Untuk yang Pernah Singgah

content warning: a little nsfw, severe depression, self harm, blood.


Ketika malam akan mengambil Hyunjin pergi diesokan harinya.

“Ahh..” tubuh Jeongin menggila, erangan terus-menerus keluar dari celah bibirnya yang basah. Membiarkan telapak tangan pria yang dicintainya bermain pada tubuh yang penuh dengan bercak bercampur darah.

Cup!

Kecupan singkat dari Hyunjin menarik atensi Jeongin yang sedari tadi melalang buana jauh. Ditatapnya pria yang kini bermain pada buah dadanya yang memerah, lantas tersenyum kecil tanpa disadari keduanya. Ada perasaan berdebar saat itu, perasaan yang sangat Jeongin sukai. Seakan paru-parunya akan meledak bersamaan detak jantung berpacu tak karuan, penuh dengan rasa menggelitik yang hanya Jeongin rasakan kala bersama Hyunjin.

“Ngh.. ah! b-bentar.”

“Lo ga fokus.” rajuk Hyunjin.

Tawa kecil Jeongin mengiringi dua insan bertubuh polos dengan bhama yang menguar tinggi. Diberinya kecupan singkat pada kening Hyunjin —menandakan cinta dalam diam— lalu memeluk erat tubuh yang lebih tinggi darinya itu.

“Mnhh maaf.”

*Dan setelahnya tidak ada lagi percakapan diantara keduanya. Memenuhi sudut ruangan dengan desahan di tengah malam. Ada begitu banyak benda yang sudah menjadi saksi, pun mungkin bintang di luar sana sudah merasa bosan mendengar racuan mereka. Jangan merasa kasihan, toh itu kemauan bukan paksaan. Bisa saja hal tersebut yang dipikirkan.*

Jangan kasihan —tidak perlu kasihan.

*“AHH!” puncak memenuhi mereka. Dunia putih yang diidamkan, nafas yang tak karuan, hingga peluh yang bergelimpang. *

Hyunjin membaringkan Jeongin dengan hati-hati. Pria yang lebih muda itu tengah mengatur parunya, mengais oksigen sebanyak mungkin. Sedangkan Hyunjin, pria itu berjalan dengan tubuh polosnya untuk sekedar menyesap alkohol yang berada di ujung nakas. Setelahnya mengambil tempat di sebelah Jeongin, sekedar untuk merapikan rambut yang lepek karena keringat dengan sangat hati-hati.

“Ayok mandi.”

Hampir saja tubuh itu terangkat, Jeongin dengan susah paya merangkak naik dengan tangan yang masih teborgol dikedua pergelanga tangannya. “Lagi.” suara parau yang menyapa telinga sangat tidak enak, bergetar seakan ingin menangis.

Dahi pria itu mengernyit, kembali duduk berpangku tubuh kurus Jeongin. “Tumben.” tidak ada jawaban yang keluar, terdayuh pada aroma maskulin Hyunjin.

Kepalanya mendusal pada ceruk leher Hyunjin. Mengecup, menjilat, dan merangsang untuk sahabatnya kembali menggerayangi tubuhnya. Hyunjin bukan tipe yang mudah menahan nafsu, tapi bukan pula yang akan membiarkan kejadian yang tidak biasa seperti ini.

Mudah saja baginya untuk menatap Jeongin yang menunduk lesu. Meski hanya indurasmi yang menjadi penopang cahaya, Hyunjin masih dapat melihat jembatan air di kedua pipi Jeongin yang lebam akibat tamparannya tadi.

“Kok lo nangis? kenapa? ada yang sakit?” rasa khawatir yang didengar dari nada bicara Hyunjin membawa mata rubahnya menatap manik karamel di hadapannya sendu. Ia menggeleng, gigitan pada bibirnya semakin erat saat isakan ingin keluar. Lantas tanpa aba-aba Hyunjin kembali memeluk tubuh Jeongin setelah memberi kecupan singkat dimana-mana.

“Badan lo panas.” borgol itu terlepas hingga menciptakan bunyi bising kala bersentuhan dengan ubin. “Kenapa ga bilang kalo lo demam sih?”

Bukan tidak mau bilang, hanya saja, apa tidak sadar?

“Tunggu sebentar, gue ambil handuk buat lap badan lo dulu.”

“Ga mau.”

“Je.”

“Gue gapapa, gue ga sakit.”

“Jeongin!”

*Bahu itu tergelonjak kaget saat suara berat milik Hyunjin tidak segan membentaknya. *

“Gue bilang gue gapapa! hiks.” dan Jeongin pun bukan seorang yang suka dibentak pun membalas pitam.

Hyunjin melunak. Mengucap maaf sembari menghapus air mata yang tidak berhenti keluar. Jeongin sakit memang sangat clingy. Hyunjin suka itu, sejujurnya, pria yang mirip rubah kala merengek itu sangat gemas.

“Jangan pergi.”

“Gue ga pergi Je, gue cuma mau ambil handuk sama obat buat lo.”

“Jangan tinggalin gue hyunjin hiks.. gue ga mau.”

Paras Jeongin yang terisak dengan wajah seperti bayi itu malah mengundang tawa Hyunjin. Mencubit main-main pipi Jeongin yang bersinar terkena pantulan cahaya temaram. “Emangnya Hyunjin mau kemana, hm? Hyunjin bakalan terus sama Jeje.”


Palapa berbohong. Memikat serta menarik hati katanya, lucu sekali. Menarik hati apanya? nyatanya terus saja terasa menjauh kesana.

Bisakah seseorang berkata, memberi tauku kenapa dari banyaknya insan di dunia, aku harus jatuh padanya?

Jatuh pada Hyunjin yang sudah berada pada pelabuhannya.

“Hiks..”

Rasanya dunia tidak ada lagi oksigen, pun cahaya yang memudar.

“Hyunjin, jeje sakit.”

Ada sedikit memori yang tersisa. Kala dua insan tertawa bersama di bawah hujan, saling bersenggama bahagia. “ARGHHH! APA LAGI YANG HARUS GUE KASIH? BILANG APA LAGI HIKS... apa lagi..?”

Retislaya lagi-lagi mendera. Luka hati yang semakin dalam. Tak ada obat untuknya, selain goresan pada pergelangan tangan yang mengalihkan. Genangan merah sejenak menenangkan, namun katakan, bagaimana dengan rasa kosong yang berada dalam hatiku ini? Apa obatnya?

“Haha.. bahkan yang bilang bakalan bawa gue pergi jauh dari Hyunjin juga ga ada.”

Sakit sekali. Jangan tanya seperti apa rasanya, jika menangis saja tidak cukup lalu tawa yang menggantikan itu rasanya seperti terkoyak habis. Jangan, jangan tanya. Untuk bergerak saja sudah lelah, apalagi untuk berkata.

“Jeje capek, jeje pengen tidur.”


“Maaf karena ga ada di sisi kamu secara nyata, tapi aku di sini, kamu ga sendiri, babe.”