Terbanglah aku, yang tercekat dan terikat.
Teruntuk angan yang pernah menjadi jeda, dan janji yang menyapa. Kali ini, sambutlah aku dalam perayaan tanpa lentera; tanpa cahaya, tanpa makna.
Langit begitu hening akhir-akhir ini—rembulan seakan dikhianati bumi sampai enggan menampakkan diri. Intensintas darinya memudar, digantikan gerimis yang semakin memukul jalanan sepi. Tapi di bawah lampu kota yang redupnya bukan main, Kapten tidak lagi merasa sempit atau pun tercekik.
Nikotin mengudara benar-benar menentang semesta. Rasa sesal memeluk bekas tamparan di pipi kanan. Alih-alih sakit, pribadi ini menjelma seperti bangunan yang terlahap habis. Benar, kutuk saja, toh jiwa ini sudah lama terombang-ambing.
Pulang atau tidak, siapa yang akan peduli?
Dirinya hampir saja mati membeku kalau dering ponsel tidak memotong hal-hal gila menyebrangi kepala. Pikiran tentang berbaring di tengah jalan mungkin lebih baik ketimbang di rumah yang berantakan menerobos masuk sampai terbenam bak mentari yang pamit usai. Hilang akal sudah, redam suaranya tanpa bernyawa—semesta sukses memenuhi kepalanya dengan makian papa.
Dia keluarkan rokoknya yang terakhir, tanda-tanda ingin beranjak masih belum hadir, masih nyaman untuk membiarkan bibirnya membiru kaku. Pandangannya kian mengabur, baru teringat perutnya belum terisi apa pun. Ah, memang begini dunia berjalan untuknya. Jika tidak kelaparan, maka mati rasa atas pukulan dan pengkhianatan.
Apa yang diharapkan?
“Gue cariin lo kemana, tau nya di sini. Gelandangan lo?”
Kepalanya terangkat untuk memandang prianya tanpa nyawa. Dia kira sosok itu salah satu dari imajinasi sampai tempat tanpa dinding ini terasa lebih fana—hingga jemarinya bergetar saat sadar, dia tidak benar-benar ingin menghilang.
“Di sebanyaknya tempat, kenapa milih di sini sih? udah gelap, dingin, banyak nyamuk lagi. Emang lo ga digigitin nyamuk? pake baju pendek lagi ampun dah masuk angin nanti pipi lo makin ngembang gue mampusin bener dah liat aja.”
Dia tidak ingin dilupakan.
Pria itu mendekat, bukan untuk memaki—apalagi menginterogasi. Jaket hitam besar dengan lambang WARIOR itu dilepaskannya tanpa ragu, lalu menyelimutkannya pada si kecil dengan hati-hati, seakan takut salah, seakan jika ia terlalu cepat kehangatan itu bisa segera pecah.
Dia tidak ingin lenyap.
“Lo ga ngantuk? ini udah jam 3 pagi.” serak di ujung katanya lebih mirip dengan kekhawatiran yang kehabisan cara.
Dan gelengan itu menjadi jawaban penuh dengan kemunafikan.
“Gapapa.” kata itu sederhana. Begitu pendek, begitu keras, seperti kebohongan kecil yang terlalu sering dia ucapkan sampai terdengar nyata.
“Gue gapapa, Panglima.” katanya lagi, seakan semua itu tidak berarti. Seakan jika dia ucapkan berjuta-juta kali, luka dan berisiknya kepala akan mengecil sendiri.
Lantas pria itu tidak menyangkal. Tidak berusaha meluruskan kebohongan kekasihnya. Ia biarkan ego itu tetap bernyawa. Dan ia akan tinggal—menjadi diam yang aman, menjadi jeda untuk si pemilik pipi bolong itu duduk tanpa harus menjelaskan apa pun.
“Iya, gapapa.” ujarnya setuju.
Jemarinya mengusap rambut Kapten penuh sayang. Besar tangannya selalu melingkupi si kecil dengan kehangatan. “Gue di sini, Pipi bolong.” tubuh penuh luka itu ia peluk dengan cinta—bukan untuk menahan, melainkan untuk meyakinkan: dia tidak sendiri.
“Ga perlu buru-buru, lo bisa istirahat selama yang lo mau.”
Kalimat itu nyaris mengoyak Kapten. Bukan seperti pukulan telak, melainkan seperti tangan yang terbuka. Lantas kepalanya penuh tanda tanya. Ia mengingat dirinya yang gagal: yang mengecewakan banyak orang ketika dirinya pun sudah habis hancur, yang membuat pilihan dari ribuan salah untuk menjadi benar, yang memilih berbohong untuk bertahan.
