Untuk yang Pernah Singgah.


Terkadang aku bingung, rasa apa yang sedang singgah saat ini? nyatanya derana yang tak dapat dijabarkan dengan kata. Teriknya matahari di siang kala itu menyentuh belenggu yang sudah lelah. Berhenti. Aku ingin berhenti.

Aku ketakutan pada diriku sendiri. Nebastala menerjang tanpa belas kasih pada perasaan putus asa yang gilanya bukan main. Jatuh cinta. Rasa manis yang kutunggu saat itu malah membuatku rapuh —baiklah, katakan padaku sayang, bisakah aku menjadi milikmu bila kuberikan semua yang kupunya padamu? bak tekad namun nyatanya hanya melodi kehancuran yang kugenggam saat itu. Redup. Aku sudah redup.

Hatimu bukan untukku, aku tau. Lantas apa? bolehkah aku singgah sejenak untukmu?

Namun rangkaian cerita itu malah kusut. Bak memori yang diterjang ombak sepi.

Lalu hari pun berlalu, hujan mengguyur bentala yang lusuh membuatku mengenang masa lalu. Hari-hari yang kita lalui terasa seperti permen kapas di alun-alun penuh tawa dan cerita romansa indah. Manis dan cepat habis. Itulah kita.

Nuraga sudah habis tersepai. Hancur bagaikan cahaya rembulan di tengah lautan lepas. Aku ketakutan. Memikirkan bahwa dirimu jauh dari-ku membuatku kehilangan akal. Tergamang dalam balutan memori yang kita ciptakan. Hyunjin, bagaimana bisa aku sangat mencintaimu? —hah, menyebalkan sekali.

Lakuna pun rasanya tidak seperti ini. Rasa hampa yang berperang dalam genangan harsa yang tak terhingga kala bersamamu malah membunuhku secara perlahan. Terbesit dalam pikiranku, Bagaimana bisa tawa itu mengalun merdu? Beruntungnya Jisung yang dapat mendengar melodi surga itu.

Hyunjin katakan padaku, apakah aku milikmu?

Hyunjin katakan padaku, bisakah aku terus bersamamu?

Hyunjin katakan padaku, akankah matamu dapat melihat cintaku dibandingkan seonggok tubuh yang sudah rusak ini?

Aku terberai. Rusak dan hancur. Berharap pun sudah lelah, apalagi untuk melangkah.

Sudah. mari berhenti.

Tapi, sebelum itu bisakah kau katakan padaku—

—bagaimana rasanya membunuh?

Ajarkan padaku rasa itu agar nantinya saat aku kembali padamu, aku dapat memberi taumu, bagaimana rasa cinta berubah menjadi jejal yang tidak dapat dijabarkan dengan kata. Hancur.

Mari kita hancur bersama, Hyunjin.


Sehancurnya kehilangan seseorang yang mencintaimu.


Sehancurnya aku.