Terkadang aku bingung, rasa apa yang sedang singgah saat ini? nyatanya suatu asa yang tidak bisa kujabarkan dengan kata. Teriknya matahari di siang kala itu menyentuh belenggu yang sudah lelah. Berhenti. Aku ingin berhenti.

Aku ketakutan pada kabut yang tidak dapat menarik diriku sendiri. Menerjang tanpa belas kasih pada perasaan putus asa yang gilanya bukan main. Jatuh cinta. Rasa manis yang kutunggu saat itu malah membuatku rapuh —baiklah, aku berikan semua yang ku punya padamu. Itu tekad yang ku genggam saat itu. Namun nyatanya, liar angin menuntun ku pada angan yang sudah hancur. Redup. Aku sudah redup.

Hatimu bukan untukku. Lantas apa? bolehkah aku hadir sejenak untukmu?

Namun rangkain cerita itu malah kusut. Bak memori yang diterjang ombak sepi.

Lalu hari pun berlalu, hujan lebat yang mengguyur bumi kala itu membuatku mengenang masa lalu. Hari-hari yang kita lalui terasa seperti permen kapas yang dijual di alun-alun penuh tawa dan cerita romansa indah. Manis dan cepat habis. Itulah kita.