Untuk yang Pernah Singgah; Ini Akhir Kita, FWB Epilog.
Dia berlari dengan tergopoh-gopoh. Degup jantung yang berpacu cepat menghilangkan banyak warna pada dunia. Gelap. Kelabu menyerang kala berbagai pesan dari seorang yang bearti dalam hidupnya terus berdatangan dengan makna. Hyunjin kalut, ingin cepat sampai untuk memastikan. Tanpa sadar menangis saat langkah kakinya semakin dekat pada tujuan.
Gelap yang menyapa ketika pintu rumah terbuka. Tidak ada tanda kehidupan hingga deru nafasnya dapat terdengar dengan jelas. Dia tidak pernah sesulit ini untuk bernafas, bahkan saat kekasihnya jatuh terkapar pun tidak sehebat ini. Rasa kosong yang menyergap seperti putus asa.
“Je.” ia panggil dengan langkah kaki yang bergerak maju. “Jeongin.” dia terdiam dibalik pintu yang sudah tertutup, menunggu sosok manis yang biasanya berlari menyambut setiap kali dirinya datang. Yang terjadi kesunyian yang hadir disana.
“Jeongin gue manggil lo.”
Terdapat racun di salah satu gelas yang pasien minum bersama temannya. Namun beruntung serbuk yang ditemukan pada gelas pasien hanya obat tidur saja.
“Jeongin kalo lo ga keluar sekarang gue ga akan pernah maafin lo.” tubuhnya terjatuh bersandar pada pintu. Menutup wajahnya yang semakin basah akan kemungkinan dalam benaknya.
“Racun ini ditemukan di gelas teman pasien. Memang tidak berbahaya, namun dapat menyebabkan kematian jika tidak segera ditangani.*
Ia berdiam cukup lama di sana. Menyembunyikan isak tangis yang percuma. Tidak berani melangkah jauh meski hati yang memohon untuk segera bertemu. Bukan seperti ini yang diharapkan. Tapi apa pantas bayarannya seperti ini?
Hyunjin mengambil langkah setelah dapat mengontrol dirinya. Pandangannya mengedar ke sekeliling, hingga terjatuh pada daun pintu bewarna abu-abu yang sempat mereka cat acak-acakan. Bulir air matanya kembali terjatuh, merapal keyakinan bahwa mungkin saja Jeongin tengah pergi menghibur diri.
Dan nyatanya memang Jeongin sudah pergi.
Diri pria manis itu tidak ada, menyisahkan ruang kosong dengan seonggok tubuh penuh pucat terbaring dengan baju couple pemberian Hyunjin dengan damai.
“Je, gue panggil lo kenapa ga jawab?” Pria yang dicintai tubuh yang terbaring itu mendekat setelah melepas jaketnya. Ia dengan sangat perlahan memperhatikan sosok manis yang dulunya tersampir dengan senyuman manis.
Hyunjin mengambil tempat di sebelah Jeongin. Ia gapai tangan yang membiru itu untuk digenggam. “Tangan lo dingin banget.” dia mengambil jaketnya untuk diselimuti pada tubuh Jeongin. Menambah banyak selimut untuk menghangatkan tubuhnya.
“Udah hangat kan, Je?”
Melihat tak ada respon dari Jeongin air matanya jatuh begitu saja. Terisak tanpa dapat berkata selain membawa tubuh pria itu untuk di dekapnya dengat erat. Membiarkan rasa dingin dari tubuh Jeongin bersentuhan pada tubuhnya.
“Jeje jangan gini, Hyunjin takut.” dibawanya wajah Jeongin untuk. Paras menawannya tidak tertutup meski ada begitu banyak luka yang Hyunjin berikan.
“Maaf.. maaf Jeje, jangan gini ayok bangun terus pukul gue, t-tapi hiks..”
Sunyi yang melanda Hyunjin membawanya untuk tersedu tanpa ragu. Semakin memangku tubuh kurus Jeongin untuk di dekap erat. Terguguh dengan perasaan yang sudah mati.
“Gue harus apa kalo lo ga ada, Je? selama ini gue takut lo pergi dari gue, kenapa sekarang...”
Hyunjin tak lagi mampu berucap, dirinya hanya menangis hebat mengucurkan perasaan yang sudah sia-sia. Jeongin benar, tidak ada luka yang menyakitkan daripada rasa bersalah dan kehilangan. Tapi, kenapa harus berakhir seperti ini? Hyunjin bahkan tak mengharapkan seperti ini. Pun dengan segala cara dilakukan untuk tetap membawa Jeongin hanya untuknya.
Segala cara. Sampai semesta akhirnya mengingatkan bahwa manusia itu hidup dengan perasaan, seperti Jeongin yang telah mengarungi semua perasaan dalam hidupnya.
Sampai akhirnya dirinya tidak menemukan rumah untuk menetap. Memilih pergi dan meninggalkan kenangan dan rasa sakit yang selama ini didera. Hingga sampai akhir pun yang tersisa hanya rasa cinta yang tak terbalas.
Aku tidak pernah mengira akan berada pada titik seperti saat ini, jatuh cinta melenyapkan caraku untuk menjadi manusia. Hari itu, aku mengarungi kenangan yang sudah ada, terdapat bahagia yang sudah terasa cukup untuk dirasa. Pun dengan sakit yang tak lagi dapat ditampung. Bianglala penuh dengan warna pun sudah terlihat kelabu. Menuntun untuk tak lagi menyamai rindu, Melainkan berjalan dengan perasaan yang baru.
Semesta tak membawa kita bersama, tapi biarkan kubawa rasa ini untuk melambung bersamaku. Sebab sudah kucoba untuk melupakanmu. Tapi tak kunjung keluar dari rasa ragu yang menganggu.
Hyunjin, mencintaimu adalah hal terindah dalam hidupku. Terimakasih sudah membiarkanku mencintaimu. Meski hanya aku yang menaruh cinta padamu.
Nebatastala: YJI —Febuari, 2022