Untuk yang Pernah Singgah.
Bunyi gelagar petir di luar membangunkan diri yang tertidur lelap. Ia berdiam sejenak, memandang langit-langit rumah kekasihnya. Tak ada suara lain melainkan rinai yang mulai menjatuhkan kesedihannya pada bumantara. Mengusir sepi yang mendera tak lagi kuat.
Ponselnya yang tergeletak di atas meja kembali bergetar dengan sosok tanpa nama muncul di layar panggilan. Sulit untuk dimengerti, kala hati ingin berlari, dirinya malah datang untuk mengejar tanpa harapan. Buat apa? menyakiti keduanya? atau menyakiti banyak orang seperti yang sering dilakukan?
Kepada waktu yang terus bergerak maju, tolong bawa semua ingatan tentangnya. Kuras habis hingga tak ada lagi bayangannya yang memenuhi diri ini.
“Mau pulang.” ia bergumam gamang. Menghirup oksigen sebanyak rongga parunya mampu, lalu beranjak untuk duduk dan bersandar setelahnya.
Seketika arah pandangnya menyesir rumah sederhana Minho. Tidak sebesar yang dibayangkan, namun cukup nyaman untuk ditinggali sendiri. Ornamen kayu menjadi ciri khas, sesekali terselip warna pastel tersebar dimana-mana. Figura yang terpajang menjadi sasaran untuk bersinggah. Ada banyak foto Minho dan Juyeon di sana, mulai dari kecil hingga mereka yang dewasa, berpose konyol seperti yang sering dilakukan. Dan diantara figura itu, ada figura yang cukup menarik perhatian dengan bingkai putih kayu berukir mawar dikelilingnya.
“Kapan kakak ngambil foto ini?”
Sebuah foto Jeongin tengah bernyanyi di panggung. Ada senyuman kecil yang mungkin Minho buat bersanding dengan wajah muram Jeongin. Dia berusaha mengingat, seperti acara penting, tapi tidak ada sedikit kelibat ingatan yang menyerang memorinya.
Jeongin pun beralih, ada begitu banyak peralatan masak yang terpajang rapi pada dapur minimalisnya Minho. Sudut pandangnya pun menangkap dua kulkas yang berjajar, ada begitu banyak stickynote di salah satu kulkas yang lebih kecil. Ia tau bahwa pelaku yang memberinya banyak snacks itu dari Minho, namun Jeongin penasaran apa saja yang ditulis oleh pria itu.
Matanya menangkap tulisan rapi dengan emotikan aneh-aneh yang digambarkan di penghujung tulisan.
Hai jeje ^^ gimana harinya? aku harap hari kamu selalu baik ya, kalaupun hari ini ga sebaik hari sebelumnya, jangan patah semangat. Jarum waktu terus berputar pada takdir bahagia.
Jeje tanganku sakit karena capek dipake nulis laporan :( jadi aku ga bisa nulis banyak deh, so jeje jangan lupa bahagia!
Pelangi itu datangnya kadang-kadang, tapi awan selalu ada untuk menciptakan pelangi nantinya, jeje aku ga tau apa yang kamu rasain, tapi aku harap dairymilk ini bisa sedikit mengobati hari kamu ya hehe..
Ini dariku yang mencitaimu dalam diam, tapi aku harap ada saatnya aku keluar dari persembunyian.
Jeje, lacinya dibuka dong, snacksnya udah hampir ga muat :(
Bekorban demi yang orang kita sayang itu baik, tapi coba lihat lagi, ada hati yang terluka akibat bekorban ga. Kalo ada, tanya sama hatinya, itu rasa cinta atau hanya obsesi takut kehilangan.
Dan begitu banyak lagi, memenuhi pintu kulkas bagian atas dengan namanya yang tertulis di sana. Dia masih ingin melihat lagi, ingin membaca kalimat singkat penuh makna yang selama ini selalu ia dambakan bahwa itu semua dari Hyunjin. Pandangannya mengabur, terjatuh dengan mengenggam stickynote terakhir yang ia baca. Terguguh tanpa arti, menangis terseduh dengan derana yang semakin menghujam telak.
Ada begitu banyak cinta yang menjadi angan kosong. Tidak ingin percaya lagi pada bumantara, sebab di sana tidak ada yang bisa menjaga kata-katanya sebaik Jeongin yang mendamba pada janji yang terlupa.
“Kita harus jadi pasangan terus ya, Jeje. Kalau ga ada Jeje, semuanya jadi ga seru, jadi Jeje harus sama Hyunjin selama-lamanya ya hehe Hyunjin sayang Jeje.”
Ucapan yang terus berdengung pada telinganya itu membuat Jeongin menjambak rambutnya kasar. Memukul beberapa kali telinganya berharap suara pria itu segera menghilang. Jika dulunya Jeongin akan terbiasa dengan kenangan yang selalu teringat kala pundaknya semakin pupus, namun hari ini berbeda, rasanya seperti tercabik dalam semu.
“Loh Je, mau kemana?” Juyeon yang baru saja pulang dengan menenteng kantong belanja terkaget melihat wajah muram Jeongin. Matanya terlihat merah dengan berjalan sangat pelan.
“Pulang.”
Hampir saja tubuhnya ambruk kalau Juyeon tidak cepat menangkapnya. Rasa panas menjalar kala kulit mereka bersentuhan. “Lo demam, Je. Pulangnya nanti aja, sekarang lo istirahat dulu.”
Jeongin tidak mau, meracau pulang terus-menerus. Tetapi dengan tubuh yang jika duduk saja bisa tumbang, apalagi harus berdiri lama menunggu taxi datang disaat hujan masih setia mengguyur di luar.
“Mau pu—”
Kalimatnya terpotong saat secara tiba-tiba tarikan pada rambutnya menghuyung untuk menjauh dari tubuh Juyeon lalu terhempas pada dinding. Suara bising seakan menyeruak darimana-mana. Cakrawala yang mengamuk memaksa Jeongin untuk berusaha bangkit dengan susah. Pandangannya mengabur dengan sesekali kegelapan hadir. Bunyi tubuh yang saling beradu memecah ringisan.
“Lo sinting ya?!”
Samar-samar Jeongin dapat mendengar dibalik dengungan telinga. Menangkap sedikit bayangan yang terpojok, dipukuli habis-habisan pada punggung yang memberi sandaran. Hingga sejenak pandangannya beruba jernih, Jeongin menangkap sebuah pisau digenggam dengan tubuh lain.
“Sudah gue bilang, kalo gue pulang dan ga ada lo di rumah, lo bakalan gue abisin.”