongin setelah ditarik paksa oleh Klepon.

Panglima; Terimakasih sudah hadir diantara miliaran manusia di muka bumi ini.

Terimakasih, suda memilih menetap pada Atlantis yang jiwanya engkau dekap di bawah Segara.

“Sorai siang hari ini punya lo, Hyunjin.”

Terimakasih sudah menjadi nyata.