TUNTUTAN PERAN


“Hadah dah.. pelan-pelan anjing. Niat ngobatin ga— aw! BANGSAT!”

“Gebukin orang santai, giliran diobatin banyak tingkah.”

“Sakit goblog bukan banyak tingkah.”

Pendingin ruangan pun bahkan tidak mampu menyaingi dinginnya Kapten. Remaja 17 tahun dengan kata-kata kotor bak manisan yang menyatu dalam mulut. Tapi tenang; Hyunjin sudah terlampau terbiasa. Sikap Kapten bukan hal yang sulit untuk dikendalikan.

Seperti sekarang contohnya.

“Masih sakit?” dia meniup luka di punggung Jeongin.

“Sedikit.” jawab Kapten pelan. Sangat pelan, sampai suara ngegas yang sehari-hari dia dengar di sekolah digantikan alunan lembut bagaikan anak kecil.

“Biru nih di sini, jatoh ya lo?”

“Iya, dilempar dua orang.”

“Gue teken ya.”

“Anak setan!”

Nyatanya lebih baik Jeongin dengan kalimat mutiara dibandingkan Jeongin yang kelewat manis barusan.

“Lo tawuran ngeributin apaan?”

“Anak kecil ga perlu tau.”

“Yaudah nanti gue laporin ke guru.”

“Tuh kan! emang anak setan lo ya, cepu lo anjing.”

Hyunjin terkekeh senang. Bersama Jeongin tidak pernah luput membuatnya tergelitik geli. Sumbu pendek mengalahkan pemantik lilin kala mati lampu.

“Makanya kasih tau.”

“Ya ada lah masalah anak IPA, lo anak IPS kagak perlu tau.”

“Benci banget sama anak IPS, heran. Inget, milkita melon sirkel lo yang ngabisin.”

Jeongin tertawa ringan, “Perkara milkita melon aja diributin anjing.”

“Tau, aneh emang kita.”

Masih dengan kekehannya, jemari lentik itu menekan acak tuts piano milik Panglima. Sejenak kekosongan mengisi mereka. Dingin dari hembusan nafas Hyunjin masih menyentuh kalbu. Jeongin terhanyut sewaktu.

“Namanya juga tuntutan peran.”

Tawa hambar menghentikan alunan musik. Menyapa gendang telinga lembut.

“Kalo perannya harus musuhan terus gue ga mau.”

Kapten menoleh untuk melirik Panglima.

“Gue berantem sama lo buat hiburan, bukan buat terus-terusan. Lagian gue ga pernah nganggep lo musuh gue.”

Tubuh tinggi itu menjajah pandangan. Sesaat Hyunjin tersenyum mensejajarkan pandangan hingga harus membungkuk untuk Kapten yang masih duduk di bangku Piano. Jarak mereka sangat dekat, bola mata menghipnotis lautan harsa di sana.

Saat telapak tangan selembut kapas menyentuh rambut bau matahari membuat Jeongin semakin terlena. Hangat.

“Lain kali kalo mau tawuran kasih tau gue, bakal gue abisin orang yang buat lo sakit.”

Senyumn menghiasi wajah paras Panglima.

“Jangan bikin khawatir gue terus dong, pipi bolong.”

Hyunjin; Apakah ini juga tuntutan peran seorang musuh?

Sebab jika ya, Jeongin rasanya ingin menjadi pelakon untuk setiap dialog ke depannya.