Ia hanya seorang anak yang mencoba hidup dengan cara yang ia bisa saat itu.
“Kenapa?” pertanyaan itu keluar pelan, ragu di ujung lidahnya seolah siap untuk menerima patah sekali lagi. Toh, kehilangan juga bukan perihal asing untuknya. “Kenapa cari gue? Lo ga kecewa sama gue?”
Ia menelan napas. “Gue ini rusak, Panglima.”
Itu kesimpulan yang paling sederhana—jalan pintas agar rasa sakitnya juga punya nama.
Kapten memilih satu kata untuk merangkum semuanya. Seakan yang terjadi tidak perlu dibuka ulang; perihal bagaimana ia dipatahkan dengan jelas dan terang-terangan, tentang bagaimana bertahan justru membuatnya terlihat sangat salah.
“Di bagian mana si penguasa sekolah yang begitu hebat bisa dicap rusak?” pertanyaan itu datang dengan tenang, tidak meninggi, tidak membela dengan berlebihan.
“Lo yang paling depan ngebela orion, yang selalu naruh diri lo di nomor sekian, yang ga pernah takut ambil risiko demi orang disekitar lo aman.”
Kali ini tubuh tinggi itu dia tempatkan di bawahnya. Ia berjongkok agar Kapten tidak perlu mendongak untuk menatapnya, membiarkan lututnya yang seharian ini berlari ke sana-kemari semakin mati rasa.
“Lo nelen semuanya sendirian biar lo keliatan kuat, lo yang paling takut buat ngerepotin orang lain, lo yang selalu berusaha buat sakit sendirian biar orang lain bisa tetap bersandar ke lo.”
Genggaman tangan mereka terlepas, telapak tangan itu menangkup pipi Kapten dengan lembut. Satu kecupan kecil menjadi hadiah sebelum kening mereka saling menempel sebagai bentuk pengakuan yang paling jujur: dia tidak akan pergi.
“Dan nilai yang cuma sekedar angka atau karena kakak angkat yang asal-usulnya nggak pernah lo minta, lo dicap rusak?”
Panglima menggeleng keras. Matanya menatap milik Kapten dengan lamat, memastikan setiap kata-katanya sampai.
“Itu cuma kesimpulan paling gampang yang orang lain ambil biar mereka ga keliatan salah.”
Jika Kapten hanya memiliki segelintir bahasa untuk membuat segalanya menjadi mudah, maka Panglima punya berjuta-juta bahasa untuk membuat kekasihnya paham; bahwa ia sebaik-baiknya manusia yang tetap memilih baik meski hidup tak pernah benar-benar adil padanya.
“Orang rusak nggak bakal sejauh ini buat jaga semua orang tetap aman. Pengkhianat nggak mungkin setia sampai rela kehilangan banyak hal.”
Pucuk bulan semakin meninggi. Lampu jalan bahkan mulai menggigil. Dan di antara sebanyak kalimat yang menekan dada itu, Kapten menatap kekasihnya yang tersenyum lembut. Teduh matanya selalu menyelamatkan dirinya—tatapan yang berkata jangan khawatir, kita rayakan saja luka itu.
“Gue ga peduli lo nempatin diri gue di bawah orion atau siapa si bajingan Heeseung itu di hidup lo, Pipi bolong.” sudut bibirnya terangkat menyakinkan. “Yang gue peduli lo itu pipi bolongnya gue, kesayangannya gue, kekasih hatinya gue.”
“Dan gue—gue ini bukan Panglimanya Warior.”
Kecupan itu mendarat sekali lagi di keningnya. “Gue ini Panglimanya Kapten.”
Lalu ke sudut bibirnya yang membiru.
“Jadi, gue harus pulang ke Kapten.”
Dengannya Kapten dicintai tanpa syarat. Tidak perlu memilih bagian mana yang harus ditunjukkan, sebab baik-buruknya dicintai Panglima dengan sangat layak.
Cintanya tidak pernah sederhana. Tidak pula menuntut untuk menjadi lebih pantas. Seolah tidak ada yang perlu darinya disembunyikan.
Di tengah dingin yang masih menggigit, hangat itu bertahan— cukup lama, cukup nyata.
Cukup untuk membuat Kapten berpikir, barangkali hidup sekali lagi tidak seseram yang ia bayangkan.
Hadirnya selalu menjadi bentuk penyelamatan di saat tidak ada dalam dirinya yang benar-benar ingin selamat. Dia tinggal, dia hadir; dia cukup membuat si kerdil ini bernapas satu hari lagi.